NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Reinkarnasi Putri Terbuang: Pelayan Itu Ternyata Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Putri asli/palsu / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
​Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
​Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
​"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
​Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: PERJANJIAN DI ATAS RODA YANG BERPUTAR

​"Kenapa berhenti di depan bank pusat, Nona? Bukankah Andrew sudah menunggu Anda di butik dengan segelas sampanye dan tumpukan janji palsu?"

​Suara Ergino memecah keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara itu. Ia mematikan mesin, namun tangannya tetap berada di kemudi, urat-urat di punggung tangannya tampak menonjol—sebuah kontras dari wajahnya yang tetap setenang telaga di malam hari.

​Nerina tidak segera menjawab. Ia menatap gedung pencakar langit di hadapannya melalui jendela mobil yang gelap. "Sampanye Andrew hanya akan terasa seperti cuka di lidahku sekarang, Gino. Aku lebih suka melihat angka-angka di rekeningku bertambah daripada melihat wajahnya yang munafik."

​Nerina menoleh, menatap mata Ergino melalui spion tengah. "Dan kamu... kamu terlalu banyak bertanya untuk seorang pelayan yang katanya hanya bertugas 'memastikan keselamatanku'."

​Ergino terkekeh rendah. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan berbalik sedikit, menyandarkan sikunya di sandaran kursi. "Seorang pelayan yang baik harus tahu apakah majikannya sedang merencanakan pelarian atau peperangan. Agar saya tahu, apakah saya harus menyiapkan koper atau senjata."

​"Bagaimana kalau keduanya?" tantang Nerina. Ia membuka tas tangan Hermès miliknya, mengeluarkan sebuah kartu hitam berlapis emas yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di negeri ini. "Keluarga Lynn memberikan kartu ini padaku untuk 'keperluan operasional perusahaan'. Mereka pikir aku hanya akan menggunakannya untuk membeli tas atau perhiasan."

​"Tapi Anda akan menggunakannya untuk memindahkan seluruh dana cadangan mereka ke rekening luar negeri yang tidak terdeteksi," sambung Ergino datar, seolah ia sedang membacakan daftar belanjaan.

​Nerina tertegun. Ia memiringkan kepalanya, menatap Ergino dengan tatapan menyelidik. "Bagaimana kamu bisa tahu rencana yang bahkan belum sempat kukatakan pada diriku sendiri?"

​"Karena jika saya jadi Anda, itulah hal pertama yang akan saya lakukan sebelum ular bernama Elysia itu masuk ke rumah," Ergino menatap kartu di tangan Nerina. "Keluarga Lynn tidak mencintai Anda, Nerina. Mereka mencintai kegunaan Anda. Begitu kegunaan itu berpindah pada putri kandung mereka, Anda akan dibuang. Jadi, sebelum mereka membuang Anda, pastikan Anda sudah mengambil semua 'biaya sewa' selama sepuluh tahun Anda tinggal di sana."

​Nerina terdiam. Kata-kata Ergino menghantamnya tepat di ulu hati. Rasa sakit itu nyata, namun amarahnya jauh lebih besar.

​"Kenapa kamu membantuku, Gino? Atau haruskah kupanggil kamu dengan nama aslimu, Ergino Aldrich Leif?"

​Suasana di dalam mobil mendadak membeku. Ergino tidak tampak terkejut, namun kilat di matanya menajam. Ia tidak membantah, tidak juga mengiyakan. Ia hanya menatap Nerina dengan intensitas yang sanggup membuat wanita mana pun luluh—atau ketakutan.

​"Nama tidak penting, Nona. Yang penting adalah apa yang bisa saya lakukan untuk Anda," ujar Ergino, suaranya kini lebih berat dan penuh otoritas. "Anggap saja saya adalah investor yang sedang bertaruh pada kuda hitam. Saya melihat potensi di dalam diri Anda yang tidak dilihat oleh Andrew maupun Nero."

​"Investasi?" Nerina tersenyum sinis. "Lalu apa imbalannya? Apa yang kamu inginkan dariku?"

​Ergino bergerak maju, memperkecil jarak di antara mereka hingga Nerina bisa mencium aroma maskulin yang kuat dari tubuh pria itu. "Bukan uang. Bukan kekuasaan. Saya hanya ingin duduk di barisan paling depan saat Anda membakar seluruh silsilah keluarga Lynn hingga menjadi abu."

​Nerina menatap mata pria itu, mencari kebohongan, namun ia hanya menemukan kegelapan yang sama dengan yang ia rasakan. Ia menyadari satu hal: Ergino bukan sekadar pelayan, dia adalah predator yang sedang bermain peran. Dan saat ini, mereka memiliki mangsa yang sama.

​"Baiklah, Tuan Leif. Jadilah penonton setiamu," Nerina membuka pintu mobil, namun sebelum ia keluar, ia menoleh kembali. "Tapi ingat satu hal. Jangan pernah mencoba mengendalikanku. Aku sudah pernah mati sekali karena terlalu patuh. Aku tidak akan melakukannya untuk kedua kalinya."

​Ergino hanya mengangguk kecil, sebuah tanda hormat yang terasa lebih seperti sebuah janji. "Saya tidak akan mengendalikan Anda, Nerina. Saya hanya akan memastikan tidak ada yang berani menyentuh sehelai rambut Anda saat Anda sedang sibuk menghancurkan mereka."

​Nerina melangkah keluar mobil dengan dagu terangkat. Angin sore menerpa rambutnya, memberinya kesan mawar hitam yang baru saja mekar di tengah badai.

​Di Dalam Bank Pusat

​"Selamat sore, Nona Aralynn. Ada yang bisa kami bantu?" Kepala manajer bank menyambutnya dengan bungkukan rendah di ruang VIP.

​Nerina duduk di kursi beludru, meletakkan kartu hitamnya di atas meja marmer dengan dentingan pelan. "Aku ingin melakukan likuidasi seluruh aset pribadi yang terhubung dengan akun ini, dan memindahkannya ke akun Offshore atas namaku sendiri. Sekarang."

​Manajer itu tampak ragu. "Tapi Nona, akun ini juga terhubung dengan dana darurat Grup Lynn. Tuan Elyas biasanya harus memberikan otorisasi untuk pemindahan di atas lima puluh miliar."

​Nerina mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya—sebuah surat kuasa penuh yang ia paksa Elyas tandatangani sebulan lalu dengan alasan 'pembaruan sistem audit'. Di kehidupan sebelumnya, ia menggunakan surat ini untuk menyelamatkan perusahaan saat krisis. Sekarang? Ia akan menggunakannya untuk menenggelamkan mereka.

​"Surat kuasa ini masih berlaku, bukan?" tanya Nerina, suaranya dingin dan tidak menerima bantahan.

​Manajer itu memeriksa dokumen tersebut dengan tangan gemetar. "V-valid, Nona. Segera kami proses."

​Sambil menunggu proses pemindahan dana, Nerina melihat ke arah luar melalui dinding kaca ruang VIP. Di sana, di parkiran bawah, Ergino sedang bersandar di badan mobil sambil menghisap rokok. Pria itu tampak sangat tenang, seolah apa yang sedang Nerina lakukan—pencurian aset keluarga secara legal—hanyalah sebuah hiburan sore yang ringan.

​Ponsel Nerina bergetar. Sebuah pesan masuk dari Andrew.

​Andrew: "Nerina! Di mana kamu?! Aku sudah di butik bersama Ibumu dan... ada tamu istimewa di sini. Kamu harus segera datang. Jangan kekanak-kanakan!"

​Nerina menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong. Tamu istimewa. Dia tahu itu Elysia. Gadis yang akan berakting sebagai korban penculikan selama bertahun-tahun untuk mendapatkan simpati semua orang.

​Nerina mengetik balasan dengan tenang.

​Nerina: "Tunggu aku, Andrew. Aku sedang menyiapkan hadiah yang sangat besar untuk tamu istimewa kita. Kalian pasti akan sangat terkejut."

​Ia menyimpan kembali ponselnya. Tak lama kemudian, manajer bank kembali dengan wajah pucat. "Sudah selesai, Nona. Semua dana telah dipindahkan. Rekening utama Grup Lynn kini hanya tersisa saldo minimum untuk operasional satu minggu ke depan."

​Nerina berdiri, merapikan gaunnya. "Terima kasih. Pastikan kerahasiaan transaksi ini. Jika Ayahku bertanya, katakan saja ada 'gangguan sistem' yang sedang diperbaiki."

​"B-baik, Nona."

​Nerina keluar dari bank dengan langkah ringan. Saat ia sampai di mobil, Ergino sudah membukakan pintu untuknya.

​"Sudah selesai?" tanya Ergino, mematikan rokoknya.

​"Rumah mereka masih berdiri tegak, Gino. Tapi pondasinya sudah kucabut," sahut Nerina. "Sekarang, bawa aku ke butik. Aku ingin melihat bagaimana wajah 'putri kesayangan' mereka saat aku datang membawa kabar duka untuk dompet keluarga mereka."

​Ergino tersenyum, sebuah senyuman tipis yang mematikan. "Sesuai perintah Anda, Sang Mawar Hitam."

​Mobil pun meluncur menuju butik Madame Celine, tempat di mana pengkhianatan pertama di kehidupan ini akan dimulai secara resmi.

1
umie chaby_ba
🫣🫣🫣
umie chaby_ba
kalo Gino sekuat itu apa di kehidupan yang lalu tidak bisa menolong nerina?
umie chaby_ba
lanjut ah bikin Penasaran
umie chaby_ba
apa Gino orang kaya
umie chaby_ba
bukan main.....🤭
umie chaby_ba
pinter banget si gino
umie chaby_ba
👍👍👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
kalo iya ergino terlahir kembali 👍
umie chaby_ba
mencurigakan ergino sudah tahu
umie chaby_ba
rame nih
umie chaby_ba
ergino misterius
umie chaby_ba
lanjut
aditya rian
jadi nerina bukan sembarang orang juga ya
aditya rian
jadi penjahatnya bukan keluarga Lynn??? ga nyangka sih
aditya rian
👍👍👍👍👍
aditya rian
tuan Fidelis ayah nerina????
Aditya Rian
/Good//Good//Good//Good//Good//Good//Good/
Ariska Kamisa
/Shhh//Shhh//Shhh//Shhh//Shhh/
aditya rian
burulah dinikahin nerina nya gino
Ariska Kamisa: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
aditya rian
anak angkat seakan sengaja dibuang agar bisa hidup
Ariska Kamisa: 🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!