NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 : Mandi Basah-basahan

Bab 24 ada adegan berbahaya ya guys... Untuk anak di bawah umur, tolong skip aja ya?.. Wkwkwk... 

____________>>>>>>>>>>

Sesampainya di kamar mandi, Veliora langsung diturunkan ke bathtub. Kaelric menyerbunya bertubi-tubi. Hingga Veliora hampir kehilangan napas.

"Dad, bentar. Aku mau lepas baju dulu!"

"Sini aku bantu lepasin."

Satu persatu baju yang dikenakan Veliora dilepaskan Kaelric dan dilemparkan ke lantai. Dia juga melepas bajunya sendiri.

Kaelric dalam posisi duduk, sedangkan Veliora di atas pangkuan Kaelric.

"Dad,....!"

Veliora membalikkan wajahnya dan menatap Kaelric, karena di bawah pantatnya merasakan benda panjang menyentuh bagian tubuhnya itu.

Kaelric diam saja. Kemudian diraihnya tengkuk Veliora hingga mereka saling berhadapan kini. Bibir Kaelric menyusuri leher Veliora yang jenjang. Veliora menggeliat.

"Dad....!"

Desahan halus keluar dari bibir Veliora.

"Daddy  gak mau married ? "

Kaelric menyandarkan dahinya ke dahi Veliora. Napasnya memburu.

"Aku hanya mau menikah dengan orang yang aku cintai, Veliora."

"Iyakah?"

"Lalu, siapa gadis yang beruntung itu?"

Bibir mereka menyatu lagi. Lidah Kaelric menari di dalam mulut Veliora. Mereka berdua tenggelam dalam gairah cinta yang membara.

Hingga, akhirnya Kaelric merasakan sesuatu...

"Vel, kamu mau tolong aku lagi gak?"

Veliora menatap Kaelric.

"Itu.. Itu... !"

"Ya, Vel. Rasanya... Sakit, Vel."

"Dad...!"

"Sentuh aku... Jamah aku... Bawa aku melayang, Dad! "

Tak tahan lebih lama lagi, Kaelric memasukkan benda miliknya ke bagian inti Veliora. Hingga Veliora menjerit. Geli-geli sakit, katanya.

"Daaaad.. Aaah, sakit!"

"Milikmu sempit banget, Vel. Penuh sekali rasanya."

"Baru dua kali, Vel."

"Tapiiiii... Ssaaaakit bangeeet Daaad!"

"Sekali, dua kali emang sakit, Veliora. Tapi, Lama-lama juga nggak!"

"Kalau sudah terbiasa!"

Kaelric menggerakkan pinggulnya naik-turun hingga Veliora menjerit. Rasanya seperti ada yang keluar di dalam. Ya, Kaelric mengeluarkan cairan kental seputih susu di dalam milik Veliora. Mereka terkulai lemas tak berdaya.

Dua kali sudah dia menanam benih di dalam rahim Veliora.

"Ibu Gerard harus tahu, Veliora adalah milikku."

"Veliora tidak boleh dimiliki orang lain. Apalagi, orang seperti Gerard."

Senyuman tak kentara pun terbit di bibirnya di sela penyatuan dirinya dan Veliora.

"Gerard tidak boleh ada disini. Atau dia mati!"

Veliora merasakan sakit di bagian intinya. Belum seluruh tubuh, rasanya seperti mau lepas.

Setelah selesai mandi, mereka segera berganti pakaian. Kemudian, turun lantai bawah.

Hari sudah menjelang malam. Mereka bersiap untuk makan malam bersama hari itu.

Makanan sudah terhidang di meja makan. Bik Isa pamit pulang malam itu. Karena, mau ada acara keluarga besok. Jadi, dia minta ijin satu hari pada Kaelric.

"Tuan, malam ini saya akan pulang. Besok, akan ada hajatan di rumah saudara saya, Tuan."

"Ya, Bik. Bibik mau ijin berapa hari?"

"Dua hari boleh, Tuan."

"Ya, oh iya. Nanti dijemput nggak Bik?"

Tanya Kaelric.

"Anak saya nanti sebentar lagi kesini, Tuan."

"Baik, Bik. Kalau lusa nggak ada yang mengantar kesini, Bik Isa telpon ya?"

"Nanti biar dijemput sama Pak Atmo."

"Baik, Tuan."

Akhirnya, karena anak Bik Isa sudah datang. Bik Isa segera pamit pulang. Kaelric memberi dua buah amplop warna putih. Satu untuk saudara Bik Isa yang punya hajat, satunya untuk Bik Isa sendiri, buat uang saku.

Bik Isa sudah bertahun-tahun ikut dengan keluarga Kaelric. Hingga, mereka sudah mengenal satu sama lainnya.

Kaelric memang sosok yang dingin, tapi pada kerabat orang yang dekat dengannya, dia tidak akan pernah segan untuk membantu.

Mungkin, itulah yang membuat orang yang ikut dengannya merasa betah. Bahkan, bila mereka dirayu untuk pindah tempat, mungkin mereka tidak akan mau.

Banyak sudah bantuan yang digelontorkan Kaelric untuk mereka. Dan, dia tidak menghitung atau minta dikembalikan. Semua dia lakukan dengan tulus dan sepenuh hati.

Sepeninggalnya Bik Isa, Kaelric dan Veliora mulai makan malam. Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling diam.

Veliora akhirnya berbicara..

"Dad, Ibu sudah mau kuajak pindah ke sini."

"Benarkah?"

Dia melirik ke arah Veliora sekejap. Kemudian kembali ke piring makannya lagi.

"Kenapa gak dari tadi ngomongnya?"

"Tadi sore, waktu Daddy pulang aku dah ngomong lho, Dad!"

"Iya, aku lupa!"

"Iih,, Daddy. Belum tua udah pikun!"

Kaelric diam saja, tidak terlalu memperhatikan apa yang dibicarakan Veliora.

"Kamu tadi, bilang besok mau kesini?"

Veliora mengangguk sambil mengunyah makanannya.

"Oke, aku senang kalau Ibu mau tinggal bersama denganku disini."

Kata Kaelric lagi.

"Jadi, sekarang kamu tidak merasa sendirian kalau aku tinggal bekerja atau keluar."

"Besok aku bantu Ibu kemas barang ya Dad?. Boleh kan?"

"Ya, tentu boleh. Besok kalau tidak ada acara di kantor. Aku pulang pagi saja. Biar aku bisa bantu."

"Oke, Dad."

"Malam ini aku tidur sama Daddy."

Kaelric menganggukkan kepalanya. Kemudian, beranjak ke depan.

Disana, ada Hendra dan Muklis. Mereka berdua yang bertugas malam itu. Sebenarnya, di depan ada beberapa orang lagi yang berjaga.

Mansion Kaelric boleh dibilang sangat luas. Dan disitu terdapat beberapa bangunan. Ada juga rumah di bagian belakang dekat dengan taman Anggrek milik Ibu Gerard.

Bangunan itu untuk tempat istirahat bagi yang bekerja disitu. Kadang, mereka lebih suka bermalam disitu daripada pulang. Karena capek, kata mereka.

"Malam Bos." Sambut mereka setelah melihat kedatangan Kaelric.

"Malam juga. Kalian sudah makan?"

"Belum Bos." Sahut Muklis.

"Ingin keluar, tapi belum sempat, Bos."

"Memang kenapa?" Tanya Kaelric.

"Tadi Mang Jana minta operan jaganya. Katanya anaknya lagi sakit, Bos."

"Begitu?. Dia nggak minta ijin aja gitu?. Kasihan anaknya, kan?"

"Tadinya begitu, tapi bingung. Akhirnya, saya yang gantiin jaga, Bos."

"Ya udah. Saya hari ini nggak pulang. Pulang lusa aja sekalian."

Muklis memberikan penjelasan pada Kaelric, Bosnya.

"Baiklah. Besok, saya, Ibu sama Non Veliora akan ke rumah Mang Jana. Saya ingin tahu keadaan anaknya."

"Ini uang buat beli makanan. Bagi sama yang di depan ya?"

Kaelric menyerahkan tiga lembar seratus ribu pada mereka berdua. Setelah itu mereka berdua berlalu meninggalkan Kaelric.

Dia pun duduk di teras. Sambil memainkan handphone. Tabletnya sengaja dia tinggal di dalam. Malam ini dia benar-benar ingin beristirahat.

Tak selang berapa lama, Veliora menyusul dari dalam. Dia membawa secangkir kopi hitam kental tanpa gula. Juga segelas susu hangat. Tak lupa sepiring pisang goreng crispy yang baru saja dia buat.

"Hmm.. Sepertinya enak!"

Celotehnya, lalu mengambil satu buah pisang goreng.

"Ini kamu yang bikin?"

Veliora mengangguk sambil meminum susu hangatnya.

Kaelric nampak menikmati sekali. Jarang bahkan hampir tak pernah dia seperti ini. Semenjak, kedua orang tuanya pergi. Veliora apalagi. Dia tidak tahu arti kenyamanan dalam keluarganya.

Maminya yang sibuk, bahkan tak bisa meluangkan waktu sedikitpun untuk dirinya. Hingga kini, hari ini. Maminya tak pernah menanyakan kabar tentang dirinya. Anehnya, Veliora terbiasa hidup seperti itu. Dia hanya manja pada Papinya saja. Karena, Papinya lebih memperhatikan dirinya ketimbang Maminya.

Itulah, selama dia berada di bawah lindungan Kaelric dia merasa nyaman. Tadinya, dia menganggap Kaelric ayahnya sendiri.

Tapi, semenjak Kaelric selalu memberikan sentuhan, bukan sentuhan seperti pada anaknya. Tapi, sentuhan pada wanita dewasa. Hingga membuat Veliora lambat laun berubah dirinya.

Veliora berubah menjadi gadis yang sedikit merasakan kehadiran seorang pria lain dalam hidupnya. Tentunya, tanda kutip bukan Papinya ya?. Ini lebih ke konteks lawan jenisnya.

Karena apa, Veliora bukan gadis sembarangan ya?. Dia punya segalanya. Bahkan, harta warisan yang ditinggalkan Papinya bisa untuk memenuhi hidupnya hingga tujuh turunan.

Dan selama itu, dia tidak pernah dekat dengan lawan jenis. Nah, ini dia!!!.

Bukan, bukan dia tidak mau mengenal seorang pria. Tapi, dirinya takut. Takut dengan pria.

Namun, kini semua itu sedikit demi sedikit sirna.

Hingga Kaelric datang dalam hidupnya.

Seperti yang telah dibicarakan, akhirnya Ibu Gerard hari itu mau tinggal di rumah utama.

Veliora sangat senang ada teman di rumah besar itu. Dia jadi tidak sendirian. Bahkan, hubungan Veliora dengan Ibu Gerard seperti hubungan Ibu dengan anaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!