NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: tamat
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia, pasien?

Kedua guru wanita itu terpaku. Salah satu dari mereka, bu Rasti, menutup mulutnya dengan tangan, antara syok dan bingung harus apa. Guru yang satunya lagi, bu Mia, hanya bisa menatap Devan dengan ekspresi semoga pria itu dapat memaklumi keadaan gadis yang tiba-tiba duduk di pangkuannya itu.

Devan sendiri … masih seperti patung. Menahan marah, kesal, dan ... Entahlah. Ia benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana sekarang.

Gauri tertidur di pangkuannya, napasnya tenang, bahkan terdengar suara dengkuran kecil yang anehnya… lucu. Tangan mungil gadis itu mencengkeram kemejanya kuat-kuat, seolah kalau di lepas, dunia akan runtuh.

"Pak Devan, maaf ya. Gadis itu pasien di rumah sakit sebelah yang sering main ke sini. Biasanya dia gak langsung begitu sama orang."

"Dia, pasien?" Devan menatap kedua guru itu.

"Iya. Kami nggak tahu persisnya. Tapi sepertinya karena kecelakaan. Dia dekat sama salah satu murid cowok di sini."

Devan langsung tahu siapa murid cowok yang mereka maksud. Pasti Ares.

"Dia sering nempel sama murid cowok itu,"sambung bu Mia.

"Tapi kalau sama guru … ini pertama kalinya."

Devan menegakkan punggung, mencoba menjaga jarak tubuh dari Gauri, meski percuma karena gadis itu memeluknya seperti koala yang menemukan pohon favoritnya. Seluruh tubuh Gauri menempel, membuat Devan sesekali menarik napas.

"Kalau begitu saya akan m membangunkan dia." ucapnya pelan, dan datar.

Kedua guru wanita itu langsung serempak menggeleng cepat.

"Jangan!"

"Jangan, pak Devan!"

"Nanti dia tantrum."

"Bisa lempar barang satu ruangan."

Devan membuang nafas kasar.

"Jadi… saya harus gimana?"

Bu Mia menghela napas panjang sekali sambil memegang pinggang.

"Biasanya … ya dibiarkan saja sampai Ares datang."

"Ngomong-ngomong, Ares lagi ngapain sih? Kok bisa gak sadar Gauri hilang dari sisinya?" tanya bu Rasti.

Namun sebelum siapa pun menjawab, suara langkah kaki dari luar terdengar seperti ledakan.

DUG! DUG! DUG!

Pintu ruang guru terbuka menghantam dinding.

Ares muncul dengan napas memburu, mata liar seperti hendak menerkam siapa saja yang menghalangi. Seragamnya berantakan, rambutnya acak-acakan, aura panasnya terasa menghantam satu ruangan.

"GAURI!"

Devan menatapnya. Guru-guru wanita ikut berbalik. Ares melihat Gauri tertidur di pangkuan Devan… dan wajah pemuda itu langsung berubah drastis dari panik jadi… tidak bisa dijelaskan. Antara lega, marah, dan bingung.

"Akhirnya ketemu…" gumamnya, menutup mata sebentar karena lega. Ia baru sadar laki-laki yang menjadi tempat nyaman untuk Gauri tidur adalah Devan.

Lagi, Ares sudah melihat dua kali, Gauri menempel pada sahabat abangnya itu.

"Bang," ia menatap Devan yang balas menatapnya.

"Cepat ambil pacarmu."

"Dia bukan pacar aku." balas Ares langsung.

"Dia gadis yang sudah aku anggap keluarga." tambahnya.

Devan memutar bola mata pelan, bukan karena marah pada Ares, tapi lebih pada ketidakberdayaan situasinya. Gauri benar-benar seperti magnet yang memilih tubuhnya sebagai kutub utara permanen. Ia mengangkat sedikit tangannya, menunjuk gadis yang tertidur pulas itu.

"Ya sudah. Kalau begitu ambil keluargamu ini, jauhkan dariku." desis Devan, suaranya tetap tenang tapi jelas menahan frustrasi. Spesies yang paling dia hindari adalah perempuan, tapi dalam dua hari, wanita yang sama menempel di tubuhnya.

Ares mendekat, lututnya tertekuk ketika ia berjongkok di samping kursi Devan. Tapi begitu tangannya menyentuh lengan Gauri, gadis itu langsung meringis dalam tidur, suara kecil seperti mau menangis keluar dari tenggorokannya, dan tangannya mencengkeram kemeja Devan makin erat seolah mendeteksi upaya 'penculikan'.

Ares membeku.

Devan juga. Bu Mia sampai menutup mulut karena ngeri kalau gadis itu sampai tantrum.

"Pelan… pelan, Ares…" bisik bu Rasti, ia sudah pernah lihat Gauri tantrum, semua barang di lempar oleh gadis itu.

Devan, si laki-laki supercool itu berusaha dengan perlahan dan sangat hati-hati mendorong tubuh Gauri. Saat gadis itu sudah berada di gendongan Ares, ia bernafas lega, seolah baru saja lolos dari maut.

Ares akhirnya berhasil mengangkat tubuh Gauri ke dalam gendongannya, meski prosesnya tidak bisa dibilang mulus. Gauri menggeliat kecil, mengeluarkan gumaman tak jelas sambil menyembunyikan wajahnya di dada Ares. Pemuda itu refleks memeganginya lebih erat, memastikan gadis itu tidak terbangun.

Begitu tubuh Gauri berpindah sepenuhnya, Devan langsung bersandar ke kursi dengan wajah seperti habis menjalani misi penyelamatan yang hampir gagal.

Hari pertama menjadi guru, namun harus apes bertemu dengan gadis itu dua kali.

"Makasih ya bang." ucap Devan. Bu Mia dan bu Rasti merasa penasaran kenapa Ares manggil Devan abang bukan bukan pak, tapi mereka langsung mengambil kesimpulan dua orang itu saling kenal.

Kedua guru wanita tersebut termasuk guru baik, mereka juga baik sama Gauri dan sering merasa kasihan melihat tingkah lakunya di usianya yang sama dengan Ares. Harusnya gadis itu sedang belajar untuk menggapai masa depannya sekarang.

Devan hanya mengangguk singkat, ia menatap sebentar pada Gauri, lalu menyuruh Ares pergi dari sana.

Ares keluar. Ia menggendong Gauri yang tertidur dan menyeberang ke sebelah, ke rumah sakit. Orang pertama yang dia lihat adalah abangnya, Agam. Mereka bertemu di perbatasan antara gedung sekolah dan gedung rumah sakit.

"Gauri kenapa?" Agam berhenti di depannya, matanya fokus ke Gauri. Tadi ia berencana ke sekolah untuk mencari Gauri, karena gadis itu sudah berada di sana lewat batas jam yang ditentukan seperti biasa.

"Cuma tidur bang," sahut Ares. Agam mengambil alih Gauri dari Ares, dengan perlahan, tidak membuat gadis itu bangun.

"Serahkan dia ke abang, kami balik ke sekolah sana."  katanya.

Ares mengangguk. Selain Gauri, dia juga dekat dengan abangnya.

"Oh ya, abang udah tahu bang Devan balik ke Indo? Dia jadi guru di sekolah sebelah." kata Ares sebelum pergi.

Agam sedikit terkejut. Ia memang tahu Devan akan kembali. Tetapi belum tahu kalau sahabatnya itu sudah ada. Dan ...

"Jadi guru?" gumam Agam pelan, alisnya terangkat sementara ia mengamankan posisi Gauri di pelukannya. Gadis itu masih tertidur pulas, wajahnya tenang.

Ares mengangguk.

Agam agak kaget Devan jadi guru. Dia bisa mengelola rumah sakit ini dan bekerja bersama Ares, tapi ... Kenapa memilih jadi guru?  Seingat Agam Devan tidak pernah ada cita-cita jadi guru dari dulu. Tapi sudahlah, dia akan tanyakan nanti.

"Kalo gitu aku balik dulu bang," ucap Ares lagi. Agam mengangguk.

Ares berbalik, melangkah pergi dengan cepat kembali ke arah sekolah. Begitu sosok adiknya menghilang di balik pintu penghubung, Agam menarik napas panjang, menatap Gauri yang terlelap di pelukannya.

Wajah gadis itu damai sekali.

Tidak ada tanda-tanda ia baru membuat kekacauan kecil di sekolah.

Agam mengusap kepala Gauri pelan, jemarinya menyingkap sedikit poni gadis itu.

"Kamu ini… selalu bikin orang khawatir dan kewalahan," gumamnya lembut.

Ia mulai berjalan masuk ke koridor rumah sakit. Beberapa perawat yang lewat langsung menyapa hormat. Agam membalas sapaan tersebut seadanya.

1
tutut wahyuningsih
👍👍👍👍
irma hidayat
rasain lu gino kamu lengah padahal udah gunain akal akalanmu agar devan ikut
irma hidayat
pede banget kamu diana bilang ga cocok, mau nya kamu ya yg cocok
irma hidayat
cerita nya bagus,semangat berkarya thor
irma hidayat
kena juga tuh di akalin gino
irma hidayat
diana jangan marah kamu sedang menuai hasil dari perbuatanmu
irma hidayat
pelampiasan cemburu tuh s diana,ares kena
Qaisaa Nazarudin
Padahal yah dengan kejadian berlaku dan setelah kecelakaan itu, Sesiapa juga bisa MENEBAK apa yg sebenarnya terjadi,Setelah kejadian itu dengan Tiba2 Ibnu langsung berkuasa dan hidup mewah,Siapa juga akan mikir apa yg sudah terjadi..Lha ini malah PASRAH gitu aja,Aneh...
Qaisaa Nazarudin
Padahal diawal Agam mengenalkan Siapa Gauri ke Gino dan Devan, Perasaan ku Agam menyebut nama Tunangannya Gretta,Kok bisa berubah jadi Iriana..🤔🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Move on Agam,Kamu juga berhak bahagia, Orang yg meninggal Roh akan nyangkut selagi orang yg dia Sayang belum mengikhlaskan dia PERGI, Jadi DIA belum bisa TENANG diatas sana..
Qaisaa Nazarudin
Aku takut aja ada yg merakam perbuatan mereka,Ia sih sekolah ini milik Gauri,tapi gak ada CONTOH YG BAIK,Apalagi Devan yang notabene nya SEORANG PENDIDIK,Tidak mencerminkan jiwa seorang pendidik,Kalah dengan Nafsu..🤦🤦
Qaisaa Nazarudin
Devan..Devan kan sudah di peringatin juga sama tante Victoria dirumah saat dimeja makan,Kenapa dilakukan juga ckk..
Qaisaa Nazarudin
Hareudang... Akhirnya Jebol juga Gauri,Tahan nafas aku baca bab ini 🤭🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Nah akhirnya Gauri SEMBUH sendiri, Semoga Gauri gak lupa kalo Devan itu SUAMINYA ya..
Qaisaa Nazarudin
Semoga setelah mimpi ini Gauri SEMBUH ya..🤲🤲🤲 Gak sabar aku nunggu Gauri sembuh..
Qaisaa Nazarudin
kok IRINA??Bukan GRETTA ya nama kakak nya?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Aku takut nya ntar Gauri cerita ke orang lain apa yang sudah Devan lakukan ke dia..😂😂🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Itu mah buah Terong bukan anggur ya Gauri 🤣🤣🤣😜😜
Qaisaa Nazarudin
Padahal aku udah takut banget kalau Keluarga Devan gak setuju dan gak restuin karena keadaan Gauri yg sakit.. Alhamdulillah ternyata diluar Ekspektasi aku..
Qaisaa Nazarudin
Alhamdulillah tdk ada DRAMA tdk restu dan memandang RENDAH dan MENGHINA Gauri dari sang kakek..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!