NovelToon NovelToon
Misteri Sekolah Warisan

Misteri Sekolah Warisan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:167
Nilai: 5
Nama Author: Mustaqimah

Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.

Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12-Jejak Kaki Darah di Lantai Asrama

Setelah suasana kelas perlahan menjadi tenang kembali dan bisik-bisik penasaran maupun kekecewaan mulai mereda, Bu Sintia menutup kembali buku daftar nilai tebal itu dengan lembut, lalu meletakkannya rapi di atas meja guru di hadapannya. Ia menatap seluruh murid satu per satu dengan pandangan yang lembut namun penuh wibawa, lalu tersenyum tulus, terutama saat pandangannya jatuh pada tiga siswa yang baru saja disebutkan namanya tadi.

"Baiklah, sebelum kita masuk ke materi inti pelajaran hari ini, Ibu ingin menyampaikan sedikit pesan, nasihat, sekaligus motivasi buat kalian semua," ucap Bu Sintia dengan suara tenang namun tegas, suaranya terdengar jelas memenuhi seluruh ruangan kelas. "Terutama buat ketiga anak didik yang sudah terpilih mewakili kelas kita ini: Arkan, Rio, dan Dinda."

Bu Sintia berdiri tegak, tangannya bertumpu di pinggang, menatap mereka bergantian.

"Ibu pilih kalian bertiga bukan tanpa alasan. Bukan karena siapa orang tua kalian, bukan karena seberapa kaya atau berkuasa keluarga kalian, dan bukan karena seberapa populer nama kalian di sekolah ini," tegas Bu Sintia, matanya sempat melirik sekilas ke arah Valerie yang masih tampak kesal dan cemberut di bangkunya. "Ibu pilih kalian murni berdasarkan kemampuan, hasil kerja keras, ketekunan, dan potensi kecerdasan yang sudah Ibu lihat dan catat selama ini. Jadi, banggalah dengan apa yang sudah kalian miliki dan raih dengan usaha sendiri. Itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang dibelikan oleh harta."

Ia lalu melanjutkan dengan nada yang lebih hangat dan menyemangati.

"Buat Arkan, Ibu tidak ragu sedikit pun dengan kemampuanmu. Kamu memang jenius, tapi ingat, tetaplah rendah hati dan jadilah contoh yang baik buat teman-teman yang lain. Buat Rio, kamu anak yang cerdas dan cepat tangkap, tapi Ibu harap kamu bisa lebih fokus dan jujur dalam setiap langkahmu, ya. Dan buat Dinda..." Bu Sintia tersenyum lembut ke arah gadis kecil itu yang tampak malu-malu namun bahagia. "Kamu mungkin pendiam, tidak banyak bicara, dan sering kali diremehkan orang lain. Tapi Ibu tahu, di balik diamnya itu, ada ketekunan dan semangat belajar yang luar biasa besar. Jangan pernah merasa minder atau rendah diri. Buktikan pada semua orang bahwa kecerdasan itu tidak mengenal status sosial, tidak mengenal kaya atau miskin. Bakat dan kepintaran ada di mana saja, asalkan mau diasah."

Dinda mengangguk dengan mata berkaca-kaca, hatinya terasa sangat hangat dan didukung sepenuhnya oleh kata-kata gurunya itu.

"Dan buat teman-teman yang lain," Bu Sintia kembali menatap seluruh kelas, "kalian semua juga hebat dan punya kelebihan masing-masing. Yang terpilih hanyalah perwakilan, tapi kemajuan sekolah ini adalah tanggung jawab kita bersama. Dukunglah teman-teman kalian yang bertugas, jangan malah menjatuhkan atau memandang sebelah mata. Ingat, kebesaran sebuah sekolah itu bukan dilihat dari megahnya gedung atau mewahnya fasilitas, tapi dari akhlak dan prestasi seluruh muridnya. Semangat dan kerja keras adalah kunci utama kesuksesan. Jangan pernah merasa puas, dan jangan pernah berhenti belajar."

Suasana kelas menjadi sangat hening dan penuh penghayatan. Nasihat Bu Sintia menyentuh hati banyak murid, membuat mereka terdiam dan merenung, meski ada juga beberapa yang hanya berpura-pura mendengarkan.

"Nah, cukup pesan Ibu," ucap Bu Sintia kemudian sambil tersenyum kembali cerah, mengubah suasana menjadi lebih santai. "Sekarang waktunya kita kembali belajar. Tolong semua murid mengeluarkan buku paket pelajaran Matematika kalian, bukalah di halaman 78 ya."

Seketika terdengar suara gemerisik kertas dan gesekan bangku, saat semua murid bergerak serentak mengambil buku paket dari dalam tas atau loker masing-masing. Elara pun segera mengeluarkan bukunya, membuka tepat di halaman yang diminta, begitu juga dengan Keisha di sampingnya, Arkan di depan, Rio, Dinda, hingga Valerie dan teman-temannya yang meski masih kesal, tetap terpaksa harus mengeluarkan bukunya.

"Sudah semuanya?" tanya Bu Sintia sambil berjalan sedikit maju ke depan papan tulis. "Bagus. Hari ini kita akan lanjut membahas materi tentang Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel. Materi ini memang agak rumit dan butuh ketelitian tinggi, tapi kalau kalian fokus dan paham polanya, sebenarnya sangat mudah sekali."

Bu Sintia mulai menuliskan beberapa rumus utama di papan tulis dengan tulisan tangannya yang rapi dan jelas. Suara suaranya terdengar berirama dan terstruktur saat ia menjelaskan konsep dasar, cara penyelesaian, hingga contoh penerapannya dalam soal cerita.

"Perhatikan baik-baik ya, rumus dasarnya begini..." ucap Bu Sintia sambil menunjuk tulisan di papan tulis. "Kalian harus ingat, kalau ada tiga variabel, berarti kita butuh tiga persamaan yang saling berhubungan. Ada dua metode yang bisa dipakai, yaitu metode eliminasi dan substitusi. Kadang kita harus gabungkan keduanya supaya lebih cepat dapat hasilnya."

Seluruh isi kelas kini benar-benar hening dan fokus. Semua murid menatap ke arah papan tulis, ada yang mendengarkan sambil menyimak buku, ada pula yang sibuk mencatat poin-poin penting, rumus, dan contoh soal ke dalam buku tulis pribadi mereka agar mudah dipelajari kembali nanti.

Suasana belajar yang serius dan penuh semangat itu terus berlanjut, seolah menutup sementara segala misteri dan konflik yang baru saja terjadi. Namun Elara tahu benar, di balik ketenangan dan keramaian belajar ini, ada banyak hal tersembunyi yang perlahan bergerak dan menunggu waktu untuk kembali muncul ke permukaan.

***

(Siang Harinya)

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi nyaring, menggema ke seluruh penjuru gedung dan menjadi tanda kelegaan bagi seluruh murid. Suasana ruang kelas yang tadinya hening dan tertib seketika berubah menjadi riuh rendah. Begitu guru Bahasa Jerman yang terakhir memberikan salam dan melangkah keluar dari ruangan, semua murid pun serentak bergegas mengemasi buku dan alat tulis mereka, lalu berjalan berdesak-desakan keluar menuju koridor yang tak lama kemudian menjadi padat oleh kerumunan siswa yang ingin segera pulang atau kembali ke asrama.

Elara berjalan beriringan dengan Keisha di antara lautan murid yang berjalan menuju gerbang utama. Wajah Keisha tampak sedikit gelisah dan terburu-buru, membuat Elara sempat menoleh dengan bingung.

"El, maaf banget ya," ucap Keisha tiba-tiba sambil memegang lengan sahabatnya itu, nadanya terdengar menyesal. "Kayaknya aku nggak bisa langsung ikut kamu ke asrama deh. Aku mau mampir ke rumah orang tua aku dulu. Ada hal penting banget yang mau dibahas sama Papa aku, katanya berhubungan sama persiapan lomba sains tingkat nasional nanti."

Elara mengangguk mengerti, lalu tersenyum maklum. "Iya deh, nggak apa-apa kok. Aku paham banget. Lagian kan Papa kamu itu donatur terbesar sekolah ini, pasti banyak hal penting yang harus dibahas soal acara besar kayak gitu," jawab Elara santai. Ia kemudian bertanya lagi sambil menatap jalanan yang makin ramai di depannya. "Tapi kamu ke sana naik apa? Diantar supir atau gimana?"

Keisha menggeleng cepat sambil menunjuk ke arah halaman depan tempat mobil dinas sekolah terparkir. "Oh, nggak kok. Aku nanti berangkat bareng sama Kepala Sekolah. Beliau juga ada urusan ke rumah Papa aku sebentar, jadi sekalian aku nebeng aja. Lebih aman dan cepet juga kan."

"Oalah, gitu ya," Elara menghela napas lega. "Ya udah kalau gitu. Hati-hati banget ya di jalan. Nanti kalau udah selesai, kabarin aku ya."

Keisha tersenyum lebar, lalu mengangguk semangat. "Pasti! Tenang aja, sebelum malam aku pasti udah balik lagi ke asrama kok. Nanti kita ngobrol panjang lebar lagi ya pas aku udah balik. Oke, bye! Aku duluan ya, El!"

"Iya, hati-hati!" seru Elara melambaikan tangan, berdiri sebentar melihat punggung Keisha yang makin menjauh hingga hilang di balik kerumunan orang yang menuju parkiran.

Setelah sosok sahabatnya itu benar-benar menghilang, Elara menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Sekarang ia benar-benar sendirian. Keramaian di sekitarnya perlahan mulai menipis; sebagian besar murid sudah pulang ke rumah masing-masing, sementara murid penghuni asrama mulai berjalan beriringan menuju bangunan asrama yang letaknya agak terpisah dari gedung utama sekolah, berada di balik deretan pohon besar yang rindang.

sesampainya di asrama, di depan pintu kamarnya, Elara mengangkat kartu akses kamar yang tergantung di lehernya. Ia mendekatkannya ke alat pemindai di samping pintu. Terdengar bunyi bip pendek yang jernih, diikuti lampu indikator berwarna hijau yang menyala. Pintu otomatis itu pun bergeser perlahan ke samping, terbuka menampakkan suasana kamar yang sepi dan hening.

Elara segera melangkah masuk, lalu tanpa menoleh ke belakang, ia menekan tombol penutup pintu hingga terdengar bunyi kunci yang terkunci rapat. Ia berjalan pelan menuju meja belajarnya yang berada di sudut ruangan, lalu melepas tas punggungnya dan menggantungkannya di sandaran kursi.

Ia duduk di sana, menatap kosong ke arah dinding di depannya. Pikirannya kembali berputar kacau, mengingat segala kejadian aneh yang menimpanya belakangan ini—mulai dari mimpi buruk, hingga sosok wajah pucat di koridor tua.

"Ada apa sebenarnya sama aku..." gumam Elara pelan, suaranya terdengar penuh kebingungan dan kelelahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kamar. "Kenapa sejak aku masuk sekolah ini, aku terus saja melihat hal-hal aneh, Rasanya semua ini tertuju cuma aku aja..."

Elara menghela napas panjang, tangannya meremas ujung baju seragamnya sendiri. "Padahal aku yakin, aku sama sekali hak punya hubungan apa pun sama sekolah ini. Aku anak baru, murid pindahan yang masuk pakai beasiswa. Aku nggak tahu apa-apa soal sejarah sekolah ini, nggak tahu siapa siapa saja yang ada di sini... Kenapa rasanya seolah-olah aku ditakdirkan terlibat sama semua rahasia mengerikan ini?"

Belum sempat pikiran itu berlanjut lebih jauh, tiba-tiba pintu kamar itu kembali berbunyi. Bunyi bip pemindai kartu terdengar lagi, lalu pintu otomatis bergeser terbuka.

Masuklah Dinda. Gadis itu membawa tas kecil di bahunya, langkahnya pelan dan lembut seperti biasa. Saat melihat Elara sudah ada di dalam, wajah Dinda langsung tersenyum ramah.

"Eh, Elara? Kamu udah datang duluan ya?" sapa Dinda lembut.

Elara tersentak sedikit dari lamunannya, lalu segera mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat tenang. Ia membalas senyum itu tipis. "Iya, aku baru aja sampai. Kebetulan Keisha nggak ikut balik langsung, dia mampir dulu ke rumah orang tuanya katanya ada urusan penting soal lomba sains. Jadi aku ke sini sendirian aja."

Dinda mengangguk paham, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi meja belajarnya sendiri yang berada tepat di hadapan Elara. Namun, Dinda tampak menundukkan wajahnya, memainkan ujung jarinya dengan gelisah, seolah ada sesuatu yang berat yang ingin ia sampaikan.

"Elara..." panggil Dinda pelan, suaranya terdengar ragu.

"Ada apa, Din? Ada yang mau dibahas?" tanya Elara lembut, melihat perubahan sikap sahabatnya itu.

Dinda mengangkat wajahnya, menatap Elara dengan mata yang berkaca-kaca, campuran antara rasa bersalah dan rasa terima kasih. "Aku... aku mau minta maaf sama kamu ya."

Elara mengerutkan kening bingung. "Minta maaf soal apa? Kamu nggak pernah berbuat salah sama aku kok."

"Bukan gitu..." Dinda menggeleng pelan, lalu melanjutkan perlahan. "Ingat nggak? Hari pertama kamu di sini, pas kamu nyapa aku dan mau ngajak kenalan? Waktu itu aku cuma diam aja, jawabanku singkat-singkat, dingin banget sama kamu... Maafin aku ya. Bukan karena aku nggak suka sama kamu, atau sombong atau apa. Tapi... aku kira kamu sama aja kayak murid-murid lain di sini. Aku kira kamu juga bakal ngejek aku, ngehina aku, atau malah ikut nyakitin aku kayak Valerie sama teman-temannya."

Dinda menundukkan pandangannya lagi, suaranya makin pelan. "Selama ini aku selalu diperlakukan buruk. Aku jadi takut mendekat sama siapa pun, aku pikir semua orang di sini sama saja, cuma mau nyakitin aku. Tapi... pas kamu berani belain aku di kelas tadi pagi? Pas kamu ngelawan Valerie dan ngomong kalau aku punya harga diri juga? Aku sadar... aku salah. Kamu beda, Elara. Kamu orang baik, kamu nggak kayak mereka."

Mendengar itu, hati Elara terasa hangat sekaligus terenyuh. Ia tersenyum tulus, lalu menjulurkan tangan dan menyentuh pelan lengan Dinda di atas meja.

"Nggak apa-apa kok, Dinda. Aku ngerti banget gimana rasa takut kamu. Aku ngerti kenapa kamu jadi tertutup begitu. Aku nggak pernah ambil hati atau marah sama kamu soal itu," ucap Elara lembut namun tegas. "Tapi dengerin aku ya... mulai sekarang kamu harus berubah. Kamu harus bisa lawan mereka, Din. Kamu harus jadi cewek yang kuat, jangan terus-terusan diam aja kalau ditindas."

Wajah Dinda seketika berubah sedih. Ia menggeleng lemah, senyumnya tampak getir. "Nggak bisa, Elara... aku nggak seberani kamu. Aku beda sama kamu. Aku kan anak orang nggak mampu, mereka anak orang kaya, mereka punya kuasa di sini. Kalau aku lawan, nanti aku malah makin disiksa, makin dipermalukan. Aku takut..."

Elara menarik napas panjang, lalu menatap tajam namun penuh kelembutan ke arah mata Dinda.

"Aku tahu rasanya, Din. Denger ya... aku juga sama persis kayak kamu. Aku juga anak yang kurang mampu, aku juga masuk sini pakai beasiswa, sama persis kondisiku sama kamu. Kita sama, kita sama-sama nggak punya harta, nggak punya jabatan, nggak punya kuasa kayak mereka."

Elara menegakkan punggungnya, suaranya terdengar mantap dan penuh keyakinan. "Tapi aku diajarin sama orang tua aku, kalau miskin itu nggak apa-apa, yang nggak boleh itu adalah miskin harga diri. Kita boleh nggak punya uang, tapi kita harus punya harga diri, punya akal, dan punya keberanian buat nolak kalau disakitin. Kalau kita diam aja, mereka bakal terus nginjek kita selamanya. Kita harus jaga diri kita sendiri, karena nggak ada orang lain yang bakal belain kita kalau bukan kita sendiri."

Dinda terdiam. Kata-kata Elara itu masuk begitu dalam ke hatinya. Ia merenung, memikirkan semua perlakuan buruk yang diterimanya selama ini, dan keberanian Elara yang tiba-tiba muncul untuk membela heran yang baru dikenalnya.

"Aku yakin banget kamu bisa, Dinda," ucap Elara lagi, kali ini dengan nada yang menyemangati. "Kamu pinter banget, buktinya kamu terpilih mewakili kelas buat lomba sains itu kan? Kamu hebat, Din. Jangan biarin mereka bikin kamu merasa rendah. Aku bakal selalu dukung kamu, aku bakal ada di samping kamu. Kita teman sekarang, kan?"

Dinda mengangkat wajahnya kembali. Air mata bahagia menetes di pipinya, namun kali ini ia tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan lega yang pernah Elara lihat. Ia mengangguk berulang kali.

"Makasih ya, Elara... makasih banget. Aku seneng banget rasanya akhirnya punya teman yang baik kayak kamu. Makasih udah mau ngertiin aku, makasih udah mau jadi temanku," ucap Dinda dengan suara bergetar karena haru.

Elara tersenyum lebar, merasa sedikit beban di hatinya terangkat berkat percakapan ini. "Sama-sama dong. Teman itu saling bantu dan saling jaga kan? Udah ya jangan sedih lagi. Sekarang kita fokus aja belajar, nanti kita buktiin ke semua orang, apalagi sama Valerie, kalau kita bisa sukses meski nggak punya harta mewah kayak mereka."

Dinda mengusap air matanya, lalu tersenyum cerah penuh semangat. Namun tiba-tiba, seolah baru saja teringat sesuatu yang sangat penting, mata Dinda terbelalak. Ia langsung menepuk jidatnya pelan, wajahnya berubah sedikit panik.

"Aduh, Elara... maaf banget ya, aku harus pergi sebentar sekarang," ucap Dinda buru-buru sambil segera meraih buku-buku yang ada di meja, memasukkannya satu per satu ke dalam tas dengan gerakan tergesa-gesa.

Elara yang baru saja akan membuka buku pelajarannya kembali mengangkat wajah, menatap sahabatnya itu dengan bingung. "Lho? Kamu mau kemana lagi, Din? Padahal baru sebentar aja kita ngobrolnya."

Dinda mengikat tali tasnya dengan kencang, lalu menoleh ke arah Elara sambil tersenyum canggung. "Aku mau ke perpustakaan sekolah. Ada materi yang belum aku pahami, dan aku mau cari buku referensi tambahan buat persiapan seleksi lomba sains nanti. Lebih tenang belajar di sana soalnya."

Elara mengerutkan kening sedikit, teringat peraturan sekolah yang cukup ketat. "Emang dibolehin ya belajar di sana jam-jam begini? Kan udah lewat jam sekolah, biasanya kan perpustakaan udah mau ditutup."

"Boleh kok," jawab Dinda cepat sambil membenahi letak kacamatanya. "Aku udah izin sama Pak Budi, petugas perpustakaan itu lho. Beliau baik banget, katanya karena aku mau persiapan lomba, aku dikasih waktu satu jam aja buat belajar di sana sebelum ditutup total. Jadi aku nggak mau nyia-nyiain kesempatan ini, sayang banget kan."

"Oalah, gitu ya," Elara mengangguk paham, lalu tersenyum memberi dukungan. "Ya udah kalau gitu, silakan aja. Kamu belajar yang rajin ya, semangat terus. Aku yakin kamu pasti bisa jadi juara."

Wajah Dinda bersinar cerah mendengar ucapan itu, rasa syukur dan bahagia kembali terlihat jelas di matanya. "Makasih banyak ya, Elara. Kamu emang teman terbaik yang pernah aku punya. Aku pergi dulu ya, nanti kalau udah selesai aku langsung balik ke sini lagi."

Dinda segera menyampirkan tasnya di bahu, melambaikan tangan sekilas, lalu berjalan cepat keluar dari kamar. Pintu otomatis bergeser tertutup kembali, meninggalkan Elara sendirian di dalam ruangan yang sepi itu.

Elara menghela napas panjang, lalu bersandar santai di kursi. "Aduh... aku sendirian lagi deh sekarang," gumamnya pelan sambil menatap sekeliling kamar yang tiba-tiba terasa makin luas dan sepi. "Ya udah, nggak apa-apa. Daripada diam aja melamun, mending aku ganti baju dulu, terus cuci tangan sama cuci kaki biar seger abis seharian di sekolah. Habis itu baru duduk tenang-tenang buat belajar deh."

Dengan semangat baru, Elara bangkit berdiri dari kursi belajarnya. Ia berjalan menuju lemari pakaian besar yang ada di sudut kamar, membuka pintunya lebar-lebar. Di sana tertata rapi pakaian seragam sekolah, pakaian bebas, dan perlengkapan pribadinya. Tangannya bergerak lincah memilih pakaian santai berwarna biru muda yang nyaman dipakai di dalam asrama.

Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Elara menutup kembali pintu lemari itu. Ia memegang baju ganti itu di tangannya, lalu berjalan menuju pintu keluar kamar. Sebelum melangkah pergi, matanya sempat melirik sekilas ke arah lantai lorong di luar sana, mengingat kembali jejak darah misterius yang ia lihat tadi saat baru sampai. Namun lorong itu kini tampak biasa saja, bersih, dan sepi, seolah kejadian mengerikan itu hanyalah halusinasinya semata.

"Semoga nggak ada apa-apa lagi deh..." bisik Elara pelan pada dirinya sendiri.

Dengan napas yang dihembuskan pelan, Elara melangkah keluar dari kamar, pintu otomatis menutup rapat di belakang punggungnya. Ia berjalan menyusuri lorong panjang menuju ruang mandi umum yang terletak di ujung bangunan asrama.

Elara berjalan santai menyusuri lorong panjang asrama. Langkahnya ringan, bibirnya bersenandung kecil sebuah lagu pelan, berusaha mengusir segala rasa gelisah dan ketakutan yang sempat menghantuinya tadi.

Sambil memeluk erat baju ganti di dadanya, Elara terus berjalan, pikirannya sudah melayang pada air hangat yang akan segera menyegarkan tubuhnya. Namun, di tengah langkahnya yang santai itu, tiba-tiba telapak kakinya merasakan sesuatu yang dingin, licin, dan basah saat menapak ke lantai.

Suara basah itu terdengar jelas, memecah keheningan. Elara seketika menghentikan langkahnya mendadak. Jantungnya berdegup kencang karena kaget. Ia merasa aneh—lantai ini kan baru saja dipel pagi tadi, harusnya kering dan bersih. Perlahan, dengan rasa penasaran bercampur firasat buruk yang mulai merayap, Elara menundukkan kepalanya, menatap ke bawah tepat di tempat kakinya berpijak.

Darah.

Bercak merah pekat, basah, dan mengkilap terkena cahaya lampu, menempel jelas di sol sepatunya. Warnanya merah gelap, baunya yang khas anyir dan tajam mulai tercium samar-samar menusuk hidungnya.

Wajah Elara seketika berubah pucat pasi. Napasnya tertahan di tenggorokan, mulutnya sedikit terbuka karena keterkejutan yang luar biasa.

"Hah... darah?!" serunya lirih, hampir berbisik, matanya terbelalak tak percaya menatap noda merah itu. Tangannya refleks menutup mulutnya sendiri, rasa mual dan takut langsung menyerbu bersamaan. "Ini... ini darah?! Kok bisa ada darah di sini? Di asrama?!"

Dengan tangan yang mulai gemetar hebat, Elara mengangkat kepalanya perlahan, menatap ke depan, ke arah lorong yang masih panjang dan lurus itu. Dan saat itulah, ia merasakan darahnya seolah berhenti mengalir sepenuhnya.

Di sana, tercetak jelas di lantai yang bersih itu... deretan jejak kaki. Jejak itu penuh dengan darah merah basah, meninggalkan bekas yang nyata dan mengerikan. Jejak itu berjalan menjauh darinya, melangkah masuk semakin dalam ke lorong asrama yang semakin sepi, menuju bagian yang jarang ada penghuninya, tempat yang lebih gelap dan sunyi.

Elara menelan ludah dengan susah payah. Ingatannya langsung teringat pada bercak darah yang ia lihat di depan pintu kamarnya tadi. Jadi itu bukan halusinasi, bukan imajinasinya saja. Itu berlanjut... jejak ini berlanjut sampai ke sini.

"Siapa... siapa yang terluka? Atau... siapa yang berjalan membawa darah sebanyak ini?" gumam Elara dengan suara bergetar. Pikirannya langsung melayang pada sosok berwajah pucat penuh darah yang dilihatnya di koridor sekolah, pada kejadian aneh dengan Dinda, dan segala misteri yang belum terjawab.

Rasa takut berteriak keras di benaknya, menyuruhnya untuk segera berbalik arah, lari kembali ke kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, dan berpura-pura tidak melihat apa-apa. Namun, rasa penasaran yang besar dan dorongan aneh dari dalam hatinya justru menarik perhatiannya ke depan. Ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang membuat kakinya bergerak sendiri tanpa ia sadari.

Tanpa ia perintahkan, langkah kakinya perlahan melangkah maju, mengikuti jejak darah itu.

1
Felita Gunawan
wah penasaran bgt ni ayo kak lanjut cerita nya
Mustaqimah: Makasih udah baca cerita ku, Kakak/Smile//Smile//Smile/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!