Sejak SMP, ia mencintainya dalam diam.Namun bagi pria itu, kehadirannya hanyalah gangguan yang ingin ia hindari.Tahun demi tahun berlalu, perasaan itu tidak pernah padam—meski balasannya hanya tatapan dingin dan kata-kata yang menyakitkan.Tapi takdir mempertemukan mereka kembali, saat keduanya kini telah tumbuh menjadi dewasa.Luka lama kembali terbuka.Rasa yang seharusnya mati, justru tumbuh semakin dalam.Apakah cinta yang bertahan sendirian mampu berubah menjadi sesuatu yang layak diperjuangkan?Atau ia hanya sedang menghancurkan dirinya sendiri demi seseorang yang tidak pernah ingin melihatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sea.night~, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Muak2
Malam itu, suasana rumah terasa tegang.
Dirga duduk di sofa di ruang tamu dengan wajah dingin. Jasnya sudah dilepas, tapi ekspresinya masih keras.
Winda keluar dari kamar sambil membawa ponselnya. Begitu melihat Dirga, langkahnya terhenti. "Eh, kamu dah pu-"
"Ke mana kamu tadi siang?" tanya Dirga tiba-tiba memotong ucapan Winda.
Winda terkejut.
"Ke supermarket… sama Bibi Sumi." jawabnya gugup.
"Kenapa nggak bilang sama aku?" suaranya datar, tapi tajam.
Winda menggigit bibirnya.
"Aku pikir… nggak perlu. Kamu juga lagi kerja, pasti sibuk, kan?"
"Itu bukan alasan," potong Dirga.
"Kamu istriku. Harusnya kamu izin."
Winda terdiam.
"Aku nggak pergi macam-macam," jawabnya pelan. "Cuma belanja…"
"Bukan soal belanjanya," ucap Dirga lebih keras. "Tapi caranya."
Winda terdiam sejenak, ia mengangkat wajah. "Kamu kok tau aku pergi tadi siang?"
"Kak Sella bilang jumpa sama kamu," jawab Dirga dingin. "Kamu ngomong apa sama dia?"
"Enggak banyak… cuma ngobrol," jawab Winda jujur.
Dirga mendekat beberapa langkah.
"Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu mau ikut Sumi keluar rumah?" ucapnya dingin dan menuntut jawaban.
"Aku udah bilang alasan nya tadi." balas Winda tegas, nada suaranya mulai menantang.
"Kamu tau aturannya, Winda. Dan kau salah tak meminta izin pada suami mu."
Kalimat itu seperti tamparan.
"Aku cuma bosan di rumah…"
suaranya lirih.
"Aku nggak ke mana-mana yang aneh."
Dirga mendengus kecil.
"Bosan bukan alasan buat keluar tanpa izin."
Winda mengepalkan jemarinya.
"Yaudah, sih, gitu aja marah-"
"Kamu itu istriku!" bentak Dirga.
Sunyi.
Winda tersentak.
Matanya berkaca-kaca.
"Kamu kok ngebentak sih?" tanyanya gemetar.
"Aku cuma pergi ke supermarket dan itu sama Bibi. Bukan sama orang lain. Bukan sama pria." Lanjutnya marah.
Dirga terdiam.
Namun egonya lebih dulu bicara.
"Aku nggak mau nanti orang ngomong macem-macem."
"Aku pergi sama Bibi!"
Winda mulai meninggi.
Dirga menarik napas kasar. Mencoba untuk tenang. "Lain kali izin." ucapnya akhirnya, Suaranya jauh lebih tenang.
Winda diam tak mengatakan apa apa lagi. Tapi kali ini Winda menatapnya tajam.
Dirga berpaling.
"Masuk ke kamar mu. Aku sudah muak melihat wajah mu."
Winda berdiri kaku.
Dadanya sesak.
Ia menatap punggung Dirga dengan penuh amarah sebelum ia berbalik berjalan ke kamar tidurnya.
Pintu ditutup keras.
BRAK!
Dari dapur, Sumi melihat semuanya.
Ia menutup mulutnya, menahan napas.
Tak berani ikut campur.
Malam makin larut.
Di dapur, Sumi sedang membereskan piring ketika langkah kaki Dirga terdengar mendekat.
Dirga berdiri di ambang pintu dapur.
Wajahnya masih terlihat tegang.
Sumi melirik sekilas, lalu menunduk hormat.
"Tuan… sudah makan?"
"Belum lapar," jawab Dirga singkat.
Sumi ragu sejenak.
Tangannya gemetar sedikit saat merapikan lap.
"Tuan…" panggilnya pelan.
Dirga menoleh.
"Ada apa, Bi?"
Sumi menarik napas dalam.
"Maaf kalau lancang… tapi boleh saya bicara sedikit?"
Dirga terdiam sebentar, lalu mengangguk.
"Katakan."
Sumi menunduk.
"Soal Nyonya tadi…"
Dirga langsung memalingkan wajah.
"Saya cuma nggak mau dia seenaknya."
Sumi tersenyum kecil, sedih.
"Saya tahu Tuan khawatir…"
"Tapi caranya tadi…"
Sumi berhenti sebentar.
"Keras sekali."
Dirga terdiam.
"Nyonya itu keluar cuma sama saya," lanjut Sumi lembut. "Nggak ke mana-mana aneh."
Dirga mengepalkan rahang.
Dirga tak menjawab.
"Tuan…"
Sumi tersenyum lembut.
"Jangan sampai Nyonya merasa sendirian di rumah ini."
Dirga menelan ludah.
"Aku nggak suka sama wanita itu."
Sumi menunduk.
"Saya nggak bermaksud, pak,"
Ucapnya pelan.
Dirga diam. Pandangan matanya kosong.
"Mungkin dia nangis di kamar nya…"
ucapnya lirih.
Sumi mengangguk kecil.
"Belum terlambat buat minta maaf, Tuan."
Dirga menoleh.
"Lupakan. Dia tak pantas mendapat kata maaf dari ku." katanya tegas.
Ia berbalik pergi meninggalkan Sumi sendiri di dapur.
Winda sudah berbaring di kamarnya.
Lampu sengaja ia matikan lebih awal.
Punggungnya menghadap pintu.
Air matanya sudah kering, tapi dadanya masih sesak.
Di luar kamar, langkah kaki berhenti.
Dirga.
Tangannya terangkat hendak mengetuk…
lalu turun lagi.
Ia berdiri lama di depan pintu.
Ragu.
Ia menghela nafas berat "huft.."
Perlahan, ia membuka pintu tanpa suara.
Winda langsung memejamkan mata. Pura-pura tidur. Napasnya diatur pelan.
Dirga melangkah masuk.
Tatapannya tertuju ke tubuh kecil di ranjang.
Ia berdiri di sana.
Lama.
"Aku…" suaranya nyaris tak terdengar.
Winda tetap diam.
Dirga menghela napas berat.
"Si*l." Ia mengusap kepalanya hingga rambutnya sedikit berantakan.
Dirga berdiri di samping ranjang.
Tangannya mengepal keras.
"Bangun."
Winda pura-pura tidur.
Dirga mendengus. Ia tidak tahan lagi. Dengan kasar ia menarik pergelangan tangan Winda sampai tubuhnya terduduk.
"AKU BILANG BANGUN!" Teriaknya.
Winda tersentak.
Matanya langsung terbuka.
"Dirga…"
"DIAM!"
Tangannya terangkat—
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Winda.
Tidak keras sampai berlebihan,
tapi cukup membuat kepalanya menoleh ke samping.
Sunyi.
Winda membeku, matanya melebar.
Air mata langsung jatuh. "....."
"Kamu tahu nggak…"
suaranya rendah tapi penuh amarah,
"aku muak tiap lihat wajah kamu!"
Winda gemetar.
"Kenapa kamu harus tinggal serumah sama aku, hah?!"
"Kenapa orang tuaku menikahkan aku…."
Dirga mendorong bahu Winda sampai ia jatuh kembali ke kasur, "dengan perempuan sej*lek ini?!"
Air mata Winda langsung jatuh.
Dirga tertawa sinis.
"Aku benci kamu. Menj*ji*kan."
Kalimat itu lebih sakit dari tamparan tadi.
"Kamu cuma beban yang terpaksa ku tanggung! Pengganggu hidupku! KENAPA KAU DATANG KE DALAM HIDUP KU!"
Winda menahan tangis.
"Aku nggak pernah minta dinikahi kamu…hiks....Ini juga bukan keinginanku…" jawab Winda akhirnya dengan suara pelan dan gemetar.
"Tapi kamu nikmatin, kan?" Dirga tertawa sinis "Kamu pikir aku mau pulang ke rumah ini? Aku muak lihat wajah kamu tiap hari."
"Kamu cuma pengingat…"
"kalau hidupku DIATUR orang tuaku!"
Dirga mendekat,
"pura-pura baik…pura-pura sabar…"
"Aku Cinta sama kamu, Dirga. Dari dulu, sampai sekarang."
Ia mencengkeram rahang Winda. "Cinta? Aku nggak minta dan mau di cintai sama wanita sej*lek kamu. Minimal ngaca." Dirga berbisik tajam.
Winda menangis tanpa suara. Air matanya mengalir deras.
"Aku benci setiap detik tinggal sama kamu."
Dirga melepaskan cengkeramannya kasar.
"Kalau kamu punya harga diri…"
Dirga berbisik tajam,
"berhenti berharap aku berubah."
Ia menatap wajah Winda dengan ekspresi yang jelas jij*k.
"Mulai sekarang…"
"jangan sentuh aku."
"Jangan tunggu aku."
"Aku nggak mau kamu. Dan nggak akan pernah."
BRAK!
Pintu dibanting.
Winda terduduk kaku.
Tangannya gemetar.
Dadanya sesak.
"Benci…"
bisiknya hancur.
"Segitunya…"
Ia memeluk lututnya.
Menangis.
Tanpa suara.
dalem bnggt sehhh
Winda muka tembok ga sih ini