Tak selamanya pertemuan antara dua trauma berakhir dengan trauma baru. Bisa jadi, merekalah yang paling paham cara merawat luka satu sama lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang selama ini kita cintai sama sekali tidak pernah merasa bersalah, bahkan berani bilang kalau itu hal yang wajar dan mencoba menutupi semua luka itu dengan istilah 'Nafkah'.
DI hotel malam itu, Vandini melihat sosok suaminya sedang bersama wanita lain, dan ia hanya mendapat makian.
"Kamu nggak seharusnya ada di sini, Van. Ini bukan tempatmu."
Keterkejutannya pun berganti menjadi amarah yang membuncah. "Aku istrimu, Satura! Aku harusnya ada di mana pun kamu berada. Kamu itu yang gak seharusnya ada di tempat kayak gini!"
"Kamu nggak ngerti, Van. Ini... ini nggak ada hubungannya sama kita."
"Oh, begitu ya?" Vandini tertawa getir. "Terus ini apa? Jelasin dong! Gimana maksudnya ketemu suami sendiri lagi ngamar sama wanita lain, hahh?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Haruskah Aku Berkabar?
Vandini berdiri di dekat jendela, memperhatikan mobil Satura yang baru saja datang. Ia tahu ini kunjungan rutin untuk mengajak anak-anak jalan-jalan, tapi melihat sosok itu, jantungnya tetap berdebar aneh.
"Papa datang!" seru Connan berlari menuju pintu dengan sangat antusias. Cia mengikuti di belakang sambil memeluk boneka kesayangannya, wajahnya langsung berseri-seri.
Vandini memaksakan senyum lalu berjongkok membantu Cia memakai sepatu. Dadanya terasa sesak, tapi ia berusaha menahannya.
Satura mengetuk pintu pelan sebelum masuk. Tatapan mereka bertemu, dan Vandini bisa melihat keraguan di mata pria itu.
Banyak perasaan berkecamuk di hati Vandini, sedih, kesal, hingga sisa rasa sayang yang membingungkan. Ia berusaha menepisnya dan fokus pada anak-anak.
"Halo, semuanya," sapa Satura lembut seraya berjongkok. Kedua anak itu langsung memeluknya dengan wajah ceria yang polos.
Vandini berdiri tegak, melipat tangan di dada. Ia melihat betapa lembutnya Satura memperlakukan anak-anak, mulai dari mengacak rambut Connan hingga membetulkan tas Cia.
Itu sisi baik Satura yang dulu ia cintai. Namun kini justru terasa perih, mengingat pria itu bisa selembut itu pada anak-anak. Ia berusaha berpikir positif. Setidaknya untuk anak-anak, Satura tetaplah ayah yang hadir dan menyayangi mereka.
"Sudah siap?" tanya Satura, suaranya terdengar ragu seakan meminta izin.
Vandini mengangguk singkat, menahan diri agar tidak melontarkan kata-kata pedas.
"Mereka udah siap," jawabnya pendek. "Have fun, ya."
"Dada, Mama!" seru Cia memeluknya cepat lalu lari kembali ke pelukan Satura. Connan melambaikan tangan dengan antusias, tak sabar ingin segera berangkat.
Vandini memperhatikan mereka berjalan menuju mobil. Ia melihat betapa sabarnya Satura mendengarkan cerita Connan dan betapa telitinya ia mengikat tali sepatu Cia.
Di tengah semua masalah yang ada, perlahan muncul keyakinan kecil di hati Vandini. Ia mungkin tak bisa percaya lagi pada Satura sebagai pasangan, tapi ia yakin, sebagai seorang ayah, Satura adalah yang terbaik untuk anak-anak mereka.
...***...
Satura memarkirkan mobil di depan rumah. Ia memperhatikan anak-anak berlari keluar mobil sambil mengoceh penuh semangat.
Lelah terasa begitu berat setelah seharian mengurus mereka. Baru kali ini ia benar-benar paham betapa melelahkannya menjadi orang tua dan bagaimana Vandini bisa menghadapi semua itu dengan sabar.
Saat mengantar mereka ke pintu, pandangannya tertuju pada gerbang pagar yang sudah reyot. Kuncinya longgar dan hampir tidak bisa menahan pintu agar tetap tertutup.
Satura membayangkan sudah berapa kali Vandini kesusahan mengurus hal ini, menambah tumpukan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mendekati wanita itu.
"Sepertinya gerbang ini sering bikin kamu pusing ya," ucap Satura. "Boleh aku benerin buat kamu kalau kamu mau."
Vandini hanya mengangkat bahu dengan wajah datar. "Terserah kamu mau ngapain," jawabnya singkat. Ia segera mengalihkan perhatian ke anak-anak dan mengajak mereka masuk ke dalam.
Satura menganggap respons itu sebagai izin. Ia langsung pergi ke toko bangunan untuk membeli perlengkapan yang dibutuhkan.
Saat kembali, Vandini sudah berada di dalam rumah. Satura mulai bekerja tanpa banyak bicara, berniat menyelesaikan semuanya secepat mungkin.
Ia memasang kunci baru, memperbaiki engsel, hingga mengencangkan papan kayu yang sudah goyang. Sesekali ia melirik ke dalam, melihat Vandini sibuk mondar-mandir mengurus urusannya sendiri seakan tak peduli.
Satura tak memedulikannya. Hanya bisa berada di dekatnya dan sedikit membantu saja sudah cukup baginya.
Ia bekerja dengan teliti agar hasilnya kuat dan rapi. Di saat yang sama, rasa penyesalan bercampur dengan hangatnya cinta yang justru makin kuat meski banyak masalah yang terjadi.
Satura sadar Vandini mungkin tak menyadarinya karena akhir-akhir ini wanita itu jarang sekali menatapnya. Namun ia berharap, lewat perbuatan kecil ini, beban hidup Vandini bisa sedikit berkurang.
Setelah selesai, ia mencoba membuka dan menutup gerbang berkali-kali. Gerakannya kini mulus dan kokoh, jauh lebih baik dari sebelumnya.
Satura berdiri tegak dan mengusap tangannya ke celana jeans. Ia menatap ke arah rumah, berharap setidaknya ada sedikit apresiasi atau ucapan terima kasih.
Namun, Vandini masih memunggunginya dan sibuk dengan urusannya sendiri. Rindu itu ada, tapi Satura memilih untuk tak memikirkannya terlalu dalam.
Mencintai dan menjaganya lewat hal-hal kecil ini sudah menjadi hadiah tersendiri. Walau Vandini tak pernah menyadarinya atau memaafkannya, ia tetap akan ada di sana membantu sebisa mungkin.
Karena berada di dekatnya, walau dalam diam, terasa jauh lebih berharga daripada segalanya. Satura membereskan peralatannya, mencoba gerbang itu sekali lagi, lalu berjalan pelan kembali ke mobil.
Hatinya terasa lega, meski wanita itu sama sekali tak menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
...***...
Vandini baru saja selesai rapat ketika bosnya, Dennis, menghampirinya di luar ruangan. Wajah pria itu terlihat sangat puas.
"Vandini, tadi keren banget," ucap Dennis dengan nada tulus. "Analisis kamu soal strategi klien pas banget sama yang kita butuhin. Kamu juga berhasil bikin semua orang fokus dari awal sampai akhir. Emang kamu jago di bidang ini."
Rasa bangga langsung memenuhi dada Vandini. Ia membalas senyum itu, merasakan semangat yang sudah lama hilang kini muncul kembali.
"Makasih, Dennis. Aku senang banget hasilnya memuaskan," jawabnya.
"Pasti dong," Dennis mengangguk lalu menepuk pelan bahu Vandini. "Pertahankan ya. Karier kamu lagi naik daun nih."
Saat Dennis pergi, kata-katanya masih terngiang. Perasaan senang itu membuat langkah Vandini terasa lebih ringan saat kembali ke mejanya. Tanpa sadar, tangannya meraih ponsel.
Naluri pertamanya adalah ingin menelepon Satura untuk berbagi kabar baik ini. Ia bahkan bisa membayangkan suara Satura yang hangat, pasti akan bilang kalau dia bangga dan menanyakan semua detailnya.
Tapi realitas segera menyadarkannya. Segalanya sudah berubah. Mereka sudah berpisah. Vandini tak bisa lagi seenaknya menelepon atau mengandalkan Satura seperti dulu.
Vandini meletakkan ponselnya perlahan. Perasaan senang karena pujian itu kini bercampur rasa sedih. Kebiasaan untuk mencari Satura saat dirinya berhasil masih sangat kuat, tapi itu justru mengingatkannya pada apa yang sudah hilang. Ia bersandar di kursi, berusaha menikmati momen itu meski hatinya terasa berat.