Alika seorang gadis cantik yang di khianati oleh kekasih di hari pernikahannya harus rela di menikahi pria yang sama sekali tidak ia kenal agar keluarganya tidak malu. Pria itu merupakan kakak sepupu dari sang kekasih, Alika mau menikah dengan pria itu karena bujukan orang tua sang kekasih agar mereka semua tidak malu.
Alika dengan ikhlas menerima pernikahan ini dan dia akan berusaha menjadi seorang istri. Namun Alika harus menerima kenyataan saat tahu jika sang suami memiliki wanita lain di hatinya.
Bagaimana nasib Alika apa dia bahagia dengan pernikahannya?,
yu simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Bang, " panggil ku pada Galang yang sedang bersiap.
"Apa? " tanya nya.
"Aku boleh ikut abang ke kantor gak? " tanya ku membuat Galang kaget.
"Ngapain? " tanya nya.
"Di rumah masih ada nenek, aku ngerasa gak nyaman aja kalau di rumah, " beritahu ku alasannya.
"Yakin mau ikut?, tar kamu bosen, " ucap nya.
"Enggak bakalan deh, aku janji, " ujar ku sambil memasang wajah memohon.
"Ya udah siap-siap sana!, " titah nya dan aku pun langsung ganti baju dan gak butuh waktu lama aku sudah siap.
Aku pun turun bareng Galang dan saat di ruang keluarga aku melihat nenek dan mama sedang bersantai.
"Kalian mau kemana? " tanya mama namun berbeda dengan nenek dia melihat kami dengan tatapan tidak suka.
"Aku mau ajak Alika jalan ma, lagian berapa hari ini dia di rumah terus, " jawab Galang membuat aku kaget.
"Bagus itu, ya sudah sana pergi! " lanjut mama dan aku pun langsung pamit dan tidak lupa menyalami mama dan nenek.
Kami pun keluar rumah dan aku mengikuti Galang naik ke mobil. Di jalan Galang tidak banyak bicara sampai akhirnya kami sampai dan turun dari mobil. Namun saat kami jalan di lobby kantor aku melihat tatapan para karyawan cewek pada Galang sedikit berbeda. Karena aku gak suka mereka melihat Galang seperti itu aku pun segera mengejar langkah Galang dan menggandeng tangan Galang. Awalnya Galang melihat ke arah ku namun aku hanya tersenyum dan Galang tidak mempermasalahkannya. Kami pun masuk lift dan aku masih terus memegang tangan Galang sampai kami pun tiba di raungan Galang baru lah aku melepaskan tangan ku dari tangan Galang.
"Abang kerja saja, aku gak akan ganggu ko, " ucap ku lalu duduk di sopa dan bermain ponsel.
Galang dia langsung duduk di kursinya dan mulai bekerja. Namun tak lama pintu ruangan di ketuk dan setelah Galang menyuruh masuk munculah seorang wanita sambil membawa paper bag.
"Ini pak pesanannya, " ucap wanita itu.
"Kasih ke istri saya, " jawab Galang tanpa melirik ke arah cewek itu.
Cewek itu langsung melangkah ke arah ku dan memberikan paper bag itu pada ku. Aku pun menerimanya dengan senang hati dan saat aku lihat ternyata makanan.
"Udah waktunya makan siang, kamu makan duluan aku masih ada kerjaan, " ucap Galang dan aku pun membuka makanan untuk ku dan langsung memakannya.
Setelah habis punya ku aku pun melihat Galang masih sibuk aku pun berinisiatif untuk menyuapinya walau sebenarnya sedikit takut karena aku takut dia marah tapi aku harus berani biar hubungan ku dengan Galang ada kajian. Aku pun melangkah mendekati Galang lalu berdiri di samping Galang kemudian menyodorkan sendok yang sudah aku isi makanan dan berhasil membuat Galang kaget dan melirik ke arah ku.
"Aku bantu abang makan, " ucap ku namun belum sempat selesai Galang langsung menerima suapan ku tanpa bicara apa-apa.
Aku pun tersenyum senang dan melanjutkan menyuapi Galang.
"Pelan-pelang dong, masih banyak ini, " ucap Galang dan aku gak pedulian terus saja menyuapi Galang.
"Berkas buat rapat.. " tiba-tiba papa masuk dan membuat aku kaget.
"Maaf papa gak tau, " ucap papa hendak keluar lagi.
"Masuk aja pa, " ucap Galang dan papa pun melangkah mendekati meja Galang, aku langsung pergi menjauh.
"Materi buat rapat nanti sore udah aku siapin pa, " ucap Galang sambil menyerahkan sebuah maf.
"Alika kenapa ada di ruangan kamu? " tanya papa sambil melirik ke arah ku.
"Alika gak nyaman di rumah pa karena ada nenek, " jawab Galang memberitahu papa.
"Ya sudah kamu pindah lagi aja ke apartemen karena nenek pasti akan lama di rumah, " titah papa menyuruh kami pindah.
"Gak usah pa, kalau kami pindah sekarang bakal gak baik nanti nenek malah tambah gak suka sama aku, " tolak ku karena gak mau membuat suasana di rumah semakin dingin.
"Papa cuman mikirin kenyamanan kamu, papa gak mau kalau kamu gak taman, " ucap papa.
"Segala sesuatu harus di hadapi pa, kalau di hindari gak akan selesai, " beritahu ku.
"Ya sudah terserah kamu papa ikut saja, ya sudah kalau gitu papa kembali ke ruangan papa. Kalian lanjutkan saja, " ucap papa sambil tersenyum.
Papa pun keluar dan sekarang tinggal kami berdua dan Galang melihat ke arah ku.
"Abang mau lanjut makan? " tanya ku.
"Enggak, aku cuman mastikan kamu gak bakal lakukan hal yang buat aku heran lagi, " jawab nya.
"Maksud nya? " tanya ku gak ngerti.
"Ya itu melakukan hal di luar nalar, " jawab nya.
"Emang aku makhluk halus, " ujar ku kesal dan Galang malah tertawa dan ini kali pertama aku melihat dia tertawa.
Galang pun beranjak dari duduknya lalu melangkah mendekati ku dan duduk di samping ku lalu mengambil ponselnya dan tiba-tiba ada pesan masuk.
"Sekarang kamu pergi jalan-jalan saja, sebentar lagi aku harus rapat dan lumayan lama juga. Jadi daripada kamu bosen mending kamu jalan-jalan saja, " ucap Galang.
"Tapi, " ucap ku hendak menolak.
"Aku datang, " tiba-tiba Lia masuk tanpa mengetuk pintu.
"Tuh Lia udah datang, sana pergi! " usir nya.
"Ayo kak, kita jalan-jalan, " ajak Lia menarik tangan ku namun aku malah melihat ke arah Galang.
"Aku yang panggil dia buat temani kamu, " beritahu Galang.
Aku pun akhirnya pergi bersama Lia ke sebuah mall. Lia membawa ku keliling mall namun aku menolak untuk beli sesuatu.
"Kakak gak seru ah, padahal bang Galang udah ngasih uang buat belanja, " ujar Lia kesal.
"Aku bingung dan aku gak biasa belanja kalau gak perlu-perlu amat, " balas ku.
Lia pun terdiam lalu dia menarik tangan ku dan membawa ku ke sebuah toko perhiasan.
"Naha sekarang gak akan nolak kan? " tanya Lia dan aku tersenyum.
Aku pun memilih salah satu gelang yang menurut ku lumayan bagus. Saat akan di bayar aku di buat kaget ternyata harganya mahal juga.
"Lia, gak usah jadi aja deh, " ucap ku sambil menarik tangan Lia.
"Udah di bungkus kak, lagian uang yang di kasih bang Galang banyak ini, " ujar nya tersenyum lebar.
"Kakak, jujur ya baru kali ini aku lihat bang Galang peduli banget sama cewek, " ucap Lia membuat aku kaget.
"Bang Galang memang baik pada aku bahkan semua orang kira dia suka sama aku namun ternyata salah bahkan aku pernah berpikiran seperti itu tapi aku tau saat melihat sebuah foto di ponselnya dan itu foto cewek satu-satunya yang ada di ponselnya, " lanjut Lia.
"Siapa dia? " tanya ku dan Lia malah tersenyum.
"Aku gak tau, nanti juga kakak bakal tau saat bang Galang cerita, " balas Lia enggak memberitahu ku.