"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: PERMAINAN DUA MUKA DI BALIK MEJA KASIR
Pagi itu, Kota Batu kembali ke rutinitasnya yang dingin dan berkabut.
TAK! TAK! TAK!
Arka Nirwana sedang berdiri di atas tangga aluminium, mengganti kaca jendela lantai dua yang pecah semalam.
Ia mengenakan kaos oblong putih yang sudah menguning di bagian ketiak dan celana pendek cargo penuh noda cat. Dari bawah, ia tampak seperti kuli bangunan harian yang sedang mencoba menghemat biaya renovasi.
"Hati-hati, Mas Arka! Tangannya masih diperban gitu kok nekat naik-naik," teriak Bu kantin dari seberang jalan.
Arka menoleh, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Nggak apa-apa, Bu. Kalau nggak dipasang sekarang, nanti malam Dafa kedinginan. Sayang uangnya kalau panggil tukang."
Itulah Arka. Di mata publik, dia adalah simbol "efisiensi karena kemiskinan". Tak ada yang tahu bahwa di dalam saku celananya, ia menggenggam sebuah koin perak kuno dari organisasi The Sovereign yang semalam ia remas hingga retak.
Setelah selesai memasang kaca, Arka turun. Di dalam toko, Reyna merapikan buku. SREK... SREK...
Suasana tampak tenang, namun Reyna tahu Arka sedang memproses data dari "Peta Meridian Nusantara" yang baru ia terima.
"Kau benar-benar akan pergi ke laut selatan?" bisik Reyna saat Arka masuk ke balik meja kasir.
Arka tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah buku catatan kusam dan mulai menulis daftar belanjaan toko.
"Aku tidak bisa pergi begitu saja, Rey. Kalau 'Mas Arka' tiba-tiba hilang dari Batu, itu akan memancing kecurigaan. Aku harus punya alasan logis. Alasan yang sangat... manusiawi."
"Maksudmu?"
"Aku akan mengumumkan bahwa aku akan mencari buku-buku langka di pesisir selatan untuk memperluas koleksi 'Pustaka Senyap'. Sebuah perjalanan bisnis kecil-kecilan dari penjual buku yang ambisius," Arka terkekeh pelan.
Tiba-tiba... KRINGGGG! lonceng di pintu toko berdering.
Seorang pria berseragam dinas cokelat dari Dinas Tata Kota masuk. Wajahnya berminyak, perutnya buncit, dan matanya terus bergerak gelisah.
Namanya Bambang, seorang kepala seksi yang selama ini menjadi "jembatan" antara Tuan Dharma dan birokrasi kota.
"Mas Arka, ya?" Bambang bicara tanpa melihat wajah Arka, ia sibuk membolak-balik berkas di tangannya.
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu? Mau cari buku tentang tata ruang?" Arka menyapa dengan nada merendah.
Bambang mendongak, menatap Arka dengan pandangan meremehkan. "Jangan bercanda. Saya ke sini untuk menyerahkan Surat Peringatan Kedua."
"Lahan ruko ini ternyata masuk dalam zona 'Hijau Militer' yang baru ditetapkan provinsi semalam. Anda punya waktu tiga hari untuk mengosongkan tempat ini, atau kami akan bongkar paksa." BRAK!" Bambang membentak.
Arka terdiam. Ia melihat surat itu. Stempelnya masih basah. Ini adalah serangan balasan dari sisa-sisa kekuatan Lembah Hitam yang sudah merasuki sistem birokrasi.
Meskipun Tuan Dharma sudah lari, "akar" mereka di pemerintahan masih mencoba mencekik Arka lewat jalur legal.
HAAH... HAAH... (Napas yang sengaja dibuat gugup).
"Tapi Pak, saya sudah punya sertifikat hak milik sejak jaman kakek saya," ucap Arka, suaranya sedikit bergetar, akting "rakyat kecil yang tertindas"-nya keluar secara natural.
"Sertifikat itu sudah tidak berlaku kalau negara butuh lahannya, Mas! Paham tidak?!" Bambang membentak, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar warga di luar.
"Jangan sok tahu soal hukum. Kecuali... Mas punya 'cara lain' untuk bicara dengan pimpinan saya." Bambang mendekat, menurunkan suaranya.
"Dengar, Arka. Pimpinan saya, Kepala Dinas Tata Kota, ingin bertemu denganmu malam ini di sebuah restoran di Malang."
"Dia bilang, dia punya 'titipan salam' dari seseorang yang kau lukai perasaannya semalam. Datanglah, bawa sertifikat aslimu, dan mungkin... mungkin rukomu selamat."
Arka menunduk, tangannya meremas pinggiran meja kasir. KREEEET...Kayu meja itu berderit menahan kekuatan Arka yang tertahan.
Di bawah meja, urat-urat di lengannya menonjol. Segel Bumi miliknya bergejolak, ingin sekali meruntuhkan gedung Dinas Tata Kota saat itu juga. Namun Arka menarik napas panjang.
"Baik, Pak. Saya akan datang. Saya cuma ingin toko ini tetap ada buat masa depan Dafa," ucap Arka lirih.
Bambang tersenyum puas, menepuk bahu Arka dengan kasar. "Nah, gitu dong. Jadi orang itu jangan idealis kalau nggak punya uang. Sampai ketemu nanti malam."
Setelah Bambang pergi, Reyna mendekati Arka. "Ini jebakan, Arka. Mereka akan menyita sertifikatmu dan mungkin menghabisimu di sana."
Arka menegakkan punggungnya. Tatapan matanya yang tadi memelas mendadak berubah menjadi tajam sebilah pedang.
"Mereka ingin bermain di level birokrasi? Baiklah. Aku akan tunjukkan pada mereka bagaimana rasanya berurusan dengan birokrasi dari 'langit'."
***
Malam harinya, di sebuah restoran mewah yang tertutup untuk umum di kawasan Araya, Malang. VREEEUMMM... Arka datang dengan motor CB-nya yang berisik, parkir di antara deretan mobil mewah merk Mercedes dan Lexus.
Ia mengenakan kemeja batik murah yang warnanya sudah pudar.
Di dalam ruangan VIP, sudah menunggu tiga orang. Bambang, seorang pria gemuk berseragam dinas yang merupakan Kepala Dinas Tata Kota (Pak Sugeng), dan seorang pria berjas rapi yang tampak asing.
"Duduk, Arka," Sugeng memerintah tanpa melihat. SRAK... SRAK... Ia sibuk memotong steak daging sapi impor yang harganya mungkin setara dengan pendapatan toko buku Arka selama sebulan. "Mana sertifikatnya?"
Arka duduk dengan kikuk di ujung kursi. Ia meletakkan sebuah map cokelat yang tampak lusuh. "Ini, Pak. Tapi mohon... jangan gusur toko saya. Itu satu-satunya harta saya."
HUA-HA-HA!
Sugeng tertawa, suaranya serak karena terlalu banyak merokok. "Arka, Arka... kau ini pintar berantem ya? Tuan Dharma bilang kau punya ilmu 'aneh'."
"Tapi di dunia ini, ilmu ghaib nggak bisa ngelawan surat keputusan gubernur. Kau sudah bikin Tuan Dharma rugi besar. Sekarang, serahkan ruko itu sebagai ganti rugi, dan kau boleh pergi dari kota ini hidup-hidup."
Pria berjas rapi di samping Sugeng, yang sejak tadi diam, tiba-tiba angkat bicara. Suaranya dingin dan memiliki aksen yang aneh.
"Tuan Arka, saya mewakili investor internasional. Kami butuh lahan ruko Anda karena di bawah sana ada sisa-sisa artefak yang kami cari. Serahkan secara sukarela, atau kami akan mengambilnya dari mayat Anda."
Arka menatap pria berjas itu. SHUUUUUT... Melalui 0,5% Segel Udara, Arka mencium aroma kimiawi yang aneh dari tubuh pria itu. Ini bukan manusia biasa. Ini adalah agen dari The Sovereign yang menyamar menjadi konsultan bisnis.
"Investor internasional?" Arka bertanya dengan nada bodoh. "Berarti Bapak orang kaya ya? Kalau orang kaya, kenapa mau ambil ruko kecil saya?"
Sugeng kehilangan kesabaran. "Sudah! Jangan banyak tanya! Bambang, ambil mapnya!" SREEEET!
Bambang maju untuk mengambil map cokelat itu. Namun, saat tangannya menyentuh map tersebut, Arka tidak melepaskannya. GRRRTTT...
"Pak Sugeng," ucap Arka, suaranya mendadak berubah. Tak ada lagi nada memelas. Suaranya menjadi datar, berat, dan dipenuhi otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Tahukah Bapak, bahwa dalam lima menit ke depan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Tim Siber Mabes Polri akan menggerebek rumah Bapak?"
Ruangan itu mendadak sunyi. Sugeng tertawa terbahak-bahak sampai tersedak dagingnya. UHUK! UHUK! "KPK? Hahaha! Kau pikir kau siapa? Presiden?!"
Arka melihat jam tangannya yang murah. TIK... TIK... TIK... "Empat menit lima puluh detik lagi. Saya sudah mengirimkan seluruh data dari chip memori Tuan Jagad semalam ke jalur khusus Jenderal Wironegoro."
"Data itu berisi daftar aliran dana dari 'Lembah Hitam' ke rekening istri simpanan Bapak, juga bukti transfer dari investor di samping Bapak ini untuk menyuap gubernur soal zona militer palsu."
Wajah Sugeng mendadak pucat. JLEB! (Jantungnya seolah berhenti). "K-kau... bagaimana kau tahu?!"
"Saya penjual buku, Pak. Saya membaca banyak hal yang tidak seharusnya dibaca orang lain," jawab Arka tenang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, tampak sangat rileks sementara orang-orang di depannya mulai panik.
Pria berjas dari The Sovereign itu segera merogoh saku jasnya, SREET! hendak mengeluarkan sesuatu, mungkin senjata api atau alat ghaib.
"Jangan dilakukan, Tuan dari Jenewa," ucap Arka tanpa menoleh. "Jika tanganmu bergerak satu sentimeter lagi, aku akan memastikan seluruh saraf motorikmu mati secara permanen melalui getaran udara di ruangan ini."
"Kau tahu siapa aku, kan? Kau sudah lihat apa yang kulakukan pada penembak runduk semalam."
Pria berjas itu membeku. Ia merasakan tekanan udara di lehernya mencekik, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang siap meremukkan tenggorokannya.
Ia menyadari satu hal, Arka Nirwana bukan sedang menggertak. Pria di depannya ini adalah predator puncak yang sedang menyamar jadi domba.
Tiiiit! Tiiiit!
Ponsel Sugeng berdering. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar. "H-halo? Apa?! Polisi di depan rumah?! KPK?! Tapi... tapi..."
Sugeng menjatuhkan ponselnya ke lantai. Ia menatap Arka dengan tatapan horor. "Siapa... siapa kau sebenarnya?"
Arka berdiri, mengambil kembali map cokelatnya yang ternyata hanya berisi tumpukan kertas koran bekas, sebuah pancingan yang cerdik.
"Saya hanya warga negara yang ingin membayar pajak dan jualan buku dengan tenang. Tapi kalian... kalian merusak ketenangan kota saya."
Arka berjalan menuju pintu. "Pak Bambang, mulai besok Anda tidak perlu ke kantor. Anda akan punya banyak waktu untuk membaca buku di dalam sel penjara."
"Saya rekomendasikan buku tentang pertobatan, nanti saya kirim ke lapas."
Begitu Arka keluar dari restoran, sirine polisi benar-benar meraung-raung dari kejauhan, VREEEUMMM... TIYUUUU-TIYUUUU!
Mengepung area tersebut. Arka menaiki motor CB-nya, memasang helm kusamnya, dan melaju santai di antara mobil-mobil polisi yang melesat ke arah restoran. Tak ada satu pun polisi yang curiga pada pemuda berjaket jin lusuh itu.
***
Kembali ke toko "Pustaka Senyap", Arka menemukan Reyna sedang menunggu dengan cemas.
"Sudah selesai?" tanya Reyna.
"Level birokrasi sudah bersih. Sugeng dan jaringannya akan tumbang malam ini. Wironegoro sudah mengurus sisanya,"
SREEEET.
Arka melepas jaketnya, memperlihatkan tato segel di punggungnya yang kini berpendar cokelat lebih terang dari sebelumnya.
"Tapi Arka, pria berjas itu... dia akan melapor ke pusat The Sovereign. Mereka akan tahu kau menggunakan pengaruh militer untuk menghancurkan aset mereka di sini."
Arka menatap ke arah Peta Meridian Nusantara yang terbentang di meja.
"Justru itu tujuanku. Aku ingin mereka fokus mengejar 'bayangan' Jenderal Wironegoro dan intelijen negara, sementara aku... aku akan menghilang ke arah selatan."
Arka menunjuk sebuah titik di peta yang berada di kedalaman samudera, dekat dengan palung laut selatan Jawa.
"Titik meridian pertama, Nadi Samudera. Di sana tersimpan energi yang bisa membuka belenggu fisikku hingga 10%. Aku harus berangkat besok pagi sebelum mereka menyadari bahwa penjual buku ini sudah tidak ada di Batu."
"Bagaimana dengan Dafa?" suara Reyna bergetar.
Arka terdiam lama. Ia menatap kamar lantai dua. "Dia aman bersamamu dan perlindungan dari tim rahasia Wironegoro."
"Aku harus melakukan ini, Rey. Jika aku tidak menjadi kuat, mereka akan terus datang, dan suatu saat... aku tidak akan bisa menangkis peluru itu lagi."
***
Keesokan paginya, warga Jalan Sudirman dikejutkan dengan pengumuman di depan toko Pustaka Senyap:
"TOKO TUTUP SEMENTARA. PEMILIK SEDANG MENCARI KOLEKSI BUKU LANGKA KE PESISIR SELATAN. HARAP MAKLUM."
Arka mengayuh sepedanya menuju terminal, hanya membawa satu ransel kecil.
Di dalam terminal yang ramai, ia masuk ke toilet, dan keluar dengan penampilan yang berbeda, bukan lagi Arka yang kusam, tapi seorang pemuda petualang dengan carrier gunung dan topi rimba.
Ia naik bus jurusan Malang-Selatan. Di dalam bus yang penuh sesak dan panas itu, Arka duduk di pojok paling belakang. Ia memejamkan matanya, mencoba merasakan denyut bumi.
Tiba-tiba, seorang pria tua dengan pakaian compang-camping duduk di sampingnya. Pria itu membawa bau garam yang sangat menyengat, seolah-olah dia baru saja keluar dari rendaman air laut.
"Mencari buku, atau mencari nyawa, Cah Bagus?" bisik pria tua itu tanpa menoleh.
Arka membuka matanya. Ia tidak merasakan aura ghaib dari pria ini, tapi ia merasakan sesuatu yang lebih purba, kekuatan alam murni.
"Saya mencari kebenaran, Kek," jawab Arka tenang.
Pria tua itu terkekeh, mengeluarkan sebuah kerang kecil dari sakunya dan memberikannya pada Arka. KLING. "Lautan itu tidak suka pada orang yang membawa rahasia."
"Jika kau ingin mengambil apa yang ada di bawah sana, kau harus memberikan sesuatu yang paling berharga dalam dirimu sebagai gantinya."
Pria tua itu kemudian turun di pemberhentian yang bahkan bukan sebuah halte, hanya di tengah hutan jati yang sepi.
Arka menatap kerang di tangannya. Saat ia mendekatkan kerang itu ke telinganya, ia tidak mendengar suara ombak. WUUUUUUNGGG...
Ia mendengar suara teriakan ribuan prajurit kuno dan dentuman keris yang sedang ditempa di dalam api bawah laut.
Bus terus melaju menuju pesisir. Namun, Arka menyadari sesuatu. Di kaca spion bus, ia melihat dua buah motor trail hitam tanpa plat nomor terus membuntuti bus tersebut sejak keluar dari batas Kota Batu.
***
Dukung Perjalanan Arka Nirwana dengan Like & Komen. Update setiap hari. Terima kasih.