Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai bekerja lagi
"Kau benar-benar keras kepala, Sophie Adler," gumam Max. Suaranya berat, penuh dengan campuran antara frustrasi dan rasa kagum yang meluap-luap.
Max menghela napas panjang, akhirnya ia mengangguk tipis, tanda bahwa benteng pertahanannya telah runtuh. "Baiklah. Kau menang. Kau boleh kembali ke kantor bersamaku besok."
Namun, sebelum Sophie sempat tersenyum menang, Max memajukan tubuhnya, menatapnya dengan tatapan yang sangat intens dan otoriter.
"Tapi ada satu syarat berat yang tidak bisa diganggu gugat," tegas Max. "Kau tidak akan pernah meninggalkan jangkauan pandanganku atau Lucas. Kau akan memakai alat pelacak di pergelangan tanganmu, dan jika aku bilang 'pergi' atau 'masuk ke mobil', kau harus melakukannya tanpa bertanya satu kali pun. Bisakah kau menepati itu?"
Sophie terdiam sejenak, menimbang persyaratan yang terdengar sangat protektif itu. Namun, demi bisa berada di pusat kendali dan menjaga Max, ia mengangguk mantap. "Aku setuju."
Melihat kepatuhan Sophie, ketegangan di wajah Max perlahan mencair. Ia menatap bibir Sophie yang tadi mengeluarkan argumen-argumen tajam, dan tiba-tiba rasa bangga yang luar biasa menyeruak di dadanya. Pria itu tidak bisa menahan diri lagi. Ia meraup tengkuk Sophie dengan tangan besarnya, menariknya mendekat, dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan penuh gairah.
Ciuman itu bukan hanya sekadar ciuman romantis; itu adalah segel dari sebuah aliansi baru. Ada rasa hormat, kekaguman, dan kepemilikan yang kuat di dalamnya. Sophie terengah, jemarinya meremas bahu kokoh Max saat pria itu memperdalam ciumannya, seolah ingin menunjukkan betapa ia sangat menghargai keberanian wanita di pelukannya ini.
Max melepaskan tautan bibir mereka perlahan, namun tetap menempelkan keningnya pada kening Sophie. Napas mereka saling memburu di keheningan kamar yang mewah itu.
"Aku mencintaimu karena kau tidak pernah membiarkanku menang dengan mudah," bisik Max dengan suara serak yang seksi. "Tapi ingat, Sophie... di kantor besok, kau adalah asistenku yang paling tajam. Dan jika ada yang berani menatapmu dengan cara yang salah, aku tidak akan segan-segan menunjukkan pada mereka kenapa mereka harus takut pada nama Hoffmann."
...****************...
Matahari pagi Frankfurt menyelinap malu-malu di balik tirai sutra berwarna gading, cahayanya jatuh lembut ke lantai marmer Italia yang dingin namun berkilau. Udara di dalam mansion terasa hening, terlalu rapi, seolah rumah megah itu ikut menahan napas menjelang hari yang penting. Jam dinding antik berdentang pelan, mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar menunggu siapa pun—bahkan seorang Maximilian Hoffmann.
Di tengah kamar utama yang luas, dua sosok berdiri berhadapan.
Max tampak nyaris sempurna dalam setelan jas navy gelap buatan tangan penjahit Savile Row. Potongannya presisi, mengikuti bahu dan postur tubuhnya yang tegap, memancarkan wibawa seorang pria yang terbiasa mengendalikan ruangan hanya dengan kehadirannya. Rambutnya tertata rapi, rahangnya tegas, tetapi sorot matanya—yang biasanya dingin dan penuh perhitungan—pagi itu menyimpan kegelisahan yang samar.
Di hadapannya berdiri Sophie.
Wanita itu mengenakan blazer hitam dengan potongan ramping, dipadukan dengan kemeja putih bersih dan rok pensil sederhana. Tidak ada perhiasan berlebihan, tidak ada riasan mencolok—hanya kecantikan yang terjaga rapi, profesional, dan berkelas. Sophie terlihat seperti wanita karier yang tahu persis ke mana ia melangkah, dan bagaimana caranya bertahan di dunia yang kejam tanpa kehilangan martabatnya.
Sophie berdiri sedikit lebih dekat, jemarinya yang lentik terangkat untuk merapikan simpul dasi sutra Max. Ia bekerja dengan penuh konsentrasi, memperbaiki sudut yang nyaris tak terlihat miring.
“Diamlah sejenak, Max,” katanya lembut, namun tegas. “Simpul ini sedikit melenceng.”
Max menghela napas pelan, jelas tidak sepenuhnya patuh. Bahunya bergerak gelisah, seolah tubuhnya menolak untuk benar-benar diam.
“Kau tahu aku benci menunggu,” gumamnya.
“Dan kau tahu aku benci hasil yang tidak sempurna,” balas Sophie tanpa menatapnya, fokus pada dasi itu.
Sudut bibir Max terangkat tipis. Alih-alih menurut, ia justru melingkarkan lengannya di pinggang Sophie, menariknya mendekat hingga jarak di antara mereka lenyap. Tubuh Sophie menegang sesaat, namun ia tidak benar-benar menjauh—hanya mendesah pelan.
“Max…” peringatnya.
Namun sudah terlambat.
Saat Sophie masih memusatkan perhatian pada simpul dasi, Max menunduk dan mencuri sebuah ciuman singkat namun dalam di bibirnya. Bukan ciuman tergesa, melainkan ciuman yang penuh kepemilikan—seolah Max ingin mengingatkan, di tengah semua topeng profesional itu, siapa mereka sebenarnya saat pintu tertutup.
“Max!” Sophie memprotes sambil tertawa kecil, pipinya langsung merona. Tangannya refleks mencengkeram jas Max. “Lipstikku bisa berantakan.”
“Biarkan saja,” jawab Max dengan suara serak, rendah dan hangat. “Aku bisa menyuruh mereka menunggu satu jam lagi hanya untuk mencium calon istriku.”
Ia tidak menunggu jawaban. Bibirnya kembali menyentuh sudut bibir Sophie, satu kali, lalu dua kali, seolah kecupan-kecupan kecil itu adalah kebiasaan yang tak bisa ia hentikan. Sophie memejamkan mata sesaat, berusaha tetap rasional, meski jantungnya berdegup terlalu cepat untuk pagi yang seharusnya formal.
Dengan napas yang sedikit tertahan, Sophie akhirnya menekan dada Max, menciptakan jarak tipis di antara mereka. Tatapannya berubah—lebih serius, lebih berhati-hati.
“Max,” ucapnya pelan. “Ada satu hal.”
Max berhenti sepenuhnya. Senyumnya memudar, digantikan ekspresi waspada yang khas. “Apa?”
Sophie menelan ludah, lalu menguatkan diri. “Aku ingin status pertunangan kita… tetap menjadi rahasia untuk sementara waktu. Setidaknya di depan publik. Dan orang-orang kantor.”
Alis Max langsung bertaut. “Kenapa?” Nada suaranya tidak keras, tapi jelas mengandung ketidaksetujuan. “Aku ingin seluruh dunia tahu kau milikku, Sophie.”
Sophie mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya mereka berdua dengar. “Justru karena itu. Jika mereka tahu aku adalah tunanganmu, aku akan menjadi target utama. Setiap langkahku akan diawasi. Setiap kesalahanku akan dibesar-besarkan hanya untuk melukaimu—secara emosional.”
Ia mengangkat wajahnya, menatap Max lurus-lurus. “Biarkan aku tetap menjadi asisten pribadimu di mata mereka. Itu memberiku kebebasan. Aku bisa bergerak tanpa kecurigaan. Mendengar hal-hal yang tidak akan pernah mereka katakan di depanmu.”
Ruangan kembali hening.
Pandangan Max jatuh pada kilau samar di balik kemeja Sophie—cincin pertunangan yang kini tergantung pada sebuah kalung tipis, tersembunyi dari dunia atas permintaan wanita itu. Rahangnya mengeras. Jelas keputusan ini bukan hal yang mudah baginya.
Beberapa detik berlalu sebelum ia akhirnya mengangguk pelan.
“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya berat namun terkendali. “Rahasia untuk sekarang.”
Ia lalu mengangkat tangan Sophie, mengecup punggungnya dengan penuh makna. Tatapannya mengunci mata Sophie, dalam dan penuh janji.
“Tapi di dalam ruangan ini,” lanjutnya rendah, “kau tetap Nyonya Hoffmann-ku.”
Sophie tersenyum kecil—senyum yang hanya Max yang berhak melihatnya—sebelum kembali merapikan dasinya yang kini sudah sempurna.
...****************...
Suasana romantis pagi tadi seketika menguap begitu limusin hitam milik Max berbelok memasuki pelataran gedung pusat Hoffmann Motors. Bangunan kaca menjulang itu berdiri dingin dan tak berperasaan, memantulkan cahaya matahari pagi seperti bilah pisau—indah, namun berbahaya. Bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti, Sophie sudah bisa mendengar gemuruh suara di luar, riuh dan liar.
Ratusan wartawan memenuhi area depan gedung seperti kawanan serigala yang mencium darah. Kamera terangkat tinggi, mikrofon berlogo stasiun berita saling bertabrakan, dan pagar pembatas nyaris tak berarti di hadapan ambisi mereka. Skandal Richard Hoffmann telah menjadi santapan empuk, dan pagi ini mereka ingin lebih—mereka ingin Max.
“Tetap di belakangku.”
Instruksi itu keluar dari bibir Max dengan nada datar, dingin, dan kembali sepenuhnya otoriter. Tidak ada sisa pria yang tadi mencuri ciuman di balik tirai sutra. Yang ada sekarang hanyalah CEO Hoffmann Motors—seorang pemimpin yang terbiasa berjalan di atas bara api tanpa menunjukkan rasa sakit.
Sophie mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, merapikan ekspresi wajahnya sebelum pintu mobil dibuka.
Begitu pengawal membuka pintu limusin, suara riuh itu meledak.
Kilatan kamera menyambar seperti petir bertubi-tubi, membuat mata Sophie sedikit perih. Teriakan pertanyaan datang bersamaan, saling tindih, saling mendesak.
“Tuan Hoffmann! Apa benar ayah Anda terlibat dalam penggelapan aset internasional?”
“Apakah Richard Hoffmann sudah melarikan diri dari Jerman?”
“Siapa wanita di samping Anda? Apakah dia saksi kunci kasus ini?”
“Bagaimana nasib saham Hoffmann Motors pagi ini?!”
Anak buah Max bergerak cepat, membentuk barikade hidup. Bahu-bahu mereka saling bersentuhan, mendorong kerumunan jurnalis yang semakin agresif. Namun tekanan massa tetap terasa, membuat langkah terasa berat.
Max turun lebih dulu, lalu secara refleks meletakkan tangannya di punggung Sophie—gestur protektif yang tegas, hampir posesif. Telapak tangannya hangat, mantap, seolah berkata kau aman selama bersamaku. Ia menuntunnya menembus lautan manusia dengan langkah panjang dan penuh kendali, wajahnya keras membeku, rahangnya mengatup kuat.
Sophie menjaga pandangannya lurus ke depan. Ia tahu satu kesalahan kecil—tatapan panik, ekspresi goyah—bisa menjadi tajuk utama berita sore ini.
Seorang wartawan pria menerobos celah pengawal, menyodorkan mikrofon terlalu jauh hingga nyaris menyentuh wajah Sophie. “Nona! Apa hubungan Anda dengan Tuan Hoffmann? Apakah Anda terlibat—”
Belum sempat kalimat itu selesai, salah satu pengawal Max menepis mikrofon tersebut dengan kasar. Alat itu jatuh ke aspal, memicu teriakan protes dan kekacauan kecil. Dorongan terjadi, suara makian bercampur dengan klik kamera yang tak pernah berhenti.
Sophie sedikit tersentak, namun segera menegakkan bahunya. Kilatan lampu flash membuat kepalanya berdenyut halus, tetapi ia memaksa diri untuk tetap fokus. Di sampingnya, ia bisa merasakan otot lengan Max mengeras—tegang, siap meledak jika situasi memburuk.
Max tidak mengatakan apa pun.
Namun keheningannya justru lebih mengintimidasi daripada seribu bantahan. Beberapa wartawan di barisan depan secara naluriah mundur selangkah saat bertemu tatapan matanya—dingin, tajam, dan berbahaya. Tatapan seorang pria yang tidak takut menghancurkan siapa pun yang berdiri di jalannya.
Akhirnya, pintu lobi kaca otomatis terbuka.
Begitu mereka melangkah masuk, petugas keamanan segera mengunci pintu dari dalam. Suara gaduh di luar berubah menjadi gema teredam, seperti raungan binatang yang terkurung. Di dalam lobi, udara terasa berbeda—lebih tenang, lebih steril, namun sarat ketegangan yang tak kasatmata.
Max berhenti sejenak.
Ia menoleh ke arah Sophie, memeriksanya dari ujung kepala hingga kaki dengan cepat namun teliti. “Kau baik-baik saja?”
Sophie mengangguk. “Aku baik,” jawabnya pelan, meski napasnya belum sepenuhnya stabil.
Max mengangguk tipis, lalu merapikan posisi jasnya dengan satu gerakan efisien. Wajahnya kembali tanpa ekspresi, seperti topeng yang telah melekat selama bertahun-tahun.
“Selamat datang di neraka, Nona Adler,” bisiknya tajam, nyaris tanpa emosi.
Pandangan Max beralih ke arah lift eksekutif di ujung lobi—pintu baja berlapis kaca gelap yang kini tertutup rapat. Di sanalah para dewan direksi menunggu. Pria-pria berjas mahal dengan senyum diplomatis, yang hari ini tak lagi menyembunyikan belati di balik punggung mereka.
Sophie mengikuti arah pandang Max. Bibirnya menegang tipis, namun matanya justru berkilat penuh perhitungan.
Ia tahu—ini baru permulaan.