NovelToon NovelToon
THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

THE HIDDEN HEIR: Menyamar Jadi Supir Istri Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: Husein. R

"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."

​Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.

​Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.

​"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."

​Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ilusi di Ambang Maut

Komandan tertinggi V.E.N.O.M itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat suhu udara di sekitar gerbang tol turun drastis, mematikan api yang tadi gue ciptakan. Dia mencabut pedang panjangnya yang berwarna hitam legam, mengeluarkan bunyi berdenging yang menyakitkan telinga.

"Naga Utara... mitosmu berakhir di aspal ini," suaranya dingin, datar, tanpa emosi sedikit pun.

Gue nggak banyak bacot. Gue melesat maju dengan kecepatan penuh, tinju gue yang diselimuti api perak menghantam ke arah wajahnya. Tapi, dengan gerakan yang hampir nggak kasat mata, dia menangkis pukulan gue pake punggung pedangnya.

DUAARRR!

Gue terpental ke belakang, menabrak bangkai mobil SUV Leo sampai ringsek. Tulang rusuk gue serasa remuk. Ini beda. Kecepatan dan kekuatannya ada di level yang belum pernah gue hadepin. Bahkan kekuatan Naga gue seolah "diredam" oleh aura dingin pedangnya.

"Arka! Minggir!" teriak Hana.

Hana dan pemimpin Kera Merah mencoba menyerang dari dua sisi. Sabit Hana mengincar leher, sementara tongkat listrik si Kera mengincar kaki. Tapi komandan itu cuma berputar sekali.

SRAK!

SRAK!

Hana terlempar dengan luka sayatan di bahu, dan tongkat si Kera patah jadi dua.

Gue berusaha bangkit, tapi pandangan gue mulai kabur. Tato naga di punggung gue berdenyut menyakitkan, seolah-olah energinya dipaksa keluar tapi tertahan oleh sesuatu. Komandan V.E.N.O.M itu sudah berdiri di depan gue, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.

"Selamat tinggal, sang legenda," ucapnya.

Pedang itu jatuh dengan cepat ke arah leher gue. Gue memejamkan mata, ngerasain dinginnya maut yang udah di depan mata.

JEDERRRR!

Gue tersentak bangun. Napas gue buru-buru, jantung gue berdegup kencang sampai rasanya mau lompat dari dada. Gue langsung ngeraba leher gue—masih utuh. Gue ngeraba kasur—empuk dan kering.

Gue nengok ke samping. Nadia masih tidur dengan tenang, sinar matahari pagi masuk lewat celah gorden kamar kami yang mewah. Suasana hening, nggak ada suara ledakan tol, nggak ada jubah merah kera, dan nggak ada aroma bensin terbakar.

Gue duduk di pinggir kasur, megangin kepala yang rasanya berat banget. Keringat dingin ngebahasin baju kaos yang gue pake.

"Cuma mimpi...?" bisik gue parau.

Gue jalan ke kamar mandi, nyiram muka pake air dingin berkali-kali. Gue natep cermin dengan napas yang masih belum stabil. Semuanya kerasa nyata banget—sakitnya tulang rusuk gue, dinginnya pedang itu, sampai bau asap di jalan tol.

Gue sadar, tekanan beberapa hari ini setelah kematian Baron dan Kian bener-bener bikin mental gue stres parah. Ketakutan gue akan munculnya musuh baru yang lebih kuat dari Sakti Langit bermanifestasi jadi mimpi buruk yang terlalu detail.

Gue narik napas panjang, mencoba tenangin diri. Tapi pas gue mau balik ke tempat tidur, mata gue nangkep sesuatu di lantai bawah jendela.

Ada sebuah bulu elang dan sepotong kain putih-merah kecil yang terjepit di sela jendela.

Gue membeku. Kalau itu cuma mimpi karena stres... kenapa benda-benda itu ada di sini? Apa mungkin mimpi itu adalah sebuah peringatan, atau justru kenyataan yang memorinya sengaja dikacaukan oleh seseorang?

Gue ngeraih kain putih-merah itu dengan tangan gemeteran. Teksturnya kasar, persis kayak jubah yang gue liat di mimpi tadi. Bau asap dan mesiu tipis masih nempel di serat kainnya. Ini nggak masuk akal. Kalau ini cuma mimpi karena stres, benda ini harusnya nggak ada di sini.

"Arka? Kamu udah bangun?" suara Nadia dari tempat tidur bikin gue kaget setengah mati.

Gue cepet-cepet nyembunyiin kain dan bulu elang itu ke kantong celana. "Eh, iya Nad. Tadi cuma... gerah aja, mau cuci muka."

Nadia duduk sambil ngucek matanya. "Kamu teriak-teriak tadi pas tidur. Nama Baron sama Kian disebut terus. Kita ke dokter ya hari ini? Kamu butuh istirahat total, Ka. Jangan pikirin kerjaan dulu."

Gue cuma ngangguk kaku, tapi pikiran gue melayang ke tempat lain. Gue harus mastiin satu hal. Gue ambil HP dan langsung telepon Leo.

"Halo, Leo? Lu di mana?" tanya gue tanpa basa-basi.

"Hah? Ya di kantor lah, Bosque. Lagi benerin data keuangan yang berantakan gara-gara tikus-tikus kemarin. Kenapa? Suara lu kayak abis liat setan," jawab Leo di seberang sana. Suaranya kedengeran normal, santai, dan penuh canda kayak biasa.

"Leo... semalem kita ke Banten?"

Hening sejenak di seberang sana. "Banten? Ngapain? Semalem kan kita abis beresin urusan di kantor Atmaja terus lu langsung balik bareng Nadia. Gue aja lembur di sini ditemenin kopi saset. Lu mabuk ya, Ka?"

Gue matiin teleponnya sepihak. Kepala gue makin berdenyut. Kalau Leo bilang nggak ada kejadian di Banten, berarti Klan Kera Merah dan The Falcons itu beneran cuma bunga tidur gue yang lagi stres berat. Tapi... gimana soal kain di kantong gue?

Gue mutusin buat keluar rumah bentar, mau cari udara seger sekalian ngecek garasi. Begitu gue buka pintu garasi, gue mematung.

SUV putih milik Leo ada di sana—mobil yang di mimpi gue hancur ringsek. Mobil itu mulus, kinclong, nggak ada lecet sedikit pun. Tapi, pas gue jalan ke arah belakang mobil, gue liat sesuatu yang bikin jantung gue mau copot.

Di bawah bumper belakang, ada bekas asap hitam dan serpihan logam kecil yang mirip banget sama material zirah V.E.N.O.M.

Gue jongkok, ngambil serpihan itu. Ini nyata. Benda ini bukan halusinasi.

"Gue nggak gila..." bisik gue ke diri sendiri. "Sakti Langit... dia mainin ingatan gue."

Gue sadar sekarang. Sakti Langit nggak cuma kuat secara fisik, tapi dia ahli manipulasi mental. Dia sengaja bikin gue ngerasa kejadian di Banten itu cuma mimpi supaya gue anggep remeh ancaman V.E.N.O.M. Dia mau gue ngerasa aman di dalem rumah ini, padahal musuh sebenernya udah ada di dalem kepala gue.

Gue nengok ke arah jendela kamar Nadia di lantai dua. Gue ngerasa ada sepasang mata yang lagi ngawasin gue dari kejauhan. Perang ini ternyata jauh lebih licik dari yang gue bayangin. Gue nggak cuma harus lawan pasukan zirah, tapi gue harus lawan pikiran gue sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!