Tak pernah terlintas di benak Casey Cloud bahwa hidupnya akan berbelok drastis. Menikah dengan Jayden Spencer, dokter senior yang terkenal galak, sinis, dan perfeksionis setengah mati. Semua gara-gara wasiat sang nenek yang tak bisa dia tolak.
"Jangan harap malam ini kita akan bersentuhan, melihatmu saja aku butuh usaha menahan mual, bahkan aku tidak mau satu ruangan denganmu." Jayden Spencer
"Apa kau pikir aku mau? Tenang saja, aku lebih bernafsu lihat satpam komplek joging tiap pagi dibanding lihat kau mandi." Casey Cloud.
Di balik janji pernikahan yang hambar, rumah sakit tempat keduanya bekerja diam-diam menjadi tempat panggung rahasia, di mana kompetisi sengit, dan kemungkinan tumbuhnya cinta yang tidak mereka duga.
Mampukah dua dokter dengan kepribadian bertolak belakang ini bertahan dalam pernikahan tanpa cinta ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden di Kamar
Melihat Casey telanjang bulat, secepat kilat Jayden memalingkan muka.
"Kau gila atau apa? Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau ada di kamarku sekarang?" tanya Jayden dengan jantung berdegup kencang.
Reaksi Jayden, tentu saja membuat Casey jadi mendadak kesal. Dia sampai melupakan keadaan tubuhnya tanpa sehelai benang pun.
"Aku pakai kamar mandimu karena air di kamarku nggak nyala! Pak Tarno bilang sama aku kalau pakai kamar mandi sebelah! Biasa saja sih nggak usah marah-marah, ya wajar aku tanya, setahuku kau kan masih di tempat praktikmu!" protes Casey seketika.
Sontak balasan Casey, membuat Jayden reflek mengalihkan pandangan. Seharusnya dia sudah biasa melihat wanita bertelanjang, dia dokter! Tentu saja hal yang lumrah! Tapi entah mengapa melihat tubuh Casey, jantungnya memberi respon yang berbeda. Menyadari hal itu, pikiran Jayden diliputi tanda tanya besar sekarang.
"Sudah selesai, pasienku malam ini hanya beberapa orang saja, jelas aku marah-marah kau dalam keadaan telanjang bulat sekarang dan kenapa kau nggak pakai handukmu," ucap Jayden, nada suaranya sedikit menggebu-gebu.
Jayden dapat melihat dengan jelas seluruh badan Casey, tampak bersih, padat dan terlihat sangat menggiurkan di matanya.
Jayden memalingkan muka lagi ke samping sambil berkata di dalam hati. 'Astaga, aku mikir apa sih, jantungku juga kenapa ini.'
Casey yang baru saja mendengar balasan. Baru saja ingat, kedua matanya langsung melirik ke bawah sana.
Casey membelalakan mata lalu dengan cepat mencari keberadaan handuknya di lantai. Namun, benda lembut yang dicari tak juga ada di sana.
"Hah kok handukku nggak ada, padahal tadi aku gantung di depan pintu, masa handukku jalan-jalan, kan nggak mungkin," gumam Casey dengan kening berkerut kuat, sambil matanya bergerak ke segala arah hendak mencari handuknya.
Namun, gumaman Casey dapat didengar Jayden.
"Kau pasti sengaja mau menggodaku," celetuk Jayden tanpa menoleh ke depan. Jayden tiba-tiba terkejut dengan ucapannya barusan.
Mendengar balasan, secepat kilat Casey menghampiri Jayden dengan mata melebar sempurna. Biasanya Casey tak mudah terpancing emosi, tapi bila berhadapan dengan Jayden, dia selalu tak bisa mengontrol emosinya.
"Heh, jangan kegeeran kau! Kau itu bukan tipeku! Jadi untuk apa aku menggodamu! Sekarang kenapa kau memalingkan wajahmu, katanya kau nggak bernafsu melihat tubuhku?!" seru Casey, dan sekarang berdiri tepat di hadapan Jayden dengan jarak yang sangat dekat, hingga jantung Jayden hampir saja meledak.
Casey tak peduli lagi dengan keadaan tubuhnya, yang masih polos dan basah. Lagipula mereka sudah menikah, Jayden juga tidak mungkin akan menerkamnya. Lelaki itu hanya bernafsu dengan Dea, begitu pikir Casey.
Perkataan Casey terdengar remeh di telinga Jayden. Jayden mulai terbawa emosi lantas menatap ke depan. Mata lelaki itu semakin melebar, jakunnya mulai naik dan turun, menahan gairahnya agar tak memuncak.
Dengan susah payah Jayden menelan ludah. Aroma sabun yang menguar dari tubuh Casey, membuat napasnya mulai tak stabil.
'Sial! Ini sudah jelas dia pasti mau menggodaku! Jangan lengah Jayden.' batin Jayden sesaat, matanya mulai bergerak ke segala arah, berharap perhatiannya tak terpusat pada wanita di hadapannya yang membuat jantungnya masih berdetak tak karuan.
"Memang aku nggak bernafsu kok, jangan salah sangka kau, aku sengaja memalingkan mukaku, karena mataku sakit melihat tubuh jelekmu itu," balas Jayden, matanya masih bergerak ke sana kemari. Namun, sialnya matanya seperti tak mau diajak kerjasama.
Casey semakin naik pitam dengan ucapan suaminya. Tanpa pikir panjang dia mencengkram kerah kemeja Jayden sambil membusungkan dada ke depan.
"Kau bilang matamu sakit kan! Nih lihat badanku, lihat!" serunya.
"Heh lepaskan aku wanita gila!" Seperti aliran listrik, Jayden tersentak sekaligus panik, sebab gundukan menantang itu bersentuhan dengan kulitnya sekarang. Sampai-sampai membuat pikiran Jayden melang-lang buana ke mana-mana.
"Wanita gila katamu?!" Casey makin tersulut emosi. Selain galak, mulut Jayden ternyata juga pedas!
"Fine, aku akan menunjukkan padamu seberapa gilanya aku!" tambahnya.
Lalu tanpa pikir panjang, Casey mengangkat tangan ke udara hendak melayangkan pukulan ke wajah Jayden dan menyilangkan kakinya ke kaki pria di hadapannya.
Tapi, Jayden yang pandai membaca situasi, malah memelintir tangan Casey. Casey juga tak mau kalah, alhasil ....
Bruk!
"Awh!"
Jayden menimpa tubuh Casey, secara bersamaan pula pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Ya ampun, anak zaman sekarang buat anak kok malah di lantai, ckck!"
"Nenek!"