Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Mula Mati Rasa
🦋
Ada satu masa dalam hidup seseorang ketika suara-suara di sekelilingnya sudah bukan lagi terdengar seperti kritik, teguran, atau bahkan hinaan. Melainkan hanya seperti deru angin yang lewat begitu saja.
Nadira tidak sadar kapan tepatnya hal itu terjadi padanya. Yang ia tahu, pagi itu, ketika ia turun dari kamar dengan hoodie kebesaran dan wajah yang sengaja ia sembunyikan di balik poni, dadanya terasa… kosong.
Seolah ada ruang besar di dalam dirinya yang dulunya dipenuhi harapan kecil, now totally vacant.
Langkah kakinya pelan saat menyentuh anak tangga terakhir. Bau bubur hangat tercium, tapi tidak menggugah selera. Nadira menarik kursi dan duduk tanpa suara, seperti bayangan yang sengaja tidak ingin disadari keberadaannya.
Kakeknya duduk di meja makan seperti biasa. Tegap. Tegas. Terlalu bangga pada dua cucunya yang 'sempurna' menurut standarnya. Erwin yang menjadi kebanggaan keluarga di bidang akademik. Fero yang selalu dipuja karena sopan, pintar berbicara, dan katanya 'mirip ayahnya dulu' pujian paling sakral bagi kakek.
Dan seperti biasa, percakapan itu mengalir tanpa menyentuh Nadira sedikit pun.
"Erwin dapat penghargaan matematika lagi kemarin," ucap kakek sambil tertawa kecil, bangga.
"Oh ya?" sahut paman Rigel sambil menyeruput kopi. "Tidak heran. Anak itu memang beda."
Erwin hanya tersenyum kecil, sok rendah hati. "Biasa saja, Kek.*
"Biasa dari mana," potong kakek cepat. "Kalau terus begini, masa depanmu cerah."
Nadira menatap sendoknya. Jemarinya sedikit bergetar, tapi bukan karena sedih tapi lebih seperti refleks lama yang belum sepenuhnya mati.
Paman Rigel mengangguk-angguk, sok kagum. "Wajar! Anak itu memang berbakat. Beda sekali sama…"
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Semua orang di meja itu tahu siapa yang dimaksud 'beda'.
Nadira hanya duduk, menatap bubur paginya yang perlahan mendingin.
Dulu, setiap kali mendengar perbandingan itu, ia akan merasa dadanya ditikam dari berbagai arah. Ada rasa iri, kecewa, sedih, dan marah yang bercampur jadi satu. Tapi hari ini… tidak ada.
Kosong. Datarnya itu menakutkan sekaligus melegakan.
"Fero juga dapat pujian dari gurunya," lanjut kakek lagi. "Dia itu anak baik. Rajin. Tidak banyak tingkah. Tidak seperti…"
Kakek berhenti. Menghela napas seolah tidak ingin membuang waktu membicarakan seseorang yang baginya tidak penting.
Nadira menelan buburnya pelan. Bahkan ketika bubur itu pahit karena terlalu dingin, ia tidak bereaksi.
Fero melirik ke arahnya sekilas, lalu kembali menunduk. Tidak membela. Tidak menyela. Dan hanya terdiam
Begitu kakek menyebut namanya pun, nada suaranya selalu berubah. Seakan-akan hanya ada satu sisi dari diri Nadira yang ia lihat: sisi buruk, sisi gagal, sisi memalukan. Padahal sebagian besar 'kesalahan' Nadira hanyalah kesalahpahaman atau hal kecil yang selalu dibesarkan keluarga.
Yang paling menyakitkan adalah? Kakek percaya akan semua hal itu.
Dan entah sejak kapan, Nadira berhenti berusaha menjelaskan.
***
Suatu sore, kakek memanggilnya ke ruang tamu. Ruangan penuh pajangan Foto Erwin dan Fero. Hanya milik mereka. Tidak ada satu pun foto Nadira yang terpajang di sana, bahkan fotonya waktu kecil pun sudah entah ke mana.
"Nadira," panggil kakek tanpa menatap. "Kamu harusnya belajar dari sepupu-sepupumu. Jangan hanya tidur dan main HP saja."
Padahal Nadira baru pulang sekolah dengan nilai ujian yang lumayan bagus. Nilai yang selama ini ingin ia tunjukkan, berharap kakek akan tersenyum sedikit. Tapi begitu masuk rumah, napasnya saja dianggap salah.
Ia melangkah mendekat, berdiri dengan kertas nilai di tangan. "Aku… dapat nilai bagus, Kek." Suaranya pelan, ragu.
Kakek hanya melirik sekilas, bahkan tidak meraih kertas itu.
"Hm." Satu dengusan kecil.
"Itu wajar. Anak seusia kamu ya harusnya begitu." Nada suaranya dingin. "Tidak perlu dibanggakan."
Nadira membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Aku belajar sampai malam..."
"Sudah," potong kakek. "Jangan cari alasan."
Seakan-akan nilai Nadira selalu 'biasa saja', tetapi kalau itu milik Erwin Dan Fero? Rumah bisa berubah seperti balai upacara.
Dan saat itu, Nadira merasa sesuatu di dalam dirinya retak… lalu mati.
Ia sudah terlalu lelah mengejar validasi dari seseorang yang bahkan tidak mau melihat ke arahnya. Terlalu capek memohon cinta dari orang yang selalu melihatnya sebagai cacat.
Kali itu, ia pergi. Tanpa menjawab, tanpa membantah, tanpa berharap.
Ia masuk ke kamarnya, mengunci pintu, dan duduk di lantai sambil memeluk lututnya sendiri.
"Aku capek…," bisiknya pada dirinya sendiri. "Capek ingin disukai. Capek ingin dianggap."
Suara itu nyaris tidak terdengar, bahkan oleh dirinya sendiri.
Setelah itu, ia memutuskan untuk cukup. Mulai hari itu, ia menarik diri dari semua orang.
Tidak lagi menyapa kakek. Tidak lagi menanggapi paman Rigel. Tidak lagi ingin mendengar suara Erwin atau Fero ataupun bude Riana.
Semua dibiarkan lewat begitu saja seperti angin.
***
Masalah kulitnya makin parah beberapa minggu terakhir. Jerawat muncul di pipi, dahi, rahang. Merah, sakit, dan membuatnya semakin tidak percaya diri. Setiap kali bercermin, ia merasa bukan sedang melihat wajahnya, tapi melihat peta luka.
"Astaga, makin parah aja muka kamu!" seru Bude Riana suatu pagi sambil mencibir. "Pantas aja kakekmu malu kalau kamu keluar rumah!"
Nadira berhenti sebentar. Menatap bude-nya lurus. "Oh? Begitu ya," ucapnya datar.
"Kurang apa lagi sih kamu? Sudah nggak pinter, muka juga..."
Nadira melangkah pergi sebelum kalimat itu selesai.
Dulu ia akan menangis. Dulu ia akan menyalahkan diri sendiri. Dulu ia akan mencoba berbagai skincare mahal padahal tidak semua cocok.
Sekarang?
Ia lebih bingung daripada sedih.
"Apa yang harus aku pakai? Kenapa makin banyak sih…?" gumamnya di kamar.
Ia duduk di depan cermin, menyentuh pipinya pelan. Perih. Tapi perih itu terasa jauh lebih kecil dibanding perih di dadanya yang dulu.
Ia mencari-cari solusi sendiri. Googling. Nonton video. Tapi semua terasa sia-sia. Jerawatnya tetap muncul dan makin meradang. Tapi anehnya… ia tidak lagi marah.
Hanya… mati rasa. Seolah ia sudah menerima bahwa dirinya 'seburuk itu' di mata keluarga.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti autopilot. Nadira pergi sekolah, pulang, masuk kamar, kunci pintu, hidup dalam dunianya sendiri. Tidak berbicara kecuali jika terpaksa. Tidak peduli apakah orang memperhatikannya atau tidak.
"Dira, tolong ambilin piring!" Ia tidak menjawab.
"Nadira!"
Sunyi.
Cuek.
Dan ternyata… cuek membuat hidupnya jauh lebih ringan.
Tidak perlu memuaskan siapa pun. Tidak perlu ikut percakapan yang hanya membuatnya sakit hati. Tidak perlu mendengar kakek memuji Erwin sampai surga dan menghinanya sampai neraka.
Sampai suatu hari, ketika ia melewati ruang keluarga, ia mendengar kakek berbicara dengan nada kesal.
"Nadira makin tidak sopan. Tidak menyapa, tidak membantu, cuma ngurung diri di kamar!"
"Memang begitu anak itu," sahut paman Rigel. "Dari kecil suka bikin masalah."
Nadira berdiri di balik dinding. Mendengarkan, tangannya mengepal… lalu mengendur.
Dulu ia akan menangis. Sekarang ia hanya menghela napas dan tersenyum kecil.
"Ternyata cuek tidak seburuk itu…," bisiknya sambil melangkah pergi.
Ada rasa ringan di bahunya. Bukan karena ia tidak terasa sakit lagi, rasa sakitnya masih ada, hanya saja ia sudah berhenti mengizinkan mereka mengambil lebih banyak dari dirinya.
***
Di kamarnya yang sunyi, Nadira berbaring sambil menatap langit-langit. Cahaya sore masuk dari jendela, membuat ruangan terlihat hangat meski hatinya tidak.
Ia mengangkat tangan, menatap jemarinya sendiri.
"Aku masih di sini," gumamnya. "Dan itu cukup."
Tapi kali ini, hangat itu terasa sedikit… nyaman. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, Nadira merasa ia memiliki sesuatu yang tidak bisa diambil siapa pun: kendali atas dirinya sendiri.
Dia mungkin belum sembuh. Trauma itu masih ada Dan tertanam sangat dalam. Tapi ia telah mengambil satu langkah penting.
Berhenti berlari mengejar orang-orang yang tidak pernah berhenti membuatnya merasa kecil.
Kadang, mati rasa adalah cara tubuh melindungi diri dari hancur total.
Dan bagi Nadira… itu cukup untuk sekarang.