NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: tamat
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis / Tamat
Popularitas:447.3k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Goresan pertama

​Senja itu, langit Jakarta seolah turut terbakar oleh emosi yang tertahan di teras belakang mansion Ardiansyah. Ares tidak lagi bisa membendung dorongan yang sejak pagi menyiksa akal sehatnya. Tangannya yang melingkar di pinggang Gia menarik tubuh mungil itu begitu rapat, hingga detak jantung mereka yang berpacu liar terasa saling beradu melalui lapisan kain.

​Ares merunduk, menatap bibir Gia yang sedikit gemetar namun tampak mengundang. Keberanian yang tadi ditunjukkan Gia melalui tatapannya kini berubah menjadi antisipasi yang mencekam. Perlahan, Ares memperpendek jarak terakhir.

​Saat bibir mereka akhirnya bersentuhan untuk pertama kalinya, dunia di sekitar mereka seolah lenyap dalam keheningan yang magis. Itu bukanlah ciuman yang tergesa-gesa, Ares memulainya dengan sangat lembut, seolah ia sedang menyentuh sebuah mahakarya porselen yang paling berharga. Namun, saat Gia memberikan balasan dengan meremas bahu Ares dan memejamkan matanya erat, kelembutan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih mendalam, sebuah ciuman yang penuh dengan pengakuan, kerinduan, dan rasa memiliki yang selama ini terkunci rapat di balik protokol pernikahan formal mereka.

​Bagi Gia, ciuman itu terasa seperti kembang api yang meledak di kegelapan. Aroma maskulin Ares yang memabukkan dan kehangatan bibirnya memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ini bukan lagi soal status atau utang; ini adalah tentang dua jiwa yang akhirnya menemukan satu sama lain di tengah kekacauan. Ares memperdalam ciumannya, mencurahkan segala rasa frustrasinya selama rapat tadi ke dalam sentuhan itu, hingga Gia merasa kakinya lemas dan satu-satunya hal yang membuatnya tetap berdiri adalah dekapan kokoh suaminya.

​Ketika Ares perlahan melepaskan tautan bibir mereka, ia tidak menjauh. Ia menyandarkan keningnya di kening Gia, napasnya memburu dan berat.

"Itu..." Bisik Ares dengan suara yang serak,

"Adalah konsekuensi bagian pertama, Gia"

​Gia hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya sudah sepenuhnya merah padam. Matanya masih tampak sayu karena emosi yang baru saja meluap.

"Mas Ares..."

​Ares tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kemenangan yang terlihat sangat tampan. Ia melepaskan pelukannya sedikit, namun tangannya tetap menggenggam tangan Gia. Matanya kemudian tertuju pada kanvas di belakang Gia yang masih basah oleh cat.

​"Jadi, ini yang membuatmu tidak sabar menungguku?" Tanya Ares, mengalihkan suasana agar tidak terlalu menyesakkan bagi Gia yang masih tampak syok namun bahagia.

​Gia menoleh ke arah lukisannya, mencoba mengatur napasnya kembali.

"Iya. Gia ingin melukis perasaan Gia hari ini. Perpaduan warna biru dan emas... seperti Mas, dan seperti harapan"

​Ares berjalan mendekati kanvas itu, mengamati sapuan warna abstrak yang penuh energi.

"Menarik. Tapi sepertinya ada yang kurang di sudut sini" Tunjuk Ares pada bagian yang masih kosong di pojok kanan bawah.

​"Kurang apa, Mas?"

​Ares tidak menjawab. Ia justru mengambil kuas yang masih tergeletak di atas meja palet, mencelupkannya ke dalam warna hitam yang pekat, lalu memberikannya pada Gia. Namun, saat Gia hendak menerimanya, Ares tidak melepaskan kuas itu. Ia justru berdiri di belakang Gia, membungkus tangan Gia dengan tangan kanannya yang besar, memandu gerakan istrinya.

​"Mari kita tambahkan sedikit ketegasan!" Bisik Ares tepat di telinga Gia.

​Bersama-sama, mereka menggoreskan garis hitam yang tegas namun melengkung indah, membelah warna biru dan emas itu. Gerakan tangan Ares yang mantap dipadukan dengan jemari Gia yang lembut menciptakan sebuah kontras yang luar biasa di atas kanvas. Bagi Gia, momen ini terasa sangat intim, lebih intim daripada ciuman tadi. Ares tidak hanya memberinya fasilitas untuk melukis, ia benar-benar masuk ke dalam dunianya.

​"Warna hitam ini adalah Mas..." Ucap Ares pelan sambil tetap memandu tangan Gia.

"Yang akan membingkai warna-warna cerahmu agar tidak pudar atau berantakan. Mas akan jadi pelindungmu, Gia!"

​Gia mematung, dadanya sesak oleh rasa haru. Ia membiarkan Ares menuntun tangannya untuk menyelesaikan goresan terakhir. Setelah selesai, Ares meletakkan kuasnya dan memutar tubuh Gia agar kembali menghadapnya. Noda cat hitam kini juga menghiasi ujung jari Ares.

​"Sekarang, pelukis kecilku..." Ares menggendong Gia secara tiba-tiba ke dalam pelukannya gaya bridal style membuat Gia memekik kaget dan refleks mengalungkan lengannya di leher Ares.

​"Mas! Gia masih kotor terkena cat! Nanti baju Mas rusak!" protes Gia sambil tertawa kecil.

​Ares tidak peduli. Ia melangkah mantap masuk ke dalam rumah, menaiki tangga menuju kamar utama mereka dengan langkah yang penuh determinasi.

"Baju bisa dibeli lagi, Gia. Tapi waktu bersama istriku jauh lebih mahal harganya. Sekarang kita ke kamar. Mas mau mandi, gerah!"

"Kalau gitu Mas mandi saja. Turunkan Gia biar Gia siapkan makan buat Mas!"

"Enggak, Mas mau kamu tungguin Mas Mandi di kamar!"

1
Nia nurhayati
mampr thott
Erna Riyanto
Gia mulai gila🤭🤭...hatinya mulai goyah hanya dgn kata" satria...ingat gia..klu bukan karena Ares km GK BS sprti skrg...kyk kacang LP kulit nya.
Eleanor Sthiency Elea
saya sangat suka dengan ceritanya
Eleanor Sthiency Elea
rasanya pengen gw dorong... kepalanya si Ares😏
Ray Aza
sarkasme yg memang sakit ditelinga tp faktanya mmg seperti itu. kalo sadar posisi hrsnya mulai mengupgrade diri biar bisa mendampingi suami dikondisi apapun. gpp memulai sesuatu dr nol, yg penting hrs sll tumbuh dan berkembang ke arah yg lebih baik. hilangkan mental pembantu, perbaiki kualitas diri, drpd sibuk membantu di dapur lbh baik pergi ke kampus membekali diri dgn ilmu. sepahit2nya kl lepas dr klrga itu sdh dpt bekal ilmu buat hidup mandiri. manfaatkan situasi sebaik2nya
christina paya wan
Gia mula lupa diri ...
Nethy Sunny
hadehh heran deh kenapa sih pada ter siska siska ares yg nikah kalian yg ikut campur sama mempelai wanitany cari mati kalian
Nethy Sunny
good gia 👍sekarang harus berani bela diri sendiri kalo perlu harus sangar selama bukan kita yang mulai duluan
Julidarwati
good ni suami yg keren💪
awesome moment
koq rasa bersalah?
Ayla Anindiyafarisa
bodoh
Rumi Yati
Terima kasih thor
Rumi Yati
Sarah syetan, siska hantunya
amilia indriyanti
semoga aku ketemu yang kayak ares
Kristina NellaWara
ngeri😆
Maya Ratnasari
di sini papa
Maya Ratnasari
di sini ayah
Maya Ratnasari
di novel novel selalu saja ada yg menjadi pendukung untuk tokohnya maju. di dunia nyata kok aku gak pernah punya yah. pantes ga maju maju, wkwkwkkk
Dede
jam 1:03 kering gigi eniiihhh nyengir trs
Dede
giaaa tukeran posisi dong😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!