NovelToon NovelToon
AKU IBU TIRI MUDA

AKU IBU TIRI MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Pillow Talk "Malam Pertama Tidur Berdua, Tanpa Guling***

Jam 22.30.

Rumah Griya Asri mati lampu. Cuma ada lampu tidur kecil di lorong yang kedip-kedip kayak ngantuk. Penghuni rumah udah terlelap dalam mimpinya masing-masing.

Mpok Mur ngorok pelan di kamar Bailla. Sekarang kamar itu udah jadi markas besarnya. Kasur lebar, bantal dua, guling demarkasi yang tadinya jadi batas negara di kamar Pak Arya, sekarang udah diangkut ke sana. Komandan militer Mpok Mur udah deklarasi: “Kamar ini zona aman anak-anak. Nggak ada yang boleh lewat jam 9 malam.”

Aya dan Ara udah dikelonin. Napas mereka pelan, bibirnya masih nyisa bekas susu cokelat. Dapur statusnya aman. Piring udah dicuci, kompor udah dimatiin, tikus pun kayaknya milih ngungsi.

Tinggal satu medan perang yang belum reda: kamar Pak Arya.

Status Pak Arya & Bailla: satu kasur, dua bantal, jarak 30 cm.

Detak jantung keduanya 120 bpm. Nggak perlu alat. Dengerin aja dari suara napasnya yang ketahan.

Dua insan yang terjebak dalam sanderaan Mpok Mur masih belum memejamkan matanya.

Mereka masih duduk bersandar di ranjang. Sesekali saling melirik. Tampa ada yang berani memulai pembicaraan.

Hening.

1 menit.

2 menit.

3 menit.

4 menit.......

Ya Allah, tanganku taruh mana? Kalau kelamaan lurus, kram.

Kalau nekuk, takut nyenggol Bapak. Dalam hati Bailla udah perang dunia ketiga. Ini kedua kalinya mereka tidur di ranjang yang sama. Pertama di rumah Mami Papi waktu malam pertama nikah. Waktu itu Bailla nangis tiga jam di kamar mandi. Sekarang dia cuma bisa kaku kayak mayat baru.

Akhirnya Bailla berbaring. Posisi badan terbujur kaku. Tatap plafon. Nggak berani gerak. Takut kasurnya bunyi. Takut ketauan gugup.

Di sisi lain, Pak Arya juga nggak jauh beda. “Astaghfirullah, ini selimutnya ditarik dikit dosa nggak ya? Dingin. Tapi takut dikira modus.” Dalam hati dia udah debat panjang. Umur 35 tahun, punya anak tiga, tapi rasanya kayak anak SMA pertama kali ngajak gebetan nonton.

Hening lagi. Hening yang bikin keringat dingin keluar.

Terus...

“Bailla.”

Pak Arya memberanikan diri. Suaranya pelan banget, takut kebangun setengah komplek.

“Hm?” Bailla kaget. Suaranya ketahan di tenggorokan.

Pak Arya: “Dingin nggak?”

Bailla: “D... dikit, Om.”

Pak Arya: “Selimutnya... dipake berdua aja ya?”

SREEK.

Selimut ditarik pelan. Sekarang nutupin berdua. Tapi jaraknya masih 30 cm. Kayak ada AC 2 PK di tengah kasur.

Pak Arya: “Bailla... maaf ya. Om... Om kaku.”

Bailla ketawa kecil. Suaranya kayak kecekik. “Aku juga, Pak. Kayak lagi ujian praktek.”

“Ujian apa?”

“Ujian... ujian jadi istri om.” Jawab Bailla asal.

Pak Arya diem. Terus badannya miring, ngadep Bailla. Masih jaga jarak. Kayak takut kalau terlalu dekat, kasurnya bakal meledak.

“Baila.. Kamu nggak apa-apa kan kita tidur berdua begini?”

Pak Arya nanya pelan. Takut nyinggung. Takut kedengeran maksa.

“Heem... nggak apa-apa Om.” Kita udah diawasi sama CCTV hidup. Jadi apa mau dikata Om.” Jawab Bailla asal. Padahal di dalam hatinya udah estafet maraton.

“Bailla, Bapak mau jujur. Bapak udah 3 tahun tidur sendiri. Kadang sama anak-anak. Tiba-tiba sekarang tidur ada kamu...

Bapak bingung. Takut salah. Takut kamu... takut kamu nyesel nikah sama duda anak 3.”

Suara Pak Arya pelan. Nggak ada gagah-gagahnya. Cuma ada ragu yang ketahan tiga tahun.

Bailla juga miring. Sekarang hadap-hadapan. Gelap, tapi Bailla tau Pak Arya lagi natap. Nggak berkedip.

“Pak... aku juga takut. Aku 21 tahun, Pak. Temen-temenku masih nongkrong, masih... masih pacaran. Aku langsung jadi ibu. Langsung... langsung sekamar sama Bapak.”

Suara Bailla kecil. Nggak ada nangis. Cuma ada jujur yang bikin dada sesak.

“Kamu nyesel, nggak Bailla?” Pertanyaan itu keluar pelan. Kayak takut jawabannya iya.

“Enggak Om. Cuma... cuma belum terbiasa. Kaget tapi... tapi anget, Om.”

“Anget?” Pak Arya belum paham. Dia udah lama nggak ngerti bahasa kayak gitu.

“Iya. Tadi Bapak bikinin teh. Terus Bapak... Bapak nutupin selimut aku. Kecil-kecil gitu, Pak. Tapi... bikin aku ngerasa... ngerasa dijaga.”

Pak Arya nggak jawab. Dia cuma napas pelan. Rasanya kayak ditampar pelan tapi anget.

“Bailla, saya tau kamu belum siap seperti ini. Tapi kita coba ya... Biar nggak ada jarak antara kita. Aku nggak akan maksa kamu. Tapi aku juga berharap kita bisa jadi suami istri kayak orang lain. Dan aku nggak minta sebelum kamu siap.”

Bailla diem. Dia nggak nyangka bakal denger kalimat kayak gitu. Nggak ada maksa. Nggak ada tuntut. Cuma ada sabar.

“Om... Bailla minta maaf kalau sampai sekarang belum jadi istri yang baik. Belum bisa jadi sebesar-besarnya istri. Aku cuma takut, Om... Tapi aku akan berusaha menyesuaikan diri dalam pernikahan ini.”

Pak Arya angguk pelan. Meski gelap, dia pengen Bailla tau dia denger. “Iya Bailla.. Om paham dan akan nunggu kamu siap.

Cuma kalau bisa, boleh nggak kita ubah nama panggilan kita?

Kalau saya dipanggil Om rasanya agak aneh, Bailla.”

Bailla ketawa kecil. “Boleh Om, nggak masalah asal ngga nyinggung perasaan anak-anak aja. Bagusnya panggil apa, Om?”

“Bapak aja atau.... Bailla punya ide nggak, nama yang enak didenger aja?”

“Ya udah aku aja yang tentuin... Aku panggil Mas aja ya...

Om panggil aku Kakak juga biar kayak anak-anak.. heheh.”

Ide ngasal yang keluar karena gugup.

“Jangan dong. Saya panggil kamu Adek aja ya, biar kita kebalik-balik.. hahah. Udah ya, aku panggil itu aja.”

Skak mat. Bailla nggak bisa protes lagi. Kalau diterusin sampai pagi, temanya masih ‘nama panggilan’.

Lampu udah dimatikan dari tadi. Bailla emang nggak biasa tidur terang. Dia takut mimpi buruk. Dia takut ketauan kalau matanya basah.

Jarak sekarang tinggal 20 cm. Napas udah kecampur.

Bau parfum dari kaos Pak Arya. Bau vanila dari sampo rambut Bailla. Campur jadi aneh. Tapi anehnya bikin tenang.

Pak Arya: “Dek... boleh Bapak...”

Bailla: “Boleh apa, om eh Mas?” Jantungnya mau copot.

Pak Arya: “Boleh... boleh pegang tangan?”

Bailla: “...”

Hening 3 detik.

Kayak 3 tahun.

Kayak ujian lisan yang nggak ada kisi-kisinya.

Terus tangan Bailla gerak pelan-pelan di bawah selimut. Nemu tangan Pak Arya. Kasar. Tapi anget.

Digenggam. Pelan.

Pak Arya kaget. Tapi genggamannya dibales. Erat. Tapi nggak maksa.

“Dingin ya, Dek, tanganmu.” Tanya Arya pelan.

“Iya... jantungan dari tadi.” Jawab Bailla sambil tersipu. Meski gelap, dia tau pipinya merah.

Pak Arya ketawa. Pelan. “Sama.”

5 detik. 10 detik. Cuma gandengan tangan. Nggak ada yang lebih. Tapi buat mereka, itu udah kayak naik roller coaster.

“Dek... kalau Mas... kalau Mas belum bisa jadi suami yang... yang kayak di drama...” Tanya Arya hati-hati

“Mas, aku nggak mau suami drama. Aku mau suami kayak Mas.

Yang beneran genteng, tajir. Yang nyuapin Aya. Yang... yang gandeng tanganku malem ini.”

Pak Arya diem. Ibu jarinya ngelus punggung tangan Bailla.

Sekali. Lembut. Kayak takut kalau kenceng, Bailla bakal kabur.

“Bailla...”

“Hmm?”

“Makasih ya... mau nerima Mas. Nerima anak-anak.”

Suara Pak Arya serak. Kayak nahan nangis.

“Makasih juga, Mas... mau nunggu aku siap.” Balas Bailla pelan.

Jam udah nunjuk 23.30.

Rumah udah bener-bener mati. Cuma ada suara jam dinding di luar kamar.

Tik tok. Tik tok.

Ngitung waktu yang pelan-pelan bikin tembok runtuh.

“Dek... tidur ya. Besok kamu bimbingan.”

“Iya, Mas. Mas juga besok nguli.”

Pak Arya: “Iya.”

Hening lagi. Tapi heningnya beda. Nggak canggung. Nggak kosong. Ada sesuatu yang nyangkut di tengah.

Pak Arya: “Dek...”

Bailla: “Hmm?”

Pak Arya: “Selamat malam... Dek.” Pertama kali manggil ‘Dek’.

Bukan ‘Bailla’.

Bailla senyum. Gelap, tapi kerasa. “Selamat malam... Pak Arya.”

5 menit kemudian, napas Pak Arya udah teratur. Tidur. Tapi tangannya masih gandeng tangan Bailla. Erat. Kayak takut kalau lepas, semua ini cuma mimpi.

Bailla melek. Natap plafon. Mikir: Jadi ini rasanya malam pertama. Nggak ada kembang. Nggak ada lilin. Nggak ada puisi. Adanya grogi. Sama gandengan tangan yang...

yang bikin tenang.

Dia inget kata Mpok Mur tadi sore: “Kalau laki-laki itu beneran sayang, dia nggak akan maksa. Dia bakal nunggu sampai lo siap.”

Ternyata bener. Pak Arya nunggu Nggak maksa. Nggak ngomel. Cuma duduk, gandeng tangan, bilang ‘tidur ya’.

Bailla pejamkan mata pelan-pelan. Tangan Pak Arya masih di genggamannya. Anget. Aman.

Buat malam pertama, itu... cukup. Hangat. Mendebarkan. Menenangkan.

Berlahan tembok mulai terkikis. Sudah mulai ada rasa hangat.

Rasa yang namanya belum ada. Tapi rasanya kayak ‘rumah’.

Status Kikuk-Kikuk Baru: Loading 10%... Gagal karena belum siap. Tapi nggak apa-apa. 10% itu udah lebih jauh dari kemarin.

Di luar kamar, Mpok Mur ngorok makin kencang. Kayak alarm yang bilang, “Gue jaga. Nggak ada yang boleh ganggu.”

Dan di dalam kamar, dua orang yang tadinya asing, pelan-pelan belajar jadi ‘kita’.

Nggak cepat. Nggak mulus. Tapi jalan.

Jam 23.47.

Pak Arya tidur. Bailla tidur. Tangan mereka masih gandeng.

Di bawah selimut, jari kelingking mereka saling kait. Kait kecil.

Tapi cukup buat bilang, “Gue di sini. Nggak kemana-mana.”

1
Yuliyana
ada bima n dito, siapa ya ?
Miss Danica: Maaf kak di Bab ini ada perubahan nama tokoh dan ada yang lupa edit ... Makasih atas koreksiannya. Selamat membaca kak 😍🙏
total 1 replies
Miss Danica
Hay gaeess sahabat NT mohon suportnya karya pertama ku ini ya. mohon bimbingannya juga semoga sehat sehat semuanya sukses untuk kita semua.😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!