Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
029~
Lin Xia Mei memeluk erat bunga di tangannya, matanya berkaca-kaca, rasa hangat menyeruak di dadanya, sungguh ini pengalaman yang mendebarkan dan berharga baginya.
"Jika Inang bersikeras mempertahankan bunga-bunga itu, sekarang bagaimana kau bisa ikut pulang? Bukankah ini akan menaikkan rasa suka tokoh utama pria?" Bao bertanya sambil berkacak pinggang.
"Aku sudah memikirkan ide."
Mata Lin Xia Mei menyisir area itu, mencari sebuah semacam toko namun terlihat nihil. Ia berjalan hingga keluar dari area wisata danau, panas matahari semakin terik membuat tenggorokan Lin Xia Mei terasa kering.
Jauh sudah ia berjalan, langkahnya berhenti di tepi jalan raya, ia tersenyum saat melihat ada sebuah toko kecil di seberang jalan. Jalanan tidak terlalu ramai siang ini, cukup mudah baginya untuk menyebrangi jalan.
Beberapa pejalan kaki sempat melihat ke arah Lin Xia Mei yang basah kuyup sedang menyebrangi jalan. Ia tidak peduli bagaimana penampilannya sekarang ini, ia hanya ingin cepat sampai pada tujuannya.
Berhasil menyebrang, ia masuk ke dalam toko yang menjual snack dan minuman kemasan serta etalase khusus es krim. Ia teringat pada es krim yang dibawa Wei zhu Chen tadi.
"Sepertinya Wei Zhu Chen beli disini, cukup jauh." batinnya.
"Nona mencari apa?" tanya Ibu pemilik toko.
"Emmm disini jual kantong plastik besar dan warnanya gelap?"
"Maaf sekali Nona, saya tidak menjual kantong plastik."
"Nyonya pemilik toko, aku mohon.. Aku sangat butuh. Aku akan membayarnya berapapun harganya."
Beruntung sebelum melompat ke danau, ia sudah meletakkan tas nya lebih dulu, uang pun selamat.
"Haiih, Nona.. Aku tidak menjualnya, aku akan memberikannya padamu secara cuma-cuma."
"Eh?" Lin Xia Mei terkejut.
Pemilik toko berjalan ke meja kasirnya dan membungkuk untuk mengambil satu kantong plastik besar berwarna hitam.
"Maaf Nona, aku hanya punya satu."
Lin Xia Mei langsung mencoba memasukkan dua buket bunga ditangannya, ternyata cukup pas untuk ukuran buket bunganya.
"Apakah anda juga punya vakum?"
"Alat untuk menghilangkan udara itu ya?"
Lin Xia Mei mengangguk dengan cepat.
"Ada, tunggu sebentar."
Setelah menunggu beberapa menit, pemilik toko muncul dengan alat vakum udara yang tidak terlalu besar.
"Kebetulan sekali, Nona. Saya baru beli alat ini."
Lin Xia Mei merasa senang, ia langsung memvakum kantong plastiknya hingga kempes, tidak ada angin dan jadi gepeng. Setelah itu ia menggulungnya hingga menjadi sebesar payung berukuran sedang.
"Berapa semuanya?" tanya Lin Xia Mei, ia mengeluarkan dompetnya.
"Tidak perlu, Nona. Ini gratis untukmu." kata pemilik warung, ia sedikit iba melihat penampilan Lin Xia Mei yang cukup berantakan dengan mata sembab.
Lin Xia Mei terdiam, ia menatap nanar pemilik toko yang berdiri di depannya, wanita berusa 50 tahunan dan menjaga toko ini sendirian tanpa karyawan, mereka tidak saling mengenal namun ia menabur kebaikan.
"Inang, kau tidak ada rencana menambah poin?" tanya Bao.
"Ck, Bao. Dia baik padaku, kantong plastik besar ini sangat tebal, harganya pun belum tentu murah. Ini kan masuk hitungan biaya operasional juga, aku tidak tega berbuar onar disini."
"Hmmm baiklah, inang."
"Aku tidak mau sepenuhnya dikendalikan sistem,"
"Haiss, inang... Bao tidak mengendalikanmu~" rengek Bao.
Lin Xia Mei mengambil beberapa lembar uang ¥100 sebanyak 7 lembar.
"Ambil ini, aku sangat berterima kasih." ucap Lin Xia Mei, ia meletakkannya di meja kasir.
"Tu-Tujuh ratus Yuan.. Ini- Ini terlalu banyak, Nona." pemilik toko sampai tergagap, hanya selembar kantong plastik tapi dihargai 700 yuan.
"Aku sudah tua, tapi aku tidak buta nominal. Nona, ambil kembali uangmu." tolaknya.
Lin Xia Mei menghela napas lalu menggebrak meja dengan keras hingga membuat 2 pembeli lain terkejut.
"Ya ampun, perempuan itu kasar sekali."
"Iya, apa kita tegur saja?"
Lin Xia Mei tidak memperdulikan bisik-bisik tersebut.
"Uang ini hanya nominal kecil bagiku. Jika tidak mau menerimanya, jangan salahkan aku jika besok toko ini sudah rata tanah!" ancam Lin Xia Mei.
"Ambil uang ini atau bangkrut?!" ucap Lin Xia Mei dengan nada tinggi, sang pemilik toko itu ketakutan dan akhirnya memilih menerima uang dari Lin Xia Mei.
Lin Xia Mei tersenyum tipis, sangat tipis hampir tidak siapapun akan menyadarinya, ia melenggang pergi dari toko, meninggalkan dua pembeli yang sedang berjulid. Pemilik toko itu tidak marah atas sikap kasar Lin Xia Mei, mata tuanya tadi tidak sengaja menangkap senyum Lin Xia Mei.
Ia tersenyum melihat punggung Lin Xia Mei yang menghilang dibalik pintu, bel berbunyi tanpa pintu sudah tertutup kembali.
"Bibi, apakah anda baik-baik saja?" tanya pembeli lainnya.
"Wanita tadi kasar sekali bahkan berani mengancammu. Sebaiknya lapor polisi saja."
Pemilik Toko hanya tersenyum lalu menggeleng.
"Dia sebenarnya sedang menolongku."
Jawaban ini membuat dua pembeli itu saling bertukar pandang, merasa heran.
Di luar...
"Inang, kenapa kau memberi banyak uang?" tanya Bao.
"Tadi saat menunggu dia mengambil alat vakum, mataku tertuju pada rak berisi makanan ringan dengan tanggal kadaluwarsanya besok. Ini bukan hanya 1 produk tapi ada beberapa dan aku mengambil kesimpulan sepertinya produk ini jarang laku."
"Bisa saja memang belum dikeluarkan produk yang masih lama kadaluwarsanya, kan?" sahut Bao.
"Tidak, Bao. Jika sesuai perkataanmu, harusnya produk itu sudah ditarik dan diganti baru ya maksimal satu minggu sebelum kadaluwarsa, sedangkan ini? Satu hari sebelum kadaluwarsa. Pembeli tidak terlalu ramai dan tempat itu sedikit berdebu."
Bao menghela napas.
"Baiklah inang, analisismu cukup tepat. Tapi memberikan uang sebanyak itu jatuhnya kau memberi bantuan."
"Memang itu tujuanku, Bao."
"Tapi Inang... Kau disini untuk menjadi jahat, bukan jadi penolong."
Lin Xia Mei tertawa kecil.
"Jahatku khusus untuk Wei Zhu Chen dan orang-orang yang yang berpotensi menghasilkan poin. Aku tidak mungkin menghapus total nuraniku hanya demi poin, kan?"
"Hmm baiklah Inang," Akhirnya Bao mengalah.
Di Taman..
"Ji Xiang, dari mana saja?" tanya Wei Zhu Chen saat Wei Ji Xiang baru datang dari arah danau.
"Mencari Ibu," jawabnya lesu.
Melihat anaknya lesu, ia merasa tahu bahwa Wei Ji Xiang sudah dimarahi oleh Lin Xia Mei.
"Apakah Ibu bicara kasar lagi?" tanya Wei Zhu Chen sembari membuka minuman kemasan.
"Ji Xiang tidak menemukan ibu."
Raut wajah Wei Zhu Chen menegang seketika itu juga, tutup botol minuman yang sudah terbuka segelnya pun langsung jatuh dari tangannya.
"Apa?! Ibumu tidak ada disana?!" tanya Wei Zhu Chen, panik sudah.
"Iya, Ayah. Ibu tidak ada di danau lagi."
Mendengar jawaban anaknya, Wei Zhu Chen langsung berdiri, ia meletakkan minumannya di atas tikar tanpa menutupnya lagi.
"Ji Xiang, tunggu disini. Jangan pergi kemana-mana."
Wei Zhu Chen langsung bergegas pergi dari tempat itu, meninggalkan minuman yang sudah tumpah ke tikar. Wei Ji Xiang menghela napas melihat kecerobohan Ayahnya.
Meskipun rasa sukanya sisa 51% namun angka ini masih termasuk besar.