NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. BUKAN PACAR

"Mama dan Om Alvin nggak seperti yang kamu pikirkan, Saga..."

"Oh, ya?"

Saga menyilangkan kedua lengannya di dada dan menaikkan alisnya. Erina merasa seperti diinterogasi dan dicurigai orangtua yang posesif--padahal yang berdiri di depannya adalah anaknya.

"Duduk sini."

Erina duduk dan menepuk lembut kursi kayu panjang berbantal tipis dan bulukan di ruang tamu sempit. Saga pun duduk dengan kaku di sebelah ibunya.

"Mama paham pikiran dan perasaan kamu. Tapi sungguh yang terjadi bukan seperti itu..."

Saga tertawa pelan dan sinis.

"Mama, Saga ini bukan anak kecil lagi," katanya dingin. "Seumur-umur, Saga nggak pernah lihat Mama diantar pulang laki-laki, apalagi yang baru dikenal. Nggak pernah ada laki-laki yang ditawari mampir minum kopi--bahkan Om Hadi dan tetangga lainnya di sekitar sini aja nggak pernah Mama izinkan masuk sembarangan ke rumah ini. Tapi sama Om Alvin tadi... beda."

Erina sejenak mengerjap. Analisa Saga tak keliru, dan diam-diam membuatnya terhenyak, seakan ia baru menyadarinya juga dari sudut pandang itu.

"Itu... Mama cuma berusaha sopan aja, Ga, soalnya Om Alvin sudah mengantar dan membantu Mama bawa belanjaan...," gumam Erina.

"Itu terjadi karena Mama yang izinkan," sela Saga. "Kenapa Mama nggak nolak dari awal? Apa karena Om Alvin ganteng dan kaya, beda dari laki-laki lain yang biasanya mendekati Mama?"

Erina terkejut mendengar komentar pedas putranya. Hati kecilnya tersinggung seketika.

"Nggak gitu, ya!" bantah Erina. "Mama bukan orang seperti itu, Saga--demi Allah! Kenapa kamu berpikiran sejelek itu sama Mama? Mama ini ibu kandung kamu--"

"Justru itu, sudah tugas Saga sebagai anak laki-laki menjaga dan melindungi Mama dari gangguan laki-laki lain! Apalagi Mama sangat cantik. Nggak heran juga kalau Om Alvin bisa sampai tertarik, padahal baru kenal!"

Erina ternganga, sesaat tak bisa berkata-kata.

"Saga nggak mau Mama sembarangan dekat sama laki-laki--termasuk sama Om Alvin. Bos sih bos, tapi bukan berarti bisa modus deketin Mama, dengan alasan apa pun!" tukas Saga keras. "Mama dan Om Alvin lebih dewasa dari Saga--harusnya bisa mikir, kalau udah saling dekat gitu, terus apa? Nikah? Memangnya kalian siap punya anak tiri? Memangnya anak kalian mau punya Papa atau Mama tiri? Pikirin Nala juga, Ma--dia nggak ngerti apa-apa, kasihan kalau tiba-tiba harus menerima perubahan besar dalam hidupnya... apa dia bisa? Gimana kalau kondisinya malah makin parah?"

Erina menghela napas panjang sambil meletakkan tangan di dahinya--kepalanya terasa ditusuk-tusuk lagi, dan pandangannya sempat mengabur beberapa detik.

"Saga, dengerin Mama, ya..."

Sembari mengubur rasa sakitnya, Erina menggenggam tangan Saga, netranya mengunci wajah kusut anaknya dengan lembut.

"Mama dan Om Alvin memang baru saling kenal, memang sempat pulang bareng... tapi sungguh, di dalam hati, kami nggak ada perasaan atau terlintas keinginan seperti yang kamu kira. Mama juga sepaham dengan apa yang kamu pikirkan... karena itulah sampai sekarang, Mama nggak menikah lagi. Dan itu nggak akan berubah sampai nanti, sampai kapan pun."

Saga masih memandang ibunya sangsi.

"Beneran? Sumpah? Demi apa?"

"Demi Allah," kata Erina sungguh-sungguh.

Otot-otot tubuh Saga sedikit mengendur. Air mukanya perlahan kembali tenang.

"Mama pasti capek," kata Saga, suaranya kini lebih pelan dan halus. "Mama mau mandi air hangat? Saga panasin air buat Mama, ya? Mau minum teh? Saga buatin, ya?"

Erina tersenyum--sekaligus tersentuh--menyaksikan perhatian dan kasih sayang putranya. Tak hanya menyiapkan air mandi dan teh, Saga pun berkeras membantu Erina menyiapkan bahan masakan menu katering agar siap diolah subuh besok.

"Mama kalau perlu belanja bahan katering, bilang. Saga yang belikan di pasar. Lagian juga Saga masih diskors. Daripada nggak ngapa-ngapain, Saga bantu Mama aja buat belanja dan prepare bahan. Jadi Mama pulang kantor bisa langsung istirahat..."

Erina tersenyum dan benar-benar berterima kasih pada Saga--sekaligus sangat bersyukur kepada Tuhan. Hari itu seperti hari keberuntungannya--pekerjaannya di kantor lebih cepat selesai karena bantuan Alvin, dan persiapan bahan katering juga lebih cepat selesai karena bantuan Saga.

Hal-hal kecil itu saja sudah membuatnya bahagia dan membuat hidupnya terasa jauh lebih ringan--meski tidak sempurna.

Pukul sebelas malam, setelah dapur bersih dan semua bahan yang sudah dipotong dan bumbu masuk kulkas, Saga pun masuk kamarnya, dan lampu-lampu dimatikan.

Erina pun beringsut naik ke tempat tidur yang setiap malam ditidurinya bersama Nala. Anak bungsunya itu sudah lelap di atas bantal, terpejam cantik seperti putri tidur dalam dongeng kuno yang terkenal.

Erina pun memejamkan mata--tetap tersenyum meski sakit kepalanya terus mendera, seakan obat yang sudah diminum tak memberi efek apa-apa.

Namun ia tidak keberatan. Ia tetap bahagia.

***

"Kemarin diantar pulang sama siapa tuh? Pacar baru, ya?"

Pukul lima pagi, Erina terpaksa lari ke warung Umi Surti karena garam di dapur habis dan semalam ia lupa membelinya di pasar. Baru sampai depan warung, ia sudah dilirik dan ditanya julid oleh Zahra yang sibuk memilih-milih cabe untuk dibeli.

Para wanita yang sedang belanja di warung itu--kaum ibu-ibu yang harus masak sejak subuh sebelum suami dan anaknya bangun dan berangkat kerja atau sekolah pagi--pun menoleh dan memandangnya ingin tahu.

"Ngomong apa, sih?" Erina berlagak cuek dan tak paham--meski dalam hati jengkel dan geram mengetahui ada tetangga yang ternyata mengintip kepulangannya semalam dari balik gorden jendela. "Umi, tolong garam sebungkus..."

"Eh iya, aku juga lihat lho... Mbak Rina semalam pulang sama cowok, ganteng, tinggi, putih, mirip Ahn-Hyo Seop lagi nenteng kresek sayur... siapa itu, Mbak?"

Tutik, yang tinggal di seberang rumah dan warung Umi Surti, ikut menimpali dengan super ramah--sekaligus kepo.

"Ya ampun... Rina udah punya pacar? Serius, Rin?"

Hadi yang membantu ibunya meladeni pembeli pun nimbrung--wajah gaharnya berubah shock seakan dikabari dua detik lagi dunia akan kiamat.

"Bukan pacar!" Erina mau tak mau meluruskan, jengah dan kesal. "Dia bos-ku."

Seisi warung langsung heboh.

"Waah, Mbak Rina seleranya bos-bos kantoran...! Pantesan semua laki-laki di sini ditolak...!"

"Akhirnya... selamat ya, Mbak Rina, udah ada calon suami! Kapan undangannya disebar?"

"Syukur deh, nggak ada yang menggoyahkan iman kaum suami di sini lagi... abis nikah, kamu pasti pindah dari sini, kan?" celetuk Zahra--untuk pertama kalinya, di depan Erina, senyum sangat manis terulas di mukanya yang mirip kuda.

Erina menepuk jidatnya dengan sebungkus garam.

"Siapa yang mau nikah... haissh, sudahlah!"

Usai membayar, Erina langsung ambil jurus kaki seribu, menjauhi ibu-ibu yang masih heboh dan Hadi yang menangis sesenggukan sambil menimbang bawang.

Setibanya di kontrakan, Erina bergegas menuntaskan masakannya dan membaginya dalam puluhan kotak mika. Hari itu, ia menyajikan rendang daging sapi, gulai daun singkong, dan sambal hijau sebagai menu andalan yang dijamin menggoyang lidah.

"Tolong antar ini ke pelanggan ya, Ga, daftar nama dan alamatnya udah Mama share ke WA kamu."

Biasanya, Erina yang mengantar pesanan ke pelanggan di sekitar gang. Tetapi ia sedang jengah dan malas menanggapi gosip tentang kepulangannya bersama "pacar" semalam, yang pasti sudah menyebar sampai kecamatan sebelah, atau mungkin sampai negeri tetangga--karena kaum ibu-ibu tadi pasti sudah update status di WA atau sosmed masing-masing mengenai itu, dan langsung menjadi konsumsi publik dalam hitungan detik.

Erina sudah bertahun-tahun tinggal di gang sempit itu--jadi hafal betul tabiat setiap kepala di sekitarnya, yang rata-rata gemar membahas dan mengurus hidup orang lain. Apesnya, sekarang dia yang jadi bulan-bulanan karena isu seputar "janda kembang berkencan" seperti dirinya jelas lebih menarik daripada berita nilai tukar rupiah yang terus melemah.

Menyuruh Saga menjadi pengantar katering pagi itu bukan berarti menimpakan masalah pada putra sulungnya. Orang-orang tak akan terlalu mengusik remaja SMP yang watak keras kepala dan galaknya melebihi pitbull tengah mengejar maling celana dalam.

Atau kalau ada yang berani nyinyir, Saga pasti akan membantah atau membungkam dengan balasan kata-kata yang tajam. Pada akhirnya, semua akan tahu Saga tak sudi punya ayah tiri, dan gosip seputar Erina punya calon suami akan sirna dengan sendirinya.

Erina melepas Saga keluar rumah sekitar pukul setengah tujuh pagi dengan senyum cerah--berani memprediksi sembilan puluh sembilan persen rencananya akan berhasil. Satu persen kemungkinan gagal hanya akan terjadi jika tiba-tiba Alvin menikahinya di KUA besok--

Pemikiran "satu persen" itu sempat membuatnya shock dan bengong sendiri selama beberapa detik.

NGGAK MUNGKIN! GILA AJA KALAU IYA--AKU PASTI SUDAH SINTING! OTAKKU PASTI SUDAH RUSAK!

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!