NovelToon NovelToon
SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

SATU -SATUNYA BUANGA DI TENGAH HUTAN.

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Karir / Persahabatan
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Komiatun Atun

hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 33: LANGKAH KECIL MENUJU MAS

📝

 

"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"

BAB 33: LANGKAH KECIL MENUJU MASA DEPAN

Hari itu adalah hari pertama masuk sekolah di tahun ajaran baru. Seperti biasa, langkah kakiku melangkah beriringan bersama ketiga adik-adikku: Bagas, Dimas, dan Fajar. Memang jarak umur kami semua tidak terlalu jauh, sebab Bunda dulu tidak pernah menggunakan KB, jadi anak-anaknya lahir berdekatan dan jarak usia kami hanya selisih sedikit saja. Kami berempat berjalan kaki beriringan menyusuri jalan setapak menuju sekolah, saling menjaga dan menyemangati satu sama lain sepanjang jalan.

Masing-masing dari kami masuk ke jenjang kelas yang berbeda-beda sesuai umur dan tingkatan sekolahnya. Bagas kini mulai masuk duduk di bangku kelas 1 Sekolah Menengah Pertama (SMP), sementara Dimas sudah sampai di tingkat akhir kelas 6 SD. Adapun Fajar, ia baru saja naik ke kelas 3 SD. Ada sedikit perbedaan tempat sekolah di antara kami: Dimas dan Fajar bersekolah di Sekolah Dasar Negeri yang ada di pinggir desa. Sedangkan Bagas dan aku, keduanya bersekolah di Sekolah Dasar Swasta. Meski kami anak-anak dari keluarga yang sederhana, bahkan sering disebut orang sebagai keluarga miskin, namun nasib pendidikan kami terasa sangat dimudahkan oleh Allah SWT.

Karena nilai dan prestasi yang selalu bagus, aku dan Bagas mendapatkan keringanan biaya pendidikan dari pihak sekolah. Kami tidak perlu membayar biaya bulanan seperti murid lain, cukup membayar biaya administrasi saja setiap menjelang pembagian rapot kenaikan kelas atau setiap akhir semester. Begitu pun denganku, uang yang dibayarkanku pun jumlahnya sangat kecil dan terjangkau. Selama ini, semua uang yang aku miliki—hasil keringatku membantu orang lain mencuci, menggosok baju, atau mengerjakan pekerjaan rumah tetangga—tidak pernah habis untuk hal-hal yang tidak berguna. Uang itu selalu dikumpulkan rapi, disimpan sedikit demi sedikit, khusus ditabung hanya untuk keperluan sekolah dan pendidikan semata.

Memang pantas sekali aku mendapatkan kemudahan itu. Selama bersekolah, namaku sudah sangat harum dikenal oleh seluruh warga sekolah maupun guru-guru. Aku pernah membawa nama baik sekolah menjadi yang terbaik di tingkat kecamatan maupun kabupaten. Prestasi akademikku selalu memuaskan, nilai sekolahku selalu menduduki peringkat juara satu terus-menerus dari kelas rendah sampai sekarang. Setiap kali ada lomba, entah itu lomba membaca, menulis, berhitung, atau cerdas cermat, jika aku yang mewakili sekolah, Alhamdulillah hasilnya pasti selalu menang dan membawa pulang piala serta penghargaan.

Dalam hatiku sering bergumam syukur: "Mungkin karena Allah tahu aku anak yang miskin, anak yang tidak punya apa-apa, makanya Allah yang selalu menolong dan membukakan jalan kemudahan buat aku lewat jalan pendidikan ini."

Di sekolah, aku dikenal sebagai anak yang luar biasa rajin dan ringan tangan. Kepada semua bapak dan ibu guru, aku selalu bersikap hormat, sopan, dan sangat membantu. Tanpa perlu disuruh, tanpa perlu diperintahkan, begitu aku melihat ada pekerjaan atau hal yang perlu dibereskan di kelas maupun di kantor guru, aku langsung bergerak membereskannya sendiri. Aku membersihkan papan tulis, menyapu lantai, merapikan buku-buku, atau sekadar mengambilkan air minum untuk guru. Sikap tulus dan inisiatifku inilah yang membuat semua guru sangat menyayangi, menghargai, dan berbuat baik kepadaku.

Aku adalah murid yang patuh, tidak pernah membantah jika dinasihati, dan yang paling hebatnya lagi: aku tidak pernah menyombongkan diri. Walaupun aku pintar, walaupun aku selalu juara, walaupun aku sering dipuji, aku tetaplah Ria yang rendah hati, bersahaja, dan sederhana.

Bahkan ketika teman-teman sekelas ada yang jahat, ada yang suka mengejek, ada yang menyindir soal pakaianku yang sudah lama, soal rumahku yang kecil, atau soal keluargaku, aku tidak pernah membalas sedikit pun. Aku diam saja, aku senyum saja, aku anggap angin lalu saja. Bukan karena aku takut atau aku merasa diriku rendah, bukan begitu sama sekali. Tetapi karena itu adalah prinsip hidupku yang sudah tertanam kuat di hati kecilku: "Aku tidak mau membuat keributan, aku tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan, biarkan ilmu dan tingkah laku baikku yang berbicara. Biarkan waktu yang menjawab semuanya."

Dengan bekal prinsip itu, aku duduk tenang di bangku sekolah, siap menimba ilmu setinggi langit, bertekad kuat: walau badan ini miskin dan seragam ini sudah lusuh, tapi ilmu yang ada di kepala dan hati ini haruslah kaya, haruslah bermanfaat, dan harus bisa menjadi jalan keluar dari segala keterbatasan hidupku.

Langkah kaki kecil itu terus melangkah maju, siap menghadapi dunia luar yang keras, dengan bekal iman yang kuat dan hati yang seluas samudera.

1
KOMIATUN
"alhamdulillah,.... terimakasih banyak ya kak atas dukungan nya senang banget deh ada yang mampir dan kasih saya semangat, rasanya capek pulang kerja jadi hilang seketika lho, nanti kalau ada waktu luang pasti saya kunjungi profil nya kakak ya. sihat selalu dan sukses terus buat kakak. 🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!