NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalal Tiba

​Malam di ujung kebun jati itu seolah kehilangan kehangatannya, menyisakan lolongan angin yang menyapu dedaunan kering. Kirana masih meringkuk di atas tanah, sementara Miranti menatap pasrah dengan leher yang masih menyisakan jepitan kasar anak buah Reno. Pria berbaju hitam yang kepalanya bocor itu meludah, hendak meraih paksa lengan Kirana untuk kedua kalinya.

​TAK! TAK! TAK!

​Suara ketukan kayu yang teratur memecah kesunyian malam. Ketukan itu tidak cepat, namun getarannya seakan merambat melalui permukaan tanah, menghentikan gerakan sepuluh pria kekar di halaman gubuk tersebut.

​Dari balik kegelapan pohon jati, muncul sesosok pria tegap berjaket kulit cokelat dengan kacamata merah gelap. Langkahnya tenang, seolah-olah ia sedang berjalan-jalan di taman kota, bukan di tengah sarang penyamun. Di tangan kanannya, tongkat bambu murni berayun ringan. Jalal telah tiba.

​"Sial! Bos Reno kalah." umpat pria berkepala bocor itu, melepaskan cengkeramannya dari Miranti dan memberi isyarat pada lima temannya untuk merangsek maju. "Habisi dia! Jangan buang waktu!"

​Jalal tidak menjawab. Ia hanya mengulas senyum tipis yang sarat akan ketenangan. Ketika lima orang pertama menerjang dengan pisau lipat dan balok kayu, Jalal hanya menggeser tubuhnya setengah jengkal ke kiri. Gerakannya begitu santai, seolah ia sudah tahu arah angin dari setiap jotosan sebelum otot lengan musuhnya bergerak.

​TAK! PUK!

​Tongkat bambu Jalal mematuk pergelangan tangan pria pertama, membuat pisaunya terpelanting, disusul satu pukulan ringan ke arah hulu hati yang langsung membuat pria itu terjatuh sambil muntah darah. Dua orang berikutnya mencoba menyerang dari arah buta di belakang Jalal. Tanpa menoleh, Jalal memutar tongkatnya di atas kepala, menggunakan ujung bawah bambu untuk menyodok dagu musuh hingga terdengar suara rahang yang bergeser.

​Hanya dalam hitungan detik, lima orang sudah mengerang di atas tanah. Jalal bertarung dengan sangat santai, bahkan tangan kirinya masih berada di dalam saku jaketnya.

​"Mbak Ranti... Kirana..." Jalal berbisik, wajahnya terarah ke gubuk. "Mendekatlah ke belakangku."

​Miranti yang melihat keajaiban itu langsung merangkak, memeluk Kirana dan membawa keponakannya berlindung di balik punggung tegap Jalal. Kirana menangis sesenggukan, namun rasa aman mendadak merayapi dadanya saat berada di dekat pemuda berkacamata merah itu.

​Namun, sebelum Jalal sempat melumpuhkan sisa lima orang lainnya, desau angin di kebun jati mendadak berubah arah. Suhu udara anjlok drastis. Indera pendengaran Jalal yang tajam menangkap dua pasang langkah kaki yang melompat dari tajuk-tajuk pohon jati di atas mereka. Langkah kaki yang sangat ringan, hampir tak berbobot, seperti sepasang kapuk yang jatuh ditiup angin.

​WUSH! WUSH!

​Dua sosok mendarat dengan anggun di atas tanah datar, tepat di depan sisa-sisa anak buah Reno. Kebun jati yang remang seketika memperlihatkan visual mereka: seorang pria dan seorang wanita bertubuh jangkung dengan wajah blasteran Indonesia-Belanda yang rupawan namun dingin bak porselen. Rambut mereka pirang gelap, dan sepasang mata mereka memiliki warna abu-abu yang identik. Mereka adalah Bram dan Lisa, si kembar mematikan yang menjadi salah satu pilar kekuatan terkuat milik Satya.

​"Reno memang sudah tidak berguna," Lisa membuka suara, suaranya melengking halus namun mengandung getaran tenaga dalam yang pekat. "Si buta tidak terluka sedikitpun."

​Bram, saudaranya, hanya mendengus dingin sembari meraba belati panjang yang terselip di pinggangnya. "Tapi tunanetra ini bukan orang sembarangan, Lisa. Tuan Satya menandainya sebagai keseimbangan, tapi aku penasaran ... sehebat apa, orang yang dianggap setara oleh tuan Satya."

​Jalal menghentikan sisa gerakannya. Senyum santai di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh garis wajah yang serius. Melalui radar batinnya, Jalal terkejut. Getaran energi dari kedua orang ini secara individu memang berada sedikit di bawah Reno, namun ada sesuatu yang aneh. Detak jantung dan ritme napas Bram dan Lisa bergerak dalam sinkronisasi yang sempurna. Mereka bernapas di detik yang sama, dan menapak di ritme yang sama.

​Sejak kecil, si kembar ini dididik di dalam kamp militer rahasia untuk bertarung menggunakan jurus gabungan. Ketika mereka bergerak bersama, efektivitas serangan mereka tidak lagi bertambah, melainkan melipatgandakan kekuatan hingga jauh melampaui level Reno.

​"Mbak Miranti!" Jalal setengah berteriak tanpa menoleh, matanya tetap mengunci pergerakan si kembar. "Bawa Kirana lari sekarang juga! Cari jalan raya atau apa pun. Aku akan menahan mereka dan menyusul kalian nanti!"

​"Tapi—" Miranti ragu.

​"Cepat pergi! Aku tidak yakin bisa melawan mereka sambil melindungi kalian." potong Jalal tegas.

​Bram dan Lisa tidak memberikan kesempatan untuk berdebat. Dengan satu kedipan mata, tubuh mereka melesat maju bersamaan. Bram menyerang dari sisi kanan dengan tebasan belati yang mengincar arteri leher, sementara Lisa meluncur dari bawah, melayangkan tendangan sapuan yang dilapisi tenaga dalam murni untuk meremukkan pergelangan kaki Jalal.

​KLANG! TRAK!

​Jalal terpaksa melompat mundur, tongkat bambunya bergetar hebat saat menangkis kombinasi serangan maut tersebut. Kecepatan mereka luar biasa. Saat Jalal berhasil menepis belati Bram, kaki Lisa sudah berada satu inci dari lambungnya. Sinkronisasi mereka seperti satu manusia yang memiliki empat tangan dan empat kaki.

​Melihat Jalal mulai terdesak dalam pusaran serangan si kembar, Miranti tidak membuang waktu lagi. Sambil menangis, ia menarik lengan Kirana. "Kirana, ayo lari! Kita harus pergi!"

​Mereka berdua berbalik dan berlari sekencang-kencangnya menembus rimbunnya kebun jati, menuju arah utara di mana jalan raya antarkota berada.

​"Jangan biarkan mustika itu lepas!" seru Lisa di tengah-tengah pertarungannya dengan Jalal.

​Mendengar perintah itu, sepuluh orang pengawal segar yang baru saja dibawa oleh Bram dan Lisa dari dalam mobil langsung keluar dari kegelapan. Mereka adalah pasukan khusus bentukan Satya yang memiliki ketahanan fisik di atas rata-rata warga desa. Tanpa memedulikan pertarungan para pendekar, sepuluh pengawal itu langsung melesat mengejar pelarian Miranti dan Kirana.

​Napas Miranti terasa seperti membakar tenggorokannya. Di sampingnya, Kirana yang bertelanjang kaki beberapa kali tersandung akar pohon jati, membuat lutut dan jemari kakinya berdarah. Namun, ketakutan yang amat sangat membuat bocah sepuluh tahun itu terus memaksakan kakinya bergerak.

​Di belakang mereka, sayup-sayup terdengar suara derap sepatu lars yang menghantam tanah, disertai sorot lampu senter yang memotong kegelapan malam.

​"Mereka ke arah timur! Kejar!" teriak salah satu pengawal.

​Jarak di antara mereka semakin mengikis. Miranti tahu, dengan kondisi fisik mereka yang sudah kelelahan, dalam waktu lima menit lagi mereka pasti akan tertangkap. Ia terus memutar otak di tengah kepanikan yang menderu. Hingga akhirnya, rimbun pohon jati mulai menipis, digantikan oleh aspal hitam jalan raya pantura yang tampak sepi.

​Di tepi jalan, sekitar seratus meter dari pintu keluar hutan, sebuah truk fuso berukuran besar sedang terparkir di bawah temaram lampu merkuri. Bagian bak belakangnya tertutup terpal biru yang diikat longgar, memperlihatkan tumpukan keranjang-keranjang bambu berisi sayur-mayur segar.

​Tidak jauh dari truk, sebuah warung kopi pinggir jalan tampak menyala terang. Sang sopir truk, seorang pria paruh baya berkaus kutang, terlihat sedang asyik mengobrol dan menyeruput kopi hitamnya bersama sang pemilik warung, membelakangi kendaraannya.

​"Kirana, lihat truk itu," bisik Miranti dengan sisa napasnya. "Kita harus naik ke sana. Diam, jangan bersuara."

​Dengan gerakan mengendap-endap yang dilindungi oleh bayang-bayang gelap pohon, Miranti menuntun Kirana mendekati bagian belakang truk. Beruntung, bagian rantai penutup bak sedikit kendor. Miranti mengangkat tubuh kecil Kirana terlebih dahulu, membiarkan anak itu menyelinap masuk di antara celah tumpukan kubis dan karung cabai yang mengeluarkan bau menyengat.

​Setelah Kirana aman di dalam, dengan bersusah payah Miranti memanjat bodi besi truk yang dingin, lalu ikut menyusup ke dalam belitan terpal, menyembunyikan seluruh tubuh mereka di balik tumpukan hasil bumi tersebut.

​Tepat saat ujung kain jarik Miranti berhasil ditarik masuk, sepuluh pengawal berbaju hitam muncul dari kegelapan kebun jati. Mereka berdiri di tepi aspal, mengedarkan pandangan ke segala arah dengan napas yang memburu.

​"Sial! Ke mana mereka?! Jalannya lurus, tidak mungkin hilang secepat ini!" umpat pemimpin pengawal, senternya menyorot semak-semak di pinggir jalan, melewati truk sayur begitu saja tanpa rasa curiga.

​Di saat yang sama, sang sopir truk di warung kopi tampak meletakkan cangkirnya, bangkit berdiri sambil meregangkan otot-ototnya. "Wis bengi, Mbak. Aku tak budal duren... selak sayure bosok (Sudah malam, Mbak. Aku berangkat dulu... keburu sayurnya busuk)," ucapnya ramah pada pemilik warung.

​Sopir itu berjalan santai menuju kabin kemudi, sama sekali tidak menyadari bahwa di dalam bak truknya, ada dua nyawa yang sedang menahan napas dengan jantung yang berdegup kencang di balik tumpukan sayur.

​BRRRUUUMMM!

​Mesin diesel truk tua itu menderu keras, memuntahkan asap hitam dari knalpotnya sebelum akhirnya bergerak perlahan membelah malam. Truk itu melaju cepat, meninggalkan sepuluh pengawal Satya yang kebingungan di tepi jalan Kragan, membawa Miranti dan Kirana menjauh menuju arah barat—menuju Cirebon.

1
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya sudah bagus 👍 tapi ada Typo : "Tuhan bersabda" tapi yang betul "firman Tuhan".
Muqimuddin Al Hasani: Oke Kakak noted👍
total 1 replies
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!