NovelToon NovelToon
SISTEM TAJIR

SISTEM TAJIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Berondong
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: zhar

Dimas, pria berusia 42 tahun yang hidupnya hancur dan berakhir sebagai gelandangan setelah dikhianati. Saat segalanya tampak berakhir, ia terbangun kembali di tubuhnya yang berusia 18 tahun, ketika masih menjadi mahasiswa.
Di titik balik hidup itu, Dimas memperoleh anugerah misterius sebuah sistem yang memberinya kekuatan dan peluang finansial luar biasa. Berbekal ingatan pahit masa depan dan kekuatan baru, ia bertekad mengubah takdir, membalas para pengkhianat, serta membangun kembali kekayaan dan kekuasaannya dari nol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sesampainya di asrama kampus UI, Dimas memarkir mobilnya, lalu mengambil dua kotak besar itu dan naik ke lantai atas. Ia meletakkannya di kamar, kemudian mengosongkan ranselnya untuk dibawa turun lagi karena di dalam mobilnya masih ada tumpukan uang tunai dalam jumlah sangat besar.

Sesampainya di mobil, ia menengok ke sekeliling, memeriksa apakah ada kamera keamanan di area parkiran. Setelah yakin tidak ada, Dimas menarik napas lega, tapi tetap saja ia tak mau ambil risiko dengan membawa uang sebanyak itu secara sembarangan.

“Kalau sampai ada yang tahu aku pegang uang tunai sebanyak ini di tangan, atau di kamar asrama yang sempit itu, bisa-bisa aku dibunuh duluan baru uangnya diambil,” pikirnya.

Dimas berpikir realistis. Siapa pun akan gelap mata kalau melihat uang tunai Rp10 miliar, jadi ia berencana untuk menyetorkan seluruh uang itu ke bank besok pagi-pagi sekali.

Karena jumlahnya terlalu banyak, Dimas tahu ia harus bolak-balik dua kali untuk memindahkannya semua. Rak bajunya yang semula penuh ia bongkar sebagian, lalu menyembunyikan uang itu di bawah tumpukan pakaian. Meski agak gelisah dengan uang sebanyak itu di kamarnya, akhirnya ia memutuskan untuk tidur.

Keesokan paginya, hal pertama yang ia lakukan begitu bangun adalah menatap rak besar yang kini berisi uang tunai, tertutup rapi oleh tumpukan pakaian.

Ia mencoba menenangkan diri. “Tidur udah, sekarang waktunya olahraga sedikit dan setor uang. Kelas pertama bisa aku skip,” gumamnya.

Ketika hendak keluar kamar, Dimas berhenti sejenak. Ia menghela napas, lalu menatap ponselnya. Jam di layar menunjukkan pukul 12 malam. Ia baru ingat, ponselnya belum disetel otomatis, tidak seperti ponsel-ponsel baru.

Dimas menoleh ke jam meja. Jarumnya menunjukkan pukul tiga pagi. Ternyata ia bangun terlalu dini.

“Halah… kelakuanku kayak anak SMA aja. Ya sudah, mending hitung dulu uangnya, siapa tahu bisa bikin tenang,” katanya pelan.

Ia mulai menghitung.

Rp9.953.000.000 tunai dan Rp48.540.000 di rekening bank.

Jadi totalnya sekitar Rp10.001.540.000.

Ia memutuskan menyisakan Rp1.540.000 tunai di sakunya untuk keperluan kencan nanti, dan menyimpan Rp10 miliar di bank.

Dimas tersenyum lebar. Ia terlalu bersemangat untuk tidur lagi. Dua misi terakhir dari sistem benar-benar memberinya uang gila-gilaan.

“Jangan boros, Mas Dimas,” katanya menasihati diri sendiri. “Anggaran kencan cukup Rp1,5 juta, sisanya nabung. Kalau dia nggak cocok, ya udah, tinggalin aja. Nggak perlu drama.”

Berbeda dengan hidupnya yang dulu, Dimas kini bertekad untuk jadi orang yang tegas dalam mengambil keputusan dan berhenti berpikir dengan nafsu, yang dulu hanya membawanya ke jalan buntu.

Dalam kehidupan sebelumnya, Dimas pernah menghabiskan semua tabungannya hanya untuk satu kencan, demi mengesankan seorang wanita. Ia bahkan tak peduli saat membeli makanan seharga Rp600.000 yang kemudian ia sadari sebagai salah satu keputusan paling bodoh dalam hidupnya.

Setelah menghitung semua uang itu, Dimas menyesuaikan waktu di ponselnya agar sesuai dengan waktu setempat, lalu keluar kamar untuk jogging dan menenangkan pikiran. Udara pagi Depok terasa sejuk, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasa segar dan berenergi. Ternyata, dirinya memang orang yang cocok dengan pagi hari.

Selesai jogging selama satu jam, ia kembali ke kamar dan melakukan seratus push-up dibagi menjadi empat set serta beberapa sit-up. Ketika melihat jam dinding, baru menunjukkan pukul 05.30 pagi, dan kafetaria kampus masih tutup. Maka Dimas memutuskan untuk memanfaatkan waktu itu dengan membuka buku kuliahnya, menyelesaikan beberapa catatan, lalu menyalakan laptop untuk melihat berita.

Ada satu hal yang jelas di benaknya ia berasal dari masa depan. Namun, pengetahuan itu tidak selalu berguna, karena sering kali ia tidak bisa mengingat informasi penting di saat ia paling membutuhkannya.

“Kalau aku nonton berita, mungkin bisa memicu ingatan tentang apa yang akan terjadi… atau peluang yang bisa kugunakan,” pikirnya.

Beritanya membosankan kasus perampokan kecil, pencurian motor, politik kampus tidak ada yang menarik. Jadi ia mencoba membuka beberapa situs yang ia tahu di masa depan akan terkenal, tapi saat diklik, layar laptopnya hanya menampilkan pesan “HTTP Error: Website Not Found.”

Dimas tersenyum kecil. “Masih belum ada, ya… berarti aku masih punya waktu.”

Setelah beberapa kali mencoba, ia merasa bosan dan memutuskan turun ke kafetaria. Saat itu jam 07.00 pagi, waktunya sarapan.

Kafetaria masih sepi, hanya ada suara pelayan menyiapkan roti dan nasi uduk. Dimas duduk di sudut ruangan, menikmati sarapan sambil berpikir panjang. Ia mencoba mengingat peristiwa besar yang akan terjadi dalam waktu dekat sesuatu yang bisa ia manfaatkan.

Dan tiba-tiba, matanya melebar. Tatapannya kosong sejenak, lalu berubah jadi bersinar tajam. Sebuah ide besar muncul di kepalanya. Ia sampai mempercepat makanannya karena terlalu bersemangat.

“Gila… kalau ini berhasil, aku bisa jadi miliarder sebelum umur 30,” gumamnya dengan napas memburu.

Begitu jam menunjukkan 07.10, Dimas langsung bergegas keluar kafetaria, hampir berlari.

Namun, baru beberapa langkah, sekelompok mahasiswa berjalan ke arah pintu masuk. Begitu melihat Dimas, mereka langsung berhenti dan tersenyum lebar.

“Hei! Itu Dimas, yang kemarin di turnamen kampus, kan?”

“Hai, kamu sibuk nggak? Boleh ngobrol?”

“Aku fans berat kamu, Bro!”

Dimas menatap mereka dua cewek berpenampilan acak-acakan dan satu cowok dengan wajah penuh jerawat dan aroma badan yang menyengat. Bau mereka begitu kuat sampai-sampai perut Dimas bergejolak.

“Ya ampun…” gumamnya, menutup hidung sambil mundur pelan.

Bukan karena jijik pada mereka, tapi karena aroma keringat dan parfum campur apek yang membuatnya hampir muntah. Ia segera berlari menjauh dari sana secepat yang ia bisa.

“Orang-orang kayak gini yang nonton stream-ku dulu? Dunia emang nggak berubah, ya,” keluhnya sambil tertawa getir.

Setibanya di kamar, ia langsung mengunci pintu, menyalakan kipas, dan duduk di meja belajarnya. Ia membuka laptop, mengakses situs Whois.com, lalu mengetik sebuah nama domain yang baru saja muncul di kepalanya.

Beberapa detik kemudian, senyum lebarnya muncul.

Domain itu masih tersedia, dan pemiliknya hanya mematok harga Rp3 miliar.

1
Rai Rainadus
lanjutkan cerita nya sampai tamat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!