Ren Damaris, seorang pria tampan dan sukses, memutuskan memilih Edelia Lavendra untuk dinikahi demi menjaga nama baik keluarga dan menutupi rahasia terbesar dalam hidupnya. Edelia terpaksa menerima pernikahan itu untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Tetapi setelah menikah, Edelia menemukan fakta yang mencengangkan di balik pernikahannya. Meski begitu, Edelia tak bisa mengakhiri pernikahan itu begitu saja. Ada sesuatu pada diri Ren yang membuat Edelia merasa harus mempertahankan pernikahan itu.
Apa yang membuat Edelia bertahan? Simak kisah selengkapnya dalam Di Balik Lavender Marriage!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Ren
Aroma lobster panggang memenuhi ruangan saat Ren membuka pintu unitnya. Senyum tipis terkembang di wajah Ren saat mencium aroma yang menggelitik hidungnya. Ren berjalan perlahan ke arah dapur. Seperti biasa, alunan musik slow rock bercampur ballad terdengar mengiringi Lia yang sibuk memasak.
"Kamu masak apa?" tanya Ren pada Lia, membuat Lia yang sedang fokus dengan masakannya terkejut.
"Tuan ngagetin aja. Saya masak thermidor lobster, Tuan. Tadi Julian dateng, nganterin bahan makanan. Langsung saya eksekusi," kata Lia sambil tersenyum.
"Tuan mau langsung makan atau mandi dulu?" tanya Lia.
"Aku mandi dulu," kata Ren sambil berlalu menuju kamarnya. Lia tersenyum sambil mengangguk lalu kembali sibuk dengan masakannya.
Ren kembali menoleh ke arah Lia setelah berjalan beberapa langkah. Lia terdengar bersenandung seperti biasa. Ren kembali berjalan menuju kamarnya.
Saat mendengar pintu kamar Ren ditutup, Lia berhenti bersenandung. Lia masih memikirkan tentang proposal kolaborasi kerjasama dari Damaris Digital Group dengan Narendra Tour and Travel. Proposal itu terlihat begitu menjanjikan untuk jangka panjang. Tapi, ada satu nama yang Lia tahu pasti mengusik pikiran Ren.
Setelah lima belas menit, meja makan sudah terisi dengan grilled thermidor lobster (lobster panggang dengan saus krim, mustard Dijon, dan keju parmesan), truffle mashed potato dan segelas air putih.
Ren berjalan menuju ruang makan. Sepi. Tak terlihat Lia di dapur. Ren berjalan ke arah balkon. Tak ada Lia disana.
"Tuan?" panggil Lia dari arah belakang. Ren menoleh.
"Aku kira kamu di balkon," kata Ren sambil berjalan kembali masuk. Lia tersenyum.
"Saya mandi sekalian karena Tuan tak kunjung keluar kamar," kata Lia sambil menarik kursinya. Ren dapat mencium aroma lavender menyeruak saat berjalan melewati Lia.
"Mari makan," kata Lia saat Ren sudah duduk di kursinya. Ren mengangguk kaku.
Ren menatap lobster panggang di hadapannya. Selama ini Lia selalu memasak makanan barat membuat Ren berpikir mungkin Lia tidak bisa memasak masakan lokal.
"Mungkin rasanya agak berbeda dengan thermidor lobster biasanya karena kita cuma punya keju parmesan, nggak ada keju gruyere," kata Lia melihat Ren belum juga memakan makanannya. Ren menatap Lia.
"Kamu setiap hari masak masakan barat," kata Ren.
"Eh? Oh, karena saya pikir Tuan pasti selalu memakan makanan sejenis ini. Kalau Tuan mau, saya bisa memasak hidangan seafood lokal," kata Lia sambil memakan lobsternya. Ren menatap lobsternya.
"Kamu tahu aku suka seafood?" tanya Ren masih menatap makanan di hadapannya. Lia berhenti makan dan menatap Ren.
"Ya, Tuan. Saat pertama kali saya membuka kulkas, stok makanan laut lebih banyak dari yang lain. Artinya, Anda lebih menyukai seafood daripada yang lain," kata Lia. Ren menatap Lia.
"Kenapa kamu sangat memperhatikan setiap detail kecil tentangku? Aku bahkan tak tahu apapun tentang kamu," tanya Ren heran. Lia tersenyum.
"Bukankah dulu Tuan meminta saya untuk selalu terlihat meyakinkan di depan publik? Karena dulu ada kontrak untuk tidak mencampuri privasi masing-masing, jadi saya gunakan kemampuan observasi saya untuk mengetahui hal-hal kecil tentang Tuan," jelas Lia. Ren menatap Lia dalam-dalam.
"Ehem... It's not a big deal, Tuan. Semua orang bisa melakukan..."
"Aku rasa cuma kamu yang bisa," kata Ren memotong kalimat Lia sambil menyendok thermidor lobster dan memakannya. Lia terdiam.
"Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika malam itu aku memilih wanita lain. Aku rasa wanita itu hanya akan bermanja-manja dan ingin selalu aku perhatikan tanpa memperhatikan apapun tentang aku," kata Ren sambil terus makan. Lia tersenyum.
"Terimakasih. Tapi, jangan memandang remeh nona muda jaman sekarang, Tuan. Saya mengenal beberapa nona muda yang tak kalah mandiri dan tangguh dari saya. Jangan memberi penilaian yang sama terhadap semua nona muda keluarga konglomerat," kata Lia. Ren menaikkan kedua bahunya.
"Mungkin aku belum pernah bertemu dengan mereka," kata Ren. Lia tersenyum.
Piring Ren terlihat sudah kosong. Lia, yang juga sudah selesai makan, mengambil piring Ren untuk dibawa ke dapur. Ren terlihat meminum air putih saat Lia berdiri di samping Ren untuk mengambil piringnya. Saat tangan Lia hendak meraih piring Ren, tangan Ren menangkap pergelangan tangan Lia membuat Lia terkejut.
"Tuan butuh sesuatu?" tanya Lia dengan jantung berdegup kencang karena terkejut. Ren meletakkan gelasnya lalu menatap Lia dalam-dalam.
"Bisakah kamu tidak memanggilku 'Tuan'? Itu sangat menyakitkan," kata Ren masih sambil menatap kedua mata Lia.
"Tapi..."
"Bukankah kita teman?"
Hening.
"Panggil namaku. Sekarang,"
"Eh? Sekarang?"
"Sekarang,"
Lia menarik napas dalam-dalam sebelum mencoba memanggil Ren dengan namanya.
"R-Ren," panggil Lia. Ren mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Biasakan," kata Ren sambil melepas tangannya dari tangan Lia.
Lia mengangguk lalu mengambil piring Ren dan berlalu menuju ke dapur. Ren masih duduk di ruang makan. Lia kembali ke ruang makan setelah menyalakan mesin cuci piring.
"Saya menerima email kerjasama dari DDG pagi ini," kata Lia sambil kembali duduk di hadapan Ren. Ren menatap Lia. Wajahnya terlihat menegang.
"Lalu?" tanya Ren datar tak seramah saat mengobrol waktu makan malam.
"Saya rasa kerjasama yang menarik," kata Lia, lalu meminum air putih yang belum sempat diminumnya. Ren menatap Lia, seolah menunggu Lia menanyakan —atau mengtakan— sesuatu.
"Kamu pasti sering bekerjasama dengan satu atau dua tour and travel agency. Belum pernah menerima tawaran seperti ini sebelumnya?" tanya Ren, wajahnya masih tegang. Lia menggelengkan kepalanya.
"Mereka lebih sering menawarkan kerjasama tour package dengan kami sebagai penyedia akomodasi," kata Lia. Ren terdiam. Lia mencoba membaca raut wajah Ren.
"Kerjasama ini menarik. Akan sangat menguntungkan ketiga belah pihak untuk waktu yang cukup lama, mengingat di jaman sekarang, hampir semua serba digital," kata Lia.
"Ada yang Anda khawatirkan?" tanya Lia pada Ren, hati-hati. Ren menatap Lia. Ada sedikit keraguan di mata Ren yang Lia tangkap.
"Anda tahu? Anda bisa menceritakan apapun pada saya. Bukankah kita teman?" kata Lia pada Ren. Ren terlihat menimang-nimang sesaat, sebelum akhirnya bicara.
"Arka," kata Ren. Lia menunggu Ren melanjutkan kalimatnya.
"Dia yang mengajukan kerjasama itu," lanjut Ren. Lia mengangguk.
"Aku belum membacanya dengan teliti saat meminta Julian untuk menerima tawaran kerjasama itu. Aku bahkan mengusulkan untuk meminta Lavendra Hotel and Resort untuk bergabung," kata Ren. Lia masih terdiam.
"Saat aku menemukan nama Arka disana... entah mengapa aku merasa takut," lanjut Ren.
"Takut?" tanya Lia. Ren mengangguk.
"Aku takut... mungkin dia akan menghancurkan proyek ini di tengah jalan agar nama besar Damaris hancur," kata Ren.
"Mengapa Anda berpikir begitu? Bukankah Anda sangat mempercayainya dulu?" tanya Lia.
Ren terdiam, mengingat hal-hal yang pernah dia lalui bersama Arka dulu. Tapi entah mengapa, mengingat semua itu sekarang, terasa mengerikan bagi Ren.
'Kenapa aku tak bisa mempercayainya sekarang?'
***