"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SESEMPIT INI
Zifa jadi tak enak pada Niar, atas ucapan sang umi. Setelah basa-basi Zifa pun pamit. "Umi kenapa to the point sekali. Mbak Niar pasti kaget. Duh, Umi aku jadi gak enak nih!" Zifa bingung sendiri.
"Ck, kamu tuh sama kayak abangmu, gak cas cis cus. Perempuan cantik, ramah kayak gitu kok gak langsung digas, keburu diambil orang lah!" Umi kok dilawan, pikiran beliau sudah kebelet cari mantu, begitu melihat perempuan sesuai dengan hati beliau, ya langsung saja diutarakan. Tak peduli Zifa ataupun Zaldy sekalipun protes. Pokoknya Umi cocok dengan Niar. Kalau sudah begini, kemungkinan beliau punya rencana di luar BMKG. Bahaya.
Bang. Gawat. Terpaksa Zifa chat sang abang, dia harus antisipasi ulah Umi yang mengganggu ketenangan Mbak Niar nantinya. Lama juga Zaldy tak menjawab, mungkin ada kelas, dan Zifa tak sabar sampai missed call.
Abang di kelas, nanti dibalas. Benar dugaan Zifa, terpaksa Zifa mengirim pesan, menceritakan pertemuan Umi dan Niar menjelang makan siang tadi. Zifa pun tak enak hati, saat melihat ekspresi Niar yang diminta menjadi menantunya.
Tenang aja sih, Umi gak bakal ngapa-ngapain. Itu hanya spontan saja saat melihat cewek cantik dan dikira beliau cocok sama abang. Udah tenang. Zifa langsung gigit jari, sumpah orang tersantuy di dunia tuh sang abang. Berpikir positif mulu.
"Apa aku chat Mbak Niar saja ya?" gumam Zifa masih tak enak hati. Ia pun memberanikan diri chat pada senior kantornya itu.
Mbak Niar. Ini aku, Zifa. Mbak ganggu gak chatku ini? Zifa menatap layar ponselnya intens. 5 menit...10 menit masih belum dibalas.
"Apa jangan-jangan dia gak mau balas chatku ya?" makin parno saja kalau ucapan Umi tadi menyinggung Niar, pasalnya Niar juga lagi diincar oleh bos.
Hai, Zifa. Sori baru balas. Baru sampai rumah. Begitu balasan seniornya setelah ditunggu hampir 3 jam. Perasaan model cantik itu campur aduk, takut Niar marah, tapi ternyata tidak, buktinya incaran si bos masih seramah itu membalas pesannya.
Mbak maaf ya atas ucapan Umi yang spontan tadi. Zifa deg-deg an apa balasan Niar.
Santai Zif, aku pikir Umi kamu cuma bercanda kok. Untunglah, Niar tak mudah baper, sehingga keabsurdan sang umi tidak diambil hati.
Setelah insiden asal ceplos, umi Rahma kembali beraksi diam-diam saat Zifa lengah, target utama adalah ponsel sang putri. Kebetulan pas tidak terkunci, gara-gara si empunya gupuh beli siomay keliling. Umi langsung mencari nomor ponsel Niar dan menyimpan ke nomor beliau, tak lupa beliau kirim foto Niar yang kebetulan ada di room chat Zifa. Beliau tak mau mengambil kesempatan langkah ini, klik pada pandangan pertama sebagai calon menantu tak boleh diabaikan, harus gerak cepat sebelum diambil orang.
Assalamualaikum Nak Niar. Mohon maaf ini Uminya Zifa. Sengaja Umi chat pagi hari, apalagi ini weekend, tentu Niar akan punya waktu lebih longgar dan banyak untuk membalas chat beliau.
Tapi sayangnya gadis itu sedang hibernasi, menikmati sabtu pagi dengan tidur ditambah sedang halangan, tak ada kewajiban untuk bangun pagi pastinya.
"Dek, Mbak Mila sudah mules, nanti ada pelanggan ambil buah alpukat ke sini, kamu bisa handle gak?" tanya Rafly dengan panik, teriakan ibu di luar sana agar Rafly segera mengantar sang istri ke rumah sakit, diabaikan sebentar. Ia juga harus memastikan beberapa krat alpukat terdistribusi pada pelanggan yang sudah pesan.
"Hem!" jawab Niar seadanya, dengar tapi kan nyawa belum terkumpul, Rafly reflek menarik pelan tangan sang adik. "Ya Allah, Kak. Iya iya, beres! Baim mana?" tanya anak Bang Rafly nomor satu.
"Udah dibawa mertua, tugas kamu cuma urusin alpukat, awas gak beres!" ancam Rafly kemudian keluar. Niar mendengus kesal, inginnya hibernasi panjang malah ada tugas dadakan dan entah kapan datangnya si pelanggan. Sejak ayah Niar meninggal setahun yang lalu, Kak Rafly mengambil alih perkebunan buah dan meninggalkan karir kantoran di perusahaan tambang. Sayang kalau tidak dilanjutkan kebun buah tersebut, Niar mana mau mengurus perkebunan, katanya lebih nyaman jadi pegawai kantoran. Rafly pun mengalah.
Terpaksa Niar mandi, tak mungkin dong melayani pembeli dalam keadaan kumel. Setelah cantik dan wangi, barulah Niar membuka ponsel. Matanya melotot, mimpi apa dia dichat uminya Zifa. "Duh, otw jadi mantu beneran ini mah!" gerutu Niar mulai mengetik balasan.
Waalaikumsalam wr wb, iya Umi. Apa kabar. Ada yang Niar bisa bantu? Berharap cuma basa-basi, tapi melihat respon kemarin, Niar agaknya menghindar saja kalau dicalonkan jadi menantu. Sungguh, Niar belum siap menikah. Masih ingin main juga.
Aduh, Umi gemetar ini pesan umi dibalas sama mecan.
Niar mengerutkan dahi. "Lah siapa Mecan?" gumam Niar menghentikan gerakannya mengambil nasi untuk sarapan.
Mecan?
Menantu cantiknya umi. Balas Umi Rahma. Niar auto ngakak.
"Emak-emak vintage ini lucu kali," gumam Niar membalasnya dengan emoticon😄😄😄. Ponsel pun Niar letakkan, ia mau sarapan dengan tenang, ibu tadi sudah memasak oseng cumi hitam dan cah kangkung, pasti mereka belum pada makan sudah heboh dengan kontraksi istri Bang Rafly.
Nak Niar, mohon maaf nih kalau Umi tanya. Nak Niar sudah punya pasangan atau calon belum?
Niar terbatuk membaca chat lanjutan Umi Zifa. "Waduh, tancap gas langsung ini!" mendadak merinding saja ditodong dengan pertanyaan ini. Sebenarnya muda, tapi kalau mengaku jomblo bisa gerak cepat sekali pencari menantu seperti beliau. Membayangkan saja Niar merinding. Yah meskipun wajah kakak Zifa cakep, tapi kan menikah gak hanya butuh wajah cakep kan?
Niar tak langsung membalas, takut. Lebih baik meneruskan sarapannya saja. Cuma kalau dipikir-pikir membiarkan chat orang tua juga gak sopan, jadi bimbang. Beruntung ada sebuah panggilan bel. "Ah kemungkinan pembeli alpukat," ujar Niar.
Ada mobil bagus, agak aneh juga sih biasanya kan pakai mobil pick up begitu kalau angkut buah. "Cari siapa ya, Mas?" tanya Niar. Lelaki yang memakai kaos polo itu mendongak dari tatapan ke layar ponsel.
"Loh, Mbak Niar kan?" tebak lelaki itu setelah menatap Niar beberapa saat. Duh, Niar seperti lupa-lupa ingat dengan lelaki ini.
"Siapa ya?" tanya Niar memastikan lagi. Lelaki itu tersenyum tipis.
"Lupa ya. Saya kakaknya Zifa!" dalam sekejap Niar melongo, kenapa dirinya berada di lingkaran keluarga Zifa. Di dunia ponsel, umi Zifa sedang menerornya soal mantu. Di dunia nyata malah bertemu dengan kakak Zifa. Alamak, memangnya dunia sesempit ini.
"Oh iya, maaf Mas saya lupa!" ujar Niar tak enak hati.
"Adiknya Mas Rafly?" tanya Zaldy yang memang sudah langganan dengan Rafly, cuma biasanya kakak Niar yang mengantar bersama anak buahnya, tapi kali ini anak buah Rafly sedang minta libur, ditambah kondisi istri Rafly yang sudah mau melahirkan, terpaksa Zaldy ambil sendiri.
"Iya, Mas!" jawab Niar singkat. Kemudian terjadilah transaksi buah alpukat antara Niar dan Zaldy.
lanjut pasti nya..
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭