NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fondasi di Atas Kertas

Hujan telah berhenti, meninggalkan udara pagi yang dingin dan lembap. Kabut tipis menyelimuti taman istana, membuat pepohonan tua tampak seperti hantu-hantu kelabu yang mengintai.

Floren duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh tumpukan kertas perkamen. Di hadapannya terbentang sketsa kasar sebuah bangunan. Itu bukan istana, bukan kuil, dan bukan barak militer. Itu adalah rencana untuk Sekolah Pria Mobelle.

Bangunan itu sederhana. Dua ruang kelas besar, satu perpustakaan kecil, dan halaman latihan dasar. Tidak ada menara megah atau ornamen emas. Floren menggambarnya sendiri semalam, menggunakan pengetahuan arsitektur dasar dari kehidupan sebelumnya dan menyesuaikan dengan material lokal yang tersedia.

Masalahnya bukan pada desain. Masalahnya adalah biaya dan politik.

Kas negara sedang tipis karena korupsi bertahun-tahun. Membangun sekolah berarti mengalihkan dana dari proyek-proyek lain—proyek yang biasanya menjadi sumber suap bagi para menteri. Dan lebih buruk lagi, ide ini radikal. Mengajari pria membaca dan berhitung? Itu dianggap subversif, bahkan berbahaya, oleh kaum konservatif yang dipimpin oleh Perdana Menteri Vane.

"Pertemuan dengan Dewan Menteri dijadwalkan siang ini," kata Kaelia, yang berdiri di dekat jendela, mengamati halaman kosong. "Vane sudah mengirim tiga utusan pagi ini, menanyakan agenda rapat. Dia curiga."

Floren tidak mengangkat kepalanya dari sketsanya. "Biarkan dia curiga. Ketidakpastian adalah musuh terbesar politisi licik."

"Apakah Anda siap?" tanya Kaelia, menoleh. "Jika Anda mengajukan proposal ini secara terbuka, mereka akan menertawakannya. Atau worse, mereka akan menuduh Anda mencoba melemahkan tradisi demi keuntungan pribadi. Vane akan menggunakan argumen 'moralitas' dan 'kodrat alam' untuk menghancurkan ide ini sebelum sempat dibahas."

Floren akhirnya meletakkan penanya. Ia menatap Kaelia.

"Itulah sebabnya saya tidak akan mengajukan proposal lengkap hari ini," kata Floren tenang. "Saya hanya akan mengajukan uji coba."

Kaelia mengerutkan kening. "Uji coba?"

"Saya tidak akan meminta anggaran untuk membangun gedung baru. Itu terlalu mencolok. Terlalu mahal. Dan terlalu mudah diserang." Floren menunjuk sketsa itu. "Saya akan meminta izin untuk menggunakan Gudang Lama di Distrik Utara yang sudah tidak terpakai sejak zaman Nenek saya. Gudang itu milik negara, rusak, dan dianggap tidak berharga. Vane tidak akan keberatan memberikannya; dia mungkin bahkan senang menyingkirkan aset 'sampah' itu dari catatan inventaris agar tidak perlu diperbaiki."

Kaelia mulai mengerti. Matanya berkilat tertarik. "Anda ingin merenovasi gudang tua itu menjadi sekolah. Dengan biaya minimal."

"Tepat," kata Floren. "Dan untuk guru... saya tidak akan membayar gaji tinggi dari kas negara. Saya akan menunjuk Julian sebagai sukarelawan. Sebagai 'pengabdian' putra bangsawan kepada Ratu. Vane tidak bisa menolak tanpa terlihat tidak patriotik. Dan untuk murid..."

Floren tersenyum tipis, senyuman yang dingin dan kalkulatif.

"Saya akan merekrut lima anak yatim piatu dari panti asuhan kerajaan. Anak-anak yang tidak punya keluarga bangsawan untuk membela mereka. Jika eksperimen ini gagal, kerugiannya kecil. Jika berhasil... saya punya bukti konsep."

Kaelia tertawa pendek, suara yang jarang terdengar darinya. "Licik. Anda membungkus revolusi pendidikan dalam kemasan amal murah hati. Vane akan merasa dia menang karena tidak mengeluarkan uang, padahal Anda sedang menanam benih perubahan."

"Persis," kata Floren. "Tapi ada satu risiko. Vane mungkin tahu bahwa Julian terlibat. Dia mungkin mencoba memanipulasi Julian untuk sabotase dari dalam."

"Julian setia pada Anda," kata Kaelia, meski nadanya masih skeptis. "Cintanya buta, tapi loyal."

"Cinta bisa berubah menjadi kebencian jika diperas cukup lama," balas Floren datar. "Itulah sebabnya saya butuh Anda, Kaelia."

Kaelia melangkah mendekati meja, tetap menjaga jarak dua meter. "Apa perintah Anda?"

"Awasilah Julian. Bukan untuk menangkapnya, tapi untuk melindunginya. Pastikan tidak ada orang dari faksi Vane yang bisa mendekatinya di Harem. Isolasi dia dari pengaruh ibunya selama periode persiapan ini. Jika Julian tetap murni, sekolah ini akan berjalan. Jika Julian retak... kita hentikan proyek ini sebelum menjadi senjata makan tuan."

Kaelia mengangguk serius. "Akan saya tangani personally. Saya akan menempatkan dua penjaga terpercaya saya di sekitar Sayap Timur, menyamar sebagai pelayan biasa. Mereka akan melaporkan setiap interaksi mencurigakan."

"Bagus." Floren berdiri, merapikan jubahnya. "Sekarang, mari kita hadapi ular-ular di ruang dewan."

Ruang Dewan Menteri adalah ruangan besar dengan meja oval panjang yang terbuat dari kayu jati solid. Dua belas kursi mengelilinginya, masing-masing dihiasi lambang keluarga bangsawan. Udara di ruangan itu pengap, berbau parfum berat dan ambisi busuk.

Saat Floren masuk, diikuti oleh Kaelia yang berjalan di belakangnya seperti bayangan, semua pembicaraan berhenti. Para menteri—semuanya wanita, karena hanya wanita yang memegang jabatan politik tinggi—berdiri setengah hati, memberikan hormat yang tidak tulus.

Di ujung meja, duduk Perdana Menteri Vane. Wajahnya tersenyum ramah, tapi matanya dingin seperti es. Di sebelah kanannya, duduk Menteri Keuangan, seorang wanita gemuk bernama Lady Greta, yang dikenal pelit dan korup.

"Yang Mulia," sapa Vane, suaranya manis. "Kami senang melihat Anda sehat. Kudeta... eh, transisi kekuasaan... memang melelahkan."

Sindiran halus. Floren mengabaikannya. Ia duduk di kepala meja, posisi yang biasanya kosong atau hanya untuk simbolis. Kali ini, ia mendudukinya dengan otoritas penuh.

"Terima kasih, Perdana Menteri," kata Floren datar. "Mari kita langsung ke agenda. Saya memiliki satu proposal mendesak."

Vane mengangkat alis. "Mendesak? Apakah terkait pemberontakan di perbatasan? Atau defisit pajak?"

"Terkait masa depan," kata Floren. Ia mengeluarkan gulungan kertas dari lengan jubahnya—bukan sketsa bangunan, tapi proposal tertulis singkat tentang 'Program Literasi Dasar untuk Pria'.

Dia melemparkannya ke tengah meja. Gulungan itu mendarat di depan Lady Greta.

Greta membuka gulungan itu, membacanya sekilas, lalu tertawa terkekeh. Tawa itu menular, dan beberapa menteri lain ikut tersenyum sinis.

"Literasi... untuk pria?" kata Greta, suaranya penuh ejekan. "Yang Mulia, maafkan ketidaktahuan hamba, tapi... untuk apa? Pria tidak perlu membaca undang-undang. Mereka tidak perlu menghitung pajak. Tugas mereka adalah melayani, merawat, dan menyenangkan. Mengajari mereka membaca hanya akan membuat mereka bingung, atau worse, membangkang."

Vane mengambil gulungan itu, membacanya dengan ekspresi pura-pura serius.

"Ide yang... unik," kata Vane perlahan. "Tapi sangat tidak praktis. Anggaran negara sedang ketat. Membangun sekolah, menggaji guru, mencetak buku... itu pemborosan. Selain itu, apakah Yang Mulia tidak khawatir? Pria yang pintar bisa menjadi berbahaya. Mereka bisa mulai bertanya 'mengapa' alih-alih hanya berkata 'ya'."

Ruangan itu hening. Semua mata tertuju pada Floren, menunggu reaksinya. Apakah dia akan marah? Apakah dia akan memaksa?

Floren tersenyum. Senyuman yang sama yang ia gunakan saat mengeksekusi Halloway. Dingin. Mengancam.

"Saya tidak meminta anggaran baru," kata Floren tenang.

Para menteri terdiam.

"Saya tidak meminta gaji guru baru," lanjut Floren. "Dan saya tidak meminta pembangunan gedung mewah."

Vane menyipitkan mata. "Lalu apa yang Anda minta, Yang Mulia?"

"Izin penggunaan Gudang Utara No. 4. Gudang itu sudah runtuh sebagian, tidak digunakan, dan menjadi sarang tikus. Saya ingin membersihkannya. Untuk guru, saya telah menerima sukarela dari Pangeran Julian, putra Anda, Perdana Menteri. Dia ingin mengabdi pada negara melalui pendidikan. Sebuah gestur mulia dari keluarga Vane, bukan?"

Floren menatap Vane lurus-lurus.

"Dengan menyetujui ini, Anda menunjukkan bahwa keluarga Vane mendukung kemajuan kerajaan, bahkan dengan cara yang tidak konvensional. Dan karena biayanya nol—hanya tenaga kerja sukarela dan material sisa dari renovasi istana—tidak ada beban pada kas negara."

Vane terpaku.

Jika dia menolak, dia akan terlihat seperti orang tua yang egois, menghalangi ambisi baik putranya sendiri, dan tidak peduli pada efisiensi aset negara. Dia akan terlihat picik.

Jika dia menyetujui... well, itu hanya gudang tua. Apa ruginya? Toh, Julian akan gagal. Pria-pria bodoh itu tidak akan bisa diajari. Proyek ini akan mati dengan sendirinya dalam sebulan, dan Vane bisa menyalahkan Floren atas kegagalan itu.

Vane tersenyum, kali ini senyum yang lebih lebar, lebih palsu.

"Ah... dedikasi Pangeran Julian memang patut diapresiasi," kata Vane lambat. "Dan jika Yang Mulia percaya bahwa membersihkan gudang tua adalah penggunaan waktu yang baik... maka Dewan Menteri tidak keberatan. Izin diberikan. Namun, ingat, Yang Mulia. Jika proyek ini mengganggu ketertiban umum, atau jika Julian merasa tertekan... tanggung jawab ada pada Anda."

"Diterima," kata Floren singkat.

"Apakah ada urusan lain?" tanya Vane, seolah-olah ingin segera mengakhiri rapat ini.

"Tidak," kata Floren. Ia berdiri. "Rapat selesai."

Floren berbalik dan keluar dari ruangan, dengan Kaelia mengikuti di belakangnya.

Saat pintu tertutup, Floren mendengar tawa sinis Vane dan Greta dari dalam.

"Dia gila," terdengar suara Greta. "Mengajar tikus-tikus itu membaca. Kita lihat berapa lama dia bertahan."

Floren tidak menoleh. Wajahnya datar.

Di koridor, Kaelia berbicara pelan.

"Anda memberinya umpan," kata Kaelia. "Vane pikir dia menang karena Anda tidak meminta uang. Tapi dia tidak sadar bahwa Anda baru saja mendapatkan legitimasi resmi untuk program pendidikan pria."

"Legitimasi adalah langkah pertama," kata Floren. "Sekarang, kita butuh hasil. Kita butuh membuktikan bahwa pria bisa belajar. Dan kita butuh melakukannya cepat, sebelum Vane menemukan cara untuk menyabotase dari dalam."

"Julian," gumam Kaelia.

"Ya," kata Floren. "Julian adalah kunci. Dan kuncinya harus dijaga ketat."

Floren mempercepat langkahnya. Waktu untuk bicara sudah habis. Sekarang, waktu untuk bekerja.

Di kejauhan, dari arah Sayap Timur, terdengar suara palu memukul kayu. Suara renovasi. Suara permulaan.

Dan di suatu tempat di istana, Kael sedang menonton dari jendela kamarnya, jari-jarinya mengetuk-ngetuk ritme aneh di kaca. Dia tersenyum.

"Permainan semakin menarik," bisiknya.

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!