Kesempurnaan seorang wanita adalah ketika bisa hamil dan melahirkan. Tapi, bagaimana jika bagian terpentingnya harus di relakan karena sebuah takdir. Apa yang harus kita lakukan? Sementara hidup terus berjalan.
Berdamai dengan sebuah takdir dan menjalani kehidupan seperti biasa adalah hal yang harus di lakukan. Itulah yang di lakukan seorang gadis belia yang harus menyerah pada takdir yang di miliknya.
"Kenapa Tuhan takdirkan aku seperti ini? Apa salah aku?".....
......
Cerita ini hanya hayalan penulis ya... Jadi, maaf jika ada kesamaan karakter atau apapun...
Semoga suka dengan cerita baru nya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ijin
Sudah satu minggu Dita mengurung diri di dalam rumah. Tak ingin bertemu siapapun. Tak ada yang tau Dita berada di rumah bahkan Kania dan kedua orang tuanya yang memang berada di rumahnya. Ibu Rani seperti biasa datang ke klinik dan ke rumah kania menjenguk cucunya seperti biasa tak ada kecurigaan apapun dari semua orang.
Dokter Wijaya pun masih bertemu dengan Pak Wirawan seperti biasa. Mereka berdua tak satu pun membocorkan keadaan Dita pada siapapun. Bibi di rumah merasa iba melihat Dita begitu murung tak seperti biasanya. Tontonan televisi yang mengharuskan kita tertawa pun Dita hanya diam dengan pandangan kosong.
"Permisi saya mau daftar untuk dokter Dita." Feri.
"Maaf Pak. Dokter Dita sedang tidak praktek bisa di alihkan pada dokter lain atau bapak akan menunggu jadwal dokter Dita kembali?" Resepsionis rumah sakit.
"Oh, sampai kapan Dokter Dita libur?" Feri.
"Kami belum tau Pak. Tak ada keterangan kemana Dokter Dita nya." Resepsionis.
"Hm.. Kalo begitu boleh di ganti dokter lain saja dulu untuk vaksinasi putri saya." Feri.
"Oh boleh bapak silahkan di tunggu."
Feri sedikit kecewa tak dapat bertemu dengan Dita. Padahal hari ini yang sudah di tunggu olehnya bertemu dengan Dita. Bahkan kedua Putra dan putrinya sudah di bawanya padahal hanya Jemima yang melakukan vaksin sedang Jonathan sudah beres vaksin.
"Dokter Angel.." Panggil Feri ketika melihat Angel melintas.
"Pak Feri. Siapa yang sakit?" Tanya Angel.
"Ngga, ini mau vaksin putri saya." Feri.
"Oh, mana?" Angel.
"Itu di sana sama Mama dan suster." Tunjuk Feri.
"Sayang ya dokter Dita sedang tidak ada. Padahal dia mau banget ketemu Jonathan." Angel.
"Dokter Dita mau ketemu Nathan?" Feri.
"Iya. Eh, saya permisi dulu ya." Elak Angel.
"Dokter Angel. Boleh saya bertanya lebih jauh?" Feri.
"Maksudnya?"
"Saya mau tau tentang Dokter Dita." Feri.
Angel tersenyum ramah kemudian menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan sebelum dirinya berbicara.
"Sebaiknya tidak perlu Pak. Dita terlalu istimewa untuk kami. Saat ini ketidakhadiran Dita saya tau kenapa. Saya dan keluarga menyayangkan sikap Dita tapi kami selalu mendukungnya. Jadi, Pak Feri lupakan saja ya." Ucap Angel melangkah pergi.
"Dokter Angel.." Panggil Feri.
Feri tak mengerti kenapa Dokter Angel seperti menutupi sesuatu dari nya. Feri ingin sekali menghubungi Dita namun dirinya tak mengetahui nomer Dita. Di dalam data kasus Dita yang dia tangani hanya ada nomer Ibu Rani dan Dokter Angel.
Feri merasakan jika Dita menghidarinya. Jika Dita merindukan Jonathan kenapa dia tidak meminta bertemu padahal dia bertemu dengan Feri beberapa waktu lalu. Dan saat itu juga Dita terlihat jelas menghindarinya. Bukan hanya Dita yang merindukan Jonathan sebenarnya. Dirinya juga merindukan Dita.
Entah kapan dan dimana tepatnya Feri merasakan hal yang berbeda ketika bertemu dengan Dita. Bahkan sebelumnya dengan mendiang istrinya Feri tak pernah merasakan hal seperti ini. Feri merasa senang dan bahagia ketika bisa melihat Dita tersenyum.
Dengan tekad bulat dan menyingsingkan rasa malu dan gugupnya Feri membuat janji temu dengan Ibu Rani dan Ibu Rani bersedia menemuinya. Feri akan meminta ijin pada Ibu Rani untuk mendekati Dita secara terang-terangan. Walau Feri tau statusnya sebagai duda dengan dua anak pasti akan membuatnya sedikit kesulitan dalam mendekati Dita.
"Apa kabar Fer? Ada apa? Ada hal penting?" Tanya Ibu Rani saat mereka bertemu.
"Sedikit." Feri.
"Oke baiklah. Silahkan, mau mulai dari mana?" Ibu Rani.
"Sebelumnya Feri mohon maaf dengan kelancaran Feri. Feri mau minta ijin buat mengenal lebih jauh sama Dita Bu." Feri.
Ibu Rani tersenyum kemudian menegakkan tubuhnya berusaha bersikap tenang.
"Nak Feri. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk putra dan putri nya. Begitupun kami. Tapi, putri kami tidak seperti yang kalian lihat. Putri kami tidak sempurna Nak." Jelas Ibu Rani.
"Maksudnya Bu? Feri juga bukan manusia sempurna Bu. Bahkan dengan lancang Feri meminta putri Ibu dengan status Feri duda dengan dua anak." Feri.
"Kami tidak mempermasalahkan tentang status nak. Asal kamu bisa membahagiakan putri kami itu sudah cukup. Tapi, apa kamu dan keluarga akan menerima putri kami dengan ketidaksempurnaannya?" Ibu Rani.
Hening seketika. Feri mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Ibu Rani. Feri tak tau mengapa Ibu Rani seolah memberinya restu tapi juga seolah tak mengijinkan dirinya mendekati Dita. Mengerti kebingungan Feri akhirnya dengan sangat terpaksa Ibu Rani berbicara mengenai keadaan Dita.
"Dita tak dapat memberikan keturunan buat kamu nak. Di usia 17 tahun Dita harus kehilangan rahimnya karena penyakit kanker langka."
Deg...
"Kami tak melarang siapapun dekat dengan putri kami. Hanya saja dia yang telah menciptakan temboknya sendiri tanpa kami tau." Ibu Rani.
Feri terdiam. Kaget, sedih dan bangga bercampur menjadi satu. Kaget karena dirinya mengetahui fakta yang keluarga Wijaya sembunyikan tentang putrinya. Sedih karena Dita menyimpan lukanya sendiri dan bangga karena Dita mampu melewati semuanya sendiri.
"Bu, ijinkan saya tetap berjuang untuk Dita."
Tes... Bulir bening pun mengalir begitu saja di pipi Ibu Rani.
"Kamu.."
"Saya bukan laki-laki sempurna Bu. Saya sudah pernah menikah dan gagal. Walau kegagalan pernikahan saya bukan karena perselingkuhan atau apapun tapi karena maut yang memisahkan. Istri saya pergi setelah melahirkan putri kedua kami. Tak ada cinta dalam pernikahan kami karena semua hasil perjodohan. Mungkin Ibu bertanya kenapa ada anak jika tak ada cinta." Feri.
Ibu Rani mengangguk spontan. Feri tersenyum kemudian melanjutkan bicaranya.
"Feri akan menggauli istri Feri ketika Feri dalam keadaan mabuk. Bahkan dengan cara itu pun Feri masih kesulitan untuk naik. Jika ada pria breng**k Feri mungkin yang paling. Tapi, ketika melihat Dita debaran di dada begitu terasa berbeda. Perasaan takut juga ada. Takut Dita menolak keadaan saya dengan segala ke kurangan dan bonus 2 anak tentunya." Jelas Feri panjang lebar.
"Berjuanglah. Kami tak mempermasalahkannya. Tapi, kami akan menjauhkan Dita jika orang tuamu tak merestuinya." Ibu Rani.
"Terima kasih Bu. Saya bisa pastikan jika orang tua saya pun merestui saya dan Dita seperti Ibu merestui kami."
"Silahkan. Kami ijinkan. Tapi, kami minta satu hal. Jangan paksa Dita itu saja."
"Terima kasih Bu sekali lagi terima kasih. Saya tidak akan menyakiti Dita." Feri.
Di balik senyum Ibu Rani ada doa yang terselip untuk kebahagiaan putrinya.