Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 BAHAYA 2
Nadia menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Aldo. Pandangan mereka saling beradu. Tatapan Nadia dingin, bibirnya gemetar bahkan sedikit biru, mungkin karena dingin yang melanda.
Tanpa aba-aba, Nadia menempelkan bibirnya ke bibir Aldo.
Tentu saja mata Aldo membulat kaget diserang mendadak oleh Nadia. Hanya sebuah sentuhan bibir, tidak ada permainan apa pun, namun Aldo terpaku. Tangan Aldo bergerak akan melakukan lebih jauh, namun Nadia memegang tangan Aldo dan berkata, “Diam saja, jangan melakukan hal lebih jauh.”
“Kenapa lu cium gue?” tanya Aldo. “Itu first kiss gue.”
“Gue pernah baca di artikel kalau kedinginan harus diatasi dengan kontak fisik. Sayang lu laki-laki, kalau perempuan gue suruh lu buka baju semua,” ujar Nadia.
Aldo termenung, masih memegang bibirnya yang terasa ‘manis’.
“Terus apa yang sekarang lu rasakan?” tanya Aldo dengan suara gemetar.
“Badan gue lumayan panas, sedikit lega,” jawab Nadia datar.
“Apa jantung lu gak dag-dig-dug, Nad?” kata Aldo memegang dadanya, takut meledak karena berdetak tak keruan.
“Biasanya aja,” jawab Nadia enteng.
Aldo menarik napas lalu menghembuskannya, mengeluarkan asap embun dari mulutnya.
Hujan perlahan reda. Nadia meraih baju Aldo, lalu memerasnya dan membentangkannya dekat dirinya.
“Kalau bisa buat api, Al, buat jemur baju lu,” ucap Nadia. Nadanya biasa saja, seperti tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka.
“Nad, pacaran yuk,” ucap Aldo masih melihat Nadia yang sibuk sendiri meraih beberapa ranting, walau kakinya sulit bergerak karena luka.
Nadia menyandarkan tubuhnya kembali dan melihat Aldo. “Pelajar dilarang pacaran.”
“Terus tadi?” tanya Aldo.
“Tadi itu hanya upaya untuk mengusir rasa dingin.”
“Hanya itu?” kembali Aldo bertanya.
“Ya. Lagian gue yakin playboy macam lu gak mungkin kan gak punya pacar, dan mungkin juga lu sudah melakukan hal yang lebih jauh.”
Aldo buru-buru menggeleng. “Gue bukan playboy, Nad, sumpah!”
“Terus dulu waktu lu ngajak balapan, lu ngajak gue tidur sama lu, apa maksudnya coba?”
Aldo menggaruk kepalanya. “Nad, gue ini ketua gangster, jadi gue harus kelihatan keren, kan. Coba bayangin, sama lu gue ketua gangster gak pernah pacaran, apa kata dunia coba?”
Nadia hanya mencibir sambil menahan rasa sakit di betisnya yang sudah mulai mereda.
Aldo juga duduk dekat Nadia. Mereka memandang tempat yang sama, yaitu air terjun.
“Nad, mau gak lu jadi pacar gue?” ucap Aldo dengan nada datar.
“Gak mau gue,” jawab Nadia langsung menolak.
“Kenapa?”
“Karena lu disayang sama bokap dan nyokap lu.”
Aldo menoleh, melihat ke arah Nadia. “Coba cari alasan yang lebih masuk akal. Misalnya lu nolak gue karena jelek kek, masa gara-gara gue dimanja orang tua, lu gak mau jadi pacar gue?”
Nadia menghela napas. “Gue takut merenggut kebahagiaan lu, Al. Dan kemarin gue baru tahu kalau gue bukanlah anak dari Keluarga Wijaya. Gue anak haram, Al, anak di luar pernikahan. Kata orang, gue anak sial.”
Aldo melihat ke arah Nadia dengan penuh simpati.
“Sekarang gue paham kenapa mereka memperlakukan gue tidak adil. Ternyata gue bukan bagian dari mereka.”
“Lu tenang saja, bokap gue sudah suka sama lu. Bokap dan nyokap gue manusia modern. Selagi sosoknya manusia, mereka akan melihat kelakuannya, bukan masa lalunya. Mau dia anak dajal kek, kalau kelakuannya bener, orang tua gue akan memperlakukan dengan baik,” Aldo menjawab dengan bangga.
“Bahagia banget lu, ya?” tanya Nadia.
“Bahagia, Nad. Dan lebih bahagia kalau lu jadi pacar gue.”
“Pelajar dilarang pacaran, Al,” jawab Nadia.
“Kita udah—”
“Sudahlah, itu hanya reaksi tubuh saja. Aku bisa mati kedinginan kalau gue gak lakukan itu,” potong Nadia.
“Lu emang gak punya rasa sama gue?”
“Gue kan gak punya perasaan,” jawab Nadia.
“Jangan-jangan lu gak punya perikemanusiaan juga?”
“Sudahlah, gerimis turun lagi. Malam ini akan jadi malam kritis bagi gue. Kalau gue mati, tinggalin aja gue ya, gak usah dikuburin.”
“Ih, lu ngomong apa sih,” kata Aldo, ada ketakutan dalam dirinya. “Gue akan bersama lu apa pun yang terjadi.”
Aldo merengkuh Nadia dari samping. Nadia tak melawan, kembali bersandar di dada Aldo.
“Gue mau tidur. Kalau gue demam, jangan macam-macam lu. Kalau gue mati, bakal jadi hantu nakut-nakutin lu.”
“Lu kalau kayak gini lucu, Nad. Kenapa enggak dari dulu gue kenal sama lu, mungkin hidup gue akan lebih berwarna,” bisik Aldo.
Tak ada jawaban.
Aldo melihat ke arah Nadia. “Yah, dia sudah ngorok.”
Aldo menyandarkan kepalanya di bahu Nadia. Entah karena lelah atau memang sengaja mencari kesempatan, wajahnya tampak begitu nyaman hingga sesekali terdengar dengkuran kecil dari hidungnya. Nadia yang duduk di samping hanya menghela napas pelan. Meski kesal, tanpa sadar ia merangkul Aldo dari samping agar tubuh pemuda itu tidak terjatuh.
Malam di tengah hutan terasa begitu dingin. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah sisa hujan siang tadi. Di atas mereka, bulan purnama menggantung terang tanpa satu pun awan yang menghalangi cahayanya.
Tiba-tiba Nadia terbangun.
Matanya langsung terbuka saat mendengar suara angin menderu tidak biasa. Sesaat kemudian, beberapa berkas cahaya seperti senter menyapu pepohonan dari kejauhan.
Jantungnya berdegup kencang.
"Bisa jadi ada orang!" pikirnya.
Dengan tergesa-gesa Nadia bangkit dari duduknya.
Duk!
"Aw!"
Kepalanya justru menghantam kepala Aldo yang masih tertidur pulas.
"Kuntilanak, An..." gumam Aldo sambil meringis.
Entah dia sedang mengigau atau memang setengah sadar.
"Al! Bangun! Al, bangun!" Nadia mengguncang tubuhnya.
Aldo tersentak bangun. Ia langsung mengusap sudut bibirnya yang masih dihiasi jejak air liur.
"Apaan sih? Lu ngagetin aja," gerutunya kesal.
Sepertinya dia baru saja dipaksa keluar dari mimpi indah. Mungkin mimpi bertemu kuntilanak cantik favoritnya.
"Tadi kayaknya ada suara helikopter, Al," jelas Nadia.
Mata Aldo langsung membesar.
"Di mana, Nad? Itu pasti orang suruhan bokap gue!"
Nadia menoleh ke arah hutan yang gelap.
"Sekarang udah nggak kedengeran lagi."
"Wah, kenapa lu nggak teriak minta tolong?"
Nadia memasang wajah jijik.
"Iler lu bau. Sampai gue nggak bisa fokus buat teriak."
Aldo spontan menutup mulutnya.
"Parah amat."
"Fakta."
Aldo menghela napas panjang.
"Yah, hilang deh kesempatan kita keluar dari hutan ini."
Suasana kembali hening.
Angin sepoi-sepoi menusuk kulit. Dari kejauhan terdengar lolongan anjing liar yang membuat suasana semakin menyeramkan. Bayangan pepohonan bergoyang tertiup angin, menciptakan siluet aneh di bawah sinar bulan.
Nadia merapatkan kedua tangannya.
"Kita harus bikin api, Al."
"Iya. Biar kalau ada tim pencari, mereka tahu keberadaan kita."
"Iya, gue mau bikin itu."
Aldo berdiri dan mulai mencari ranting-ranting kering di sekitar mereka.
Nadia memandangnya sesaat. Ada rasa bersalah yang sejak tadi mengganjal di dadanya.
"Maafin gue ya. Lu jadi repot sendiri."
Kalimat itu keluar begitu saja.
Aldo sampai berhenti mencari ranting.
Ia menoleh perlahan seolah baru saja mendengar fenomena langka.
"Nadia minta maaf?"
"Apaan sih."
"Gue takut dunia kiamat besok."
Nadia mendelik.
Aldo terkekeh sebelum tersenyum tipis.
"Kalau mau bayar rasa bersalah, jadi pacar gue aja."
"Nggak mau."
Jawabannya datang begitu cepat hingga membuat Aldo memegangi dadanya.
"Cih. Udah di antara hidup dan mati begini, masih juga nggak mau nerima gue."
"Cepat bikin api sana. Apa lu nggak dengar dari tadi suara serigala melolong?"
Aldo langsung membeku.
"Hah?"
"Iya. Dari tadi."
Wajah Aldo mendadak pucat.
"Serigala?"
"Iya. Makanya cepetan bikin api."
Tanpa banyak bicara lagi, Aldo langsung bergerak dua kali lebih cepat. Tangannya sibuk mengumpulkan ranting, daun kering, bahkan hampir mencabut semak-semak di sekitarnya.
Nadia memperhatikannya sambil menahan senyum.
"Dasar," gumamnya pelan.
"Ternyata dia lebih takut sama serigala daripada nasib cintanya sendiri."
libas saja mereka si pecundang