Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMUNGUTAN SUARA BERDARAH (2)
Tangan Kayla mencengkeram sisi podium begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Suasana aula mendadak senyap, menyisakan dengung tipis dari pengeras suara. Di barisan depan, Devan menyandarkan punggungnya dengan santai, yakin bahwa lembar kontrak bernilai ratusan juta di tas Kayla telah mengunci kesetiaan gadis itu. Di sisi lain, Alvaro tetap bergeming, menatap lantai semen seolah siap menerima vonis kekalahannya.
Kayla mendekatkan bibirnya ke mikrofon. Suaranya terdengar jernih, bergema di setiap sudut aula.
"Dua minggu lalu, saya berdiri di sini sebagai simbol perlawanan. Saya meminta kalian semua untuk memilih perubahan, memilih untuk meruntuhkan sistem kartu merah yang telah menindas kita selama bertahun-tahun," Kayla jeda sejenak, matanya menatap lurus ke arah kerumunan murid jalur beasiswa. "Saya percaya bahwa Devan Narendra adalah jawaban atas keadilan yang kita cari."
Devan mengulas senyum tipis di sudut bibirnya.
"Namun, saya keliru," kalimat Kayla berikutnya meluncur bak hantaman gada besi.
Senyuman Devan membeku seketika. Seluruh penonton di aula menahan napas bersamaan.
Kayla merogoh tas kainnya, mengeluarkan map dokumen hitam tebal berlogo Narendra Foundation, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara agar bisa dilihat oleh seluruh kamera pemantau aula.
"Kemarin malam, saya menyadari satu hal pahit: di dunia elite ini, keadilan hanyalah barang dagangan. Dokumen di tangan saya ini adalah kontrak beasiswa eksklusif dari keluarga Narendra. Di dalamnya tertulis bahwa mereka akan menjamin seluruh masa depan saya, melunasi biaya rumah sakit ayah saya, dan melindungi usaha ibu saya... asalkan saya bersedia menandatangani kesetiaan mutlak, menjadi alat politik mereka, dan membiarkan diri saya dibeli untuk menghancurkan Alvaro Pramudya!"
*Gasp!!!* Kegemparan massal meledak di seluruh penjuru aula. Murid-murid saling berpandangan dengan wajah tidak percaya. Rafael dan Galang langsung menegakkan tubuh mereka, sementara wajah Devan perlahan berubah menjadi sangat gelap, sepasang mata teduhnya kini berkilat memancarkan amarah yang mengerikan.
"Kayla! Turun dari podium sekarang!" bentak salah satu panitia dari kubu Narendra yang mencoba merangsek maju, namun Alvaro mendadak berdiri dari kursinya, memberikan tatapan mengancam yang membuat panitia itu mundur ketakutan.
"Saya menolak kontrak ini!" Kayla menghempaskan map hitam itu ke atas lantai panggung dengan kasar. "Saya menolak menjadi pion di atas papan catur kalian! Jika untuk mendapatkan keadilan saya harus menjual martabat saya kepada Devan, maka saya lebih memilih untuk hancur bersama keluarga saya secara terhormat!"
Kayla beralih menatap Alvaro, air matanya mulai mengalir, namun tatapannya luar biasa tulus. "Alvaro... maafkan aku. Aku pernah membencimu karena caramu yang kejam. Tapi setidaknya, kamu menindasku dengan jujur sebagai musuh. Kamu tidak pernah memakai topeng pahlawan untuk menikamku dari belakang seperti yang dilakukan Devan."
Alvaro tertegun, dadanya bergemuruh hebat mendengar pengakuan Kayla di depan publik. Rasa hangat yang luar biasa seketika menjalar di hatinya yang semula mati rasa.
Kayla kembali menatap mikrofon. "Hari ini, saya menyatakan mundur sebagai juru kampanye, dan saya meminta kalian semua untuk memilih dengan hati nurani kalian sendiri, bukan karena takut pada kartu merah Alvaro, dan bukan karena terbuai oleh janji palsu Devan!"
Setelah menutup pidatonya dengan deklarasi perang terhadap kedua kubu, Kayla melangkah turun dari panggung dengan kepala tegak.
Namun, Devan tidak tinggal diam. Kehilangan kendali atas ambisinya, pemuda Narendra itu berdiri, melangkah cepat menghadang jalur berjalan Kayla di tengah aula. Wajah tampannya kini dipenuhi guratan urat kemarahan murni.
"Kamu sudah gila, Kayla?!" desis Devan dengan suara baritonnya yang bergetar hebat karena menahan malu dan amarah di depan seluruh sekolah. "Kamu baru saja menandatangani surat kematian keluargamu sendiri! Tanpa perlindunganku, Sofia Pramudya akan menjebloskan ibumu ke penjara siang ini juga!"
"Dia tidak akan bisa melakukannya, Devan."
Sebuah suara bariton lain yang sangat familier memotong kalimat Devan. Alvaro Pramudya melangkah maju, berdiri tepat di samping Kayla, mengurung gadis itu di balik tubuh tegapnya. Wajah Alvaro tidak lagi pucat; aura penguasa tertingginya telah kembali, kini jauh lebih matang dan berbahaya.
"Apa maksudmu, Alvaro?" tanya Devan, matanya menyipit tajam menatap sahabatnya yang kini resmi menjadi musuh bebuyutannya.
Alvaro mengeluarkan ponselnya, lalu menekan sebuah tombol putar. Detik berikutnya, layar LED raksasa di belakang panggung kembali berubah. Kali ini, sebuah dokumen resmi dari **Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia** serta **Kepolisian Metro Jaya** terpampang nyata.
"Dua jam yang lalu, sebelum aku datang ke sekolah ini, aku sudah menyerahkan seluruh aset pribadi yang kuwarisi dari kakekku kepada firma hukum independen untuk melunasi seluruh denda laundry keluarga Kayla," ujar Alvaro dengan nada suara yang luar biasa tenang namun menusuk. "Bukan itu saja... aku juga sudah menyerahkan bukti rekaman sabotase internal yang dilakukan oleh orang suruhan ibuku kepada pihak kepolisian. Siang ini, Sofia Pramudya sedang diperiksa di markas besar kepolisian atas tuduhan penipuan korporasi dan pencemaran nama baik."
Seluruh aula kembali didera syok gelombang kedua. Alvaro telah melakukan hal yang paling mustahil: ia mengorbankan ibu kandungnya sendiri dan seluruh hak waris pribadinya demi menyelamatkan keluarga gadis yang ia cintai.
"Permainanmu sudah selesai, Devan," desis Alvaro, melangkah satu jengkal di depan wajah Devan, membuat hidung mereka hampir bersentuhan. "Kamu ingin merebut takhtaku dengan cara yang kotor? Silakan ambil jabatan Ketua OSIS bodoh ini. Tapi Kayla... dia adalah urusanku yang tidak akan pernah bisa kamu beli dengan uang keluargamu."
Devan mengepalkan tinjunya begitu kuat hingga darah segar mulai menetes dari sudut plester bibirnya yang kembali robek karena tekanan rahangnya. Kekalahan mutlak ini menghantam ego Narendra-nya hingga berkeping-keping.
Tanpa memedulikan Devan yang membeku di tengah aula, Alvaro berbalik, meraih jemari tangan Kayla yang gemetar dengan genggaman yang sangat erat dan hangat.
"Ayo kita pergi dari tempat ini, Rumput Liar," bisik Alvaro lembut, sebuah senyuman tulus—senyuman pertama yang pernah ia tunjukkan di depan umum—terukir di wajah tampannya.
Kayla menatap jemari tangannya yang bertaut dengan tangan Alvaro. Rantai kebencian, obsesi, dan intrik politik elite itu kini telah resmi terbakar habis, menyisakan sebuah awal baru yang murni di antara sang penguasa yang telah dijinakkan dan sang rumput liar yang kini menjadi pemenang sesungguhnya.
---
Bersambung