Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AURA DINGIN SANG PENGUJI DAN MISI PELELEH HATI
Suasana damai di Pesantren Al-Hidayah mendadak berubah menjadi ketegangan yang pekat saat pekan ujian semester atau ikhtibar dimulai. Tidak ada lagi santri yang terlihat bersenda gurau di bawah pohon mangga atau kejar-kejaran di dekat kolam. Di setiap sudut koridor asrama, ribuan santri duduk bersila dengan dahi berkerut, bibir mereka komat-kamit menghafal bait-bait kitab Alfiyah Ibnu Malik dan teks Fathul Qorib.
Namun, perubahan yang paling drastis tidak terjadi pada para santri, melainkan pada sosok Gus Zikri.
Pagi itu, Mentari berdiri di ambang pintu perpustakaan pondok, menatap suaminya yang sedang memeriksa berkas soal ujian. Jubah putihnya kancingnya tertutup rapat hingga ke leher, wajahnya datar tanpa senyum, dan tatapan matanya begitu tajam serta fokus. Aura kelembutan yang biasanya memancar saat memijat pinggang Mentari atau menggendong Zayan seolah lenyap, digantikan oleh wibawa seorang ulama penguji yang sangat dingin dan disegani.
"Mas..." panggil Mentari pelan, melangkah masuk membawa secangkir kopi susu hangat.
Zikri mendongak sejenak, wajahnya hanya bergeser sedikit menjadi ekspresi formal. "Nanti ditaruh di meja saja, Mentari. Mas harus menyelesaikan koreksi lembar jawaban santri kelas tinggi ini sebelum bel jam pertama berbunyi."
Mentari tertegun. Suara suaminya terdengar begitu datar dan lurus, tanpa ada embel-embel "Sayang" seperti biasanya. Setelah meletakkan cangkir, Mentari keluar dengan perasaan sedikit lesu. Ia menyadari bahwa profesionalisme suaminya dalam urusan ilmu benar-benar tidak bisa diganggu gugat.
Melihat Mentari yang cemberut saat berjalan kembali ke rumah kayu, Bondan dan Fahma yang sedang bersantai di teras samping langsung tanggap. Bondan, dengan kaos polo hitam ketat dan kacamata yang digantung di kerah, langsung berdiri tegak.
"Wah, bahaya nih. Aura mendung dari ruang penguji sudah menular ke wajah penulis kita," celetuk Bondan.
Fahma yang sedang asyik memotong buah pepaya untuk Zayan ikut menimpali. "Iya, Tari. Tadi pas aku lewat depan kantor madrasah, aku liat Gus Zikri mukanya serem banget. Santri yang mau masuk ruangan ujian aja sampe gemeteran kayak mau ketemu malaikat Munkar dan Nakir."
Mentari duduk di kursi rotan sambil menopang dagunya. "Mas Zikri kalau lagi musim ujian emang gitu ya? Dingin banget. Aku dipanggil 'Mentari' doang, nggak pakai 'Sayang'. Berasa kayak lagi disidang pelanggaran disiplin tahu."
Bondan menjentikkan jarinya. "Ini tidak bisa dibiarkan! Demi kelancaran draf skenario kita yang mau menuju Bab 100, mood lo harus tetap stabil, Tar. Kalau lo sedih, nanti tulisan lo isinya ratapan semua. Kita harus bikin misi: 'Melelehkan Es Batu Al-Hidayah'!"
"Caranya gimana, Bon?" tanya Mentari penasaran.
"Gampang! Pria sedingin apa pun kalau pulang ke rumah disuguhi makanan kesukaannya yang dimasak langsung dengan penuh cinta oleh istrinya, pasti bakal lumer. Fahma, apa makanan favorit Gus Zikri kalau lagi pusing?" tanya Bondan beralih ke Fahma.
Fahma berpikir sejenak, mengetuk-ngetuk dagunya dengan garpu. "Setahu aku dari Hafizah, Gus Zikri itu paling suka *Garang Asem* ayam kampung buatan Umi. Tapi kuahnya harus yang pedas, asam, segar, terus dibungkus daun pisang."
Mentari langsung berdiri dengan semangat baru. "Oke, gue bakal bikin Garang Asem paling enak sedunia! Taruhan deh, kalau masakan ini matang, Mas Zikri bakal senyum lagi!"
Proses pembuatan Garang Asem ternyata tidak semudah yang Mentari bayangkan. Dapur rumahnya mendadak berantakan. Bondan bertugas memotong cabai rawit dan belimbing wuluh sambil terus mengeluh karena matanya perih, sementara Fahma sibuk menjaga Zayan agar tidak merangkak mendekati kompor gas.
"Aduh, Tar! Ini daun pisangnya kenapa robek terus pas digulung?!" seru Mentari panik, mencoba membungkus potongan ayam yang sudah dilumuri santan dan bumbu.
"Sini, biar gue yang eksekusi urusan bungkus-membungkus!" Bondan mengambil alih dengan cekatan. "Gini-gini gue dulu sering bantuin nyokap bikin kue nagasari di Jakarta, urusan melipat daun mah kecil!"
Setelah berjuang selama hampir dua jam, lima bungkus Garang Asem akhirnya selesai dikukus. Aroma gurih santan, segarnya belimbing wuluh, dan wanginya daun pisang yang layu terbakar uap panas langsung memenuhi seluruh ruangan, mengundang selera siapa pun yang menghirupnya.
Malam harinya, bel tanda berakhirnya ujian hari pertama berbunyi. Gus Zikri berjalan pulang dengan langkah lambat, pundaknya tampak sedikit tegang setelah seharian penuh menguji hafalan kitab para santri secara lisan. Namun, begitu ia membuka pintu rumah, aroma masakan yang sangat ia kenal langsung menyambut penciumannya.
Zikri melangkah ke ruang makan dan menemukan meja sudah tertata rapi. Mentari berdiri di samping kursi dengan senyuman manisnya, sementara Zayan sudah duduk tenang di kursi tingginya sambil memegang sendok plastik.
"Mas pasti capek banget sehariaan. Sini duduk, aku udah siapin makan malam spesial buat Mas," ucap Mentari lembut, membantu melepaskan sorban hijau yang melingkar di pundak suaminya.
Zikri duduk, matanya menatap bungkusan daun pisang yang masih mengepulkan asap hangat di atas piring. "Kamu... masak Garang Asem, Mentari?"
"Iya, Mas. Dibantuin Bondan dan Fahma juga tadi. Dicoba dulu, Mas," jawab Mentari dengan dada berdebar, takut rasanya tidak sesuai dengan standar lidah suaminya.
Zikri membuka bungkusan daun pisang itu perlahan. Kuah santan encer yang dipenuhi potongan cabai rawit dan belimbing wuluh langsung terlihat menggoda. Ia menyendok kuahnya, membaca basmalah, lalu mencicipinya.
Mentari menahan napas, memperhatikan setiap pergerakan wajah suaminya.
Satu detik... dua detik... ekspresi kaku di wajah Gus Zikri perlahan-lahan mengendur. Sepasang matanya yang tadinya tajam kini melembut. Sebuah senyuman tipis namun sangat dalam akhirnya terukir di bibirnya.
"Masya Allah... ini enak sekali, Sayang. Pedas dan asamnya pas, persis seperti buatan Umi, bahkan daging ayamnya lebih empuk," ucap Zikri tulus, kembali menggunakan panggilan sayangnya yang sempat hilang seharian.
Mentari langsung bernapas lega, hatinya melonjak kegirangan. "Beneran, Mas? Berarti ujian masak aku lulus nih?"
Zikri meraih tangan Mentari, mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh kehangatan di depan Zayan yang langsung bertepuk tangan heboh melihat Abinya tersenyum. "Kamu selalu lulus dalam hal apa pun yang kamu lakukan dengan ketulusan hati, Sayang. Maafkan Mas ya, kalau tadi pagi terlalu dingin. Bebas tugas ujian di pondok memang sering membuat Mas terlalu tegang."
"Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok profesionalisme Mas sebagai penguji," jawab Mentari sambil duduk di samping suaminya, ikut menikmati makan malam yang hangat.
Larut malam, setelah ketegangan pekan ujian hari pertama benar-benar mencair, Mentari kembali duduk di depan laptopnya. Ia membuka draf Bab 35 yang sempat tertunda. Jemarinya menari dengan lincah, menuangkan kisah tentang bagaimana ketegasan seorang suami dalam menjalankan tugasnya sebagai guru justru bisa diredam dengan kelembutan dan perhatian kecil seorang istri di meja makan.
Mentari menyadari bahwa dalam perjalanan panjang menuju target ratusan bab skenarionya, setiap dinamika emosi baik itu ketegangan, kecemasan, hingga kehangatan rekonsiliasi adalah untaian mutiara cerita yang berharga.
Di sampingnya, Gus Zikri yang sudah kembali menjadi sosok suami yang penyayang, meletakkan segelas susu madu hangat di dekat laptop Mentari. "Jangan terlalu larut tidurnya, Sayang. Besok Mas masih butuh energi dari senyumanmu untuk menghadapi ujian hari kedua."
Mentari mendongak, tersenyum lebar dan mengangguk. Di bawah lindungan malam Pesantren Al-Hidayah, lembaran demi lembaran kisah suci itu terus tertulis dengan tinta cinta yang tak akan pernah kering.