Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan di Atas Reruntuhan
Matahari sudah naik sepenggalah. Cahayanya yang terik seharusnya membakar kulit, tapi pagi ini, cahaya itu terasa seperti selimut hangat yang memeluk kota yang kedinginan. Yogyakarta tidak bangun dengan suara kokok ayam atau deru motor, melainkan dengan suara batuk massal dan gemerincing pecahan kaca yang disapu.
Sekar duduk di atas sisa tembok pagar Alun-Alun Utara yang tingginya kini tinggal selutut. Di tangannya, ada sebungkus nasi kucing yang entah didapat dari mana—mungkin sisa stok angkringan yang selamat dari badai karang. Nasi itu dingin, sambalnya sudah agak basi, tapi bagi Sekar, itu adalah makanan paling enak yang pernah ia rasakan seumur hidup.
Ia mengunyah pelan, matanya menyapu pemandangan di depannya.
Alun-Alun Utara sudah tidak rata lagi. Tanah berpasir itu kini bergelombang, penuh parit-parit bekas cengkeraman tentakel raksasa. Di tengah-tengahnya, Songsong Agung yang telah menjadi batu emas berdiri kokoh, memantulkan sinar matahari dengan angkuh. Monumen baru itu tampak asing, sebuah benda keramat yang dipaksakan masuk ke dunia modern.
"Makanlah pelan-pelan, Nduk. Nanti tersedak."
Sekar menoleh. Bambang, si masinis, datang membawa dua botol air mineral yang labelnya sudah lepas. Pria itu tampak berantakan. Seragam KAI-nya yang oranye-biru sudah berubah warna menjadi abu-abu debu, dan ada perban kotor melilit kepalanya.
"Mas Bambang..." Sekar menerima botol air itu. "Terima kasih. Mas sendiri sudah makan?"
Bambang duduk di sisa aspal di dekat kaki Sekar. Ia membuka tutup botolnya dengan gigi. "Sudah tadi. Nemu roti tawar di minimarket yang kacanya pecah. Yah, hitung-hitung penjarahan halal karena darurat."
Mereka berdua terdiam sejenak, menikmati momen istirahat yang langka. Di kejauhan, terlihat iring-iringan warga yang berjalan kaki kembali ke pusat kota. Mereka tampak bingung, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk panjang. Beberapa menangis melihat rumah mereka yang retak, tapi banyak juga yang langsung bergotong royong menyingkirkan puing.
"Gusti Pangeran mana, Mbak?" tanya Bambang tiba-tiba, memecah keheningan.
Sekar menunjuk ke arah reruntuhan Bangsal Pagelaran. "Di sana. Sedang... mengecek kondisi."
Sebenarnya, Sekar tahu Pangeran Suryo tidak sedang mengecek bangunan. Pangeran sedang mengecek dirinya sendiri.
Sekar menghabiskan suapan terakhirnya, lalu turun dari tembok. "Ayo, Mas. Kita susul beliau. Takutnya ada apa-apa."
Mereka berjalan melewati tumpukan kayu jati yang dulunya adalah tiang penyangga atap. Bau kayu tua yang patah bercampur dengan bau laut yang masih tersisa samar-samar.
Di balik sebuah pilar besar yang roboh, mereka menemukan Pangeran Suryo.
Pria itu sedang berdiri membelakangi mereka. Ia bertelanjang dada karena sisa surjannya sudah hancur total semalam. Punggungnya yang bidang terlihat bersih, tanpa luka gores sedikitpun. Kulitnya... Sekar menyipitkan mata. Kulit Pangeran Suryo terlihat sedikit berbeda di bawah sinar matahari langsung. Warnanya bukan lagi sawo matang khas Jawa, melainkan agak pucat dengan kilau mutiara yang sangat halus.
Pangeran Suryo sedang mencoba mengangkat sebuah balok beton besar yang menindih kotak penyimpanan gamelan. Balok itu ukurannya sebesar mobil kecil.
"Gusti! Jangan!" seru Bambang, hendak lari membantu. "Itu berat! Punggung Gusti baru sembuh!"
Tapi Pangeran Suryo tidak berhenti. Ia membungkuk, mencengkeram beton kasar itu dengan tangan kosong, lalu mengangkatnya.
Tanpa suara mengejan. Tanpa urat leher yang menonjol. Tanpa keringat.
Ia mengangkat beton seberat dua ton itu seolah sedang mengangkat bantal guling, lalu memindahkannya ke samping dengan gerakan santai.
Brak.
Beton itu mendarat, membuat tanah bergetar sedikit.
Bambang melongo, mulutnya terbuka lebar. Kunci inggris yang terselip di pinggangnya jatuh ke tanah. "Gusti... Gusti makan apa semalam? Bayam?"
Pangeran Suryo berbalik. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Tidak ada rona merah kelelahan di pipinya. Matanya yang cokelat menatap mereka, lalu berkedip pelan. Sekar bersumpah ia melihat kilatan emas di iris mata itu sebelum kembali normal.
"Gamelannya harus diselamatkan," kata Pangeran Suryo datar. Suaranya masih memiliki gema reverb yang aneh, seperti orang bicara di dalam gua basah. "Kayunya tidak boleh terlalu lama kena panas matahari, nanti suaranya berubah."
Sekar mendekat, memberanikan diri menyentuh lengan Pangeran.
Dingin.
Kulit Pangeran Suryo sedingin es batu yang dibungkus kain tipis. Padahal matahari sedang terik-teriknya.
"Gusti kedinginan?" tanya Sekar cemas.
Pangeran Suryo menatap tangan Sekar di lengannya, lalu tersenyum tipis. Senyum itu terlihat kaku, seolah ia harus mengingat-ingat cara menggerakkan otot wajahnya.
"Tidak, Sekar. Justru sebaliknya. Rasanya... sejuk. Seperti ada AC yang menyala terus di dalam badanku."
Pangeran mengambil sehelai kain batik yang tergeletak di tanah, lalu menyeka keringat di dahi Sekar. Tindakan itu lembut, manusiawi, tapi kontras dengan suhu tubuhnya yang abnormal.
"Kamu kotor sekali," komentar Pangeran.
"Gusti juga," balas Sekar, meski sebenarnya Pangeran Suryo terlihat anehnya bersih. Debu sepertinya enggan menempel di kulit mutiaranya.
"Bapak mana?" tanya Pangeran, mengalihkan topik.
"Sri Sultan sudah dievakuasi ke Gedhong Jene yang masih utuh atapnya. Para dokter keraton sedang memeriksa beliau," lapor Sekar. "Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi dokter bingung, Gusti. Mereka bilang detak jantung Sultan sangat lambat, tapi beliau terlihat segar bugar. Seolah-olah umur beliau mundur sepuluh tahun."
Pangeran Suryo mengangguk-angguk. "Efek samping terapi kejut. Energi Jantung Samudra yang kamu suntikkan semalam bukan cuma obat penawar, tapi juga vitamin dosis tinggi."
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari langit. Bukan suara petir atau ubur-ubur.
Wup-wup-wup-wup...
Bambang menengadah, melindungi matanya dari silau matahari. "Helikopter, Gusti! Itu helikopter tentara!"
Tiga buah helikopter besar berwarna hijau tua melintas rendah di atas alun-alun. Angin dari baling-balingnya menerbangkan debu-debu kapur sisa karang. Di badan helikopter itu, tertulis lambang BNPB dan TNI.
"Bantuan datang," kata Bambang lega. "Akhirnya. Orang-orang Jakarta sadar juga kalau Jogja habis kena bencana."
Namun, ekspresi Pangeran Suryo justru mengeras. Wajahnya yang tampan berubah dingin.
"Mereka bukan datang untuk memberi bantuan, Bambang," gumam Pangeran. "Mereka datang untuk mencari jawaban."
Pangeran menatap monumen Payung Batu Emas yang berdiri mencolok di tengah alun-alun. Benda itu terlalu besar, terlalu aneh, dan terlalu mustahil untuk dijelaskan dengan logika gempa bumi atau letusan gunung berapi.
"Dunia luar tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi," kata Pangeran Suryo tegas. "Kalau mereka tahu ada Dewa Yunani dikubur di sini... Jogja akan jadi laboratorium internasional. Kita akan dijajah lagi, kali ini oleh ilmuwan dan militer asing."
Sekar merasakan ketegangan baru. Perang mistis sudah selesai, tapi perang politik baru saja dimulai.
"Apa yang harus kita lakukan, Gusti?" tanya Sekar.
Pangeran Suryo berjalan mendekati tumpukan puing, mengambil sepotong kain terpal besar yang kotor.
"Kita harus menyembunyikan buktinya. Bambang, kumpulkan orang-orangmu yang masih waras. Tutup monumen itu dengan terpal, seng, apa saja. Bilang itu... instalasi seni kontemporer yang rusak kena gempa. Atau apalah. Kamu pinter ngarang, kan?"
Bambang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Waduh, instalasi seni segede gaban gitu? Ya dicoba, Gusti."
"Sekar," panggil Pangeran.
"Ya, Gusti?"
"Kamu ikut aku. Kita harus menemui Bapak sebelum beliau bicara macam-macam pada jenderal-jenderal dari Jakarta itu. Bapak itu terlalu jujur. Kalau ditanya kenapa kotanya hancur, beliau pasti bilang 'digigit gurita raksasa'."
Sekar hampir tertawa, tapi ia menahannya. "Baik, Gusti."
Mereka berjalan cepat menuju kompleks inti Keraton (Kedhaton). Di sepanjang jalan, para abdi dalem sepuh yang selamat mulai bermunculan. Mereka menyapu halaman dengan sapu lidi, seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Rutinitas adalah cara orang Jawa menjaga kewarasan.
Saat mereka melewati dapur keraton (Pawon Ageng), Pangeran Suryo berhenti mendadak. Hidungnya mengendus-endus udara.
"Gusti?" Sekar ikut berhenti.
"Bau apa itu?" tanya Pangeran, matanya melebar lapar.
Sekar mengendus. "Itu... bau garam, Gusti. Mbok-mbok dapur lagi menyangrai garam krosok buat mengawetkan daging."
Pangeran Suryo menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun. Ekspresinya seperti orang yang melihat oasis di tengah gurun. Tanpa sadar, ia melangkah masuk ke dapur, mengabaikan tatapan kaget para juru masak.
Ia berjalan lurus ke arah wajan besar berisi garam kasar yang sedang disangrai. Panas. Tapi Pangeran tidak peduli.
Ia mengambil segenggam garam panas itu dengan tangan kosong.
Dan memakannya.
Sekar terbelalak. "Gusti! Itu asin!"
Pangeran Suryo mengunyah garam itu dengan nikmat, seolah itu adalah popcorn. Suara kriuk-kriuk kristal garam yang digigit terdengar ngeri di telinga Sekar.
"Enak..." desah Pangeran, matanya terpejam. "Rasanya... rasanya seperti pulang."
Para abdi dalem di dapur saling berbisik ketakutan. Mereka melihat junjungan mereka memakan garam panas tanpa minum air.
Sekar buru-buru masuk, menarik lengan Pangeran. "Gusti, cukup. Nanti darah tinggi. Ayo jalan lagi."
Pangeran Suryo membuka matanya. Ada rasa malu sekilas di sana. Ia melihat sisa garam di tangannya, lalu menjatuhkannya kembali ke wajan.
"Maaf," gumamnya, menyeka bibirnya yang tidak melepuh sama sekali. "Aku... aku tiba-tiba lapar sekali."
Sekar menatap Pangeran dengan pandangan prihatin. Darah dewa itu. Darah itu menuntut asupan mineral laut. Pangeran Suryo memang selamat dari kematian, tapi dia harus membayar harganya setiap hari mulai sekarang.
"Nanti saya bawakan bekal garam laut di saku, Gusti," bisik Sekar pelan agar tidak didengar orang lain. "Biar Gusti nggak nyemil sembarangan di depan tamu."
Pangeran Suryo tersenyum, kali ini lebih lepas. "Kamu memang kanca (teman) yang pengertian, Sekar. Terima kasih."
Mereka keluar dari dapur, kembali ke misi utama. Suara helikopter semakin keras, tanda mereka akan mendarat di halaman utara.
Di depan Regol Donopratopo (pintu gerbang utama ke area tempat tinggal raja), dua orang penjaga bertombak menghalangi jalan mereka. Penjaga itu bukan manusia. Mereka adalah dua prajurit mayat hidup yang semalam disadarkan oleh Sekar. Mereka masih berwujud kerangka berbalut sisa seragam, berdiri tegak menjaga pintu meski matahari sudah tinggi.
Orang biasa pasti lari terbirit-birit melihat hantu di siang bolong.
"Kalian belum istirahat?" tanya Pangeran Suryo pada dua tengkorak itu.
Salah satu tengkorak menggeleng kaku. Rahangnya bergerak, mengeluarkan suara klek-klek.
"Mereka bilang tugas mereka belum selesai sampai Raja benar-benar aman," terjemahkan Sekar, entah bagaimana ia bisa paham bahasa tulang.
"Bagus. Tetap di sini," perintah Pangeran. "Kalau ada orang berseragam loreng hijau mau masuk, tahan mereka. Tapi jangan dibunuh. Cukup ditakut-takuti saja. Tunjukkan gigi kalian... atau apa yang tersisa dari gigi kalian."
Kedua tengkorak itu mengangguk hormat.
Pangeran Suryo dan Sekar melangkah masuk ke halaman dalam. Suasana di sini hening dan sakral, kontras dengan kekacauan di luar. Burung perkutut milik Raja masih manggung di dalam sangkarnya yang tergantung di teras Gedhong Jene.
Namun, ketenangan itu terusik.
Di teras gedung, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang tampak salah tempat di tengah bencana ini. Ia sedang berbicara serius dengan Sri Sultan. Pria itu tidak terlihat kotor atau lelah. Sepatunya mengkilap.
"Siapa itu?" bisik Sekar.
Pangeran Suryo menyipitkan matanya. "Itu Pak Menteri. Cepat sekali dia sampai. Pasti dia sudah memantau dari satelit sejak semalam."
Pak Menteri itu menoleh saat mendengar langkah kaki mereka. Ia berdiri, tersenyum lebar—senyum politisi yang tidak mencapai mata.
"Ah, ini dia pahlawan kita," kata Pak Menteri, merentangkan tangan ke arah Pangeran Suryo. "Atau haruskah saya panggil... Pangeran Mutan?"
Pangeran Suryo berhenti berjalan. Tubuhnya menegang. Suhu udara di sekitar mereka turun mendadak. Lantai marmer di bawah kaki Pangeran mulai berembun.
Orang ini tahu. Dan dia berbahaya.
Sekar menggenggam gagang cambuk di balik kebayanya. Perang fisik mungkin sudah usai, tapi sepertinya mereka harus bersiap untuk jenis perang yang lebih licik: birokrasi dan rahasia negara.