Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 Undangan Gala Tahunan
Seluruh kota gempar setelah konferensi pers Elara.
Media yang sebelumnya sibuk menyerangnya kini berbalik arah.
Nama-nama perusahaan anonim mulai dibongkar.
Aliran dana tersebar.
Dan beberapa jurnalis besar mulai menemukan koneksi yang mengarah pada lingkaran keluarga Moretti.
Walau belum ada bukti langsung yang menyebut Selene atau Seraphina…
semua orang cukup pintar untuk membaca arah permainan.
Dan untuk pertama kalinya—
pihak yang panik bukan Vasiliev Group.
Melainkan keluarga Moretti.
“MATIKAN TELEVISI ITU!”
BRAK!
Suara bentakan Seraphina menggema di ruang utama mansion.
Seorang pelayan buru-buru mematikan layar.
Namun semuanya sudah terlambat.
Berita itu sudah menyebar ke mana-mana.
Selene berdiri diam di dekat tangga besar dengan wajah pucat.
Tangannya mengepal begitu kuat sampai kukunya hampir melukai telapak tangan sendiri.
Ia tidak menyangka Elara akan bergerak secepat itu.
Dan yang lebih membuatnya marah—
wanita itu tidak terlihat terluka sedikit pun.
Justru semakin kuat.
Seraphina berjalan mondar-mandir sambil memijat pelipis.
“Siapa yang bocor?”
Tak ada yang menjawab.
“AKU TANYA SIAPA YANG BOCOR?!”
Semua pelayan menunduk ketakutan.
Sementara Selene perlahan berkata,
“Mungkin orang-orang media itu sendiri.”
Seraphina langsung menoleh tajam.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa tidak?”
Selene berusaha tetap tenang.
“Orang-orang selalu berpihak pada siapa yang lebih menguntungkan.”
Kalimat itu membuat Seraphina diam sesaat.
Dan diamnya menyimpan satu kenyataan pahit:
untuk pertama kalinya…
keluarga Moretti mulai kehilangan pengaruh.
Di tempat lain, suasana di Vasiliev Group justru jauh berbeda.
Beberapa staf diam-diam tersenyum lega.
Harga saham yang sempat turun mulai naik lagi.
Investor kembali tenang.
Dan nama Elara semakin kuat di mata publik.
Namun wanita itu sendiri tidak terlihat senang.
Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya sambil membaca laporan baru.
Tatapannya tetap tenang.
Dingin.
Seolah semua kemenangan ini tidak benar-benar berarti.
Viktor masuk sambil membawa beberapa surat undangan.
“Agenda minggu depan mulai penuh.”
“Taruh saja di meja.”
Viktor meletakkannya satu per satu.
Sampai satu amplop hitam dengan logo emas menarik perhatian Elara.
Ia mengambilnya perlahan.
Logo besar di bagian depan langsung membuat matanya sedikit menyipit.
THE IMPERIAL CHARITY GALA
Acara paling bergengsi tahun itu.
Gala tahunan yang hanya dihadiri keluarga elit, konglomerat, politikus besar, dan investor internasional.
Tempat di mana reputasi dipertontonkan seperti mahkota.
Dan kekuasaan diukur dari siapa yang berdiri di samping siapa.
“Elara membuka amplop itu perlahan.”
Di dalamnya hanya ada satu kartu hitam elegan bertuliskan:
Kehadiran Anda Sangat Dinantikan.
Tanpa nama pengirim.
Namun semua orang tahu siapa penyelenggaranya.
Keluarga kerajaan bisnis Eropa yang selama ini dekat dengan Vasiliev dan Moretti.
“Menarik,” gumam Elara pelan.
Viktor mengangguk.
“Semua orang akan datang.”
“Tentu.”
“Termasuk keluarga Moretti.”
Tatapan Elara berhenti sesaat.
Namun hanya sesaat.
“Dan?”
Viktor menatapnya hati-hati.
“Media pasti menunggu reaksi kalian.”
Elara tersenyum tipis.
“Mereka terlalu bosan kalau hidup orang lain tidak berantakan.”
Namun jauh di dalam dirinya…
ia tahu gala itu bukan sekadar pesta.
Itu medan perang sosial.
Dan semua orang akan datang membawa topeng terbaik mereka.
Malam harinya, Cassian muncul di ruang kerja Elara tanpa mengetuk seperti biasa.
“Aku dengar kau dapat undangan.”
“Elara tidak mengangkat kepala.”
“Kalau mau memata-matai, setidaknya lebih kreatif.”
Cassian tertawa kecil lalu duduk santai di sofa.
“Jadi?”
“Apa?”
“Kau akan datang?”
Elara akhirnya menatapnya.
“Aku tidak suka pesta.”
“Ini bukan pesta biasa.”
Cassian tersenyum tipis.
“Ini tempat orang kaya saling membunuh dengan senyum.”
Jawaban itu membuat Elara terkekeh pelan untuk pertama kali hari itu.
Cassian memperhatikannya beberapa detik.
Lalu berkata lebih serius,
“Hati-hati di gala nanti.”
“Elara mengangkat alis.”
“Ada yang akan terjadi?”
Cassian menyandarkan tubuh.
“Di dunia seperti kita…”
tatapannya tajam,
“…kalau semuanya terlihat terlalu tenang, berarti seseorang sedang menyiapkan sesuatu.”
Sementara itu di mansion Moretti, suasana makan malam terasa dingin.
Tak ada yang benar-benar berselera makan.
Seraphina duduk diam di ujung meja sambil membaca berita di tabletnya.
Selene terus memainkan garpu tanpa menyentuh makanan.
Dan Damian…
bahkan sejak awal terlihat tidak ingin berada di sana.
Sampai akhirnya Seraphina bicara.
“Undangan gala datang pagi ini.”
Damian tetap diam.
“Kita semua akan hadir.”
Selene langsung mengangkat kepala.
“Termasuk Elara?”
“Tentu.”
Nada suara Seraphina berubah dingin.
“Dan kali ini…”
ia menaruh tablet perlahan,
“…aku ingin keluarga Moretti kembali mengambil perhatian.”
Damian tertawa kecil tanpa humor.
“Dengan cara apa?”
Tatapan Seraphina langsung tajam.
“Apa maksudmu?”
“Kita baru saja kehilangan investor, reputasi turun, dan media mulai mencurigai kita.”
Damian menatap ibunya lurus.
“Menurut Ibu, memakai tuxedo mahal di gala bisa memperbaiki semuanya?”
Sunyi.
Selene buru-buru menyela.
“Setidaknya kita tidak bisa terlihat lemah.”
Damian menoleh padanya dingin.
“Kau terlalu sibuk memikirkan penampilan.”
Kalimat itu menusuk telak.
Wajah Selene langsung berubah.
“Jadi sekarang semua yang kulakukan salah?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kau memandangku seperti penjahat!”
Damian diam.
Dan diamnya lagi-lagi menjadi jawaban paling menyakitkan.
Selene berdiri mendadak.
“Kau berubah sejak wanita itu pergi!”
“Aku memang berubah.”
Tatapan Damian tajam.
“Karena akhirnya aku sadar siapa saja yang selama ini berpura-pura baik.”
BRAK!
Selene langsung membanting serbet ke meja lalu pergi dengan mata memerah.
Seraphina menatap Damian marah.
“Kau sengaja memperkeruh suasana?”
Damian berdiri perlahan.
“Tidak.”
Ia menatap meja makan besar itu sekilas.
“Suasana di rumah ini memang sudah rusak sejak lama.”
Lalu pergi meninggalkan ruang makan.
Dan sekali lagi—
Seraphina hanya bisa menatap punggung putranya menjauh.
Semakin jauh.
Malam semakin larut.
Di kamar mewahnya, Selene berdiri di depan cermin sambil menggenggam undangan gala.
Matanya dipenuhi emosi campur aduk.
Marah.
Takut.
Iri.
Dan kebencian yang semakin sulit disembunyikan.
Dulu setiap acara besar selalu menjadi panggungnya.
Semua orang memujinya.
Memandangnya kagum.
Namun sekarang?
Nama yang paling ditunggu semua orang hanyalah Elara Vasiliev.
Selene perlahan tersenyum tipis.
Namun senyum itu terlihat menyeramkan.
“Kalau kau ingin jadi pusat perhatian…”
tatapannya dingin menatap refleksi dirinya sendiri,
“…baik.”
Ia memegang kartu undangan itu erat.
“Aku akan membuat seluruh malam itu tidak terlupakan.”
Sementara itu di rumah besar Vasiliev…
Irina sedang membantu memilih gaun untuk Elara.
Beberapa gaun mahal tergantung rapi di ruangan besar.
Namun Elara terlihat tidak tertarik.
“Yang sederhana saja.”
Irina tersenyum lembut.
“Nona tetap harus terlihat memukau.”
“Aku datang untuk urusan bisnis, bukan kontes kecantikan.”
“Sayangnya,” sahut Irina pelan,
“orang-orang di gala itu tidak bisa membedakan keduanya.”
Elara akhirnya menghela napas kecil.
Irina mengambil satu gaun hitam panjang dengan detail elegan yang tidak berlebihan.
“Yang ini.”
Elara melihat sekilas.
Sederhana.
Tajam.
Elegant.
Seperti dirinya sekarang.
“Baik.”
Saat Irina pergi, Elara kembali sendirian di ruangannya.
Tatapannya jatuh pada undangan gala di meja.
Entah kenapa…
hatinya terasa tidak nyaman.
Bukan takut.
Tapi firasat.
Seolah malam itu akan mengubah sesuatu lagi.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Jangan percaya semua orang yang tersenyum di gala nanti.”
Elara membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Namun beberapa detik kemudian—
pesan kedua masuk.
Dan kali ini…
matanya langsung berubah tajam.
“Karena seseorang sedang menyiapkan kejatuhanmu di sana.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin.
Dan untuk pertama kalinya sejak menerima undangan gala—
Elara benar-benar merasa sesuatu besar akan terjadi.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄