NovelToon NovelToon
MEKANIK DARI LEMBAH BESI

MEKANIK DARI LEMBAH BESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: T28J

(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.

⚙⚙⚙

Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.

Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.

—T28J

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BRAKENFORD ARC 27 - IBU

...Di antara reruntuhan dan suara kematian, ada satu suara yang tetap bertahan....

...Suara itu lemah… namun cukup untuk memanggil seorang anak pulang....

...⚙⚙⚙...

Langkah Arven melambat. Sepatunya menggerus kerikil saat jalan tanah di depannya mulai ia kenali.

Rumah kecil itu muncul di balik kabut asap. Atap kayunya miring, dinding tuanya dipenuhi retakan, namun cahaya lampu minyak dari balik jendela masih menyala redup.

“Ibu...” Arven berbisik, napasnya tercekat di pangkal tenggorokan. Ia hendak berlari menuju pintu rumah, namun gerakannya terhenti mendadak. Sesuatu yang asing menarik perhatiannya. Dari arah pintu masuk tambang yang gelap, muncul sebuah kilatan cahaya.

Arven menoleh. Matanya menyipit, berusaha memfokuskan pandangan. Itu bukan api. Cahaya biru berdenyut dari arah tengah tambang, memantul pada dinding-dinding batu tajam.

DUUUM...

Tanah di bawah telapak kakinya bergetar halus, membuat butiran debu meloncat dari permukaan jalan.

Cahaya itu semakin terang, memancar keluar dari celah-celah bebatuan dan menerangi tambang. Angin dingin berembus keluar dari sana, membawa sensasi aneh yang menjalar di permukaan kulitnya, sebuah getaran yang tidak tertangkap telinga, namun menggetarkan tulang belakangnya.

Arven berdiri kaku. Tatapannya terkunci pada denyutan biru itu. Ada sesuatu jauh di dalam dadanya yang mendadak bereaksi. Sarafnya menegang, bukan karena takut, melainkan karena ia memang mengenalnya. Baginya, denyutan itu bukan sebuah peringatan bahaya, melainkan sebuah panggilan.

Bibirnya bergerak pelan, mengeluarkan suara yang nyaris hilang terbawa angin tambang. “...Astraeus.”

Namun kemudian, sesuatu terlintas di pikirannya.

“Tunggu...“

​Ia memutar memori pertempuran di gerbang tadi. Ia teringat Paman Garrick berkata bahwa seseorang mungkin mengirim para monster untuk menyerang Brakenford. Pikirannya menyusun paksa potongan-potongan kejadian yang sejak tadi ia abaikan. Setiap langkah Man-Slayer, setiap arah tatapannya, semua mengarah pada satu titik koordinat yang sama. ​Targetnya bukan desa ini. Bukan juga orang-orang di dalamnya.

​Arven perlahan memutar tubuh. Ia tidak lagi menatap rumahnya. Tatapannya beralih ke jalan setapak yang menanjak menuju tambang emas Brakenford. Jalan gelap di ujung desa yang sudah ia hafal setiap kelokannya sejak kecil.

​Di sana, ada sesuatu yang selama ini hanya ia rasakan sebagai denyut samar di udara.

​Dadanya mendadak terasa sesak, seolah udara di sekitarnya menipis. ​“Jangan bilang...” bisiknya pelan.

​Man-Slayer itu mengincar tambang. Tempat di mana Raksasa Tambang Astraeus berada.

​Arven meremas tangannya, merasakan getaran tanah yang semakin sinkron dengan detak jantungnya. Ia berbalik sepenuhnya, menghadap tambang yang mulai mengeluarkan kabut biru tipis.

Arven melanjutkan langkahnya, menghilangkan pikiran buruk yang tadi muncul di kepalanya. Dadanya sesak. Ia menerjang maju dan membuka pintu kayu itu hingga terbuka lebar.

​Engsel pintu berderit nyaring. Ruangan kecil itu berantakan. Meja kayu sederhana bergeser dari posisinya, dan rak obat-obatan di sudut ruangan tampak miring dengan botol-botol yang terjatuh. Di dekat jendela, ibunya duduk di atas bangku kayu yang dingin, tepat di samping tempat tidur. Napasnya terdengar berat, serak, dan patah-patah.

​“IBU...!”

​Arven menghampirinya. Ia merengkuh bahu wanita itu. Lampu minyak di ambang jendela berayun, menciptakan bayangan yang menari liar di dinding kayu yang retak. Cahayanya meredup, bergetar mengikuti aliran udara dingin yang masuk dari celah bangunan.

​Arven menyapu keringat di dahi ibunya dengan lengan baju yang kotor. Kulit wanita itu terasa membara, namun jemarinya yang menggenggam lengan Arven terasa sedingin es. ​“Ibu... kenapa ibu belum tidur?” suara Arven bergetar hebat.

​Kelopak mata wanita itu terangkat perlahan. Tatapannya yang layu fokus pada wajah Arven. “Arven...” ​Suara itu sangat tipis, nyaris hilang.

Arven segera menyatukan jemarinya ke tangan sang ibu, meremasnya kuat. ​“Maaf aku pulang terlalu malam.”

​Di kejauhan, raungan Man-Slayer kembali menggelegar, disusul dentuman bangunan runtuh yang menggetarkan kaca jendela rumah mereka. Namun di dalam sini, Arven hanya bisa mendengar deru napas ibunya yang tersengal.

​Ibunya memaksakan senyum kecil di sudut bibir yang pucat. “Yang penting kau kembali...”

​Arven menunduk. “Ibu seharusnya tidur, malam sudah semakin larut. ”

​Wanita itu menggeleng lemah. Kepalanya tergeser sedikit di atas lantai. “Aku mendengar keributan di luar...” Ia menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan. “Desa ini... diserang, bukan?”

​Arven terdiam sesaat. Tangannya semakin kencang menggenggam. “Iya.”

​Tatapan ibunya mengunci wajah Arven, menelusuri setiap garis di wajah putranya. “Kau sudah sangat besar sekarang...”

​Arven memaksakan senyum kecut. “Aku hanya tumbuh sedikit lebih tinggi.”

​Tawa pendek keluar dari tenggorokan wanita itu, meski diikuti batuk kecil. “Kau... sangat mirip ayahmu.”

​Gerakan Arven terkunci. Ia menundukkan kepala, membiarkan rambutnya menutupi mata. Ibunya kini menatap langit-langit rumah yang menghitam oleh jelaga lampu.

​“Ayahmu juga selalu seperti ini...” bisiknya perlahan. “Selalu berlari... ketika orang lain membutuhkan bantuan.”

​“Tidak... sekarang ayah yang berlari meninggalkan kita.” Suara Arven pecah. Ia menggertakkan gigi. “Tanpa pesan. Tanpa penjelasan. Tanpa... kembali.”

​Ibunya kembali menoleh. Ada gurat kesedihan yang dalam di matanya saat melihat kemarahan di wajah Arven. Wanita itu memandang Arven lama, seolah membaca sesuatu yang bahkan Arven sendiri tidak ingin akui. Lalu perlahan ia berkata, “Kau mengatakan itu seolah kau membencinya...“ Suaranya pelan, hampir seperti bisikan. “Tapi itu tidak benar, bukan?“

Arven terdiam.

Ibunya melirik ke arah tangan Arven. Ke arah Titan Wrench yang selalu dibawanya. “Kau selalu membawa itu ke mana pun kau pergi.” Ia mengambil napas perlahan. “Alat itu... milik ayahmu.”

​Arven tersentak kecil. Jari-jarinya tanpa sadar meremas gagang logam Titan Wrench. Ukiran kuno pada alat berat itu berkilau samar terpapar cahaya lampu minyak yang sekarat.

​“Ayah... meninggalkan ini,” sahut Arven datar. “Aku hanya membawanya karena itu berguna.”

​Senyum tipis kembali muncul di wajah ibunya, senyum yang penuh pemahaman. “Jika kau benar-benar membencinya... kau pasti sudah membuangnya sejak lama.”

​Arven tidak menyahut. Ia hanya menatap papan lantai kayu yang berdebu. Keheningan menyelimuti mereka, sementara di dalam kepalanya, sebuah kenangan yang selama ini ia kunci rapat mulai mendesak keluar ke permukaan.

...---⚙---...

Langit saat itu berwarna jingga. Senja menyelimuti desa kecil Brakenford.

Arven masih kecil. Sekitar sepuluh tahun. Ia duduk di bangku kayu di depan bengkel kecil milik ayahnya. Di tangannya ada sebuah alat besar yang terasa terlalu berat untuk anak seusianya. Sebuah kunci raksasa dari logam aneh. Permukaannya abu-abu gelap, dengan ukiran mekanik tipis yang hampir tak terlihat..

Ayahnya berdiri di depannya. Pria tinggi dengan tangan penuh bekas luka kerja tambang. Di wajahnya ada senyum tipis. “Pegang dengan kuat.“ Katanya.

Arven kecil hampir menjatuhkan alat itu. “Berat sekali...“

Ayahnya tertawa pelan. “Memang.“ Ia berlutut sedikit agar sejajar dengan Arven. “Itu bukan alat biasa.“

Arven mengangkat kepalanya. “Lalu apa ini?“

Ayahnya menatap benda itu sebentar. Matanya terlihat berbeda, seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang jauh.

“Aku menemukannya di reruntuhan sebuah kerajaan lama.“ Katanya perlahan. “Kerajaan yang hancur dalam perang besar puluhan tahun lalu.“

Arven kecil membelalakkan matanya. “Di reruntuhan?“

Ayahnya mengangguk. “Di dalam ruangan yang sudah hancur lebur.“ Ia mengetuk pelan badan logam Titan Wrench. Suara logamnya terdengar dalam dan berat.

CLINK!

“Benda ini bukan alat biasa.“ Ia menatap Arven lagi. “Aku percaya ini adalah artefak lama.“

Arven menatap alat itu dengan mata berbinar. “Artefak?“

Ayahnya tersenyum kecil. “Dan sekarang... ini milikmu.“

Arven langsung kaget. “Milikku?“

Ayahnya mengangguk. “Anggap saja ini salah satu warisan dariku untukmu.“

Ia kemudian menunjuk ke arah gunung di kejauhan. Ke arah tempat tambang tua berada. “Ada hal lain juga yang suatu hari nanti mungkin akan menjadi milikmu.“

Arven kecil mengikuti arah jari ayahnya. “Apa?“

Ayahnya terdiam sebentar. Lalu berkata dengan suara yang jauh lebih serius. “Astraeus.“

Arven sedikit bingung. “Astraeus si raksasa tambang?“

Ayahnya mengangguk pelan. “Jika suatu hari nanti dia memilihmu.“

Ia kembali menatap Titan Wrench di tangan Arven. “Maka benda itu akan sangat berguna.“

Arven kecil mengerutkan dahi. “Aku tidak mengerti...“

Ayahnya tertawa pelan lalu menepuk kepala Arven. “Kau akan mengerti nanti.“ Ia berdiri kembali. Bayangan tubuhnya tertutup cahaya senja.  “Ketika kau sudah dewasa.“

...---⚙---...

^^^*gambar buatan AI^^^

Arven masih menatap Titan Wrench di tangannya. Ada sesuatu yang berbeda di matanya sekarang, bukan sekadar kenangan tapi pengakuan yang selama ini ditahan.

Debu menyelinap dari langit-langit, mengotori wajah Arven yang tegang. Ia mencengkeram Titan Wrench dengan erat. Logam dingin itu bukan lagi sekadar alat bengkel, beratnya mendadak terasa seperti beban sejarah yang belum usai.

​“Arven…” suara ibunya rendah, parau oleh napas yang tersengal. “Ayahmu tidak meninggalkan itu… untuk sekadar alat.” ​Ibunya menarik napas panjang. Dadanya naik-turun dengan susah payah, jemarinya yang gemetar menyentuh lengan Arven. “Itu adalah kunci.”

​DUUUM...

​Lantai kayu rumah mereka melonjak. Guncangan itu merambat dari arah tambang, menghantam fondasi hingga piring-piring di rak berdenting jatuh dan pecah berkeping-keping. Arven terhuyung, sebelah tangannya menahan dinding yang bergetar hebat. Matanya langsung tertuju pada pintu.

​“…Astraeus,” bisiknya.

​Ibunya membuka mata. Sorot matanya kini tajam, menusuk. “Ia bukan sekadar mesin.”

​“...aku sudah tahu itu,” sahut Arven cepat.

​“Tidak,” ibunya menggeleng pelan, tangannya mencengkeram kain seprai. “Kau belum tahu apa yang sebenarnya ayahmu temukan di tambang.”

​Angin malam menderu masuk lewat celah dinding, memadamkan bara di tungku. Bayangan mereka memanjang, meliuk-liuk di dinding yang retak saat lampu minyak di sudut ruangan bergoyang liar.

​“Dia tidak membangun Astraeus,” lanjutnya dengan suara yang nyaris tenggelam dalam deru angin. “Dia menemukannya.”

​Arven membeku. Gerakannya terhenti tepat saat ia hendak melangkah menuju jendela. “Menemukan?”

​Ibunya mengangguk lemah. “Terkubur jauh di dalam reruntuhan tambang. Tua, jauh lebih tua dari tambang ini. Bahkan mungkin lebih tua dari kerajaan mana pun yang pernah kau dengar.”

​Arven menelan ludah. Bayangan raksasa yang ada di tambang kembali melintas, diam, namun terasa memiliki denyut nadi.

​“Lalu… ayah melakukan apa?”

​Ibunya tersenyum getir, gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya. “Dia mencoba memahaminya. Memperbaiki apa yang rusak. Dan memastikan ia tidak bangun dengan cara yang salah.”

​DUUUM...

​Guncangan kedua datang lebih bertenaga. Langit-langit rumah retak, menjatuhkan puing-puing kecil yang menghantam lantai kayu dengan suara berisik. Arven bangkit berdiri, separuh tubuhnya sudah condong ke arah pintu, instingnya berontak.

​“Ibu, sesuatu terjadi di sana.”

​“Ya.” Ibunya memotong dengan nada yang tidak menerima bantahan. Tangannya menyambar pergelangan tangan Arven, menariknya kuat-kuat. “Dan itu bukan kebetulan.”

​Arven menoleh cepat, menatap mata ibunya yang kini berkilat penuh peringatan. “Maksud ibu?”

​“Dunia yang ayahmu hindari,” bisiknya, “akhirnya menemukan jalannya ke sini.”

​Arven merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya. Suara dentuman di kejauhan kini diiringi suara logam yang beradu dan teriakan yang samar. “Paman Garrick juga berkata bahwa serangan ini bukan karena desa kita.”

​Ibunya mengangguk pelan. “Ya, mereka tidak datang untuk desa ini.”

​Napas Arven tertahan. Ia berpaling ke arah jendela, menatap cahaya biru yang berpijar dari mulut tambang, membelah kegelapan malam dengan cara yang tidak alami.

​“Mereka datang untuk Astraeus,” suara ibunya terdengar seperti bisikan rahasia terakhir. ​“Dan jika mereka mendapatkannya… tidak akan ada tempat bernama ‘rumah’ yang tersisa di dunia ini.”

​DUUUM...

​Goncangan ketiga meledak. Kali ini tanah seolah terbelah. Di tangan Arven, Titan Wrench mendadak bergetar hebat. Logam itu berdenging rendah, mengeluarkan frekuensi yang membuat giginya terasa ngilu. Alat itu merespons sesuatu dari kejauhan tambang.

Logam itu tidak lagi sekadar bergetar. Ia berdenyut seperti jantung kedua di tangan Arven. Cahaya biru merayap dari dalam ukiran, bukan memantul, tapi menyala dari dalam.

​Arven mengangkat alat itu, menatapnya dalam remang cahaya biru. Sekarang, ia tidak lagi menggenggam Titan Wrench sebagai alat. Ia menggenggamnya seperti seseorang yang baru saja menerima takdir.

Arven menoleh kembali pada ibunya, namun kali ini raut wajahnya berubah keras. Kebingungan itu menguap, digantikan oleh kesadaran yang dingin.

​“…jadi ini alasannya…” ​Ia menggertakkan gigi, otot rahangnya menonjol. ​“Ayah tidak pergi… dia sedang menahan sesuatu.”

​Ibunya tersenyum. Ada rasa bangga yang tersirat di sana. “Dan sekarang, itu bukan lagi tugasnya seorang diri.”

​Hening sejenak di tengah kekacauan. Di luar, dunia terus runtuh. Tapi di dalam, sebuah warisan akhirnya berpindah tangan.

...⚙⚙⚙...

A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...

—T28J

1
Mystic Novel
nah seperti ini, mungkin bisa di konvert ke kata yang lebih sederhana dan bukan puitis, soalnya ini genre fantasi...

tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Mystic Novel
Thor, karena ini cerita fantasi, narasinya kalau bisa lebih sedikit di sederhanakan, karena pembaca susah nebak suasana dan dunianya.
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
seram kalo bisikan
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wow bagusnya
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
memasuki sepatu sambil lari 🤔
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
yah serius lah /Facepalm/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
keren ini /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
mantap ada transformers /Good/
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
wah nasibnya gimana?
⋆.ꂵꂑꀗꈼꐞ Jr✮
titan yang ada "attack on titan"
Oto,'Pemuja Hati'
Jadi keingat dengan dunia game dengan menggunakan sistem kartu.. m😌
Oto,'Pemuja Hati'
Aku masih terkagum-kagum dengan gambarnya.. m🥹 Terlalu konsisten.. m🥰
SANG
Oke Thor💪👍 tetap semangat ya💪👍
SANG
Jempol untukmu dek👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//CoolGuy/
SANG
Go go go go...💪👍
Muqimuddin Al Hasani
belum ngerti maksud kartunya
Muqimuddin Al Hasani
ini mah benar terinspirasi dari lord of the ring, yang satu panah yang satu gada
alicea0v
"Aliceee!!!" teriak Xena histeris. "Ada penduduk sebelah mau matiii!!" wanita penyihir itu berlari memutar panik, disetiap langkahnya membuat debu mengepul ke udara.

Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.

"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.

"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)
alicea0v: 🤣🤣🤣🤣 aku ngakak sumpah..
total 2 replies
alicea0v
sabar-sabar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!