Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seragam Keluarga
Pagi ini Maura tak bertemu dengan Tasya di lobi karena ternyata Tasya sudah berada di ruangannya karena hari ini devisi mereka akan rapat bersama Radit. Tasya sebagai wakil pimpinan devisi nya bertanggung jawab menyelesaikan laporan nya sebelum rapat di mulai.
"La, bisa minta tolong ngga?" Tanya Tasya yang melihat Maura masuk.
"Astaga! Kasih nafas dulu kek gw." Canda Maura duduk di kursinya.
"Udah ngga sempet La. Tolong lu cek ini bentar dong." Tasya menyodorkan sebuah map padanya.
Maura membukanya meneliti semua isinya dan fiks semua sempurna. Maura pun mengembalikannya pada Tasya dengan kode oke di tangannya. Tasya pun bernafas lega. Pak Danu keluar dari ruangannya dan Tasya segera mengikutinya dengan map di tangannya.
"La, lu ngga ikut promosi?" Tanya Wulan teman satu devisinya.
"Lu aja deh Lan. Gw ngga dulu." Maura.
"Lu kenapa? Kok setiap ada promosi lu ngga ikut." Wulan.
"Kayanya sih belum waktunya aja kali ya Lan." Jawab Maura santai.
"Sesantai itu hidup lu La." Wulan.
"Rejeki Allah yang ngatur Lan. Walaupun kita tetep harus berusaha juga." Maura.
Ting...
Notifikasi pada ponsel Maura berbunyi dengan getaran yang membuyarkan percakapannya dengan Wulan.
"Jangan lupa makan siang nanti ya. Mas sudah pesankan tempat untuk kita." Radit.
"Astaga! Bener-bener ya ni orang maksanya luar biasa." Gumam Maura.
"Kenapa La?" Tanya Wulan.
"Hah! Ngga ini biasa chat iklan." Maura.
"Blok aja La." Wulan.
"Ah, bener juga." Jawab Maura asal.
"Iya." Jawab Maura singkat.
Tak lama panggilan dari Maulida masuk. Maura pun segera menjawabnya.
"Kenapa Da?" Maura.
"Kak, seragam kita nanti mau warna apa? Ini aku lagi di butik sama Mama nya Mas.Dito.
"Di sesuaikan sama baju kamu aja Dek." Maura.
"Keluarga Mas Dito mau hijau botol kita apa? Mau senada atau tabrakan?" Maulida.
"Tabrakan enak juga tuh Da. Marun aja gimana? Atau biru. Gimana enaknya aja deh." Maura.
"Ya udah oke deh." Maulida.
Maulida memang tengah mempersiapkan pernikahannya yang akan di adakan dua bulan lagi. Beruntung Mama Dito calon suami Maulida bersedia ikut membantu persiapannya. Lebih tepatnya semua di kerjakan Mama Dito. Karena katanya ingin yang terbaik untuk pernikahan putranya. Maklum Dito Putra satu-satunya.
Pak Danu dan Tasya kembali ke ruangan hingga hampir mendekati jam makan siang. Keduanya tampak berseri-seri menandakan rapat mereka berjalan mulus dan memuaskan.
"Maksi yuk." Aja Tasya.
" Dih, belum waktu nya kali." Maura.
"Ya elah tinggal 15 menit doang. Ayo cari tempat makan enak. Kalo di resto A gimana?" Tasya.
"Ngga usah kita ke resto B aja." Maura.
"Hah! Serius lu mau ke sana?" Tasya.
"Dua rius. Yuk ke bawah sekarang." Ajak Maura yang sudah mengkonfirmasi pada Radit jika dirinya akan turun.
"Siang Pak." Sapa Tasya ketika di lift berpapasan dengan Radit dan Kiki.
"Siang." Jawab Radit yang membuat Tasya terheran.
Sampai di lobi Maura menyeret Tasya untuk mengikuti Radit.
"Apaan sih La. Ke sana aja deh." Tunjuk Tasya ke lain arah.
"Kesini aja gw jamin." Maura.
"Jamin apaan lu?" Tasya.
"Jamin duit makan siang lu aman bersemayam di dalam dompet lu." Jawab Maura asal.
Dan jawaban Maura terdengar oleh Radit yang berada di depan mereka.
"Ngawur lu." Tasya.
"Kalo bener jatah duit makan siang lu buat gw ya." Maura.
"Deal." Jawab Tasya mengulurkan tangannya.
Sabar.... Sabar...