NovelToon NovelToon
Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Visionaries Of The Sacred Arc Ujian High Magnus

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Slice of Life / Action / Fantasi / Anime
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Nakuho

melanjutkan perjalanan Lucyfer setelah kekalahan nya dengan Toma.

kini Lucyfer bergabung dengan kelompok Toma dan akan masuk ke ujian high magnus tapi memerlukan 2 orang tambahan.

setelah 2 slot itu di isi mereka kini menghadapi satu masalah akademi odler adalah musuh yang sulit dan tidak mudah di lawan.

arc ini juga memperkuat beberapa character

dan pertarungan masa lalu sang penyihir kegelapan yang bebas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

setelah mereka pergi 2 orang muncul

Di dalam dimensi hutan malam, Lentera Jiwa berapi merah milik Lucyfer dan timnya menyala tenang di tengah kegelapan.

Bayangan pepohonan bergoyang pelan, ditemani suara serangga malam yang samar.

Lucyfer melangkah maju, lalu mengangkat tongkat sihirnya.

“Sihir kloning element:kayu bunker"

Tanah bergetar perlahan.

Akar-akar raksasa muncul dari dalam tanah, saling menjalin, menutup Lentera Jiwa hingga membentuk sebuah kubah pertahanan. Dalam hitungan detik, bagian dalam bungker berubah menjadi gelap gulita.

Namun Lucyfer kembali mengangkat tangannya.

Fwoosh.

Satu obor menyala, disusul beberapa obor lain yang menyala serentak.

“Nah,” ujar Lucyfer tenang.

“Ini untuk kalian bertujuh. Kalau apinya padam, langsung bilang ke aku.”

Ia membagikan obor satu per satu.

“Waaah…,” Toma menatap sekeliling dengan kagum.

“Dengan pertahanan begini kita jelas aman. Tapi… gimana caranya keluar-masuk?”

Lucyfer tersenyum tipis.

“Tenang. Aku sudah atur jalurnya.”

Ia menunjuk dinding akar.

“Nanti akan muncul kepala naga kayu. Dia akan memberi pertanyaan: ‘Semakin diambil, semakin bertambah banyak—apa itu?’”

“Jawabannya cuma satu,” lanjut Lucyfer santai.

“Bisikkan kata ‘lubang’, dan jalan keluar akan terbuka.”

Varen mengangguk kagum sambil mengacungkan jempol.

“Ribet sih… tapi keamanannya gila.”

“Sudah,” kata Lucyfer.

“Ayo keluar. Kita cari bahan makan malam. Mudah-mudahan alam sini ramah.”

Sylvara melangkah mendekat.

“Apa aku boleh mengalahkan tim lain kalau ketemu?”

Sebelum Lucyfer menjawab, Klee tiba-tiba memeluk Sylvara dari belakang.

“Nggak boleh!” serunya.

“Kita satu tim, ingat!”

Selesia mengangkat tongkat sihirnya.

“Ayo ikut Lucyfer. Alven, kamu yang bawa kayu.”

Ia melilit tubuh Alven dengan sihir ringan.

“OI! OI!” teriak Alven kesal.

“Gw mau di sini aja, tidur!”

Elviera berjalan di sisi Lucyfer.

“Tuan muda, aku sudah punya daftar bahan dan menu yang bisa kita buat malam ini.”

Toma menepuk bahu Varen.

“Kau jaga benteng, ya.”

Varen langsung panik.

“EH?! Jangan tinggalin gw sendirian dong!”

Alven tiba-tiba menutup kubah dari dalam, lalu berjalan menjauh.

“AYOOO!”

Varen hanya bisa menghela napas panjang.

Namun—

di balik lehernya, samar terlihat bekas tiga cakar merah berdarah, hampir tertutup kerah bajunya itu tanda kalau ada seseorang di dalam area 10 meter.

Di dalam hutan, Lucyfer dan yang lain mulai mengumpulkan bahan.

Sylvara dan Klee memetik sayuran sihir, Elviera mencatat dan mengatur, Selesia membantu Toma, sementara Alven berburu hewan liar dengan wajah malas tapi gerakan cekatan.

Lucyfer menatap gelapnya hutan.

“Aku… entah kenapa nggak tenang ninggalin Varen.”

“Tenang saja,” jawab Toma percaya diri.

“Aku percaya sama dia.”

Sementara itu—

kembali di sekitar bungker.

Sesuatu tak terlihat mencoba mendekat. Aura gelap menekan udara, tapi langsung terhenti.

Seekor naga kayu raksasa bergerak perlahan, melingkari kubah pertahanan. Tubuhnya menjalar seperti ular, sisiknya terbuat dari kayu hidup yang terus beregenerasi.

Bayangan hitam kemerahan mundur perlahan.

“Tak bisa,” sebuah suara terdengar lewat telepati.

“Pertahanan mereka ekstrem.”

“Kayunya keras, regeneratif, dan dijaga 7 naga kayu yang seperti ular raksasa. Tidak ada celah.”

“Menyerang sekarang mustahil.”

Kehadiran itu pun menghilang, meninggalkan bungker tanpa jejak.

Malam semakin larut.

Lucyfer dan yang lain kembali ke bungker dengan membawa banyak kayu bakar dan bahan makanan.

Lucyfer menghela napas lega.

“Wah… dia malah tidur.”

Varen tertidur pulas di sudut bungker.

Toma menggoyangnya perlahan.

“Varen, bangun. Kita makan malam.”

Varen membuka mata setengah sadar, menguap panjang.

“Ahh… iya, iya…”

Namun—

di balik kelopak matanya yang mengantuk,

ada sesuatu yang berkilat aneh, seolah bukan hanya rasa lelah yang bersarang di dalam dirinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!