NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Langit di Atas Langit dan Perjamuan Persahabatan

Siang itu, matahari seolah terpaku di puncaknya, enggan bergeser demi menyaksikan duel yang akan menentukan harga diri dua belahan dunia. Di tengah arena yang retak, Yu Fan masih menodongkan pedangnya ke tenggorokan Sir Alaric. Hawa dingin dari logam bertemu dengan kulit leher sang ksatria Barat, namun Alaric tetap tersenyum tenang, sebuah senyum yang mengandung penghinaan halus.

"Orang nomor satu di akademimu, Han Fei, sudah mencium debu di bawah kakiku," Alaric berkata dengan nada santai, seolah-olah dia sedang membicarakan cuaca. "Bagaimana mungkin orang nomor dua sepertimu berharap bisa mengubah hasil yang sudah digariskan? Di Barat, kami diajarkan bahwa kenyataan tidak bisa diubah hanya dengan keberanian bodoh."

Yu Fan menatap mata biru Alaric yang jernih. "Nomor satu atau nomor dua hanyalah angka yang diberikan orang lain, Alaric. Di dunia kultivasi Timur, kami tidak percaya pada garis yang sudah ditentukan. Kami percaya pada pedang yang kami genggam dan tekad yang kami asah."

GONG!

Suara lonceng raksasa bergetar, membelah ketegangan. Yu Fan bergerak lebih dulu. Ia tidak lagi menahan diri. Dengan satu hentakan kaki, ia menerjang ke depan seperti kilat hitam. Namun, Alaric hanya menggeser tubuhnya beberapa senti, membiarkan ujung pedang Yu Fan membelah udara kosong. Alaric masih belum menarik pedangnya; ia seolah ingin menunjukkan bahwa tangan kosongnya sudah cukup untuk menghadapi Yu Fan.

Yu Fan melancarkan rangkaian serangan cepat, Tebasan Sembilan Arah. Setiap tebasannya membawa aura Master Tingkat 4 yang solid. Alaric menghindar dengan gerakan yang sangat efisien, hampir seperti bayangan yang tidak memiliki massa. Saat ada celah, Alaric menghujamkan pukulan-pukulan pendek yang mengandung energi tekanan tinggi ke arah dada Yu Fan.

"Kau terlalu lambat, Yu Fan!" seru Alaric. Ia meluncurkan pukulan bertenaga yang sama dengan yang melumpuhkan Han Fei. Yu Fan memutar tubuhnya di udara, menghindari hantaman itu yang kemudian meledakkan udara di belakangnya.

Mata Yu Fan berkilat. Ia menangkap ritme Alaric. Saat Alaric hendak melayangkan pukulan berikutnya, Yu Fan sengaja menerima sedikit benturan di bahunya untuk mendapatkan jarak dekat. SRAK! Ujung pedang Yu Fan berhasil menggores pipi Alaric, meninggalkan luka merah yang cukup dalam. Tak berhenti di situ, Yu Fan memutar pinggangnya dan melepaskan pukulan bertenaga Yin tepat ke ulu hati Alaric.

BUM!

Alaric terlempar ke belakang, namun di saat yang bersamaan, kaki Alaric sempat menghantam perut Yu Fan dengan kekuatan yang sama besarnya. Keduanya mendarat dengan kasar, saling memuntahkan darah segar ke atas pasir arena.

Suasana stadion mendadak hening. Alaric menyeka darah di pipinya, senyumnya kini menghilang, digantikan oleh tatapan haus darah. "Baiklah... kau layak melihat ini."

Alaric menggenggam gagang pedangnya yang bertahtakan permata suci. Saat pedang itu ditarik, sebuah cahaya putih yang menyilaukan meledak. Itu adalah Excaliburine, senjata tingkat ilahi. Tekanan energinya membuat Yu Fan sesak napas.

Dalam sekejap mata, Alaric menghilang. Teleportasi! Yu Fan bereaksi dengan insting, namun pedang Alaric muncul dari sudut yang mustahil. Pertarungan berubah menjadi pembantaian satu arah. Alaric bergerak terlalu cepat; setiap kali ia muncul, sebuah tebasan besar mengikuti. Mata batin Yu Fan mulai kewalahan mengikuti koordinat teleportasi Alaric yang acak.

SLASH!

Tebasan besar mendarat telak di dada Yu Fan. Darah menyembur, membasahi jubahnya. Yu Fan terjatuh, berlutut dengan satu kaki sambil menancapkan pedangnya ke tanah agar tidak ambruk sepenuhnya. Napasnya terengah-engah, pandangannya mulai kabur.

"Lihatlah," ejek seorang penonton dari delegasi Barat. "Nomor satu mereka gagal, dan si anak ajaib ini pun akan segera menyusul. Kultivasi Timur tidak ada apa-apanya di hadapan keagungan ksatria Barat!"

Alaric berdiri di depan Yu Fan, mengangkat pedang ilahinya. "Master Timur hanyalah katak di dalam sumur bagi kami. Kau punya potensi, tapi kau tidak punya kekuatan untuk mendukungnya."

Di ambang kegelapan, kesadaran Yu Fan tersedot ke dalam. Ia terbangun di atas sebuah puncak gunung berapi yang dikelilingi oleh kawah lahar yang mendidih. Di depannya, berdiri seorang pemuda yang wajahnya identik dengannya, namun dengan rambut putih salju dan mata merah menyala dengan bagian hitam (skelra) yang pekat. Ia mengenakan jubah hitam yang sama dengan yang dipakai Yu Fan saat menghancurkan Sekte Tengkorak.

"Kau terlalu lemah lembut, Yu Fan," sosok itu berkata dengan suara yang bergema, penuh dengan aura jahat yang menggoda. "Kau membiarkan sampah-sampah itu menghinamu. Kau membiarkan dirimu terluka demi aturan dan kehormatan. Biarkan aku mengambil alih. Aku akan menunjukkan pada mereka arti ketakutan yang sebenarnya."

"Tidak... aku bisa mengatasinya sendiri," bisik Yu Fan, mencoba menahan pengaruh sosok itu.

Sosok berambut putih itu tertawa gila, menunjukkan bayangan-bayangan di mana Alaric menghina teman-temannya dan menghancurkan akademinya. "Hanya satu menit. Berikan aku satu menit, dan aku akan membungkam mulut sombong itu selamanya. Aku tidak akan membunuhnya, aku hanya akan... memberinya pelajaran yang tak terlupakan."

Yu Fan, dalam keputusasaannya melihat kehormatan akademinya dipertaruhkan, akhirnya mengangguk. "Satu menit. Dan jangan bunuh dia."

Sosok itu menyeringai lebar. "Setuju."

Di dunia nyata, Alaric yang hendak mengayunkan pedang terakhirnya tiba-tiba terhenti. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan yang tiba-tiba. Dekan dan Wakil Dekan berdiri dari kursi mereka dengan wajah pucat.

Aura emas yang tadi menyelimuti Yu Fan tiba-tiba tersedot masuk dan meledak keluar sebagai kabut merah gelap yang sangat pekat. Rambut hitam Yu Fan berubah menjadi putih salju dalam hitungan detik. Matanya terbuka, menampakkan pupil merah di atas skelra hitam legam. Baju tempurnya berubah bentuk menjadi lebih tajam dan gelap, dan pedangnya kini memancarkan aura iblis yang haus darah.

Alaric berteriak, mencoba menghilangkan rasa takutnya dengan serangan terkuatnya.

"Mati kau!"

Pedang ilahi Alaric menebas ke arah leher Yu Fan. Namun, pemandangan berikutnya membuat seluruh stadion berteriak ngeri. Yu Fan hanya mengangkat satu tangannya dan menangkap mata pedang ilahi itu hanya dengan dua jari.

"Hanya ini?" Yu Fan (Asura) tertawa gila, suaranya terdengar seperti tumpang tindih antara dua orang.

Tanpa memberi kesempatan Alaric berpikir, Yu Fan melayangkan tendangan ke perut Alaric. Suara tulang zirah yang retak terdengar jelas. Alaric terlempar seperti peluru, menabrak dinding arena hingga hancur.

Wakil Dekan hendak turun, namun tangannya ditahan oleh Dekan. "Tunggu. Kita harus melihat ini. Jika dia benar-benar kehilangan kendali, baru kita bertindak. Tapi lihat matanya... dia masih punya sisa kesadaran."

Yu Fan menghilang dan muncul tepat di depan Alaric yang sedang mencoba merangkak bangun. Alaric mencoba teleportasi, namun setiap kali ia muncul di titik baru, Yu Fan sudah berdiri di sana menunggunya, lebih cepat dari sihir teleportasi itu sendiri.

"Kau bilang kami lemah?" Yu Fan mencengkeram leher Alaric, mengangkatnya ke udara. "Kau bilang dunia kami kecil?"

Alaric mencoba menebas dengan pedang ilahinya, namun Yu Fan menangkap pedang itu dengan tangan kosong dan... KRAK! Pedang itu retak di bawah tekanan tangannya. Yu Fan memprovokasi Alaric dengan tatapan menghina yang jauh lebih dalam dari apa yang Alaric lakukan sebelumnya.

Sebagai serangan terakhir, Alaric meledakkan seluruh sisa energinya, namun Yu Fan hanya memberikan satu tinju yang dilapisi energi Yin merah pekat ke perut Alaric.

BUMMM!

Seluruh zirah Alaric hancur berkeping-keping. Alaric jatuh tersungkur, memuntahkan darah, matanya kosong karena shock. Ia tidak bisa memahami kekuatan apa yang baru saja menghantamnya.

Yu Fan berjalan perlahan mendekati Alaric, aura merah gelapnya perlahan memudar dan rambutnya kembali menghitam. Ia menatap Alaric yang gemetar dan berkata dengan suara normal namun dingin, "Jangan pernah meremehkan orang Timur, Alaric. Di dunia kami, di atas langit masih ada langit. Kekuatanmu besar, tapi kesombonganmu adalah lubang kuburmu sendiri."

Alaric menatap Yu Fan, perlahan rasa hormat muncul di matanya. Ia menyadari bahwa ia baru saja berhadapan dengan sesuatu yang melampaui logika Barat-nya. Yu Fan mengulurkan tangannya. Alaric menerimanya, membiarkan Yu Fan membantunya berdiri.

"Aku kalah," ucap Alaric tulus. "Kau adalah lawan paling mengerikan yang pernah kutemui. Jika kau ke Barat suatu saat nanti, carilah aku. Aku sendiri yang akan menyambutmu sebagai saudara."

Dekan berdiri dan berteriak, "PEMENANGNYA ADALAH YU FAN DARI AKADEMI LANGIT BIRU!" Stadion meledak dalam sorak-sorai yang tak kunjung henti.

...****************...

Empat hari setelah kemenangan epik itu, suasana akademi berubah menjadi sangat meriah. Sebuah perjamuan besar diadakan di aula utama untuk merayakan persahabatan antara kedua akademi. Meja-meja panjang penuh dengan makanan lezat dan arak terbaik.

Dekan memberikan pidato yang mengharukan tentang bagaimana pertandingan ini telah menghancurkan dinding prasangka dan membangun jembatan persahabatan baru.

Di salah satu meja besar, Yu Fan duduk bersama para kontestan lainnya. Ada Alaric, Garrick, Seraphina dari Barat, dan teman-temannya: Han Fei yang sudah mulai pulih, Mo Han yang tampak lebih tenang, serta Fa Hai yang terus berkomat-kamit mendoakan makanan.

"Kau benar-benar gila saat di arena kemarin, Yu Fan," ucap Garrick sambil tertawa dan menepuk bahu Yu Fan hingga ia hampir tersedak. "Aku belum pernah melihat Alaric ketakutan seperti itu!"

Alaric hanya tersenyum tipis sambil mengangkat gelas araknya ke arah Yu Fan. "Persahabatan untuk kekuatan, kawan."

Namun, di tengah tawa pria-pria itu, suasana di sebelah kiri Yu Fan terasa sangat berat. Yan Er (sang Gadis Rembulan) dan Putri Yuexin sedang duduk berhadapan.

"Jadi, kau akan kembali ke Barat besok?" tanya Yuexin dengan nada yang dibuat-buat ramah, namun matanya tajam. "Sayang sekali, padahal aku baru ingin mengajarimu cara menjadi wanita Timur yang sopan."

Yan Er tersenyum manis, memutar-mutar gelasnya. "Oh, jangan khawatir, Tuan Putri. Aku akan sering berkunjung. Lagipula, seorang istri tidak boleh membiarkan suaminya sendirian di tempat yang penuh dengan wanita... 'agresif' sepertimu."

Xueru yang duduk di antara mereka hanya diam, namun ia memalingkan wajahnya dan memancarkan aura dingin yang membuat makanan di depannya hampir membeku.

Yu Fan memandang ketiganya, merasa bahwa aura mereka bertiga jauh lebih berbahaya daripada pedang ilahi Alaric. Ia menggelengkan kepalanya, meminum araknya dengan cepat, dan berdoa dalam hati agar malam ini berlalu tanpa ada ledakan energi di meja makannya.

Di kejauhan, Wakil Dekan menatap Yu Fan dengan tajam. Ia membisikkan sesuatu pada Dekan, dan keduanya mengangguk. Yu Fan tidak tahu bahwa petualangannya baru saja memasuki babak yang jauh lebih gelap dan misterius.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!