Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 — SUMUR
Malam itu, Desa Wanasari tidak tidur.
Obor-obor bambu dipasang di sepanjang jalan utama, menciptakan lorong api yang membelah kegelapan hutan. Asap dari damar dan kemenyan membumbung rendah, menyelimuti tanah dengan kabut berbau manis yang menyesakkan dada.
Di bawah paksaan halus Bu Kanti—dan tatapan mengancam beberapa pemuda desa yang "mengawal" rumah Joglo—Nara, Dion, Raka, Siska, dan Lala digiring menuju Balai Desa.
Lala berjalan paling depan. Ia sudah berganti pakaian. Bukan lagi kemeja flanel mahasiswa, melainkan kebaya kutubaru tua berwarna merah marun yang entah ia dapat dari mana. Rambutnya disanggul asal, leher jenjangnya terekspos, berkilau oleh keringat. Ia tidak tampak takut. Sebaliknya, ia berjalan dengan dagu terangkat, seolah ia adalah primadona yang sedang menuju panggung kehormatan.
"Siska, pegang tangan gue. Jangan lepas," bisik Nara, mengeratkan genggamannya pada tangan Siska yang sedingin es.
Dion berjalan di samping Nara, matanya liar mengamati sekitar. "Perhatiin warga, Nar. Mereka nggak ngobrol."
Benar. Puluhan warga yang berjalan beriringan dengan mereka sama sekali membisu. Langkah kaki mereka serentak, tanpa suara gesekan sandal. Hanya deru napas dan keretak api obor yang terdengar.
Sesampainya di Balai Desa, pemandangan itu membuat nyali Raka menciut.
Di tengah pendopo besar itu, hamparan tikar pandan sudah digelar. Di tengahnya, terdapat gunungan sesajen raksasa: kepala kerbau yang masih meneteskan darah, nampan-nampan berisi bunga tujuh rupa, dan gelas-gelas berisi cairan hitam pekat—cairan yang sama dengan "rawon" semalam.
Di sudut pendopo, seperangkat gamelan tua dimainkan oleh penabuh-penabuh yang matanya tertutup kain hitam. Iramanya lambat, mistis, dan nadanya terdengar sumbang di telinga, seolah disetel untuk frekuensi yang bukan untuk pendengaran manusia.
Nung... Nung... Gong...
"Duduk di sini, tamu agung," Pak Wiryo menyambut mereka. Ia mengenakan beskap hitam lengkap dengan keris di punggung. Wajahnya berseri-seri, seolah ia baru saja memenangkan lotre.
Mereka didudukkan di barisan paling depan, menghadap langsung ke arah sesajen kepala kerbau. Mata kerbau yang mati itu melotot, seakan menuduh mereka atas dosa yang belum mereka lakukan.
"Mana Bima?" tanya Nara tajam, mengabaikan basa-basi. "Bapak bilang ini acara desa. Bima harusnya ada di sini kalau dia emang 'jalan-jalan'."
Pak Wiryo tertawa pelan. "Nak Bima ada di tempat khusus. Dia sedang... dipersiapkan. Jangan khawatir, nanti kalian bertemu."
Sebelum Nara sempat membantah, suara sinden melengking tinggi membelah udara malam. Suaranya menyayat hati, menyanyikan tembang Jawa kuno yang liriknya tidak bisa dipahami, namun getarannya membuat tulang rusuk bergetar.
Ritual dimulai.
Para warga mulai makan. Mereka mengambil nasi dan daging dari tampah besar, makan dengan tangan, dalam diam.
Raka merasa pusing. Asap kemenyan itu membuatnya mabuk. Dadanya—tepat di bekas cakaran itu—terasa panas luar biasa. Seperti ada bara api yang ditempelkan ke kulitnya.
Ia menggaruk dadanya gelisah. Keringat dingin mengucur deras.
"Gerah ya, Mas?"
Sebuah bisikan lembut menyapa telinga kanannya.
Raka menoleh. Jantungnya berdesir.
Di sebelahnya, bukan Dion yang duduk. Melainkan Rini.
Gadis desa yang tempo hari Raka goda saat sedang mencuci baju di sungai, kini duduk bersimpuh di sampingnya. Tapi Rini malam ini berbeda. Sangat berbeda.
Rini memakai kemben jarik yang membalut tubuh rampingnya dengan ketat. Kulitnya yang sawo matang terlihat licin, diolesi minyak yang berbau melati. Bibirnya merah basah. Dan matanya... mata Rini menatap Raka dengan intensitas yang membuat Raka merasa telanjang.
"Rini?" bisik Raka, suaranya parau.
"Di sini panas, Mas," kata Rini, jarinya yang lentik menyentuh paha Raka. Kukunya panjang dan runcing. "Sumpek. Bau orang tua."
"Gue... gue nggak bisa napas," Raka melonggarkan kerah kemejanya. Ia merasa tercekik oleh atmosfer Balai Desa.
"Ikut Rini yuk," ajak gadis itu. "Ke tempat yang adem. Ada air segar."
Raka menatap teman-temannya. Nara sedang sibuk berdebat pelan dengan Dion. Siska menunduk berdoa. Lala sudah maju ke depan, menari pelan mengikuti irama gamelan dengan gerakan yang kaku dan patah-patah, dikelilingi warga yang bertepuk tangan tanpa suara.
Tidak ada yang memperhatikan Raka.
"Ke mana?" tanya Raka, seperti orang yang dihipnotis.
"Ke sumber air. Mas Raka kan haus," Rini berdiri, mengulurkan tangannya.
Raka menyambut tangan itu.
Dingin. Tangan Rini sedingin mayat yang baru dikeluarkan dari lemari pendingin. Tapi anehnya, sentuhan itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang menjalar dari tangan ke selangkangan, lalu ke otak Raka, mematikan logika bahayanya.
Raka berdiri. Kakinya melangkah mengikuti Rini, menjauh dari keramaian, menjauh dari cahaya obor, menuju kegelapan di belakang Balai Desa.
Tidak ada yang mencegahnya. Bahkan Pak Wiryo hanya melirik sekilas, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum lebar.
Mereka berjalan menembus kebun bambu yang rapat. Suara gamelan perlahan menjauh, berganti dengan suara angin yang mendesis di antara daun-daun bambu. Srek... srek...
Raka berjalan seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Pikirannya kabur. Yang ia tahu hanyalah rasa panas di dadanya dan sosok Rini yang berjalan melenggok di depannya. Pinggul gadis itu bergoyang hipnotis.
"Rin, ini mau ke mana? Gelap banget," racau Raka. Kakinya tersandung akar pohon, tapi ia tidak jatuh. Rini menahannya dengan kekuatan yang tidak wajar untuk gadis sekecil itu.
"Sebentar lagi, Mas. Sabar..."
Mereka tiba di sebuah area terbuka di tengah hutan. Di sana, di bawah sinar bulan yang temaram, terdapat sebuah struktur batu tua.
Sumur Keramat.
Bukan sumur di belakang Joglo. Ini sumur induk. Diameternya dua kali lebih besar, bibir sumurnya terbuat dari batu andesit kuno yang dipahat dengan relief-relief aneh—gambar manusia tanpa kepala, ular yang memakan ekornya sendiri, dan janin-janin yang meringkuk.
"Kita ngapain di sini?" tanya Raka. Kesadarannya mulai kembali sedikit karena hawa dingin hutan yang menusuk.
Rini berbalik. Ia berdiri tepat di bibir sumur, membelakangi lubang hitam itu.
"Mas Raka inget mimpi Mas Raka?" tanya Rini. Suaranya berubah. Lebih berat. Lebih berwibawa.
"Mimpi..." Raka memegang dadanya yang perih.
Rini melangkah maju, mendekatkan tubuhnya ke Raka. Aroma melati busuk dan tanah basah menguar tajam dari tubuhnya. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Raka, lalu perlahan turun ke dada.
"Sakit ya?" bisik Rini, jarinya menelusuri bekas cakaran di balik baju Raka. "Itu tanda cinta, Mas. Tanda kalau Mas Raka sudah dipilih."
"Dipilih buat apa?" napas Raka memburu. Kedekatan fisik ini memabukkan. Rini menempelkan tubuhnya, payudaranya menekan dada Raka.
"Buat jadi bapak," kikik Rini. "Anak-anak di bawah sana butuh bapak baru. Bapak yang muda. Yang kuat. Yang benihnya banyak."
Rini menarik wajah Raka mendekat, seolah hendak menciumnya. Bibir mereka hampir bersentuhan. Raka memejamkan mata, pasrah pada hasrat yang membludak.
"Lihat ke air, Mas," bisik Rini tepat di bibir Raka. "Lihat calon istrimu."
Rini memutar tubuh Raka dengan kasar, memaksanya menunduk menatap ke dalam sumur.
Raka mencengkeram bibir sumur batu itu agar tidak jatuh. Ia menatap ke bawah.
Air sumur itu tidak hitam. Air itu bercahaya hijau pudar, seolah ada lampu neon yang menyala di dasarnya. Permukaannya tenang seperti cermin.
Di pantulan air, Raka melihat wajahnya sendiri.
Tapi kemudian, wajah itu berubah.
Kulit wajah Raka di pantulan air itu melepuh, mengelupas, lalu rontok, menyisakan tengkorak yang menyeringai. Dan di samping pantulan tengkorak Raka, ada wajah lain yang muncul dari dalam air.
Wajah Wanita Sumur dari mimpinya.
Matanya hitam legam. Rambutnya mengambang memenuhi permukaan air.
Wanita di pantulan air itu tersenyum, lalu tangannya—tangan pucat yang basah—keluar dari permukaan air, memanjang secara tidak wajar, naik ke atas dinding sumur dengan kecepatan kilat.
Sraaaak!
Tangan itu mencengkeram kerah baju Raka yang asli, menariknya kuat-kuat ke bawah.
"ANJING!" Raka berteriak, tersentak mundur.
Tapi Rini ada di belakangnya. Rini bukan lagi gadis desa yang manis.
Raka menoleh dan melihat wajah Rini retak. Kulit pipinya sobek, menampakkan daging merah di bawahnya. Mulutnya menganga terlalu lebar, hingga ke telinga, memperlihatkan barisan gigi yang runcing-runcing seperti gigi ikan piranha.
"JANGAN NOLAK!" bentak Rini. Suaranya seperti gabungan seribu orang yang berteriak bersamaan.
Rini mendorong punggung Raka dengan kekuatan monster.
Raka terhuyung ke depan. Pinggangnya menghantam bibir sumur batu. Rasa sakit meledak di tulang rusuknya, tapi rasa takutnya jauh lebih besar.
Tangan hantu dari dalam sumur itu sudah melilit lehernya, menariknya masuk.
"Tolong! Nara! Dion!" Raka meronta, kakinya menendang-nendang udara.
"Nggak ada yang denger, Sayang," desis Rini, yang kini merayap naik ke punggung Raka, memeluknya seperti koala, memberatkan tubuhnya agar jatuh ke dalam sumur. "Kita bikin anak di dalem air. Dingin-dingin enak."
Raka bisa mencium bau napas Rini—bau bangkai tikus. Ia merasakan air liur Rini menetes ke lehernya.
Tubuh Raka miring. Kakinya terangkat dari tanah. Kepala dan setengah badannya sudah masuk ke dalam rongga sumur yang gelap dan berbau amis.
Di bawah sana, di kedalaman air yang bercahaya hijau, Raka melihat sesuatu yang membuat akal sehatnya putus seketika.
Bima.
Bima ada di sana. Mengambang tepat di bawah permukaan air.
Tapi Bima sudah tidak utuh.
Kulit Bima pucat, matanya melotot putih. Dan dari mulut Bima yang terbuka lebar, keluar belut-belut hitam kecil yang menggeliat. Tubuh Bima dikelilingi oleh... bayi-bayi.
Bukan bayi manusia. Tapi janin-janin merah sebesar kucing, dengan kepala besar dan mata hitam, berenang mengelilingi mayat Bima seperti ikan yang mengerubuti umpan.
"Liat temenmu?" bisik wanita sumur yang tangannya melilit leher Raka. "Dia gagal. Rahimku nolak benih dia. Dia cuma jadi makanan anak-anak. Kalau kamu... kamu pasti beda."
"LEPASIN GUE!" Raka menjerit, air mata dan ingus bercampur di wajahnya.
Dalam keputusasaan, tangan Raka meraba-raba pinggangnya. Gesper. Gesper kulitnya yang berujung logam berat.
Dengan sisa tenaga terakhir, Raka melepaskan satu tangannya dari bibir sumur, mencabut gesper itu, dan mengayunkannya membabi buta ke belakang.
BUK!
Kepala gesper logam itu menghantam wajah Rini—atau makhluk yang menyerupai Rini—tepat di mata kirinya.
"ARGGHHH!" Rini menjerit. Suaranya melengking memecahkan gendang telinga.
Cengkeraman di punggung Raka melonggar sesaat.
Raka menggunakan kesempatan itu. Ia menendang dinding dalam sumur sekuat tenaga, melontarkan tubuhnya ke belakang, menjauh dari lubang neraka itu.
Raka jatuh berguling di tanah berbatu. Napasnya putus-putus. Ia tidak berani menoleh. Ia merangkak—literal merangkak dengan tangan dan kaki—menjauh dari sumur.
Dari dalam sumur, terdengar suara geraman marah. Air bergolak hebat.
"LARI, RAKAAAA!" suara di kepalanya berteriak.
Raka bangkit, berlari menembus hutan bambu. Ia tidak peduli duri-duri bambu merobek kulit lengannya. Ia tidak peduli kakinya tersandung akar. Ia lari seperti orang gila.
Di belakangnya, ia mendengar suara keplak-keplak basah. Seperti suara telapak kaki basah yang mengejar di atas tanah.
Dan suara tawa Rini yang bergema di seluruh hutan:
"Lari yang kencang, Mas! Biar darahnya makin panas! Biar makin enak rasanya!"
Raka terus berlari menuju cahaya obor di kejauhan. Menuju Balai Desa.
Saat ia menerobos keluar dari semak-semak dan jatuh tersungkur di pinggir jalan desa, ia melihat rombongan warga masih di sana. Gamelan masih berbunyi.
Nara, yang duduk gelisah, langsung berdiri saat melihat Raka muncul dengan kondisi mengenaskan. Baju robek, wajah penuh tanah, dan leher yang memerah bekas jeratan.
"Raka?!" teriak Nara, berlari menghampiri.
Raka mencengkeram kaki Nara, napasnya tersengal. Matanya liar menatap kegelapan di belakangnya.
"S-sumur..." gagap Raka, air matanya tumpah. "Bima... Bima di sumur... dia dimakan bayi..."
Pak Wiryo yang duduk di pendopo, perlahan meletakkan cangkir kopinya. Ia tidak tampak kaget. Ia menatap Raka dengan ekspresi kecewa, seperti guru melihat murid yang gagal ujian.
"Wah, wah," kata Pak Wiryo pelan, namun suaranya terdengar jelas di tengah heningnya gamelan yang tiba-tiba berhenti. "Ternyata 'bocor'nya parah. Belum matang sudah lari."
Raka menunjuk Pak Wiryo dengan tangan gemetar. "Setan! Kalian semua setan!"
Pak Wiryo berdiri. Bayangannya di dinding pendopo memanjang, menjadi raksasa yang menutupi mereka semua.
"Bukan setan, Nak," jawab Pak Wiryo dingin. "Kami hanya hamba yang lapar. Dan kalian... kalian adalah nasinya."
Malam itu, topeng keramahan Desa Wanasari benar-benar tanggal. Tidak ada lagi senyum. Yang ada hanya tatapan ratusan pasang mata yang berkilat dalam gelap, menunggu aba-aba untuk menerkam.
Dan di tengah kerumunan itu, Lala masih menari. Matanya terpejam, bibirnya tersenyum, tidak peduli bahwa temannya baru saja lolos dari maut. Lala menari semakin cepat, seolah merayakan kematian yang akan segera datang.