Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Villa
Pukul tujuh pagi rombongan Luca dan Hana sudah di perjalanan menuju ke villa. Hana masih setengah mengantuk menyenderkan kepalanya di kaca jendela mobil, Luca melirik sekilas lalu kembali fokus pada ipad di tangannya.
Hana menyiapkan sarapan dengan cepat setelah sampai di villa. Luca sedang berbicara dengan Ruby di salah satu ruangan, terlihat sangat serius hingga Hana mencoba tak mengusik atau membuat kesalahan.
"Sebaiknya, aku membereskan kamar untuknya." Hana meninggalkan masakan yang sudah selesai untuk naik ke lantai dua. Ia segera melakukan pekerjaan dengan cepat sebelum majikannya selesai rapat.
"Kau pergilah ke tempat proyek, aku akan menyusul nanti."
"Baik, tuan." Mereka berpisah di ruang tamu usai keluar dari salah satu ruangan.
Hana mendekat pelan.
"Tuan, sarapannya sudah siap." Luca menoleh ke belakang, lalu menuju ke meja makan yang sudah dipenuhi beberapa macam masakan.
Hana menuangkan air putih untuk Luca, pria itu menyantap makanan yang cukup berat pagi ini, padahal biasanya Luca hanya meminta kopi dan roti bakar untuk sarapan. Hana mengedikkan bahu ia tak begitu memedulikan hal tersebut.
"Kau sudah menyiapkan kamar untukku?"
"Sudah, tuan. Semua barang anda sudah saya rapikan."
"Bagus, setelah ini aku akan pergi. Kau tunggu di villa."
Hana mendengar hal itu sontak menatap sekeliling, ia merasa menunggu di villa yang luas ini cukup menakutkan.
"Ada apa?" Luca menangkap kegelisahan Hana.
"Tidak ada." Hana menggeleng pelan
"Kau takut sendirian? Kau bisa ikut jika mau."
Hana mendongak menatap Luca yang kembali menyantap sarapannya.
"Ya, tuan."
Luca tersenyum yang tidak disadari oleh Hana.
Gadis bersurai panjang merapatkan jaketnya ketika turun daru mobil. Cuaca pagi ini cukup dingin untuk kawasan dingin.
Luca dan Ruby, asistennya berjalan di depan
Sementara Hana berjalan di belakang mereka di apit oleh beberapa pengawal.
Mereka bertemu dengan orang yang memegang tanggung jawab atas pembangunan proyek milik Luca.
Hana mengedarkan pandangannya ke lingkungan sekitar yang di dominasi perkebunan teh.
Tengah malam hujan turun dengan derasnya beserta petir yang menggelegar. Hana meringkuk di dalam kamar villa, menutup kedua telinganya. Ia ketakutan berada di villa seorang diri dengan cuaca yang buruk seperti ini.
Ia terisak pelan memeluk dirinya sendiri.
Majikannya, Luca. Pergi bersama Ruby ke lokasi proyek sejak sore dan belum kembali.
"Kerja bagus, Ruby. Kau tahu apa yang kuinginkan." Luca tersenyum puas dengan hal istimewa yang dikatakan oleh Ruby. Hal tersebut sangat menguntungkan untuk proyeknya kali ini.
"Untuk anda, tuan." Ruby meletakkan kopi yang masih panas di atas meja.
"Aku besok akan kembali ke kota. Kau urus semua di sini sampai tahap yang kurencanakan."
"Baik, tuan."
Keesokan harinya...
"Semuanya sudah kau siapkan?" Luca baru saja mandi dan masuk ke ruang makan. Di sana Hana sedang menata makanan yang baru saja matang.
"Baru separuhnya, tuan."
"Ya, setelah sarapan kau selesaikan. Aku ingin sampai di kota sebelum sore hari."
"Baik, tuan."
Hana dengan cermat mengemasi barang-barang milik Luca. Sudah satu minggu ia di sini menemani majikannya, kini ia akan kembali ke kota di mana ia bekerja seperti rutinitas sebelumnya.
Villa ini sangat cantik, namun sedikit menyeramkan. Lokasi yang di pedesaan membuat ia betah, apalagi area persawahan yang tak jauh dari villa milik Luca, dari jendela kamar, Hana bisa melihat hamparan sawah yang menyejukkan kala pagi.
"Hati-hati di jalan, tuan dan nona." Ruby melepas kepulangan majikannya bersama Hana yang diantar oleh pengawal lain.
"Segera hubungi jika ada kendala." Pesan Luca terhadap Ruby.
"Baik, tuan."
Mobil yang membawa Luca dan Hana meninggalkan area villa yang berdiri megah, sangat mencolok di antara bangunan yang ada di daerah itu.
"Kenapa kau diam? Kau mabuk?" Luca menoleh ketika beberapa waktu tak mendengar suara Hana di sampingnya.
"Ti-tidak, tuan." Luca mengerutkan keningnya ketika mendapati raut wajah Hana yang seperti kesakitan.
"Kau tidak demam, kenapa berkeringat?" Luca memeriksa kening Hana yang tak panas.
"Perut saya sakit, tuan."
"Kita ke rumah sakit terdekat." Perintah Luca pada sopir.
"Baik, tuan."
Beruntung jarak rumah sakit terdekat tak memakan waktu yang lama, Hana segera di periksa oleh dokter umum yang berjaga di UGD.
"Apa yang terjadi?" Luca khawatir Hana menderita sakit yang berbahaya.
"Dia hanya masuk angin, tuan. Saya akan meresepkan obat agar meredakan kembung. Saya permisi." Dokter lalu beranjak pergi dari bangsal.
Luca mengusap wajahnya kasar, ia terkekeh pelan mendengar jawaban dari dokter yang menangani Hana. Pria tersebut menyibak tirai menemukan Hana yang meringkuk memegang perutnya.
"Saya sakit apa, tuan?"
"Tenanglah, kau hanya masuk angin. Dokter akan memberikan obat agar kau bisa kentut." Sontak wajah Hana memerah malu. Ia mengingat bagaimana semalam dirinya tertidur di lantai yang dingin sambil memeluk lutut akibat petir yang menyambar.
"Apa kau semalam tidak tidur?" Luca duduk di sisi ranjang di mana Hana berbaring.
"Saya tidur, tuan."
"Lalu? Apa suhunya lebih dingin dari di kota?"
Hana memang merasakan suhu di villa lebih dingin, mungkin itu juga sebabnya ia masuk angin.
"Iya, tuan."
"Apa masih sakit?"
"Masih, apa dokter sudah memberikan obatnya?"
"Tunggu, aku akan menanyakannya." Luca bergegas ke luar untuk mengurus administrasi.
Beberapa menit menunggu, Hana masih merintih sakit. Ia sungguh malu dan tersiksa dengan kondisinya ini. Namun apa boleh buat, ia juga harus mendapatkan pertolongan.
"Aku sudah mendapatkan obatnya, ayo kita pergi." Tanpa Luca sadari, ia mengurus semua hal remeh yang biasa Ruby lakukan. Pengawal yang bersamanya ia perintahkan untuk menunggu di mobil bersama sang sopir.
"Kau bisa berjalan? Apa ingin memakai kursi roda?" Luca tanpa menunggu jawaban Hana, ia mengambil kursi roda yang disediakan.
"Tak perlu, saya bisa berj-"
"Naiklah. Kau seperti kesulitan."
Hana tak mampu menolak, ia hanya menurut daripada ditinggal di daerah yang tak ia kenal.
"Minum dan istirahatlah. Perjalanan kita masih dua jam." Luca memberikan obat dan air mineral ketika sudah berada di dalam mobil. Hana segera menerima dan meminum obatnya.
"Terima kasih, tuan."
"Ya, jaga kesehatan."
"Baik."
"Agar bisa melunasi hutangmu, atau kau ingin menjadi istriku saja? Itu lebih mudah."
"Saya akan menjaga kesehatan saya, tuan."
Luca mengangkat bahu asal.
"Kita pesan makan malam saja. Kau istirahatlah."
"Tidak, tuan. Saya sudah baik-baik saja." Hana enggan mengambil kesempatan, dirinya sudah baik-baik saja.
"Tidak perlu, aku ingin masakan dari luar."
Luca bersikeras mencari alasan lain agar Hana tak memaksakan dirinya.
"Baiklah, saya permisi." Hana berlalu masuk ke dalam kamar.
Luca memesan banyak makanan untuk dirinya dan Hana. Bagian gadis itu ia letakkan di atas meja.
Sudah hampir satu tahun Hana bekerja di apartemen Luca, hutangnya masih tersisa banyak.