Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Anak nakal
Hari ini adalah hari terakhir Laura libur. Gadis itu sudah mengusulkan agar pagi tadi masuk kuliah, namun di tolak mentah-mentah oleh Adeline dan juga Gaharu. Tidak ada pilihan lain selain menurut. Ingin membantah dan merencanakan acara kabur, namun di pintu depan dan belakang di jaga ketat oleh pengawal.
Di dalam hati, Laura terus menggerutu karena di larang melakukan aktivitas apapun hari ini. Ia di minta untuk tetap diam dan lebih baik tidur dari pada melakukan kegiatan.
Jujur saja, hal itu bukan kebiasaannya. Tubuhnya terbiasa melakukan banyak hal dan kegiatan. Dan di saat ia diam, ia merasakan bosan dan rasa gelisah yang mulai merayap di ujung jemarinya.
Ia merebahkan diri di atas kasur king size-nya, menatap langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mewah. Bukannya merasa rileks, ia justru merasa seperti narapidana yang di tahan di dalam ruangan VIP. Eh? Memangnya ada narapidana dengan ruangan VIP. Ah... Entahlah.
"Bisa gila aku kalau begini terus," gumamnya ketus sembari melempar bantal ke arah sofa.
Laura menegakkan tubuhnya. Bejalan ke sana kemari untuk mencari cara agar dapat keluar. Setidaknya berada di halaman belakang atau berada di taman halaman hunian ini. Ia membutuhkan udara segar, pengap rasanya berdiam diri terus di dalam kamar.
"Aku bukan beruang kutub yang sedang hibernasi, kenapa aku harus tidur? Aku sudah sehat. Mereka ini berlebihan sekali." Laura kembali menggerutu. Kakinya melangkah mendekati jendela.
Ia membuka tirai jendela tersebut, menatap hamparan rumput luas dan juga pepohonan yang sengaja di tanam di halaman belakang.
"Ugh! Kak Ar terlihat senang sekali bersantai sambil cekikikan tidak jelas. Dia sudah gila," cibirnya.
Laura menggeser jendela tersebut. Memberi ancang-ancang untuk berteriak, namun sebelum Laura mengeluarkan suara Arlo sudah mengangkat kepalanya. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangan, hendak meminta tolong agar pria itu menemaninya, namun respon yang di berikan Arlo sungguh di luar dugaan.
Pria itu cepat-cepat menyimpan kembali ponsel yang menjadi sumber cekikikannya beberapa menit yang lalu. Matanya meliar menghindari tatapan Laura. Arlo berdehem, berdiri lalu merapikan jasnya lalu pergi begitu saja tanpa mengindahkan keberadaan Laura yang jaraknya hanya 40 meter.
Di tempatnya Laura menganga tidak percaya. Ia mendesis karena kesal, bibirnya terus melontarkan gerutuan kesal. Ia kembali ke dalam mencari suatu barang yang dapat ia gunakan untuk dapat keluar dari kamar ini.
Kamarnya berada di lantai satu, tentu saja bukan hal yang sulit untuk ia kabur. Namun entah sejak kapan balkon kamarnya sudah di kelilingi oleh tanaman kaktus berduri tajam mengelilingi setiap sudut balkon kamarnya. Jika saja tanaman itu tidak mengelilingi balkon kamarnya, ia sudah sedari tadi melompat untuk mengejar Arlo.
Baik, mari kita putar otak agar ia dapat keluar dari dalam kamarnya sendiri. Berjalan mondar-mandir sampai akhirnya ia menemukan sebuah ide.
"Mereka pikir karena aku pendek aku tidak bisa melewati balkon itu? Cih! Aku memang pendek tapi otakku tidak sependek itu."
Laura mengambil satu kursi belajarnya dan mengangkat kursi tersebut menuju balkon. Kembali, ia membawa satu lagi kursi meja rias lalu meletakkan kursi tersebut di luar pagar balkon di antara tanaman kaktus dengan hati-hati.
"Hehe, lihat aku memang pintar."
Sebelum ia melancarkan aksinya, Laura masuk kembali ke dalam kamar, menata tempat tidurnya seakan-akan jika dirinya sedang tertidur di atas sana. Mengatur guling dan juga bantal, lalu menutup kedua benda tersebut dengan selimut. Terlihat seperti seseorang yang sedang tertidur.
Ia mendekat ke atas pintu, mengintip sedikit dengan hati-hati. Dua pengawal di depan kamarnya terlalu fokus berdiri tanpa merasa curiga jika di belakangnya Laura sudah membuka sedikit celah pintu.
"Oke, aman. Mereka terlalu kaku, itu lebih baik."
Laura berjalan dengan cepat ke arah balkon. Menutup pintu balkon dengan gerakan hati-hati. Dengan hati-hati, Laura naik pada kursi pertama, mulai menegakan tubuhnya lalu melangkah agar sampai pada kursi yang sudah ia letakan di luar balkon.
Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya karena kursi pertama yang ia gunakan merupakan kursi yang memiliki roda. Gadis itu berfikir, langkahnya sudah benar, namun ia salah. Pijakan kakinya pada kursi di luar sana terlalu ujung, menyebabkan keseimbangan tubuhnya goyah.
Tubuhnya tersungkur ke depan dengan siku dan kedua lututnya terluka.
Bruk!
"Aduh!" Laura mengaduh saat tubuhnya menempel pada rumput di tanah.
"Sial! Kursi kurang ajar!"
Dia sendiri yang salah, namun yang di salahkan malah benda mati.
Laura berdiri dengan tertatih. Ia mengangkat gaun rumahannya sedikit, kedua lututnya lecet namun tidak ia pedulikan. Hal pertama yang ia pedulikan adalah mendatangi Arlo dan memberikan pria itu pembelajaran.
Bisa-bisanya pura-pura mengabaikannya padahal jelas-jelas Arlo melihat kearahnya tadi. Matanya meliar memperhatikan sekitar, lokasi cukup aman dan dengan cepat kaki kecil itu melangkah dengan lincah. Menyelinap layaknya seorang ninja.
Laura berhenti di balik rimbunnya tanaman hias. Matanya menyipit tajam saat mendapatkan sesosok orang yang ia cari dan ingin ia beri pelajaran sedang duduk di gazebo dekat paviliun. Samar-samar Laura dapat mendengar cekikikan Arlo yang terlihat fokus menatap ponselnya.
“Lihat? Benar-benar kurang ajar. Tertawa saja Kak Ar, lihat saja apa yang akan aku lakukan.”
Laura berjalan dengan pelan, berhenti tepat di belakang Arlo bersembunyi di antara semak-semak dengan jarak aman. Ia menggapai sebuah kerikil kecil lalu melemparnya pada meja kaca di depan pria itu.
Arlo tersentak. Kepalanya menoleh cepat ke arah asal bunyi. “Siapa itu?” tanyanya dengan suara bariton yang terdengar waspada.
Arlo mematikan ponselnya sejenak, ia memperhatikan sekitar, tidak ada siapa-siapa. Ia mengangkat kedua bahunya dengan acuh dan kembali menonton lawakan ringan di dalam ponselnya.
Tubuh Laura kembali berdiri, ia meringsek maju, berjalan dengan kaki tertatih tanpa menimbulkan sedikit suara dan dalam hitungan detik Laura melompat pada pembatas balkon.
“Oh, bagus!”
Arlo terperanjat kaget. Ponsel di tangannya bahkan sampai terjatuh saking kagetnya dengan kehadiran Laura yang muncul secara tiba-tiba.
“Nyo—Nyonya..”
“Apa!” Laura berkacak pinggang. Penampilannya saat ini jauh dari kata baik-baik saja. Rambut acak-acakan, gaun rumahannya yang sudah kotor di beberapa bagian, dan jangan lupakan lecet di dua bagian tubuhnya.
“Ba—Bagaimana Anda bisa di sini, Nyonya? Jika Tuan muda dan Nyonya Adeline tahu mereka pasti akan marah.”
“Biarkan saja mereka marah, memang aku terlihat peduli. Yang aku pedulikan saat ini adalah..” Laura menyipitkan matanya tajam. Arlo sudah ketar-ketir di tempatnya. Dan dalam hitungan detik, jari Laura sudah nangkring di sebelah telinga Arlo.
“...menghukum kamu karena sudah mengabaikanku! Rasakan ini! Rasakan! Hih!”
Arlo memiringkan kepalanya dengan wajah yang menahan rasa sakit. Jeweran Nyonya mudanya benar-benar sakit, ia berkata jujur.
“Aduh! Aduh! Nyonya sakit, lepaskan Nyonya..”
“Mimpi! Biarin aja biarin. Aku nggak bakal lepasin sampai telinga Kak Ar copot!”
Laura semakin menarik jeweran telinga Arlo dengan keras. Bukan hanya telinga, bahkan kini Laura menarik rambut atas Arlo dengan keras.
“Nyonya kepala saya rasanya akan terlepas. Lepaskan, Nyonya. Saya minta maaf, saya menyerah.”
“Nggak mau! Nggak mau! Nggak mau!”
“Aduh, aduh! Nyonya, sumpah! Saya minta maaf! Tadi itu saya hanya refleks,” Arlo meringis sambil berusaha menjauhkan kepalanya tanpa menyakiti tangan mungil Laura yang masih mencengkeram rambut dan telinganya dengan semangat.
Laura akhirnya melepaskan tarikannya, namun tetap memberikan satu pukulan telak di lengan Arlo. “Refleks katamu? Kak Ar tadi jelas-jelas sengaja menghindari mataku lalu kabur begitu saja! Kakak tahu tidak, gara-gara ingin mengejar Kakak, aku sampai harus melewati kaktus-kaktus mengerikan itu dan jatuh tersungkur!”
Arlo mengusap-usap telinganya yang kini sudah merah padam. Namun, saat tatapannya turun dan melihat noda darah yang mulai merembes di lutut Laura, wajah paniknya kembali muncul, kali ini bukan karena takut dijewer, tapi karena benar-benar khawatir.
“Astaga, Nyonya! Lutut Anda benar-benar berdarah! Jika Tuan muda melihat ini, bukan hanya telinga saya yang copot, kepala saya bisa-bisa ikut di copot paksa untuk di jadikan pajangan ruang tamu.” Arlo dengan cepat memapah Laura untuk duduk.
Laura mendesis perih saat baru menyadari rasa denyut di lututnya setelah amarahnya sedikit mereda. “Ssh... perih. Ini semua salah Kak Ar!”
“Baik, saya yang salah, Nyonya. Tapi tolong, kita harus mengobati luka Anda.”
Arlo bergerak dengan kecepatan kilat. Pria itu berlari menuju paviliun dan mengambil kotak P3K. Tangannya dengan telaten membersihkan luka di lutut Nyonya mudanya.
“Kenapa Anda nakal sekali, Nyonya?”
“Aku tidak nakal!” bantah Laura dengan cepat. “Aku hanya lincah.”
Arlo menggelengkan kepalanya dengan pelan. Selesai dengan lutut, pandangan Arlo teralihkan pada siku bagian kiri Laura.
“Lihat? Orang lincah tidak akan ceroboh seperti ini, Nyonya.” Ujarnya sambil menunjukan siku Laura yang berdarah.
Laura berdecih pelan, mulutnya komat-kamit seakan meledek perkataan Arlo.
“Laura kamu benar-benar nakal,”
Suara itu sukses mengalihkan perhatian mereka berdua ke arah sumber suara. Arlo dengan wajah yang sudah pucat pasi dan Laura yang tertegun dengan otak yang mulai bekerja untuk memberikan alasan logis.
***
Kamis, 14 Mei 2026
Published : Kamis, 14 Mei 2026