Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: ANTARA DARAH DAN API
Bip... Bip... Bip...
Suara digital dari gawai pemicu ledakan di tangan Adrian Mahardika berbunyi nyaring, membelah gemuruh kobaran api yang mulai melahap tiang-tiang penyangga lantai satu mansion utama. Angka digital merah di seluruh penjuru dinding pondasi yang terhubung dengan katup pipa gas utama terus merosot tanpa ampun: 00:02... 00:01...
Asap hitam yang pekat bercampur aroma gas yang bocor menyengat hidung Dafa Mahardika. Namun, sepasang mata elang sang CEO dominan tidak beralih sedikit pun dari tubuh Mami Kinanti yang baru saja dilempar kasar oleh Adrian dari atas balkon lantai dua, meluncur jatuh lurus ke arah pusaran api yang berkobar di lantai bawah.
Sifat posesif terhadap keluarga dan insting pelindung puncaknya melebihi batas ketakutan manusia normal. Dalam fraksi detik yang teramat krusial itu, Dafa tidak mengejar Adrian yang mulai berlari melarikan diri menuju pintu belakang balkon atas. Pria tegap itu menjatuhkan senapan serbunya ke atas lantai, lalu melesat maju dengan kecepatan berburu yang luar biasa gila, melompati meja sofa jati yang terbakar.
Dafa menjatuhkan dirinya ke depan, meluncur di atas lantai marmer yang panas demi menangkap tubuh ibunya sebelum menyentuh lidah api.
BUGH!
Kedua lengan kokoh Dafa berhasil menyambut dan mendekap erat tubuh Mami Kinanti tepat di udara, memutar posisi badannya sendiri di lantai agar punggung bidangnya yang berlapis perban luka menahan benturan keras dengan lantai batu. Perih yang luar biasa membakar seketika menghujam saraf punggung Dafa saat sisa serpihan logam dari ledakan rumah sakit sebelumnya kembali tertekan masuk, namun rahang tegas sang predator puncak mengeras sempurna menolak untuk melepaskan pelukannya.
BOOOOOOMMMM!
Katup pipa gas utama di bagian luar dinding kanan mansion akhirnya meledak dahsyat. Hantaman gelombang kejut pertama menghancurkan seluruh dinding kaca ruang tamu menjadi miliaran es kristal tajam yang terlempar liar. Langit-langit beton bagian depan runtuh total, menciptakan dentuman megah yang mengubur area pelataran mansion dalam kepulan abu dan api yang membumbung tinggi ke langit malam.
Beruntung bagi Dafa, pondasi bagian tengah tempat ia mendekap Mami Kinanti terhalang oleh pilar beton penyangga struktural yang tebal. Dengan gerakan taktis yang sangat konstan dan dingin, Dafa menyobek lakban hitam di mulut ibunya menggunakan tangan kanannya yang gemetar.
"Mami... Mami bisa mendengarku? Ada yang terluka?" tanya Dafa, suara baritonnya yang berat terdengar sangat serak dan parau akibat pekatnya kepulan asap mesiu.
Mami Kinanti terbatuk-batuk hebat, air matanya menetes deras membasahi kemeja hitam Dafa yang kini telah koyak dan dipenuhi noda darah baru. "Dafa... Adrian... kakakmu, Nak... dia sudah gila... dia bekerja sama dengan The Vipers untuk menghancurkan seluruh Mahardika..." ratap wanita tua itu dengan tubuh yang bergetar hebat akibat syok rohani yang teramat mendalam.
"Aku tahu, Mami. Semuanya akan kuselesaikan malam ini juga," ucap Dafa penuh penekanan otoritas mutlak yang menenangkan.
Dari arah pintu masuk samping yang hancur, Mikael dan lima prajurit tim taktis divisi dua akhirnya berhasil menerobos masuk menembus kobaran api dengan membawa tabung pemadam portabel. Wajah Mikael tampak dipenuhi ekspresi horor saat melihat bos tertinggi mereka kembali bermandikan darah segar di sekujur lengannya.
"Pak Dafa! Helikopter The Vipers di luar sedang mencoba mengangkut Tuan Adrian naik dari atas atap balkon belakang!" teriak Mikael panik sembari memerintahkan anak buahnya untuk segera membopong Mami Kinanti keluar menuju zona aman perimeter luar.
Dafa bangkit berdiri tegak seutuhnya dengan perlahan. Rasa sakit di punggungnya justru bertindak sebagai bahan bakar yang mengubah sisa warasnya menjadi kemurkaan dewa perang sejati. Pria dominan itu meraih sebuah pistol taktis cadangan bersilinder perak dari balik pinggang celananya, lalu melangkah lebar menaiki anak tangga melingkar yang mulai runtuh satu per satu, menuju ke arah atap luar balkon belakang mansion.
Di atas landasan atap balkon yang terbuka, angin malam bertiup sangat kencang bersama rintik hujan lebat yang menyapu permukaan lantai beton. Sebuah helikopter tempur tanpa logo milik The Vipers tampak melayang rendah, menurunkan sebuah tangga tali nilon ke arah Adrian yang sedang bersiap untuk memanjat naik.
BANG! BANG!
Dua tembakan presisi tanpa peringatan dilepaskan oleh Dafa dari ambang pintu atap, menembus tepat di pundak kiri dan betis kanan Adrian.
"Argh!" Adrian mengerang keras, tubuh tegapnya terjerembab jatuh di atas lantai beton yang basah, kehilangan pegangan pada tangga tali helikopter. Helikopter musuh yang menyadari kehadiran Dafa langsung memutar arah moncongnya, bersiap menembakkan senapan mesin rotari mereka ke arah pintu atap.
Namun, sebelum pilot musuh sempat menekan tombol tembakan, dua penembak jitu (sniper) Mahardika yang telah bersiaga di atas pohon raksasa luar pagar mansion melepaskan peluru penembak tangki, menembus kaca kokpit helikopter dan menewaskan sang pilot seketika. Helikopter The Vipers kehilangan kendali, berputar liar di udara sebelum akhirnya jatuh terhempas dan meledak hebat di area hutan pinus belakang mansion.
Dafa melangkah maju dengan langkah kaki yang teratur dan menindas di bawah siraman hujan deras, mendekati tubuh Adrian yang merangkak kesakitan di atas lantai beton. Ujung laras pistol perak Dafa ditempelkan keras tepat di pelipis kanan kakak kandungnya sendiri.
"Selamat tinggal, Adrian," desis Dafa dingin, sepasang mata elangnya berkilat hitam pekat tanpa ada lagi sisa pengampunan darah daging.
"H-Hahaha... tembak aku, Dafa! Tembak kakakmu sendiri!" Adrian muntah darah, namun seringai distorsi di wajahnya semakin melebar penuh kelicikan. "Tapi ingat satu hal... sebelum aku datang ke mansion ini, aku sudah mengirimkan satu tim sisa pembunuh bayaran The Vipers ke Rumah Sakit Pusat... untuk menjemput janda muda kesayanganmu itu! Saat ruangan ini meledak... kamar rawat Nazya juga akan berubah menjadi kamar mayatnya!"
DEG!
Fokus dan pasokan darah di dada Dafa kembali tersentak dingin mendengar nama wanitanya dijadikan sandera akhir. Sifat posesif dan jerat gairah batinnya kepada Nazya seketika bergejolak liar tak terkendali. Tanpa membuang waktu untuk mengeksekusi Adrian, Dafa menghantamkan gagang pistolnya keras ke arah rahang Adrian hingga kakaknya itu pingsan total.
"Mikael! Kunci bajingan ini di bagasi mobil! Kita kembali ke rumah sakit SEKARANG JUGA!" raung Dafa melalui interkomnya dengan suara bariton yang menggelegar membelah badai hujan. Pria itu melompat turun dari balkon menuju mobil SUV hitam cadangan, menghentak pedal gas hingga batas maksimal menembus badai kota.
Sementara itu, di dalam kamar rawat nomor 305 Rumah Sakit Pusat Mahardika, suasana terasa sangat sepi dan remang-remang. Nazya Humaira terus duduk di atas bangsal dengan kedua tangan yang meremas selimut, dadanya berdebar tidak karuan memikirkan keselamatan Dafa yang sedang bertaruh nyawa di mansion utama.
KLIK.
Lampu di dalam kamar rawat mendadak padam total akibat pemutusan arus listrik dari panel pusat rumah sakit. Keheningan yang buta seketika mencekam kesadaran Nazya.
KREEEKKK...
Pintu kamar rawat perlahan terbuka dari luar. Sesosok siluet pria bertubuh tegap melangkah masuk ke dalam kegelapan kamar dengan langkah yang teratur. Nazya yang mengira itu adalah suaminya yang telah kembali, langsung menegakkan tubuh cantiknya dengan binar mata penuh kebahagiaan. "Mas Dafa? Mas sudah kembali—"
Namun, kalimat Nazya tersedat di tenggorokan saat melihat pendaran sepasang mata dari pria itu berwarna hijau kelam—bukan mata elang ungu milik Dafa. Senter kecil di tangan pria asing itu dinyalakan, menyorot wajah bengis seorang pria paruh baya berpakaian jas hitam raksasa—Tuan Besar Baskoro Sanjaya, yang ternyata berhasil lolos dari pengawalan Mikael di bandara berkat bantuan penyusup dalam!
Baskoro melangkah mendekat dengan sebilah pisau bedah yang berkilat tajam di tangan kanannya. "Lama tidak berjumpa, Janda Muda Pilihan CEO..." desis Baskoro kejam.
Nazya terbelalak ketakutan, ia mencoba bergerak mundur di atas bangsal dengan kaki yang masih kaku. Namun, sebelum ia sempat berteriak meminta pertolongan tim taktis di luar, dari arah balik pintu kamar yang terbuka, sesosok pria lain berpakaian dokter yang ternyata adalah Rendy—yang juga telah siuman dan melarikan diri dari ruang darurat—muncul sembari membawa sebuah gawai penonaktif sinyal darurat, langsung mencengkeram kuat rambut hitam Nazya dari arah belakang bed.
Rendy menarik kepala Nazya ke belakang hingga janda muda itu meringis kesakitan yang luar biasa melengking tinggi, sementara Baskoro menempelkan ujung pisau bedah yang dingin tepat di atas urat nadi leher jenjang Nazya yang memucat, bersiap mengiris kulit sucinya saat suara sirine mobil Dafa terdengar meraung-raung mendekati lobi bawah rumah sakit dengan angka hitung mundur waktu darurat penyelamatan yang berkedip liar di jam dinding kamar.
Sebelum lanjut jangan lupa LIKE nya ya teman-teman.