NovelToon NovelToon
Jaka Srenggi

Jaka Srenggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: MartimbulSiregar

kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.

Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Sampai sore mendekati malam Jaka Srenggi masih terus berusaha, dia seperti melupakan rasa sakit pada jari-jarinya yang mulai ngilu karena terus dipaksa menusuk ketanah padat dan besar.

Petapa muka dua menghidupkan api, mereka memutuskan untuk bermalam di padang ilalang itu.

"Jaka Srenggi! Kemari lah, kita makan dulu!" panggil Bargola.

Jaka Srenggi menghentikan latihannya dan berjalan kearah gurunya. Tubuh Jaka sangat letih, itu terlihat dari wajahnya yang lemas.

"Gagaimana? Apa kau sudah berhasil??" tanya Bargola

"Seperti yang guru lihat, belum guru. Tapi Jaka akan terus berusaha." jawab Jaka Srenggi.

"Baik, silahkan terus berlatih. Guru akan menjaga mu, tapi kau harus makan dulu." kata Bargola memberikan perhatian.

"Baik, terima kasih guru."

Tanpa banyak bicara lagi Jaka Srenggi memakan hewan buruan yang dipanggang oleh gurunya.

Selesai makan Jaka Srenggi istirahat sebentar, setelah itu meneruskan latihannya.

"Srenggi sudah cukup, tidurlah!" perintah bargola.

Jaka Srenggi sedikit kecewa, tapi dia tak mau mengecewakan atau membantah perintah dari gurunya.

"Tidurlah! Masih ada hari esok!"

Jaka Srenggi kembali tak membantah, dia menutup matanya, dan tertidur karena merasa lelah.

Bargola menatap Jaka Srenggi yang tertidur pulas.

"Kau memang bersemangat, tapi tanpa bantuan tenaga dalam sangat sulit untuk menusukkan jari ketanah keras itu." ucap Petapa muka dua dan berjalan ke arah tanah yang terus ditusuk oleh jari Jaka Srenggi.

"Ini? Bagaimana mungkin??" Wajah Petapa muka dua kaget saat melihat lubang-lubang kecil di tanah keras itu.

"Dasar bocah nakal, dia berhasil meskipun masih sedikit. Apa jarinya tak terluka??" bargola sedikit khawatir.

Bargola mendekati Jaka Srenggi dan menempelkan telapak tangannya di punggung pemuda itu.

Energi merah masuk ke dalam tubuh Jaka Srenggi, itu membuat Jaka Srenggi merasakan kehangatan dan semakin pulas dalam tidurnya. Jaka Srenggi tak tahu jika gurunya sudah membantu dengan memberikan sedikit tenaga dalam kepadanya.

"Besok kau akan merasakan perbedaannya. Aku tak mungkin mengatakan jika jari api berguna jika dengan tenaga dalam. Bagaimanapun juga kau harus memperkuat jarimu menjadi sekuat besi." gumam bargola dan kembali bersila bersemedi melawan racun kobra.

Saat Pajar menyingsing Jaka Srenggi tak menemukan gurunya disampingnya. Jaka merasa gurunya pasti pergi mencari makanan.

"Sebaiknya aku berlatih kembali. Aku tak ingin mengecewakan guru," gumam Jaka Srenggi yang memang sangat bersemangat.

"Crussssss!!!"

Saat percobaan pertama jari Jaka Srenggi mampu masuk menusuk ke dalam tanah keras itu.

"Bagaimana mungkin? Apa aku sudah berhasil??" gumam Jaka Srenggi

"Atau tanah ini semakin lembek??" ucap Jaka tak percaya.

Jaka Srenggi tak percaya dengan keberhasilan nya.

"Aku akan mencoba tanah lain!"

Jaka Srenggi kembali mengambil tanah keras. dan seperti pada tanah yang pertama untuk tanah baru itu pun jari Jaka Srenggi dengan mudah menusuknya bagaikan menusuk lumpur.

Jaka Srenggi melompat kegirangan, dia tak tahu bagaimana melukiskan kegembiraan hatinya.

"Kenapa denganmu? Apa kau kerasukan setan penghuni gunung ini??" Tanya Petapa muka dua begitu sampai dan melihat Jaka Srenggi melompat-lompat bagaikan anak kecil.

"Guru ... guru!!" Aku berhasil! Aku berhasil guru!" teriak Jaka Srenggi

"Berhasil?? Berhasil membuat apa??" Tanya Petapa muka dua pura pura tak tahu, padahal dia tahu jika Jaka Srenggi sudah berhasil. Itu semua karena bantuan dari nya.

Jaka Srenggi tak menjawab tapi membawa tanah yang sudah berhasil dia lubangi.

"Kau berhasil? Sungguh tak percuma aku mengangkatmu jadi murid ku." Puji bargola pura-pura kaget dan bangga.

"Terima kasih sudah mengajariku guru" ucap Jaka Srenggi.

Jaka sedikitpun tak memperlihatkan sikap jumawa apalagi sikap sombong.

"Bagus, latihan pertama sudah kau lewati. Sekarang latihan kedua."

"Tinju api!"

"Kau sudah melihatnya kemarin, bukan?? Sekarang pukul batu itu sampai kau memberikan sedikit luka pada batu itu."

"Baik guru!"

Jaka Srenggi melangkah menuju batu yang ditunjuk gurunya.

"Hey ... tunggu!!"

"Nanti setelah kau makan." Larang Petapa muka dua dan menarik baju Jaka Srenggi untuk menahan langkah pemuda itu.

Selesai makan Jaka Srenggi istirahat sebentar, setelah itu berjalan ke arah batu.

Bammmmm!"

Pukulan pertama langsung memecahkan tangan Jaka Srenggi. Bukan batu yang pecah, tapi tangan Jaka yang terluka.

"Ihhhhh!!"

Pemuda itu meringis menahan sakit ditangannya yang telah terluka. tapi dia tak berhenti.

"Bammm!!"

"Bammmmm!!"

"Bammmm...!!"

Meskipun tangannya sudah terluka dan telah berwarna merah Jaka Srenggi tak berhenti, dia terus saja memukul batu keras itu. Sedikitpun tak ada goresan pada batu itu, yang ada warna merah yang semakin banyak menempel di batu itu.

Wajah kaget pada bargola terlihat jelas melihat kekerasan hati Jaka Srenggi. Dia tak menyangka jika muridnya itu akan melupakan rasa sakitnya demi mencapai tujuannya.

"Srenggi, istirahat dulu, dan kemari!" panggil Petapa muka dua.

Jaka kaget karena dia sedang dalam konsentrasi tinggi, tapi dia tetap mendekat ke arah gurunya.

Petapa muka dua mengoleskan sesuatu yang lembut ketangan Jaka Srenggi. Petapa itu mengobati luka pada tangan Jaka Srenggi.

Jaka Srenggi merasakan jika lukanya seperti hilang rasa perihnya.

"Itu obat apa saja bahannya guru? Kenapa bisa seampuh itu??" Tanya Jaka Srenggi.

Bargola menerangkan apa saja bahan dari obat itu.

"Selain mengobati luka, semua bahan yang guru katakan juga mampu menetralkan racun, kecuali racun itu sudah sangat menggerogoti tubuh. Ingat semua itu, karena seorang pendekar juga harus memiliki kemampuan pengobatan. Paling tidak mengobati diri nya sendiri."

"Apa kau paham Jaka Srenggi??"

"Iya guru! Jaka Srenggi paham. Jaka srenggi lanjutkan latihan ya guru." ucap Jaka.

"Apa kau yakin? Tanganmu sudah terluka begini." tanya Petapa muka dua tak percaya akan kekerasan hati Jaka Srenggi.

"Yakin guru! Jika aku tak mampu aku tak mungkin belajar Kanuragan dari guru, bukankah begitu guru??"

"Iya, Tapi kau harus pulihkan dulu tanganmu Jaka Srenggi." ucap Petapa muka dua.

"Tidak guru! Jaka Srenggi ingin berlatih. Meskipun cairan merah ini terus keluar, Jaka Srenggi akan terus berlatih." kata Jaka Srenggi memperlihatkan kekuatan tekadnya.

Jaka Srenggi kembali berjalan ke arah batu, dan seperti sebelumnya Jaka Srenggi memukul batu keras itu tanpa menahan tenaganya. Kembali bercak merah mulai mengotori batu itu.

"Aku tak tahu sekuat apa nanti tinju api di tangan Jaka Srenggi. Pasti akan lebih kuat dari tinju api milikku. Sungguh mengagumkan semangatnya." gumam Petapa muka dua yang terus memperhatikan latihan Jaka Srenggi.

Jaka Srenggi istirahat sebentar, tapi saat dia istirahat rasa perih di tangannya malah menyuruhnya untuk berhenti seterusnya.

"Tidak, aku belum mau berhenti! Rasa sakit ini tak akan aku pedulikan."

Hiaaattt!

Teriak Jaka Srenggi sekeras suara nya.

"Bammmm!!"

"Bammmmm!"

Lagi dan lagi pukulan Jaka Srenggi menghantam batu besar itu.

Petapa muka dua geleng kepala karena melihat keseriusan muridnya.

"sepertinya aku salah menyuruhnya melawan batu. Apa aku hentikan saja??" kata Petapa muka dua kasihan pada Jaka Srenggi

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!