Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.
Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.
Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.
"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34
Jam kerja baru saja usai, dan keramaian karyawan yang bergegas pulang mulai memenuhi lantai dasar gedung kantor. Diantara kerumunan itu, Regan sudah berdiri menunggu di dekat pintu lift, matanya sesekali melirik ke arah indikator lantai. Begitu pintu lift terbuka dan sosok Risa keluar dengan langkah tenang, wajah Regan langsung berubah cerah.
Ia segera melangkah mendekat, sedikit mengangkat tangan memberi isyarat agar Risa berhenti sejenak.
"Risa, tunggu sebentar," panggilnya dengan nada ramah namun sopan.
Risa terkejut sesaat, lalu segera menghentikan langkah dan menoleh. "Oh, Pak Regan… ada apa, Pak? Ada pekerjaan yang tertinggal atau ada hal yang ingin dibicarakan?"
Regan menggeleng pelan sambil tersenyum lembut. "Tidak ada urusan kantor. Aku kebetulan sudah selesai lebih awal hari ini. Aku ingin mengajakmu ikut pulang bersama, atau lebih tepatnya... ikut aku sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."
Risa mengerutkan kening sedikit, terlihat bingung namun tidak merasa curiga. "Sesuatu yang ingin ditunjukkan? Maaf, Pak, tapi saya harus segera pulang ke rumah untuk..."
"Aku tahu," potong Regan lembut, lalu melanjutkan dengan nada meyakinkan. "Jangan khawatir, tidak akan memakan waktu lama. Kalau kamu berkenan, aku antar sampai rumah juga. Boleh?"
Melihat ketulusan di mata Regan dan nada bicaranya yang tidak memaksa, Risa akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah, Pak. Kalau begitu saya ikut."
Keduanya berjalan berdampingan menuju tempat parkir. Regan membukakan pintu mobil penumpang untuk Risa terlebih dahulu, baru kemudian masuk ke kursi kemudi. Begitu mobil melaju keluar dari area kantor, suasana di dalam mobil terasa tenang.
Tidak sampai setengah jam, mereka sampai di sebuah gedung apartemen yang tidak jauh dari kawasan perkantoran. Begitu masuk ke dalam unit, Risa terdiam memandang sekelilingnya. Ruangannya cukup luas, terang dengan pencahayaan alami, dilengkapi perabotan sederhana namun lengkap dan rapi.
"Mulai hari ini, tempat ini menjadi tempat tinggalmu. Semua kebutuhan dasarnya sudah disiapkan, dan biayanya sudah ditanggung sebagai bagian dari fasilitas karyawan di perusahaan kita." ucap Regan.
Risa segera menggeleng, wajahnya terlihat cemas dan tidak enak hati.
"Pak Regan, saya tidak bisa menerima ini. Rasanya terlalu istimewa, saya tidak pantas mendapatkannya. Kontrakan tempat saya tinggal sekarang sudah cukup baik untuk saya. Terimakasih atas niat baiknya, tapi saya tidak mau merepotkan atau membebani perusahaan seperti ini," tolaknya dengan sopan.
Namun Regan tidak menerima penolakannya. Ia menatap mata Risa dalam-dalam dengan pandangan yang penuh perhatian.
"Dengarkan aku, Risa. Ini bukan pemberian pribadi, tapi memang sudah ada peraturan dan fasilitas yang bisa dimanfaatkan, baru saja aku memprosesnya agar berlaku untukmu. Jangan khawatir soal aturannya, semuanya sudah aku atur dengan benar."
Ia melangkah sedikit mendekat, suaranya menjadi lebih lembut namun tetap tegas.
"Aku tidak ingin kamu terus tinggal di kontrakan. Aku khawatir suamimu itu akan datang dan mengganggumu lagi. Disini lebih aman, lebih tenang, dan lebih nyaman."
Risa terdiam mendengar penjelasan itu. Ia merasakan ketulusan di balik setiap kata yang diucapkan Regan, namun rasa tidak enak hatinya masih terasa berat.
"Tapi… nanti orang lain berpikir macam-macam melihat saya diperlakukan berbeda…"
"Biarkan mereka berpikir apapun," potong Regan pelan namun meyakinkan. "Yang terpenting adalah kenyamananmu. Kamu sudah cukup menderita dan menanggung banyak hal sendirian. Sekarang biarkan ada yang membantumu, tanpa syarat apapun."
Ia tersenyum tipis, "Anggap saja ini bentuk dukungan perusahaan agar kinerjamu tetap baik dan pikiranmu tenang. Tidak ada kewajiban khusus, tidak ada hutang budi yang harus kamu bayar. Cukup terima saja dan manfaatkan sebaik mungkin."
Risa mempertimbangkannya sejenak, lalu akhirnya dia mengangguk.
"Baiklah… saya terima, Pak Regan. Terimakasih banyak atas segala perhatian dan kebaikan ini. Saya tidak tahu harus membalasnya dengan cara apa…"
"Sudah kubilang sebelumnya, kan?" potong Regan cepat. "Kalau kita sedang tidak berada di lingkungan kantor, tidak perlu terlalu formal memanggilku ‘Pak Regan’ terus. Rasanya terlalu kaku dan membuat jarak."
Ia menatap Risa dengan tatapan lembut, "Kamu bisa memanggilku dengan panggilan yang lebih biasa saja. Tidak perlu berlebihan, cukup yang terasa wajar di telinga."
Risa terdiam sejenak, jemarinya sedikit meremas tali tasnya. Ia menimbang-nimbang, merasa sedikit canggung namun juga menghargai keinginan Regan agar hubungan mereka terasa lebih dekat dan nyaman. Setelah menarik napas pendek untuk menenangkan diri, ia mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Regan.
"Baiklah… kalau begitu… Mas."
Begitu panggilan itu keluar dari mulutnya, Risa merasakan detak jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia khawatir terdengar tidak pantas, tapi saat melihat raut wajah Regan yang seketika berseri-seri, hatinya menjadi lebih tenang.
Regan mengangguk puas, senyumnya semakin melebar. "Nah, begini rasanya jauh lebih baik dan tidak kaku. Terimakasih sudah mengerti, Risa."
Ia melangkah mendekat sedikit lagi, suaranya terdengar lebih hangat dan menenangkan, "Ingat saja ini, mulai sekarang kalau sedang tidak ada urusan resmi, panggil saja begitu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, ini hanya agar kita bisa saling berbicara dengan lebih leluasa."
Risa tersenyum tipis, kali ini senyum yang terasa lebih ringan dan tulus. "Baik… Mas. Aku akan ingat."
-
-
-
Malam ini suasana di rumah terasa tenang, hingga suara bel pintu berbunyi nyaring memecah keheningan. Bi Ani segera berjalan membukakan pintu. Begitu terbuka, terlihat sosok Papa Reza berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sudah tampak serius sejak awal.
"Selamat malam, Pak Reza. Silakan masuk," sapa Bi Ani sopan.
Raga yang sedang duduk di ruang tengah segera berdiri menyambut. "Papa? Kenapa datang malam-malam begini? Apa ada masalah?"
Papa Reza masuk dan duduk di kursi utama, lalu menatap putranya dengan pandangan tegas. Sebelum sempat Raga melanjutkan bicara, suara Papa Reza sudah terdengar berat dan penuh kekecewaan.
"Ya ada masalah. Kamu masalahnya, Raga." jawab Papa Reza dingin. "Kamu belum resmi bercerai dari Risa, tapi sudah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan dengan wanita lain."
Raga terdiam sejenak, berusaha tetap tenang, "Pa, aku ingin segera melangkah maju. Proses perceraian dengan Risa juga sudah berjalan lancar, sebentar lagi selesai secara hukum."
Mendengar itu, Papa Reza langsung menggeleng keras. "Itu yang membuat Papa kecewa. Bagaimana bisa kamu berani merencanakan pernikahan baru dengan antusias begitu, padahal ikatan perkawinan dengan Risa belum resmi putus. Itu tidak pantas, bisa menimbulkan omongan yang tidak baik dari banyak orang."
"Tapi Pa, Mama juga sudah menyetujui hubungan ini bahkan mendukung kami," bantah Raga. "Mama sudah menerima keputusanku dan tidak keberatan kalau kami segera menikah setelah semuanya selesai."
Papa Reza menghela napas panjang, terlihat makin kecewa mendengar jawaban itu. "Iya, Mama memang lebih mudah menyetujui apa saja yang kamu inginkan. Dia terlalu memanjakan dan tidak memikirkan dampak jangka panjangnya. Tapi Papa tidak bisa begitu saja mengikuti arus."
Ia menatap putranya dalam-dalam, "Kamu boleh menikah lagi dan Papa tidak akan menghalangi. Tapi ingat satu hal, Raga... bagi Papa, menantu Papa hanya Risa. Dan Papa harap kamu tidak akan pernah menyesali semua keputusan yang sudah kamu ambil ini dikemudikan hari."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Papa Reza berdiri perlahan. Ia menatap sekeliling ruangan seolah mengingat masa-masa saat Risa masih ada di rumah ini, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke Raga dengan tatapan kekecewaan dan kepedihan.
"Sudah, Papa pulang dulu. Semoga apa yang Papa sampaikan malam ini bisa kamu pikirkan dengan kepala dingin, bukan hanya dengan perasaan dan keinginan sesaat," ucapnya dengan nada yang tidak sekeras tadi, tapi tetap tegas.
Raga hanya mengangguk pelan tanpa berani menjawab banyak. Ia berjalan mengantarkan ayahnya sampai ke depan pintu, membukakan pintu dan berdiri di ambang pintu sambil melihat punggung Papa Reza yang menjauh menuju mobilnya.
Begitu mobil melaju pergi dan keluar melewati pintu gerbang, Raga menutup pintu perlahan. Ia bersandar di balik pintu itu, menarik napas panjang yang terasa berat di dadanya.
"Tidak... Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku ini. Justru Risa lah yang akan menyesal karena sudah memilih untuk bercerai dariku," gumamnya, berusaha meyakinkan diri sendiri.
-
-
-
Bersambung...
secara g langsung km udah siap ni ditinggalin raga.. km kan nyuruh cek, terus tau kenyataan pahit asam manisnya kyk apa.... ya jelas nanti raga bakalan ngejar balik lg risa.. ya nerima apa adanya kan cm dia.... siap² deh mimpi terindah menikah dengan raga hanya tinggal khayalan belaka... 🤣🤣🤭