Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kayu Petir Tiba
Sinar mentari pagi membelah lautan awan yang mengelilingi Puncak Gunung Mata Air Naga. Udara di dalam Formasi Ilusi Pengunci Surga terasa begitu jernih dan manis, dipenuhi esensi spiritual yang tidak bisa ditemukan di mana pun di dunia fana ini.
Di halaman belakang vila, Maya sedang berjalan perlahan menyusuri taman zen tanpa bantuan tongkat atau kursi roda. Meski langkahnya masih sedikit kaku, tawa renyahnya mengalahkan melodi kicauan burung. Bagi Arya yang duduk bersila di teras sambil menyesap teh pagi, pemandangan ini jauh lebih berharga daripada tahta Sembilan Langit.
Namun, kedamaian itu segera terganggu.
Wusss! Wusss! Wusss!
Suara baling-baling helikopter yang memekakkan telinga terdengar mendekat dari arah kaki gunung.
Melalui Indra Surgawi-nya, Arya melihat sebuah helikopter sipil berwarna putih mendarat darurat di landasan pacu pribadi tepat di luar area formasi vilanya. Pintu helikopter terbuka dengan kasar, dan dua sosok berhamburan keluar dalam keadaan kacau balau.
Itu adalah Shen Yueru, Nona Besar Keluarga Shen, dan pengawalnya, Paman Zhao. Gaun sutra putih Shen Yueru robek di beberapa bagian dan terkena bercak darah, sementara Paman Zhao berjalan tertatih-tatih sambil memegangi lengan kirinya yang patah.
Mereka berlari menuju gerbang vila yang tertutup kabut ilusi, menjatuhkan diri berlutut di atas aspal dingin.
"Tuan Lin! Tuan Lin Tian! Ini Shen Yueru! Saya membawa barang yang Anda minta, mohon buka gerbangnya!" teriak Shen Yueru dengan suara parau bercampur isak tangis.
Arya meletakkan cangkir tehnya. Ia menjentikkan jari, dan kabut putih tebal itu perlahan membelah, membentuk lorong sempit yang mengizinkan mereka masuk.
Begitu melewati gerbang, Shen Yueru langsung tersungkur di depan kaki Arya. Ia menyodorkan sebuah kotak panjang berlapis emas dengan kedua tangannya yang gemetar. Paman Zhao ambruk di sampingnya, memuntahkan darah hitam akibat luka dalam yang parah.
"T-Tuan Lin... Ini adalah Pusaka Inti Kayu Petir Berusia Seribu Tahun, beserta peta tambang Batu Spiritual di utara," ucap Shen Yueru sambil menangis. "Kakek saya... kakek saya telah dikurung oleh Aliansi Bela Diri Ibukota! Mereka menginginkan pusaka ini untuk Tetua Emas mereka dan memburu kami sepanjang malam! Tolong... tepati janji Anda, selamatkan Kakek!"
Arya tidak mempedulikan air mata Nona Besar Ibukota tersebut. Ia mengambil kotak emas itu dan membukanya.
Seketika, aroma ozon seperti udara setelah badai besar menyeruak. Di dalam kotak, tergeletak sebatang kayu hitam pekat seukuran lengan, memancarkan kilatan arus listrik biru yang sangat tipis di permukaannya.
"Inti Kayu Petir yang menyerap esensi petir selama seribu tahun," mata Arya menyipit puas. "Kualitasnya jauh lebih baik dari dugaanku. Dengan ini, aku bisa melebur Embrio Pedang Terbangku malam ini juga."
Melihat reaksi Arya, harapan kembali menyala di mata Shen Yueru. "Tuan Lin, apakah Anda bersedia pergi ke Ibukota—"
"Tidak perlu terburu-buru," potong Arya datar. Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus menembus kabut vilanya ke arah langit utara. "Karena anjing-anjing pelacak mereka sudah mengikutimu sampai ke pekaranganku."
BUMMM!
Sebuah ledakan keras mengguncang batas Formasi Ilusi.
"Shen Yueru! Keluar kau, pelacur kecil!"
Sebuah suara angkuh yang diperkuat oleh tenaga dalam meledak dari luar gerbang, membuat kaca-kaca vila fana di sekitar kaki gunung bergetar.
"Kau pikir bersembunyi di padepokan tikus di provinsi terpencil ini bisa menyelamatkanmu dari amarah Aliansi Bela Diri Ibukota?! Serahkan Kayu Petir itu, dan Tuan Muda ini mungkin akan bermurah hati menjadikanmu selir ke-sepuluhku!"
Paman Zhao yang terkapar di tanah seketika pucat pasi. "I-Itu Tuan Muda Jin! Cucu dari Tetua Emas Aliansi! Dia... dia membawa Pasukan Harimau Besi elit!"
Arya dengan tenang menutup kotak emas tersebut, lalu menyimpannya ke dalam Kantong Spasial di balik jaketnya. Ia menepuk sedikit debu imajiner dari pakaiannya, wajahnya kembali mendingin sedingin jurang es abadi. Semalam, ia baru saja membunuh tiga bayangan kiriman Tetua Emas. Pagi ini, cucu dari tetua itu sendiri yang datang mengantar nyawa.
"Di Alam Atas, bahkan Kaisar Naga pun harus berlutut sebelum memasuki halamanku," gumam Arya, perlahan melangkah menuju gerbang kabut. "Di bumi ini, serangga-serangga fana benar-benar berisik."