Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Melihat adiknya yang sering kali terlihat melamun atau menatap layar ponsel dengan wajah kecewa, kekhawatiran Rian akhirnya sampai juga ke telinga Tuan Andre Adhitama. Sebagai kepala keluarga dan sosok yang paling menyayangi putrinya, mendengar bagaimana Darren memperlakukan Selly membuat dada pria paruh baya itu terasa sesak dan panas.
Siang harinya, setelah makan siang, Tuan Andre memanggil Selly ke ruang kerjanya di rumah. Ruangan yang luas, berwibawa, namun tetap terasa nyaman dan hangat.
Selly masuk dengan langkah pelan, wajahnya masih terlihat sedikit lesu namun ia berusaha tetap tersenyum manis saat melihat ayahnya.
"Papa manggil Selly?" tanya gadis itu lembut, lalu duduk di sofa kecil di hadapan sang ayah.
Tuan Andre menutup buku catatan di tangannya, lalu menatap putrinya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa sayang, ada rasa kasihan, tapi juga ada rasa kesal yang terpendam.
"Duduklah, Nak. Papa cuma mau ngobrol sebentar sama kamu," ucap Tuan Andre pelan. Ia bangkit dari kursi kerjanya, lalu duduk di sofa bersebelahan dengan Selly.
Tangan besar dan hangat itu terulur, mengelus punggung tangan kecil Selly dengan penuh kasih sayang.
"Papa dengar dari Rian... hubungan kamu sama Darren Wijaya itu... ya begitulah adanya. Papa dengar dia sering menyakiti hati kamu, sering mengabaikan kamu, dan bersikap dingin luar biasa."
Selly menunduk, pipinya memerah menahan malu. "Yah... Selly..."
"Sudah, jangan cari alibi buat dia," potong Tuan Andre halus namun tegas. "Papa juga manusia, Papa juga pernah muda, dan Papa paham betul bagaimana rasanya mencintai. Tapi Papa juga tau, kalau cinta itu tidak boleh membuat seseorang terus-menerus menangis dan merasa kecil."
Tuan Andre menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah jendela yang memperlihatkan taman indah di halaman rumah mereka.
"Papa tidak mau memaksamu untuk melupakan dia secara paksa. Tapi sebagai ayahmu, Papa punya wewenang dan kekuatan untuk menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih cepat."
Selly mendongak bingung. "Maksud Papa apa?"
"Maksud Papa..." Tuan Andre menoleh kembali, wajahnya tampak serius dan berwibawa. "Papa bisa langsung menemui dia. Atau bahkan lewat jalur bisnis. Papa bisa pastikan bahwa dia akan memperlakukan kamu dengan baik, atau setidaknya memberi penjelasan yang jelas kenapa dia bersikap seperti itu."
"Papa bisa bikin dia Merasakan apa yang kamu rasain, Sel. Papa bisa pastikan dia tidak akan berani meremehkan putri Papa lagi. Mau Papa bantu atur pertemuan atau bicara langsung sama dia?" tawar Tuan Andre dengan penuh keyakinan.
Dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki keluarga Adhitama , hal itu tentu sangat mudah dilakukan. Darren Wijaya pun pasti akan berpikir dua kali jika harus berhadapan langsung dengan Tuan Andre.
Namun, mendengar tawaran itu, Selly justru menggeleng cepat dengan tegas.
"Enggak usah, Yah! Tolong jangan lakukan itu!" seru Selly agak keras.
Tuan Andre terlihat kaget. "Kenapa? Kamu mau biarin dia terus-terusan nyakitin kamu gitu aja?"
"Bukan gitu, Yah..." Selly menggenggam tangan ayahnya erat-erat, matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa. "Selly mengerti maksud Papa baik, Selly tau Papa sayang sama Selly. Tapi... Selly mau usaha sendiri. Selly mau dapatkan hatinya dengan cara Selly sendiri, bukan karena tekanan atau karena perintah Papa."
"Tapi caranya itu menyakitkan, Nak."
"Selly tau itu sakit, Yah. Tapi kalau Papa yang campur tangan, kalau Papa yang paksa dia buat baik sama Selly... nanti rasanya jadi gak asli. Selly mau dia terima Selly karena dia memang sayang sama Selly, bukan karena takut sama Papa atau takut soal bisnis," jelas Selly panjang lebar, suaranya penuh perasaan.
Ia ingin membuktikan bahwa cintinya tulus, dan ia ingin memenangkan hati pria itu dengan usahanya sendiri, bukan karena nama besar keluarganya.
"Biarkan Selly yang selesaikan ini sendiri ya, Yah. Selly janji, Selly gak akan bodoh terus kok. Kalau memang sampai kapan pun dia gak bisa menerima Selly, Selly pasti bakal sadar diri dan mundur kok. Tapi tolong... kasih Selly kesempatan buat coba dulu."
Mendengar penuturan putrinya itu, Tuan Andre hanya bisa menghela napas panjang penuh kelembutan. Ia menatap wajah Selly yang begitu cantik namun menyimpan ketegaran yang luar biasa.
Perlahan, senyum tipis terukir di wajah tegas pria itu. Ia mengangkat tangannya, mengacak lembut rambut putrinya.
"Dasar anak keras kepala..." gumam Tuan Andre pelan. "Kamu ini... sama persis kayak Papa dulu waktu muda."
Selly tersenyum kecil mendengarnya. "Hah? Serius?"
"Serius," jawab Tuan Andre sambil terkekeh pelan. "Dulu juga sama, Mama kamu dulu itu orangnya dingin dan susah didekati. Semua orang bilang Papa gak mungkin dapetin dia, tapi Papa buktiin sendiri sampai berhasil. Dan liat sekarang... kita bahagia kan?"
Tuan Andre menatap mata Selly dalam-dalam.
"Jadi Papa ngerti sifat keras kepala kamu itu dari mana turunannya. Papa izinkan kamu berjuang sendiri, Papa gak akan campur tangan. Tapi ingat satu hal ya, Putri Papa..."
"Apa itu, Yah?"
"Batas itu ada. Kalau nanti rasa sakitnya sudah melebihi rasa sayangnya... kamu harus berani berhenti. Jangan memaksakan diri sampai hancur. Papa sama keluarga kamu selalu ada di belakang kamu, siap menampung kamu kapan saja," pesan Tuan Andre bijak.
Selly langsung merasa lega dan haru. Ia memeluk erat lengan sang ayah, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh itu.
"Makasih banyak ya, Pahlawan kesayangan Selly. Selly janji bakal hati-hati," bisik Selly manis.
"Ya sudah, sana lanjutkan kegiatanmu. Tapi jangan lupa makan dan istirahat ya," ucap Tuan Andre sambil melepaskan pelukan itu.
Selly mengangguk semangat, lalu berjalan keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang sedikit lebih baik. Dukungan ayah memberinya kekuatan baru.
'Ayo Selly, semangat! Papa aja bisa menaklukkan Mama yang dulu dingin, pasti Selly juga bisa!' batinnya berteriak penuh semangat, meski di lubuk hati terdalam, ia sedikit pun tidak tahu... bahwa tembok yang dibangun Darren jauh lebih tinggi dan lebih dingin daripada yang ia bayangkan.
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥