Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghitung Mundur Menuju Pulau Reklamasi
Malam di pinggiran Jakarta Utara tidak pernah benar-benar sunyi. Di luar gang sempit pasar loak, suara knalpot motor yang bising dan klakson truk kontainer masih saling bersahutan. Namun, di dalam Toyota Alphard hitam dengan kaca film super gelap yang terparkir seratus meter dari toko "Darwin Jaya", suasananya berbanding terbalik. Dingin, sunyi, dan tegang.
Kenji duduk bersandar di kursi kulit baris tengah yang empuk. Sandal jepitnya yang jepitannya sudah agak longgar sengaja dia lepas. Kakinya yang beralas kaus kaki murahan dijulurkan begitu saja di atas karpet beludru premium mobil mewah tersebut. Tangan kanannya masih sibuk memainkan bungkus permen karet, sementara mata layunya menatap ke luar jendela, memandangi deretan ruko tua yang perlahan menjauh saat mobil mulai melaju belah jalanan malam.
Di kursi depan, Genta duduk dengan posisi tegap tanpa sandaran. Matanya tidak lepas dari spion tengah, mengawasi setiap gerak-gerik pemuda yang tiga tahun lalu dianggap dunia sudah terkubur di Pentagon.
"Tuan," Genta membuka suara, memecah keheningan dengan nada sehormat mungkin.
"Helikopter jenis Eurocopter EC135 milik Narendra Group sudah bersiaga di helipad Menara Narendra. Sesuai perintah Anda, tim operasi khusus bawah tanah kami—Tim Alpha—juga sudah dikumpulkan. Total ada dua puluh personil mantan kombatan militer yang siap dikerahkan ke pulau reklamasi."
Kenji tidak langsung menjawab. Dia meniup gelembung permen karetnya sampai meletus dengan suara pletok yang renyah.
"Dua puluh orang?" Kenji terkekeh, nadanya terdengar malas. "Buat apa? Mau ajak tawuran satu kecamatan? Kurangi. Bawa lima orang saja yang paling pintar menyetir dan urus dokumen bersih-bersih setelah operasi. Sisanya suruh jaga Hana di sekitar kampus. Ingat, Pluto itu tikus tanah yang licik. Begitu dia tahu servernya jebol, fokus pertamanya pasti cari tahu siapa yang nembak. Dan kalau dia berhasil nemu nama gua, Hana adalah target paling empuk."
Genta agak tersentak. Dia segera mencatat instruksi itu di tablet militernya dengan cepat.
"Baik, Tuan Zeus. Pengamanan non-formal untuk Nona Hana sudah kami tingkatkan sejak tiga jam lalu. Kami menempatkan agen wanita yang menyamar sebagai mahasiswi baru di kelas yang sama dengan Nona Hana."
Kenji mengangguk pelan. Tatapannya yang tadi kuyu mendadak menajam selama satu detik penuh saat memikirkan adiknya, sebelum akhirnya kembali santai. Hana adalah
satu-satunya alasan kenapa dia rela membuang identitas "Zeus" dan memilih hidup melarat jadi kuli servis komputer berpenghasilan tiga puluh ribu sehari. Baginya, melihat Hana bisa makan tiga kali sehari dan kuliah dengan tenang jauh lebih berharga daripada takhta dewa siber global yang bikin kepalanya selalu diincar puluhan negara.
"Lalu, soal Pluto," Kenji memperbaiki posisi duduknya, melipat kedua tangannya di dada. "Bagaimana pergerakan dia di pulau itu setelah gua bom servernya?"
Genta langsung menggeser layar tabletnya, menampilkan peta tiga dimensi dari sebuah kompleks vila mewah yang berdiri terisolasi di ujung pulau reklamasi Jakarta. Di tengah peta itu, ada titik merah yang berkedip konstan.
"Setelah serangan balik Red Lightning Anda menghancurkan seluruh server utamanya, Pluto terdeteksi panik. Dia tidak berani keluar dari vila itu karena tahu lokasinya sudah bocor. Masalahnya, Tuan... dari pantauan satelit kami, vila itu dijaga oleh tentara bayaran swasta dari kelompok Black Wolf. Ada sekitar tiga puluh personel bersenjata lengkap yang berjaga di ring satu dan dua."
Genta melirik spion tengah, mencoba melihat reaksi Kenji. Dia mengira sang dewa siber bakal sedikit berhati-hati setelah mendengar kata
"tentara bayaran bersenjata". Namun, yang dia lihat justru sebaliknya. Kenji malah menguap lebar sambil mengucek matanya yang merah karena kurang tidur.
"Black Wolf? Kelompok yang logonya kepala serigala ompong itu?" Kenji mencibir ringan. "Tahun lalu di bursa gelap Dark Web, ketuanya pernah nangis-nangis minta gua pulihkan dompet kriptonya yang kena hack mafia Rusia. Bilang sama mereka lewat jalur komunikasi darurat: kalau besok malam mereka masih ada di radius satu kilometer dari vila Pluto, gua bakal bikin seluruh rekening bank, data keluarga, sampai catatan medis rahasia mereka tersebar di internet dalam waktu lima menit."
Mendengar itu, jakun Genta naik turun. Dia menelan ludah dengan susah payah. Di dunia modern ini, peluru memang bisa membunuh satu orang, tapi di tangan Zeus, satu baris kode bisa menghancurkan masa depan satu garis keturunan. Ancaman Kenji bukanlah gertakan sambal.
Mobil Alphard itu akhirnya berbelok masuk ke area bawah tanah Menara Narendra—gedung pencakar langit berlantai lima puluh yang menjadi simbol kekuasaan teknologi di ibu kota. Begitu pintu mobil dibuka oleh petugas keamanan berbaju rapi, Kenji melangkah keluar dengan santai. Kontras penampilannya bener-bener gak masuk akal: kaos oblong putih yang sudah agak menguning di bagian kerah, celana pendek cargo, sandal jepit swallow, tapi berjalan diapit oleh Genta dan dikawal oleh dua baris pria berjas hitam yang membungkuk hormat sepanjang koridor basement.
Beberapa staf kantor yang kebetulan masih lembur dan lewat di basement langsung berbisik-bisik dengan wajah heran. Mereka bingung melihat gelandangan mana yang berani berjalan sekeren itu di markas Narendra Group, bahkan didampingi langsung oleh tangan kanan sang direktur utama.
Kenji tidak peduli dengan pandangan orang-orang itu. Dia naik lift khusus eksekutif langsung menuju lantai paling atas. Begitu pintu lift terbuka di lantai lima puluh, sebuah ruangan luas berdesain minimalis modern langsung menyambutnya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar besar dengan sistem proyeksi holografik yang menampilkan grafik jaringan satelit Palapa-X yang tadi siang hampir hancur.
"Tuan Zeus!"
Sebuah suara bariton yang bergetar penuh emosi terdengar dari ujung ruangan. Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih namun memiliki karisma kuat, berjalan tergesa-gesa mendekati Kenji. Pria itu adalah Surya Narendra, pendiri sekaligus pemilik utama Narendra Group. Salah satu orang terkaya di Indonesia yang di depan publik selalu dipuja-puja sebagai raja teknologi nasional.
Namun di depan Kenji, Surya langsung menjatuhkan lututnya ke lantai. Dia bersujud dengan tulus, air matanya hampir menetes.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Tuan. Kalau bukan karena intervensi Anda tiga jam lalu, satelit nasional kita sudah jatuh dan Narendra Group pasti didepak oleh kementerian pertahanan. Nama baik keluarga saya hancur total malam ini jika Anda tidak turun tangan," ucap Surya dengan suara bergetar.
Kenji menghela napas panjang. Dia memegang pundak Surya dan memaksanya untuk berdiri.
"Sudahlah, Pak Surya. Bangun. Gua gak suka yang formal-formal begini. Lagipula, tiga tahun ini lu udah bantu sembunyiin identitas gua dan jagain Hana dari jauh. Anggap saja ini bayaran bunga dari utang budi gua."
Surya berdiri sambil menyeka sudut matanya, wajahnya langsung memancarkan rasa lega yang luar biasa. Dia kemudian mengomando staf khususnya untuk membawakan sebuah koper baru ke atas meja.
"Sesuai kesepakatan kita dulu, Tuan. Jika Anda memutuskan untuk mengaktifkan kembali sistem
Zeus, seluruh fasilitas terbaik kami adalah milik Anda," Surya membuka koper tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kartu akses berbahan platinum hitam dengan ukiran nama 'ZEUS' di atasnya, serta sebuah gawai khusus militer dengan enkripsi tingkat tinggi. "Ini adalah akses tanpa batas ke seluruh laboratorium riset, server utama Narendra, dan dana tak terbatas yang bisa Anda gunakan kapan saja."
Kenji mengambil kartu platinum itu, memutarnya di sela-sela jari dengan mahir, lalu memasukkannya ke dalam saku celana pendeknya. "Fasilitas lu boleh juga. Tapi buat besok malam, gua cuma butuh satu hal dari lu, Pak Surya."
"Apa itu, Tuan? Katakan saja, bahkan jika harus menggerakkan seluruh aset perusahaan, saya akan siapkan," jawab Surya tegas.
"Siapkan dokumen pengalihan aset pulau reklamasi atas nama Pluto. Besok malam setelah gua patahin tangannya, gua mau seluruh harta yang dia dapetin dari hasil berkhianat pindah total jadi atas nama yayasan panti asuhan atau beasiswa pendidikan,
" Kenji tersenyum tipis, tapi senyumnya membuat suhu di ruangan ber-AC itu terasa semakin drop. "Gua mau bikin dia tahu rasanya merangkak dari bawah lagi, sama kayak yang gua rasain tiga tahun lalu."
Surya dan Genta saling berpandangan. Keduanya bisa merasakan aura dominasi yang mutlak dari pemuda di depan mereka. Kenji mungkin terlihat seperti montir miskin di siang hari, tapi saat malam tiba dan sistemnya menyala, dia adalah hakim tertinggi di dunia siber.
Kenji kemudian berjalan menuju dinding kaca besar di lantai lima puluh itu. Dari ketinggian ini, dia bisa melihat pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang membentang luas seperti hamparan berlian, dan jauh di ujung utara, samar-samar terlihat siluet gelap pulau reklamasi yang dikelilingi laut hitam.
Dia meraba kantong celananya, mengeluarkan Core-Z0 yang tadi dicolokkan ke laptopnya. Perangkat silinder perak itu terasa hangat di genggamannya. Kenji tahu, ketukan enter yang dia tekan malam ini bukan sekadar untuk menyelamatkan satelit, tapi adalah genderang perang pertama yang dia tabuh untuk memanggil kembali musuh-musuh lamanya yang bersembunyi di balik bayang-bayang dunia.
Pluto hanyalah hidangan pembuka. Target aslinya adalah mereka yang duduk di kursi empuk Aliansi Hitam Global yang sampai sekarang masih merasa aman setelah mengira sang dewa telah tiada.
"Tidurlah yang nyenyak malam ini, Pluto," gumam Kenji pelan sambil menatap lurus ke arah laut utara. "Karena besok malam, bahkan malaikat maut pun gak bakal bisa nemuin jalur evakuasi buat lu."
Malam semakin larut, dan di sudut kota yang berbeda, persiapan operasi senyap mulai bergerak tanpa suara. Jam pasir untuk sang pengkhianat resmi dibalik, dan hitungan mundur menuju kehancurannya telah dimulai.