NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Di Hadapannya

Suasana tegang menyelimuti ruangan Pak Husni. Membuat Wilona harus cepat-cepat mencari cara untuk menghindar dari perempuan yang dirinya anggap sebagai malapetaka. 

‘Sial,’ geram Wilona.

Jika saja sosok perempuan itu tidak berasal dari keluarga berpengaruh maupun konglomerat yang memiliki kekuasaan. Sudah bisa dipastikan jika sejak lama Wilona menyingkirkannya. 

“Apakah ada yang bisa saya bantu, Miss Panda?” tanya cepat Pak Husni mencoba sebisa mungkin menguasai keadaan. 

Meskipun kedudukan Miss Panda di tempat dirinya bekerja sebagai bawahan. Namun, kenyataannya kedudukan Pak Husni hanya atasan diatas kertas yang dikontrol oleh yayasan. Dan sosok Miss Panda inilah yang menjadi orang kepercayaan maupun sosok berpengaruh di yayasan tempat dirinya bernaung. 

“Ada hal yang ingin saya tanyakan kepada Dira,” jawab Miss Panda. Lalu pandangan mata Miss Panda mengarah ke Wilona. 

“Tapi, sepertinya Pak Husni maupun Ibu Wilona ada urusan yang jauh lebih penting dibandingkan saya,” sindir Miss Panda sambil tersenyum. 

“Tidak masalah jika saya harus menunggu Pak Husni maupun Ibu Wilona untuk menyelesaikan urusan.” 

“Anda tidak perlu menunggu, Miss Panda. Urusan kami dengan Dira sudah selesai. Silahkan, jika memang Anda ingin berbicara dengan Dira.” 

Pak Husni jelas ingin menyelamatkan posisinya. Berurusan dengan Miss Panda bukanlah pilihan terbaik. 

“Oh, baiklah Pak Husni. Jika memang seperti ini Dira bisa ikut dengan saya. Permisi Bu Wilona dan Pak Husni,” pamit Miss Panda sambil tersenyum dengan mata nyalang mengawasi keduanya. 

Setelah keluar dari ruangan pak Husni. Dengan cepat Miss Panda menggapai tangan Dira untuk diajak menuju ke ruangannya. Sedangkan Pak Husni dan Wilona hanya bisa saling pandang. Meskipun rasa kesal menyelimuti diri mereka. 

“Ikut ke ruangan saya sekarang juga, Dira!” 

“Baik, Miss.” 

Dira patuh mengikuti perintah Miss Panda. Ada rasa lega menyelimuti diri Dira karena merasa terselamatkan oleh kedatangan Miss Panda. 

“Duduklah Dira,” perintah Miss Panda setibanya di ruangannya. 

“Baik Miss.” 

Setelah keduanya duduk saling berhadapan. Kini pandangan mata Miss Panda menatap wajah sendu Dira. 

Hati Miss Panda menggerakkan tangannya menyentuh punggung tangan Dira. 

“Jika kamu membutuhkan teman untuk cerita. Miss bersedia untuk menjadi pendengar yang baik. Tanpa menghakimi,” ucap Miss Panda meyakinkan Dira. 

“Tidak ada apa-apa, Miss.” 

“Yakin?” 

“Yakin,” jawab Dira tanpa melihat ke arah Miss Panda. 

Dira jelas tidak mungkin bercerita apa yang dialami secara jujur maupun terbuka kepada Miss Panda. Karena Dira tidak ingin melibatkan orang baik seperti Miss Panda ke permasalahannya. 

Dira yang tidak pandai berbohong. Jelas saja sangat mudah dibaca Miss Panda. Tapi, karena Miss Panda menghormati privasi Dira. Miss Panda memutuskan menahan rasa penasarannya. 

“Baiklah jika memang kamu merasa tidak ada yang ingin diceritakan. Miss menghargai keputusanmu. Tapi, jika memang tidak memiliki masalah. Kenapa wajahmu tampak murung?” tanya Miss Panda yang membuat Dira gugup. 

Meskipun Dira berusaha untuk tidak jujur. Tetap saja Miss Panda dengan mudah membacanya. Sebab, Dira memang tidak bisa berbohong. 

“Apakah sangat terlihat jelas Miss?” tanya Dira penuh kehati-hatian. 

“Iya,” jawab Miss Panda sambil tersenyum. Agar Dira lebih merasa nyaman. 

“Ceritakan pada Miss.” 

“Saya membutuhkan pekerjaan paruh waktu yang hanya bisa dikerjakan di akhir pekan. Jika Miss ada pekerjaan seperti itu saya mau.” 

Dira tidak sepenuhnya berbohong. Besaran biaya perbaikan sepeda masih menyelimuti pikiran Dira. Karena Dira tidak ingin berhutang budi dengan siapapun termasuk Faza. 

“Apapun jenis pekerjaan?” tanya Miss Panda memastikan. 

“Iya, apapun jenis pekerjaan saya mau. Yang terpenting halal, Miss.” 

“Coba saya carikan pekerjaan yang sesuai untukmu. Saya usahakan cocok dengan kemampuan yang kamu miliki.” 

“Baik, terima kasih banyak, Miss.” 

Selain untuk membayar hutang kepada Faza. Pekerjaan paruh waktu di akhir pekan ini juga digunakan Dira untuk menghindari Mbah Sekar bertanya lebih jauh tentang Faza. 

Selain kedua alasan itu, juga untuk menambah biaya mewujudkan mimpinya menjadi seorang dokter. 

“Dira.” 

“Iya, Miss.” 

“Apakah di kelas, kamu memiliki masalah dengan temanmu?” 

Karena Dira tidak ingin terbuka. Miss Panda memutuskan memancing tujuannya memanggil Dira. 

“Maksudnya, Miss?” tanya Dira belum paham arah pembicaraan Miss Panda. 

“Seperti perbedaan pendapat atau apapun.” 

“Tidak ada, Miss.” 

“Kamu yakin?” 

“Yakin, Miss,” jawab Dira sambil meremas roknya. 

“Termasuk dengan Sisil?” 

Pertanyaan cepat yang diajukan oleh Miss Panda. Membuat Dira terdiam sejenak. Jika masalah dengan Sisil jelas sudah menjadi rahasia umum. Jadi, tidak harus bertanya kembali tentang kebenaran yang sudah diketahui. 

“Bukannya Miss ingin mencampuri masalahmu. Tapi, jika masalah itu menyangkut dan terjadi ditempat ini. Maka, Miss harus ikut campur.” 

Dira hanya bisa diam mendengar ucapan dari Miss Panda. Memang nyatanya seperti itu. 

“Dira, percayalah pada Miss. Ceritakan hal buruk apa saja yang kamu alami. Kedatangan Bu Wilona menemuimu jelas tidak hanya saling menyapa atau mengungkapkan rasa kangen,” tutur Miss Panda yang membuat Dira semakin menundukkan wajahnya. 

“Bu Wilona merupakan seorang sosialita sekaligus ibu pejabat yang memiliki jadwal padat. Jelas meluangkan waktu untuk bertemu denganmu tanpa adanya tujuan sangatlah tidak mungkin.” 

Apa yang dikatakan oleh Miss Panda memang benar. Orang penting seperti Wilona jelas tidak akan meluangkan waktu percumanya hanya untuk Dira. Jadi, pilihan jujur mungkin jalan terbaik untuk Dira saat ini. 

“Tante Wilona meminta saya mengalah lagi untuk prestasi Sisil, Miss.” 

Kening Miss Panda mengkerut dalam mendengar penuturan Dira. Miss Panda benar-benar mencoba mencerna ucapan Dira secara hati-hati, takut jika dirinya salah dengar. 

“Maksudnya apa, Dira? Mengalah lagi? Apakah sebelumnya kamu pernah mengalah demi Sisil?” tanya Miss Panda tidak paham arah pembicaraan Dira. 

“Pernah Miss saat seleksi OSN.”

“Astaga Dira, kenapa kamu melakukan hal itu?” geram Miss Panda tidak percaya dengan keputusan Dira. 

“Padahal Miss secara pribadi meminta kamu untuk berusaha keras agar lolos. Karena Miss yakin kamu bisa menjadi harapan kami. Bukannya kamu mengalah pada Sisil yang akhirnya kita tidak mendapatkan prestasi apapun.” 

“Maafkan Dira Miss. Dira benar-benar sangat menyesal melakukan itu.”

Meskipun rasa kesal sekaligus kecewa melingkupi diri Miss Panda. Namun, Miss Panda tidak mau fokus ke masalah yang sudah terjadi.

“Baiklah kita lupakan masalah itu. Kita kembali topik yang sekarang. Bu Wilona meminta kamu ngapain lagi?” 

“Tante Wilona meminta saya untuk menurunkan prestasi. Agar peringkat Sisil naik dan kemungkinan diterima di universitas terbaik lebih besar.” 

“Konsepnya tidak seperti itu Dira. Jika memang Sisil menginginkan peringkat tinggi serta lulusan terbaik. Seharusnya dia berusaha lebih giat lagi. Bukannya memintamu menurunkan prestasi,” geram Miss Panda mengambil nafas sebanyak-banyaknya.

“Hal ini jelas tidak bisa dibenarkan. Saya akan menindaklanjuti masalah ini. Agar praktik ilegal seperti ini tidak terus berlanjut,” lanjut Miss Panda. 

Amarah yang meledak atas kekecewaan mendengar kebenaran. Membuat Dira dengan cepat menahan tangan Miss Panda.

“Miss tolong jangan memperpanjang masalah ini. Saya tidak ingin mendapatkan masalah baru,” mohon Dira penuh kekhawatiran. Membuat Miss Panda mencoba kembali mengendalikan dirinya. 

“Tenang saja Dira, Miss pastikan nama kamu aman. Karena Miss tidak akan membawa nama kamu dalam masalah ini. Selain kamu Miss yakin ada korban lainnya.” 

Alasan Miss Panda memanggil Dira masalah nilai. Justru mendapatkan kenyataan yang menyesakkan. Membuat Miss Panda harus membahas kembali tujuan utamanya memanggil Dira. 

“Oh iya Dira, saya ingin tanya padamu tentang sesuatu?” 

“Tanya apa, Miss?” 

“Apakah kamu mengenal tulisan ini?” tanya Miss Panda sambil menyodorkan buku pekerjaan Dira. 

“Coba perhatikan tulisan yang sebelah ini. Miss mengalami kesulitan saat mencoba mencocokan dengan milik temanmu.” 

Dengan sangat teliti Dira melihat tulisan angka dan huruf di bukunya sesuai dengan arahan Miss Panda. K

arena di buku tugas pekerjaan Dira ada tulisan Miss Panda. Keningnya mengkerut dalam saat mencoba menebak yang ditunjuk oleh Miss Panda. 

“Ada yang aneh Miss dengan tulisan dan juga angka ini,” tunjuk Dira. 

“Apa itu, Dira?” tanya cepat dengan diselimuti penasaran. 

“Tulisan ini terdapat enam jenis karakter perbedaan. Baik penulisan angka maupun huruf. Saya tidak tahu siapa pemilik tulisan ini. Karena cukup sulit untuk menebaknya.” 

“Miss kira kamu tahu siapa pemilik tulisan ini. Maka dari itu Miss memanggilmu untuk mengecek sendiri.” 

“Maafkan saya belum bisa membantu Miss. Apakah ada yang salah dengan tulisan ini Miss?” tanya Dira penasaran. 

“Tidak ada, hanya rasa penasaran saja.” 

Jawaban terlalu aman yang diberikan Miss Panda. Jelas Dira tidak serta merta percaya. Sehingga Dira kembali mengawasi huruf dan angka tersebut. 

‘Tunggu dulu! Sepertinya aku menemukan penulisan huruf yang tidak digunakan secara umum. Huruf ini sangat persis sekali milik Faza,’ batin Dira menyamakan buku tugas Faza.

Karena sebelumnya Dira mengoreksi hasil pekerjaan Faza. Jelas Dira melihat tulisan Faza. 

Disaat fokus Dira kearah tulisan dan angka di bukunya. Secara tidak langsung mata Dira melihat sisi lain dari bukunya. 

Lebih tepatnya di bagian belakang yang tampak ada lipatan. Dira mengulurkan tangannya untuk memastikan penglihatannya tidak salah. 

“Ada apa, Dira?” tanya cepat Miss Panda saat melihat wajah penuh pertanyaan Dira sambil membalikkan lembaran bukunya. 

“Dira, ada apa? Apa yang kamu cari?” tanya Miss Panda penasaran. 

“Tidak ada apa-apa, Miss,” jawab Dira bohong. 

Dira sangat hafal betul semua barang miliknya selalu tampak rapi. Jadi, saat melihat ada lipatan kertas di bagian puisinya. Dira yakin ada seseorang membaca puisi miliknya. 

Sreeet … sreeet! 

Lembaran demi lembaran kertas Dira buka. Mencoba memastikan jika dugaannya benar. Dan akhirnya tulisan kecil di bawah puisinya membuat jantung Dira berdetak tidak karuan. 

‘Kamu tidak sendirian, D.’ 

Dira secara refleks memegangi dadanya. Wajahnya memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. Tulisan kecil dibawah puisinya yang membuat perasaan Dira tidak karuan. Perhatian kecil yang membuat hati Dira tidak menentu. 

“Dira, ada apa? Apakah telah terjadi hal-hal aneh di buku tugasmu?” 

“Tidak ada, Miss,” jawab Dira.

“Oh iya Miss, jika sudah ada kabar pekerjaan paruh waktu tolong hubungi saya,” ucap Dira mencoba mengalihkan pertanyaan dari Miss Panda. 

“Tentu saja Dira, nanti malam Miss akan menghubungi dirimu jika memang ada pekerjaan pas dan sesuai untukmu.” 

“Terima kasih banyak, Miss. Apakah saya boleh kembali ke kelas?” 

“Tentu saja boleh, lagipula waktu pulang sudah tiba. Hati-hati di jalan.” 

“Baik Miss, ijin undur diri. Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam.” 

Dira buru-buru keluar dari ruangan Miss Panda untuk ke kembali ke kelas. Sudah tampak sepi karena Dira keluar telat. Hingga pandangan Dira tertegun saat tatapan matanya langsung mengarah ke Faza yang tengah mencangklong tas. 

Tapi, langkah kaki Faza terhenti saat di hadapan Dira. Kini mereka berdua saling tatap. 

Ada banyak pertanyaan yang tersimpan di hati Dira. Kata tak terucapkan karena mulutnya terasa kelu. Menuduh tanpa bukti jelas tindakan yang harus dihindari. Dan hal itulah Dira coba lakukan. 

‘Apakah itu tulisanmu?’ batin Dira tidak yakin. Mengingat Faza sosok dingin dan baru dikenal. 

‘Sepertinya yg gak mungkin,’ sangkal Dira atas pemikirannya. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!