NovelToon NovelToon
PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

PERJODOHAN YANG MENGGAIRAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Berlian zahhara

Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak yang Tidak Terlihat

Malam itu sunyi dengan cara yang tidak ramah.

Bukan sunyi karena ketiadaan suara, melainkan karena terlalu banyak hal yang tidak diucapkan. Carmela duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak, rambutnya terurai tanpa disisir rapi seperti biasanya. Lampu meja menyala redup, menciptakan bayangan panjang di dinding—seolah ruangan itu menampung lebih banyak rahasia daripada udara.

Matteo berdiri di dekat jendela, ponsel di tangan, layar mati. Ia sudah membaca pesan itu berkali-kali, tapi tidak satu pun kata terasa ringan.

“Dia memintamu pergi,” kata Matteo akhirnya.

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Carmela mengangguk. “Tiga hari. Pertemuan tertutup. Tanpa pengawalan resmi.”

Matteo menghembuskan napas pelan. “Itu jebakan.”

“Atau kesempatan,” balas Carmela. “Tergantung siapa yang datang.”

Matteo berbalik. Wajahnya tenang, terlalu tenang. “Aku tidak suka dunia di mana kau harus sendirian untuk membuktikan sesuatu.”

Carmela menatapnya—lama, dalam. “Aku tidak sendirian. Aku hanya… tidak di sisimu.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti benda rapuh yang tidak boleh disentuh sembarangan.

Permintaan itu datang dari pihak yang tidak bisa diabaikan.

Bukan musuh. Bukan sekutu. Melainkan penentu arah—orang-orang yang tidak peduli pada emosi, hanya pada keseimbangan. Mereka ingin berbicara langsung dengan Carmela, tanpa Matteo, tanpa struktur yang biasa melindunginya.

“Kami ingin tahu apakah keputusan Anda berdiri sendiri,” begitu bunyi pesan resminya. “Atau hanya pantulan.”

Matteo tahu kalimat itu beracun. Dunia selalu mencurigai perempuan yang memilih berdiri di samping pria berkuasa—seolah pilihan itu tidak mungkin lahir dari kemauan sendiri.

“Kau tidak perlu membuktikan apa pun,” kata Matteo.

Carmela berdiri. Ia mendekat, cukup dekat hingga Matteo bisa merasakan kehangatan tubuhnya. “Aku perlu. Untuk diriku.”

Matteo menutup mata sejenak. “Aku takut kehilanganmu.”

Carmela tersenyum kecil. “Aku takut kehilangan diriku sendiri jika aku tidak pergi.”

Kepergian itu tidak dramatis.

Tidak ada perpisahan di depan umum. Tidak ada pelukan panjang di bawah cahaya lampu. Hanya satu mobil gelap di pagi buta, satu koper kecil, dan satu sentuhan singkat di tangan.

“Jangan berubah,” kata Matteo pelan.

Carmela menatapnya. “Kau juga.”

Mobil bergerak. Matteo berdiri sampai bayangannya menghilang.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak memegang kendali.

Tempat pertemuan itu bersih, dingin, dan sengaja anonim.

Carmela duduk di kursi tunggal, menghadap tiga orang di seberang meja. Tidak ada nama. Tidak ada basa-basi. Hanya pertanyaan yang dipilih dengan hati-hati.

“Apakah Anda mencintainya?” tanya salah satu dari mereka, tanpa emosi.

Carmela tidak terkejut. Ia mengangguk. “Ya.”

“Apakah cinta itu memengaruhi keputusan Anda?”

“Cinta memengaruhi caraku melihat risiko,” jawab Carmela. “Bukan caraku menilai fakta.”

“Dan jika suatu hari kepentingannya berseberangan dengan kepentingan Anda?”

Carmela diam sejenak. Lalu berkata, “Maka saya akan memilih kebenaran. Meski itu berarti kehilangan.”

Salah satu dari mereka mencatat sesuatu. Yang lain menatapnya lebih lama.

“Jawaban yang mahal,” katanya.

“Semua yang bernilai memang mahal,” balas Carmela tenang.

Di tempat lain, Matteo menghadapi kesunyiannya sendiri.

Rapat berjalan lancar. Keputusan dibuat. Dunia bergerak. Tapi ada ruang kosong di setiap jeda—ruang yang biasa diisi Carmela dengan pertanyaan-pertanyaan kecil, tatapan yang mengingatkan, atau keheningan yang menenangkan.

Ia hampir mengirim pesan. Hampir.

Lalu ia berhenti.

Jika Carmela pergi untuk berdiri sendiri, Matteo harus belajar tidak menariknya kembali dengan kecemasan.

Itu lebih sulit daripada menghadapi musuh mana pun.

Hari kedua pertemuan membawa tekanan baru.

Mereka menguji Carmela dengan skenario—keputusan hipotetis, konflik kepentingan, dan satu pertanyaan yang terasa terlalu pribadi.

“Jika Matteo Mariano jatuh,” kata salah satu dari mereka, “apa yang akan Anda lakukan?”

Carmela menahan napas. “Saya akan memastikan ia diperlakukan adil.”

“Dan jika keadilan itu merugikan Anda?”

“Saya akan menanggungnya.”

“Tanpa menyesal?”

Carmela mengangkat dagu. “Dengan menyesal. Tapi tetap melakukannya.”

Ada sesuatu yang berubah di ruangan itu. Bukan persetujuan. Bukan penolakan. Pengakuan.

Malam itu, Carmela duduk sendirian di kamar hotel.

Ia menatap ponselnya lama—nama Matteo ada di sana, diam. Ia ingin menceritakan segalanya: pertanyaan-pertanyaan itu, tekanan yang halus, cara dunia memintanya membuktikan diri tanpa belas kasihan.

Tapi ia tidak menekan tombol panggil.

Ia ingin kembali bukan sebagai seseorang yang bertahan—melainkan seseorang yang lulus.

Hari ketiga datang dengan keputusan.

“Kami tidak akan menghalangi peran Anda,” kata salah satu dari mereka. “Namun kami akan mengawasi.”

Carmela mengangguk. “Saya mengharapkannya.”

“Dan satu hal lagi,” lanjutnya. “Kami ingin Anda tahu—ini bukan ujian terakhir.”

Carmela berdiri. “Tidak ada yang pernah terakhir.”

Kepulangan terasa lebih panjang dari keberangkatan.

Saat Carmela akhirnya melangkah masuk ke vila, malam sudah turun. Lampu ruang tengah menyala. Matteo duduk di sofa, berkas di tangan—namun ia berdiri begitu melihat Carmela.

Tidak ada kata-kata di detik pertama. Hanya tatapan.

“Bagaimana?” tanya Matteo akhirnya.

Carmela mendekat. Ia meletakkan koper, lalu menatapnya lurus. “Aku tidak jatuh.”

Matteo menghela napas yang tidak ia sadari sedang ia tahan. Ia meraih Carmela, memeluknya—tidak erat, tidak posesif. Hormat.

“Aku belajar sesuatu,” kata Matteo di sela pelukan.

“Apa?”

“Bahwa mencintaimu berarti membiarkanmu pergi… dan percaya kau akan kembali.”

Carmela menutup mata. “Dan aku belajar bahwa kembali itu pilihan—bukan kewajiban.”

Malam itu mereka duduk berdampingan, berbagi cerita tanpa menyaring. Tidak ada heroisme. Tidak ada penguatan palsu. Hanya kejujuran yang lelah namun utuh.

“Dunia akan terus menguji kita,” kata Matteo.

Carmela mengangguk. “Tapi tidak lagi dengan pertanyaan yang sama.”

Matteo menatapnya. “Apa pertanyaan berikutnya?”

Carmela tersenyum kecil. “Apakah kita bisa tetap utuh… ketika yang diuji bukan posisi, melainkan hati.”

Matteo menggenggam tangannya. “Kita akan cari jawabannya. Bersama.”

Di luar, malam bergerak perlahan. Tidak menjanjikan kedamaian—hanya kelanjutan.

Dan untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.

1
Bibilung 123
sangat luar biasa ceritanya tidak bertele tele tp pasti
adinda berlian zahhara: terimakasih masukannya, author sekarang sedang merevisi cerita supaya menjadi bab yang panjang🙏🙏
total 1 replies
putrie_07
hy thorrr aq suka bacanya, bgussss
adinda berlian zahhara: makasih banyak❤️❤️
kalo ada kritik dan saran boleh banget Kaka 🫰
total 1 replies
putrie_07
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!