Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Asya sedang berada di ruang keluarga bersama Alif. Ia duduk di sofa panjang dengan Alif yang merebahkan dirinya. Ia menjadikan paha Asya sebagai bantalnya.
"Assalamualaikum Ning, Gus," salam dua orang santriwati yang menunduk
"Waalaikumsalam," jawab Asya dan Alif
"Mas bangun," bisik Asya
"Nggak mau," ucap Alif santai
Asya menatap suaminya kesal karena Alif tak beranjak dari tidurnya. Ia malah menghadapkan kepalanya ke perut Asya.
"Ada apa ya Mbak?," tanya Asya lembut
"Kami mau setoran hafalan Ning," ucap salah seorang santriwati
"Bukannya sama umi atau ning Lisa?," tanya Asya
"Ning Lisa sedang rapat dan bu Nyai yang nyuruh setor ke ning Asya," jelas santriwati
"Baiklah kalo gitu. Silakan dimulai Mbak," ucap Asya
Santriwati memulai melantunkan ayat alquran. Asya mengoreksi beberapa pelafalan yang salah. Sesekali Alif juga menimpalinya.
Setelah selesai setoran kedua santriwati itu pamit undur diri. Asya dan Alif mempersilakan keduanya kembali ke asrama.
"Romantis banget ya ning Asya dan gus Alif. Duh jadi pengen nikah muda nih," ucap santriwati 1
"Katanya dulu gus Alif itu alumni dari pesantren ini dan santri kesayangan gus Raffa," timpal santriwati 2
"Iya. Gus Alif dan ning Asya kenal itu waktu sama-sama kuliah di Kairo," ucap santriwati 1
"Dari teman berujung akad. Tapi habis ini mereka kembali ke Kairo untuk wisuda," ucap santriwati 2
"Serasi banget pokoknya 3 couple anak kyai Fahmi. Ideal semua," ucap santriwati 1
Sedangkan di sisi lain, Asya mengusap kepala suaminya dengan sayang. Ia masih tak menyangka bahwa sekarang sudah menjadi seorang istri.
"Nyebelin banget sih kamu Mas nggak mau beranjak padahal ada 2 santriwati lagi setor hafalan," kesal Asya
"Nyaman banget tau tidur di pangkuan kamu kayak ada lemnya," ucap Alif terkekeh
"Untung aja mereka nunduk terus," ucap Asya
Alif tersenyum sambil mengelus pipi istrinya. Asya tersipu malu dengan perlakuan suaminya.
"Eum," ucap umi
"Kalo lagi jatuh cinta emang dunia milik berdua ya, Mi. Yang lain mah ngontrak" ucap abi terkekeh
Asya dan Alif sontak memperbaiki posisi duduknya sambil tersenyum kikuk. Mereka menyalami abi dan umi.
"Besok kalian jadi berangkat ke Jakarta jam berapa?," tanya abi setelah mendudukkan dirinya
"Mungkin agak pagi Abi soalnya menghindari kemacetan juga," jawab Alif
"Berapa lama di Jakarta?," timpal umi
"2 hari Mi soalnya kita harus kembali ke Kairo untuk persiapan wisuda," ucap Asya
"Adek yang nurut sama suami loh. Sekarang kalo mau melakukan apapun ijinnya sama Alif bukan sama abi ataupun umi," ucap umi
"Iya Umi Ku sayang," ucap Asya sambil memeluk ibunya
Asya dan Alif berada di perjalanan menuju kediaman Alfarabi. Alif melirik istrinya yang sibuk mengamati pemandangan di perjalanan.
"Tidur aja Ay, nanti kalo udah sampek aku bangunin," ucap Alif
"Nggak papa nih Mas?," tanya Asya hati-hati
"Iya nggak papa kok," ucap Alif sambil tersenyum
"Ijin ya Mas soalnya ngantuk banget aku," ucap Asya sambil membenarkan tempat duduknya
Asya terlelap begitu damai. Alif tersenyum melirik istrinya. Tak lama kemudian mobil Alif memasuki pekarangan rumah yang megah. Alif memarkirkan mobilnya.
Alif mencoba membangunkan Asya. Berulang kali tapi hasilnya nihil. Akhirnya Alif memutuskan untuk menggendong istrinya itu.
Alif melewati ruang keluarga yang terdapat mama, papa dan juga adiknya. Mereka menonton acara televisi sambil menikmati pizza.
"Loh itu mantu Papa kenapa digendong, Kak?," tanya papa yang tak sengaja menoleh
"Asya baik-baik aja kan, Kak?," tanya mama khawatir
"Mantu kalian baik-baik saja. Hanya sedang tertidur saja. Kakak nggak tega banguninnya," jawab Alif sambil tersenyum
"Cie romantisnya abangku ini," ledek Farah
"Oh ya udah bawa ke kamar aja sana," ucap papa
"Iya ih kasihan itu biar istirahat," ucap mama
"Ya udah, Alif bawa ke atas dulu," pamit Alif
Papa dan mama tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mereka tersenyum melihat keromantisan putranya kepada istrinya.
Sesampainya di kamar, Alif menurunkan Asya dengan hati-hati. Asya menggeliat pelan lalu mencari kenyamanan. Alif tersenyum lalu menyelimuti istrinya.
Alif keluar kamar untuk menemui orang tuanya. Ia menutup pintu perlahan sebelum akhirnya turun ke bawah.
"Sini Bang makan cemilan bareng," ajak Farah
Alif menghampiri mereka lalu duduk lesehan di sebelah Farah. Ia ikut menikmati camilan yang ada sambil menyaksikan acara tv.
"Gimana nih sekarang jadi suami dari ning Asya?," Tanya papa menggoda
"Insecure tau, Pa. Rasanya nggak pantas bersanding dengannya," ucap Alif
"Kenapa Kakak jadi insecure gitu sih? Menurut aku sih kalian sepadan deh. Saling melengkapi satu sama lain. Tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah saja. Setiap pasangan itu diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain," celetuk Farah
Ketiga orang dewasa itu kompak menoleh ke arah Farah spontan. Berbagai macam ekspresi tercetak jelas di wajah mereka.
"Adek kok pandai berkata-kata sih?," Tanya mama heran
"Kamu dapat dari mana quotes sebagus itu, Dek?," Tanya papa terkekeh
"Kesambet apaan sih nih anak?," Tanya Alif sambil menyentil dahi adiknya
Farah mendengus kesal menatap ketiganya. Papa dan mama terkekeh pelan melihat ekspresi wajah putrinya itu.
"Biasalah dapat quotes dari novel religi yang aku baca aja kalo lagi gabut," ucap Farah terkekeh
"Suka banget koleksi novel beraneka ragam," ucap papa
"Ya harus dong. Masak yang beraneka ragam cuma bhineka tunggal ika saja," sahut Farah
"Jangan keseringan baca novel nanti lupa sama kewajiban. Kamu harus bisa membagi waktu," ucap mama menasehati
"Siap ibu peri," ucap Farah terkekeh
"Udah gede masih aja suka baca buku fiksi. Isinya fiktif penuh dengan khayalan," ledek Alif
"Ralat ya. Kakak yang gede tapi kalo aku masih remaja," ucap Farah sambil jari telunjuknya di depan wajah Alif
"Adek, yang sopan sama kakaknya. Papa dan mama gak pernah mengajarkan nunjuk-nunjuk begitu ke muka orang yang lebih tua," tegur papa
"Maaf, Kakak," ucap Farah menyesal sambil menundukkan kepalanya
"Ayo sekarang baikan," ucap mama
Farah dan Alif saling menautkan kelingkingnya sambil tersenyum. Papa dan mama tersenyum melihat kedua bersaudara itu saling menyayangi.
Skip
Alif dan papanya baru memasuki rumah setelah sholat di masjid. Alif berjalan menaiki tangga untuk ke kamarnya. Pemandangan indah saat masuk kamar, ia melihat istrinya sedang mengaji dengan mukena yang masih terpakai. Suaranya sangat merdu dan menenangkan.
'Ya Allah, terima kasih telah memberikan aku seorang istri yang sholehah' batin Alif
Asya menyudahi kegiatannya saat mendengar pintu telah terbuka. Ia merapikan semuanya lalu menghampiri suaminya. Asya mencium tangan Alif takzim.