ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 28: Badai di Balik Jeruji.
Malam di Lapas High-Security Blackwood biasanya hanya diisi oleh suara dengkur tahanan atau isak tangis penyesalan. Namun, malam ini berbeda. Kesunyian itu terasa tajam, seperti pisau yang siap mengiris kulit. Di sel nomor 102, Alaska baru saja menyelesaikan wirid malamnya saat indra keenamnya—yang telah terlatih selama bertahun-tahun di dunia bawah—menangkap sesuatu yang ganjil.
Lampu di koridor blok C tiba-tiba padam secara serentak. Bukan karena pemadaman bergilir, tapi karena sistem keamanan pusat telah diretas dari dalam.
"Tuan Alaska!" bisik sebuah suara dari sel sebelah. Itu adalah paman tua bernama Yusuf, seorang narapidana kasus ekonomi yang sering diajak bicara oleh Alaska tentang arti kehidupan.
"Ada yang aneh. Sipir tidak ada di pos mereka."
Alaska segera berdiri. Ia tidak memakai senjata, hanya melilitkan kain sorban pemberian Sania di pergelangan tangannya untuk perlindungan.
"Tetap di belakang selmu, Yusuf. Jangan mendekat ke jeruji."
Penyerbuan The Blackout.
Tiba-tiba, pintu blok utama meledak kecil. Sekelompok pria berseragam taktis hitam—tanpa atribut resmi—masuk dengan kacamata night vision. Mereka bukan polisi, dan mereka bukan tahanan. Mereka adalah tim likuidasi profesional yang dikirim langsung dari Meksiko.
"Target ditemukan. Sel 102. Habisi tanpa jejak," perintah suara dari interkom salah satu penyerbu.
Namun, Alaska bukan lagi target yang mudah diprediksi. Saat mereka melepaskan tembakan ke arah tempat tidur sel, mereka hanya menemukan bantal yang ditumpuk. Alaska sudah berada di langit-langit, berpegangan pada pipa air, dan turun seperti bayangan di belakang mereka.
Prak!
Satu gerakan cepat mematahkan leher penyerbu pertama secara non-letal namun melumpuhkan. Alaska merebut tongkat listrik miliknya, bukan untuk membunuh, tapi untuk mempertahankan diri.
Pilihan Sulit.
Kekacauan meluas. Kelompok pembunuh ini mulai melepaskan gas air mata ke sel-sel lain untuk menciptakan kepanikan. Para narapidana yang tidak bersalah mulai berteriak kesakitan, tercekik asap kimia.
"Tolong! Aku tidak bisa bernapas!" teriak Yusuf dari sel sebelah.
Alaska menghadapi dilema. Ia bisa saja menggunakan kesempatan ini untuk lari melalui jalur ventilasi yang ia ketahui, menyelamatkan nyawanya sendiri dari kejaran kartel. Namun, ia teringat wajah Sania dan kata-katanya:
“Kekuatan yang sesungguhnya adalah saat kau menggunakan tanganmu untuk mengangkat orang lain, bukan untuk menjatuhkannya.”
"Bara, kau dengar aku?" Alaska berteriak ke arah kamera pengawas, berharap Bara berhasil meretas kembali sistem tersebut dari luar.
Di markas rahasianya, jemari Bara menari di atas keyboard.
"Tuan! Saya sudah masuk ke sistem penjara! Saya akan membuka seluruh pintu sel agar para tahanan bisa lari ke area terbuka, tapi itu berarti Anda akan berada di tengah kerumunan pembunuh!"
"Lakukan sekarang!" perintah Alaska.
Perjamuan Terakhir di Blok C.
Klik!
Semua pintu sel terbuka secara otomatis.
Ratusan tahanan berlarian keluar dalam kepanikan. Di tengah arus manusia itu, para pembunuh bayaran kesulitan mengidentifikasi Alaska. Alaska memanfaatkan momen ini untuk menggendong Yusuf di punggungnya sambil memandu tahanan lain menuju pintu darurat.
Namun, di ujung lorong, ia dihadang oleh pemimpin tim likuidasi, seorang pria raksasa bernama 'El Lobo'. Pria itu memegang parang panjang yang dilarang di dunia manapun.
"Sang Naga menjadi perawat sekarang?" ejek El Lobo dalam bahasa Spanyol. "Sungguh akhir yang menyedihkan untuk seorang legenda."
Alaska menurunkan Yusuf dengan hati-hati.
"Yusuf, pergi. Cepat!"
Alaska berbalik menghadap El Lobo. Ia mengambil posisi kuda-kuda yang tenang. Tidak ada kemarahan di matanya, hanya ketegasan yang dingin.
"Aku bukan lagi Naga yang kau kenal," ucap Alaska pelan. "Aku adalah pria yang sedang mencoba pulang. Dan kau... kau hanyalah kerikil di sepatuku."
El Lobo menerjang dengan babi buta. Parangnya membelah udara, nyaris mengenai dada Alaska. Namun, Alaska bergerak dengan ritme yang berbeda—ia seperti sedang menari di atas sajadah imajiner. Setiap serangan dihindari dengan efisiensi gerakan yang luar biasa.
Dalam satu kesempatan, Alaska memukul titik saraf di lengan El Lobo, membuat parang itu terjatuh. Ia tidak mengambil parang itu untuk membalas. Sebaliknya, ia melayangkan satu pukulan telak ke rahang El Lobo yang membuatnya langsung tak sadarkan diri.
Fajar yang Menenangkan
Saat pasukan brimob yang asli tiba untuk mengambil alih kembali penjara, mereka menemukan pemandangan yang tak terduga. Alaska tidak sedang melarikan diri. Ia duduk bersila di tengah lorong yang berantakan, dikelilingi oleh narapidana yang ia selamatkan dari sesak napas.
Ia sedang memegang tangan Yusuf yang gemetar, memberikan ketenangan di tengah badai.
Bara, yang memantau dari satelit, menghela napas lega. Ia melihat melalui layar monitor bagaimana bosnya tidak lagi menggunakan tangan untuk meremukkan tulang, melainkan untuk memberikan perlindungan.
Di tempat lain, di sebuah pesantren kecil, Sania menutup kitabnya. Ia merasakan getaran di hatinya, sebuah doa yang terjawab. Ia tahu, di balik tembok penjara yang dingin, seorang lelaki sedang benar-benar lahir kembali.
__Jangan takut kehilangan taringmu saat kau memutuskan untuk berhenti menjadi pemangsa. Karena saat kau berhenti menjadi monster, Tuhan akan memberimu sayap. Kekuatan yang didorong oleh kasih sayang jauh lebih abadi daripada kekuatan yang didorong oleh ketakutan. Ingatlah, pahlawan sejati bukanlah dia yang memenangkan pertempuran dengan darah lawan, melainkan dia yang mampu memenangkan pertempuran di dalam dirinya sendiri tanpa mengorbankan jiwanya__
Bersambung ....