Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.
Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Retak
Malam semakin larut ketika Zayn akhirnya masuk ke kamar utamanya. Lampu kamar menyala redup. Aroma parfum mahal dan skincare memenuhi ruangan luas itu.
Anggun sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponselnya. Jemarinya bergerak cepat mengetik sesuatu. Cahaya layar memantul di wajah cantiknya.
Zayn berdiri beberapa detik di ambang pintu sebelum akhirnya melepas jas kerjanya pelan. “Kamu belum tidur?” tanyanya.
“Hm?” Anggun menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Zayn berjalan mendekat lalu duduk di sisi ranjang. Tubuhnya terasa lelah luar biasa setelah seharian bekerja dan baru saja bicara serius dengan ayahnya. Namun entah kenapa malam ini dia ingin mencoba mendekat lagi dengan istrinya. Sudah terlalu lama mereka terasa seperti dua orang asing dalam satu rumah.
“Kamu sibuk terus akhir-akhir ini,” ucapnya.
Anggun cuma mengangguk kecil. “Iya.”
Zayn melirik layar ponsel istrinya sekilas. “Chat siapa sih serius banget?”
“Kerjaan.” Jawaban singkat lagi.
Zayn menghela napas kecil. Lalu dia mencoba tersenyum tipis sambil mendekat sedikit. “Kita udah lama nggak ngobrol begini ya.”
Anggun masih fokus pada ponselnya. “Hm.”
Zayn mulai merasa tidak nyaman. Namun dia tetap mencoba santai.
“Aku tadi habis ngobrol sama Ayah,” katanya lagi.
“Keren.”
Zayn menoleh. “Keren?”
“Iya bagus.” Nada Anggun datar sekali.
Hening turun beberapa detik.
Zayn akhirnya merebahkan tubuh sebentar di ranjang lalu menatap langit-langit kamar. “Aku capek,” gumamnya.
“Kamu tiap hari juga capek.”
Entah kenapa kalimat itu terdengar seperti sindiran.
Zayn duduk lagi lalu menatap Anggun lebih serius. “Kamu kenapa sih?”
“Kenapa apanya?”
“Akhir-akhir ini dingin banget.”
Anggun akhirnya meletakkan ponselnya sebentar. Namun tatapannya justru terlihat lelah.
“Aku memang capek.”
“Aku juga capek.”
“Ya terus?”
Jawaban itu membuat Zayn mulai kehilangan kesabaran sedikit. Dia mengusap wajah kasar lalu mencoba menenangkan nada suaranya lagi.
“Kita udah lama nggak punya waktu berdua,” katanya. “Aku bahkan hampir nggak pernah lihat kamu santai di rumah.”
Anggun tertawa hambar. “Karena aku kerja.”
“Aku juga kerja.”
“Iya. Semua orang kerja, Zayn.”
Zayn terdiam beberapa detik. Lalu tanpa sadar, tangannya menyentuh pinggang Anggun pelan sambil mencoba menggoda.
“Kamu tahu nggak…” katanya pelan. “Aku kangen sama istriku.”
Anggun langsung menoleh singkat.
Zayn tersenyum tipis. “Kita udah lama banget nggak…” dia menggantungkan kalimatnya sambil mengusap lengan istrinya pelan.
Namun Anggun langsung menyingkirkan tangannya. “Aku lagi datang bulan.”
Jawabannya cepat. Terlalu cepat.
Zayn sedikit terpaku. “Oh.”
Anggun kembali mengambil ponselnya.
Zayn menatap istrinya beberapa detik lebih lama sekarang. Ada sesuatu yang terasa aneh. Cara Anggun menjawab. Cara dia bahkan tidak mau menatapnya.
“Kamu serius sibuk banget sama HP?” tanyanya akhirnya.
“Ini penting.”
“Aku juga penting nggak?”
Anggun mendesah pelan. “Zayn, jangan mulai.”
Namun justru kalimat itu membuat emosi kecil di dada Zayn muncul.
Sudah berbulan-bulan hubungan mereka terasa makin jauh. Setiap kali dia mencoba mendekat, Anggun selalu menghindar.
“Aku cuma mau ngobrol sama istriku,” katanya lebih tegas.
“Aku lagi nggak mood.”
“Karena HP itu?”
Anggun tidak menjawab. Entah kenapa malam itu kesabaran Zayn benar-benar habis. Dengan cepat dia mengambil ponsel dari tangan Anggun.
“Eh!”
Anggun langsung membelalak. “Zayn!”
“Aku cuma mau lihat apa yang lebih penting dari suamimu sendiri—”
Belum selesai dia bicara, Anggun langsung merebut ponselnya kasar.
“JANGAN SENTUH HP AKU!”
Zayn membeku.
Untuk sepersekian detik kamar langsung hening. Napas Anggun terdengar kasar. Wajahnya penuh emosi. Sementara Zayn menatapnya tidak percaya.
“Aku suami kamu,” timpal Zayn. “Aku nggak boleh pegang HP istri sendiri?”
“Itu privasi!”
“Privasi sampai segitunya?”
Anggun berdiri dari ranjang cepat. “Karena kamu nyebelin!”
Zayn ikut berdiri sekarang.
“Aku nyebelin?”
“IYA!” Nada suara Anggun meninggi.
Zayn mulai benar-benar kesal. “Aku bahkan nggak ngerti salahku apa!”
Anggun tertawa sinis. “Karena kamu memang nggak pernah ngerti!”
“Aku kerja mati-matian buat keluarga ini!”
“Dan itu doang yang kamu tahu!”
Zayn mengernyit tajam. “Maksud kamu apa?”
Anggun menatapnya dengan mata penuh kekesalan yang seperti sudah dipendam lama.
“Kamu pikir jadi suami itu cuma soal cari uang?”
“Aku juga perhatian sama kamu!”
“Perhatian?” Anggun tertawa pendek penuh sindiran. “Kapan?”
Zayn mulai terpancing emosi. “Aku pulang tiap malam!”
“Tapi kepala kamu tetap di rumah sakit!”
Kalimat itu membuat Zayn diam sesaat.
Anggun melanjutkan tanpa memberi kesempatan. “Kamu tuh hidupnya cuma kerja, pasien, rumah sakit, keluarga kamu!” katanya. “Semuanya selalu tentang kewajiban!”
“Aku ngelakuin itu buat kita!”
“Tapi aku capek jadi nomor sekian!”
Zayn mengusap wajah kasar. “Aku bahkan selalu berusaha jadi ayah yang baik buat Abyan!”
“Iya, buat Abyan!” potong Anggun cepat. “Buat semua orang! Tapi bukan buat aku!”
Zayn mulai benar-benar bingung. “Aku kurang apa lagi?”
Anggun tertawa hambar sambil melipat tangan. “Kamu terlalu membosankan, Zayn.”
Kalimat itu langsung menusuk telak.
“Apa?” Zayn tercengang.
“Iya.” Anggun menatapnya tajam. “Kamu terlalu kaku. Terlalu serius. Terlalu nurut sama semua orang.”
Zayn mengernyit tidak percaya.
“Bahkan sama Mama kamu sendiri.”
“Jangan bawa Mama.”
“Kenapa? Salah?” balas Anggun cepat. “Kamu tuh nggak pernah tegas!”
Zayn mulai meninggikan suara. “Aku udah berusaha jadi suami yang baik!”
“Tapi kamu nggak pernah benar-benar hadir!”
“Aku ada di rumah ini!”
“Tubuhmu doang!”
Hening sesaat. Zayn menatap istrinya lama sekali. Dadanya mulai naik turun menahan emosi.
“Aku nggak ngerti kenapa kamu ngomong begini.”
“Karena kamu memang nggak pernah mau ngerti.”
“Aku kurang apa sebagai suami?!”
Anggun menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan tapi tajam.
“Pantas aja mantan istri kamu dulu nggak tahan.”
Zayn langsung membeku. Suasana kamar mendadak terasa jauh lebih dingin.
“Apa?”
Anggun tersenyum miring. “Ya mungkin dia juga capek sama kamu.”
Mata Zayn langsung berubah keras. “Jangan bawa-bawa Naomi.”
Nama itu keluar begitu saja tanpa sadar. Entah kenapa, setelah nama itu terucap, keduanya sama-sama terdiam sepersekian detik. Tanpa sadar Zayn mulai membandingkan Naomi dan Anggun. Setelah mengingat masa lalu, jelas Naomi adalah istri yang lebih baik dibanding Anggun.
Anggun menyipitkan mata. “Oh jadi masih kepikiran mantan istri?”
Zayn langsung sadar ucapannya sendiri. “Bukan itu maksudku.”
“Tapi refleks banget nyebut namanya.”
“Anggun…”
“Kenapa?” katanya sinis. “Aku salah ngomong?”
Zayn menggertakkan rahang. “Aku udah ngelakuin semuanya buat rumah tangga ini.”
“Ya tapi aku nggak bahagia!”
Kalimat itu membuat Zayn terpaku.
Anggun menatapnya dengan mata berkaca-kaca karena emosi. “Kamu tahu rasanya hidup sama orang yang selalu bikin semuanya terasa seperti kewajiban?” tanyanya lirih namun tajam. “Aku capek.”
Zayn terdiam. Karena untuk pertama kalinya, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Lebih parahnya lagi dia mulai merasa rumah tangga ini perlahan retak.
Thor semangat menulisnya💪..banyakin up y donk udh aku kasih bunga loh🤭🤣