Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beri aku alasan : 28
Semakin dekat jarak antara halaman dengan teras rumah, perasaan Intan bertambah tak karuan. Ritme jantungnya berpacu, dan dadanya terasa nyeri, dia berusaha sabar seraya menguatkan hati.
Bibir berlipstik nude itu terkatup, setiap langkahnya seolah tidak menjejak tanah.
“Lira! kalau pengantar makanan datang, ambil saja uang di dompet Abang untuk bayar.”
Intan berhenti kala mendengar suara pria yang beberapa jam lalu baru saja mengatakan akan jujur. Lihatlah kini, dia seperti seorang suami bagi wanita lain – kata-kata manis penuh perhatian.
“Kurang ajar betul mereka!” Sabiya tiba-tiba sudah berada disamping kakaknya, hendak berlari menerjang daun pintu kupu tarung berwarna putih.
Tangan sang adik dicekal. “Biya, jangan!”
“Kak!” Gadis mengenakan hijab menutup dada itu menatap tidak setuju.
Hustt … jari telunjuknya memberi kode agar adiknya diam, jangan membantah.
Intan menuntun Sabiya, mereka melangkah bersamaan sampai pada teras, berdiri di depan pintu tidak tertutup rapat.
“Abang, tadi pagi sewaktu aku mau mandi – air wastafel nya mampet!”
“Coba Abang periksa sebentar, mungkin tersumbat rambut berguguran.”
“Terima kasih banyak, Bang.”
“Lira, tak perlu sungkan. Anggap saja aku ini abangmu. Sedari dulu juga kita saling tolong menolong.”
Percakapan akrab itu terdengar jelas ditelinga Intan dan Sabiya. Mereka masih menunggu dengan kesabaran mulai menipis.
“Kak Intan! Sabiya!”
Yang dipanggil bersamaan menoleh ke belakang, terlihatlah Rania baru saja tiba entah dari mana. Tangan kanannya menyandang tas dan menjinjing plastik transparan.
“Hebat kau ya, menutupi hal memalukan yang jelas-jelas berdosa dan tak terpuji!” Sabiya menghadang, berdiri di depan kakaknya. Gadis terkenal pendiam, pemalu itu meradang. Sedikit banyaknya dia sudah mendengar duduk permasalahan sang kakak dan tunangannya serta Lanira, meskipun Intan tidak membeberkan secara mendetail.
Rania jelas terkejut sampai tidak dapat membela diri, berdiri mematung.
“Kak Intan!” Lanira terkesiap, berdiri di batas pintu yang dia buka hampir separuh.
Intan Rasyid menelisik penampilan adik sepupunya. Lanira masih berpakaian lengkap dengan hijab instan.
“Assalamualaikum, Lira ….”
Mata sayu itu terbelalak, bibirnya bergerak samar hendak menjawab, tapi suaranya tidak mampu keluar.
“Kenapa tak kau sambut, atau aku salah panggil nama yang sepertinya khusus dari seseorang teruntukmu seorang, benarkah?” ia tersenyum manis, menyembunyikan segala rasa dalam dada.
“Lira, sudah sampai ya pengantar makanannya?”
Tubuh Lanira bertambah kaku, terlebih saat mendengar langkah kaki mendekat.
“Kau kenapa, Lira?” Kamal Nugraha menarik lebih lebar daun pintu sampai terbuka seluruhnya. Dia berdiri menjulang di belakang wanita bergeming.
“Ini yang kau bilang sudah membereskan masalah dengan menyembunyikan rahasia, mengamankan istri orang, Kamal Nugraha?”
“Intan ….”
Suasana langsung panas sekaligus canggung. Kamal jelas telah kepergok walaupun dia dan Lanira seperti tidak melakukan hal diluar batas, serta masih berpakaian sopan.
“Intan, ini tak _”
“Ini tak seperti yang kau lihat, Intan. Ini tak seperti yang ada dalam pikiranmu. Antara aku dan Lanira hanya sebatas tetangga, sahabat masa kecil … itu kan yang hendak kau ucapkan?” Dia berdiri kokoh, sorot matanya kian tegar tak sedikitpun terlihat bergetar.
“Kak, bukan salah bang Kamal, aku yang mengiba, memohon bantuan dia. Tolong jangan berprasangka tidak-tidak,” suaranya mencicit.
“Lanira ….” Intan mundur satu langkah agar bisa leluasa memandang dua insan masih mematung. “Apa ada alasan untuk aku tak berpikiran negatif? Kalian hanya berduaan di rumah ini, bahkan dengan gamblangnya calon suamiku mempersilahkan dirimu mengambil uang dalam dompetnya, sebenarnya kau itu istrinya Fatan atau Kamal?”
Kamal terhenyak, diam seribu bahasa. Tidak menduga kalau Intan sudah sedari tadi disini sehingga mendengar percakapannya dengan Lanira.
"Aku dan bang Kamal cuma _”
“Cuma apa?!” intonasi Intan tidak meninggi melainkan merendah dengan sorot mata tajam.
“Hanya memerankan tokoh kakak dan adik kah? Si abang layaknya pahlawan kesiangan, membantu semaksimal mungkin sampai mengabaikan tunangannya. Dan kau!” Tunjuknya pada wajah memerah dan mata berkaca-kaca.
“Si pemeran protagonis yang tengah dilanda dilema, didera masalah sehingga membutuhkan pertolongan segera, betul kan tebakanku?” ujarnya dengan gaya menantang.
“Masuklah dulu, Intan. Kita bicarakan di dalam. Tak enak kalau sampai ada orang lewat lalu mereka penasaran, berakhir berasumsi yang bukan-bukan,” pinta Kamal.
“Abang memikirkan apa kata orang, takut di cap tak baik, tapi mengapa malah mempermainkan kakakku, hah?!” habis sudah kesabaran Sabiya.
“Biya, jangan ikut campur urusan bang Kamal dan kak Intan!” tegur Rania.
Sabiya berbalik badan, untuk pertama kalinya menatap nyalang ke sang sahabat. “Aku kau larang ikut campur, tapi kau sendiri bekerja sama menutupi kebejatan saudaramu, adil kah?”
“Biya, kata-katamu terlalu kejam. Kami tak berbuat asusila, janganlah menggiring opini kotor macam itu!” pekik Lanira tak terima.
Kekehan wanita bersedekap tangan menarik perhatian empat orang. Mereka langsung memusatkan perhatian ke Intan Rasyid.
“Sebetulnya aku muak lihat kau, Lanira. Terlebih dirimu, Kamal Nugraha. Namun, rasanya tak adil bila cuma diriku saja yang merasakan apa itu rasa di bohongi, dikhianati, dipermainkan, dan diperlakukan semena-mena,” dia menjeda kalimatnya.
“Entah rahasia apa yang disembunyikan dariku, sehingga sampai segigih ini seorang pria berusaha melindungi wanita telah bersuami. Satu hal yang pasti, aku tak terima diperlakukan bak orang bodoh!” katanya tajam.
“Intan, kau salah paham _”
“Bagian mana yang tak dapat ku pahami, sampai diriku salah menilai situasi saat ini, Kamal Nugraha?! Coba kau katakan, supaya aku tak keliru menilai. Apa menyembunyikan istri orang itu perbuatan benar? Memperlakukan dia layaknya istri juga benar? Bahkan aku yang jelas-jelas sudah dua tahun jadi tunanganmu, belum pernah sekalipun mengangkat panggilan seseorang dari ponselmu. Sementara Lanira ….” kalimatnya menggantung.
“Jangan berani-berani lagi kau hendak menyentuhku!” Intan menjerit kecil kala Kamal menyamping dan hendak meraih lengannya.
“Tolong masuklah, kita selesaikan di dalam rumah,” pintanya lembut, suara mengiba.
Intan bertahan berdiri pada posisinya. “Apa lagi yang mau diselesaikan? Aku bisa sampai sini berarti semua hal tentang kita sudah terselesaikan.”
“Intan Rasyid!”
“Jangan berteriak di depan muka kakakku! Aku, ayah, mamak, bahkan kedua adikku tak pernah sekalipun berbicara dengan nada tinggi kepadanya!” Sabiya tidak terima kakaknya dihardik.
Kamal menghela napas panjang. “Maaf, aku tak bermaksud demikian. Ayo kita bicarakan dengan kepala dingin agar kesalahpahaman ini cepat terselesaikan.”
“Baik ….” Intan mengangguk, dia merogoh tasnya, mengambil ponsel, lalu melakukan sesuatu yang membuat lainnya ketar-ketir kecuali Sabiya.
Ponsel casing putih sudah digenggam dan tertempel pada telinga. Intan melakukan panggilan seraya menatap datar wajah pria mulai menerka-nerka.
“Intan kau menghubungi siapa?”
Terlambat, panggilan itu sudah diangkat seseorang nan jauh dari jangkauan. Kamal menatap horor.
Rania dan Lanira saling pandang, mereka jelas belum siap menghadapi kemungkinan mengerikan.
“Assalamualaikum, ibu Nirma … apa ayah tua ada …?”
.
.
Bersambung.
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣