NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana

Wanita Mantan Narapidana

Status: tamat
Genre:Single Mom / Janda / Selingkuh / Bad Boy / Chicklit / Tamat
Popularitas:30.8k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Lembayung Senja, namanya begitu indah, namun, tak seindah nasib hidupnya.

Pernikahannya bahagia, tapi rusak setelah seorang wanita hadir diantara dirinya dan sang suami.

Fitnah yang kejam menghampirinya, hingga ia harus berakhir di penjara dengan tuduhan membunuh suaminya sendiri pada malam pertengkaran terakhir mereka.

Kelahiran bayi yang seharusnya menjadi hadiah pernikahannya bersama Restu Singgih suaminya, justru harus di warnai tangis nestapa, karena Lembayung melahirkan bayinya di balik jeruji penjara. Dua puluh tahun berlalu, Lembayung mendekam di penjara atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.

Setelah bebas, Albiru justru berkata bahwa ia malu memiliki Ibu seorang mantan narapidana.

Akankah Lembayung menemukan kembali kabahagiannya setelah sekian lama menanggung derita tanpa berbuat dosa? Bagaimana Lembayung memperbaiki hubungan dengan Biru yang kini telah sukses? Pembalasan apa yang akan Lembayung lakukan pada orang-orang yang telah mengkhianatinya dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayu Kini

#26

“Makan dulu, ya,” kata Karmila yang dengan telaten mengisi piring Biru dengan nasi dan lauk pauk kesukaan putranya. 

Kini, di meja makan ada Ismail, dan juga Karmila yang menaninya makan. Sementara ini Firza disuruh menunggu di kamar, karena Karmila dan Ismail ingin bicara secara pribadi dengan Biru. 

Beberapa saat lalu, Biru sudah selesai mandi dan sholat. Kini Karmila duduk dan menemani Biru makan malam, karena tadi pun ia tak selera makan, dikarenakan Biru belum pulang ke rumah. 

Biru mulai makan tanpa bicara, Karmila hanya menatap Biru tanpa bicara, sambil Biru menyantap hidangan di usapnya kepala dan rambut Biru dengan sayang. 

“Biru dari mana, tadi?” 

Hening sejenak sebelum Biru mulai menjawab, “Dari makam paman, Mak.” 

Sebelumnya Biru hanya tahu bahwa Restu Singgih adalah pamannya, maka panggilannya pada Restu pun belum berubah. 

“Mamak dan Ayah sayang sekali sama Biru, tak pernah kami menganggap kau keponakan. Karena sejak kami menerima kedatanganmu dalam hidup kami, sejak saat itu pula kau menjadi anak kandung Ayah dan Mamak.” 

“Mamak memberimu ASI yang sama dengan Firza, makanan yang sama, kasih sayang dan perhatian yang sama. Bila Firza salah Mamak memarahinya, begitu pula bila kau yang salah. Bila Kau benar sementara Firza yang salah, kami tetap menegur yang bersalah, tak lantas menegur kau yang berbuat benar.” 

“Di luar sana, orang-orang boleh berkata apapun tentang anak Mamak ini. Tapi bagi Mamak dan Ayah, Biru tetap anak sholeh Mamak dan Ayah. Mamak yakin Biru tak akan bersikap buruk kendati Biru jauh dari Mamak dan Ayah. Iya, kan, Nak?” 

Karmila mengakhiri kalimat panjangnya, berdebar menanti reaksi Biru yang masih diam sambil menyantap masakan Kamila, bibi sekaligus ibu susu yang merawatnya sejak bayi. 

Selesai makan. 

“Jadi siapa Mamak kandungku, Mak? Yah?” tanya Biru pada dua orang yang selama ini ia anggap orang tua kandung. 

Raut wajah Biru berubah muram, kedua matanya berkaca-kaca karena perasaannya yang sedang terluka. 

“Apa Biru sungguh-sungguh ingin tahu?” Ismail ikut bertanya. 

Biru mengangguk, seketika batin Karmila menjerit pilu, meski tahu bahwa hari ini pasti akan tiba tanpa perlu menunggu. Tapi kenapa rasanya belum rela? 

“Cukup percaya satu hal, bahwa mamak kau wanita baik, Nak. Dia menyayangi Biru melebihi rasa sayangnya pada apapun di dunia ini,” tutur Ismail. 

“Jika dia menyayangiku, kenapa membiarkan aku tinggal dengan Mamak dan Ayah?” tuntut Biru. 

“Karena mamak kau tak diberi pilihan lain, sementara melepasmu untuk tinggal di panti asuhan pun mamak kau tak akan tega.” 

“Nasib buruk menghampirinya bukan karena ia jahat. Tapi orang-orang jahat membuatnya terjebak di balik jeruji penjara, dia hanya tak beruntung disebabkan orang-orang jahat itu memanfaatkan sisi lemahnya sebagai istri dan wanita yang tidak tahu apa-apa pada saat itu,” sambung Ismail. 

Meledak seketika tangisan Biru, hatinya yang murni merasakan luka perih untuk pertama kali, tapi waktu yang telah lalu, tak mungkin kembali. Karmila hanya bisa memeluk dan mengusap kepala Biru yang sesenggukan di pelukan ibu angkatnya, sebisa mungkin berusaha membesarkan hati putranya. 

Kini tugas utama Karmila dan Ismail adalah bagaimana agar mereka tetap bisa berada di samping Biru, di antara banyaknya pengaruh-pengaruh negatif yang berseliweran di sekitar Biru. Terutama dari Bu Halimah, nenek kandung Biru sendiri. 

“Namun, hingga kini, dengan segenap kemampuan yang ia miliki ia tetap berusaha membiayai hidupmu, walau kami sudah melarang. Bayangkan betapa sulitnya mengumpulkan uang dari balik jeruji besi tahanan. Tapi dia, ibumu selalu berusaha itu, demi memberikan yang terbaik untukmu, Biru.”

•••

Malam harinya setelah Biru dan Firza tertidur, Ismail duduk bersama sang istri di pembaringan mereka. 

“Bang, aku tahu hari ini pasti akan datang, tapi kenapa hatiku masih belum siap, ya?” gumam Karmila dengan suara sangat pelan, mungkin hanya mereka berdua yang mendengarnya. 

Ismail menghela nafas berat, sama halnya dengan Karmila, pria itu pun merasakan hal yang sama dengan perasaan istrinya. 

“Abang pun merasakan hal yang sama, Mil. Abang belum siap mungkin juga tak rela jika kelak Biru hanya menganggap kita sebagai paman dan bibi saja. Semoga memiliki perasaan ini tak membuat kita berdosa, ya?” 

Sepasang suami istri itu saling bergenggaman tangan, tetap saling menguatkan satu sama lain. Biar bagaimanapun, saat ini Biru masih menjadi anak mereka hingga kelak suatu saat Biru mungkin akan memilih tinggal bersama ibu kandungnya. 

•••

Sementara itu, di lapas. 

Seperti biasa hari ini Giana datang menyambangi Ayu di lapas, sambil mengisi kelas tata busana untuk para napi yang berminat dengan jahit menjahit, serta merancang busana. 

Tahun-tahun yang panjang telah berlalu, Ayu lewati di balik jeruji, karena pengajuan peninjauan ulang kasus meninggalnya Restu suaminya, ternyata cukup sulit. Penyebabnya, karena orang-orang yang dulu terlibat, kini telah membentuk rezim yang semakin kuat hingga sulit untuk di lengserkan. 

Akhirnya, Tuan Dandi -pengacara Giana- menyarankan agar mereka menunggu waktu yang tepat, kendati harus melalui puluhan tahun yang suram. Tapi roda dunia akan terus berputar, orang-orang tak akan selamanya bertahan di tahta paling atas. Suatu saat pasti ia akan lengser jua, hanya tinggal perkara waktu. 

Sambil menunggu kesempatan itu datang, Ayu terus menempa dirinya, agar menjadi mawar berduri. Cantik, namun, terlindung oleh duri tajam yang mengelilinginya. Lemah lembut, namun bukan berarti ia mudah ditindas seperti dulu. 

Pengalaman telah mengajarkan segalanya pada Ayu, anggap saja dirinya kini adalah kepompong yang tinggal menunggu waktu untuk mengepakkan kedua sayapnya. 

Kini, secara diam-diam Ayu telah menjadi seorang perancang busana, walau masih bernaung di bawah merk Madam Gi. Tapi merk Ls, juga memiliki banyak peminat sejak kemunculan pertamanya beberapa tahun silam dengan bantuan Giana. 

Walau masih berada di balik jeruji, bukan berarti kreatifitas Ayu ikut mati,  justru Ayu bisa mencurahkan seluruh waktunya untuk mengembangkan bakat yang muncul karena ia mulai suka pada semua hal yang berkaitan dengan pernak-pernik membuat desain pakaian. 

Jadi selain menerima pekerjaan menjahit pesanan pakaian dari pabrik, sisanya Ayu bisa memanfaatkan waktunya untuk menggambar rancangan busana yang nanti harus melalui acc dari Giana sebelum pakaian itu di jahit massal dalam jumlah tertentu sesuai pesanan. 

Hasilnya bukan cuma lumayan, tapi juga sangat besar, hingga setiap bulan Ayu bisa mengirimkan uang untuk keperluan biru, melalui tangan Giana. 

“Mari kita lihat desain apa yang kamu keluarkan untuk periode ini,” gumam Giana ketika menerima buku sketsa milik Ayu. 

Dengan dada berdebar Ayu mula mempresentasikan hasil rancangannya, seperti seorang mahasiswa yang mempresentasikan tugas kuliahnya. 

“Kemampuanmu semakin mengerikan, ya?” gumam Giana hingga membuat Ayu tersipu malu. 

Giana menatap lembar demi lembar yang berisi goresan Ayu, gaun-gaun indah hasil imajinasi wanita itu, warna-warna natural yang menjadi ciri khas seorang Lembayung Senja. 

“Hanya saja aku ingin kamu sedikit merevisi ini, aku merasa kurang sreg dengan lekukan ini.” 

Giana menjelaskan detail kecil mana saja yang harus Ayu revisi, “Tapi lekukan ini akan lebih menonjolkan bentuk tubuh pemakainya, Bu,” sanggah Ayu, mencoba mempertahankan pendapatnya. 

“Mmm, begini saja, gimana kalau kamu coba membuatnya untuk dirimu sendiri,” usul Giana memberi solusi. 

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sekarang baru terasa ya😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
memudar
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Pantes aja desainnya hasil curian semua karena emang otaknya ga mampu😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Didikan yg salah 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
Eva Karmita
ayu kamu harus kuat 😭😭😭😭
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
bagusss
Rahmawati
oke, lanjutttt
Endang Sulistia
Alhamdulillah ya yu...
Bun cie
karya yg bagus👍 cerita ttg ketidakadilan perselingkuhan fitnah dan kasih sayang ibu anak yg dikemas dengan baik.
trims kak thor
Er Ri
tetap lanjut dooonkk😄
Aditya hp/ bunda Lia
disini kekuasaan dan uang mengalahkan segalanya
R⁵
astaghfirullah othor bikin jantungan.. tau2 end wae😓
Patrick Khan
q kira tamat beneran..😁😁ternyata ada lanjutan nyok pindah tempat
DozkyCrazy
kaggettt 😁😁
Esther Lestari
dilanjut di judul yang lain....mampir ah
Siti Siti Saadah
baru di balas anak nya aja udah makjleb. gimana kalau ayu dah beraksi😄
Reni
huaaaaaa meluncur kak
Miranda mengutamakan cinta buta mungkinkah bakal cinta mati sama biru kita tunggu disebelah
Sh
ayoooo.. loyo makan apa ? atau dikasih koyo cabe biar the end sekalian😅😅
Nar Sih
ayu pasti jdi wanita hebat dgn bantuan juga arahan dri madam giana ,org yg sama,,terluka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!