Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Malam itu aku kembali menunggu Mason pulang.
Namun kali ini rasanya sedikit berbeda. Tidak lagi seperti seorang gadis yang menunggu dengan penuh harapan kosong dan jantung berdebar menyakitkan. Aku hanya duduk di ruang tengah sambil membaca buku, sesekali melirik jam di dinding, lalu kembali tenggelam dalam halaman-halaman yang sebenarnya tidak benar-benar kubaca.
Pikiranku terlalu sibuk memikirkan Mason. Tentang caranya menatapku pagi tadi. Tentang bagaimana ia tidak marah saat mengetahui aku mencatat kebiasaan dan jadwalnya. Dan tentang satu kalimat sederhana yang terus terngiang di kepalaku sejak pagi.
'Aku tidak marah.'
Entah kenapa, hanya kalimat sesederhana itu saja sudah cukup membuatku merasa lebih tenang. Jam hampir menunjukkan pukul sembilan malam saat akhirnya suara mobil terdengar dari halaman depan mansion. Aku langsung menutup buku di pangkuanku dan berdiri hampir refleks. Beberapa detik kemudian pintu utama terbuka, memperlihatkan Mason yang baru pulang dengan langkah tenang dan wajah lelah yang masih sama.
Ia tampak sedikit terkejut melihatku masih berada di ruang tengah.
“Kau belum tidur?” tanyanya.
Aku menggeleng kecil. “Belum mengantuk.”
Tatapannya bergeser pada buku di tanganku. “Kau sengaja menungguku?”
Aku terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya menjawab jujur. “Sedikit.”
Aneh. Dulu aku mungkin akan malu mengakuinya. Namun sekarang aku tidak lagi merasa perlu menyembunyikan hal-hal kecil seperti itu.
Mason melepaskan jasnya perlahan dan menyerahkannya pada salah satu pelayan yang segera datang menghampiri. Setelah itu ia kembali menatapku. “Lain kali, kau tidak perlu menunggu.”
“Aku tahu.” Aku tersenyum kecil. “Tapi rumah ini terasa terlalu sepi kalau aku tidur lebih dulu.”
Ia tidak langsung menjawab. Aku mulai menyadari kebiasaan baru Mason akhir-akhir ini. Ia lebih sering diam lebih lama saat bersamaku. Seolah ada sesuatu yang sedang dipikirkannya, namun tidak pernah benar-benar diucapkan.
“Sudah makan malam?” tanyaku pelan.
“Sudah.”
Aku mengangguk kecil. “Baiklah.”
Kupikir percakapan itu akan selesai sampai di sana seperti biasanya. Namun saat aku hendak berjalan lebih dulu menuju tangga, suara Mason menghentikanku.
“Hari ini kau di rumah seharian?”
Aku langsung menoleh lagi. Dan entah kenapa, pertanyaan sederhana itu terasa mengejutkan. Karena itu pertama kalinya Mason bertanya tentang hariku lebih dulu.
“Sebagian besar, ya.” Aku mendekat beberapa langkah. “Aku menghabiskan waktu dengan para pelayan.”
“Untuk mempelajariku lagi?”
Nada bicaranya terdengar datar seperti biasa. Namun ada sesuatu yang terasa hampir seperti sindiran tipis di sana.
Aku tersenyum malu. “Mungkin.”
Mason menatapku beberapa detik sebelum akhirnya berjalan melewatiku menuju ruang kerja kecil di samping ruang keluarga. “Jangan membuat mereka merasa terlalu terganggu.”
“Aku tidak mengganggu mereka.”
“Hm.”
Aku mengikuti langkahnya pelan sampai ke depan ruang kerja itu. “Mereka justru banyak membantuku.”
Kini ia berhenti di depan pintu ruang kerja dan menoleh padaku. “Dan apa yang kau pelajari hari ini?”
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab, “Bahwa kau ternyata menyukai musik klasik.”
Ekspresinya tidak berubah. Namun aku melihat sedikit gerakan kecil di matanya. “Dan kau suka lasagna.”
Ia terdiam, sembari menatapku cukup lama.
“Juga ternyata tidak suka makanan terlalu manis.”
Dan, ia tampak masih diam. Aku menahan senyum kecil melihat reaksinya yang tetap tenang meskipun jelas tidak terbiasa dibicarakan seperti ini.
“Kau terlihat seperti sedang meneliti seseorang,” katanya akhirnya.
“Bukankah mengenal suami sendiri itu hal yang normal?”
Kalimatku membuat hening jatuh selama beberapa detik. Tatapan Mason tertahan padaku sedikit lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya ia mengembuskan napas kecil dan membuka pintu ruang kerjanya.
“Segera kembali ke kamarmu. Sudah malam.”
Dan tanpa sadar aku tersenyum sendiri sepanjang perjalanan menuju kamar.
Keesokan paginya aku kembali bangun lebih awal. Namun kali ini bukan karena takut melakukan kesalahan sebagai istri Mason. Aku hanya mulai menikmati rutinitas kecil ini. Menyiapkan kopi hitamnya. Memastikan sarapan tersedia tepat waktu. Dan diam-diam memperhatikan bagaimana pria itu menjalani hidupnya dengan sangat teratur.
Aku sedang menuang kopi ke dalam cangkir saat salah satu pelayan mendekat. “Nyonya Hazel.”
Aku menoleh. “Ya?”
“Tuan Mason tadi meminta jadwal meeting siang ini dikirim ke rumah.”
Aku sedikit terkejut. “Ke rumah?”
Pelayan itu mengangguk. “Biasanya langsung ke kantor beliau. Tapi tadi beliau meminta agar dikirim ke sini.”
Dadaku langsung terasa aneh. “Mungkin ada dokumen yang tertinggal,” lanjut pelayan itu sopan.
Aku mengangguk pelan meskipun pikiranku mulai berjalan ke mana-mana sendiri. Tidak lama kemudian Mason turun dari lantai atas dengan pakaian kerjanya yang rapi seperti biasa. Aku segera menarik kursi untuknya sebelum ia duduk di meja makan.
“Kopimu,” kataku pelan sambil mendorong cangkir itu ke arahnya.
“Terima kasih.”
Aku duduk di seberangnya sambil memperhatikan pria itu diam-diam. Entah kenapa, pagi ini wajahnya terlihat lebih lelah dari biasanya.
“Kau tidur larut lagi?” tanyaku hati-hati.
“Hm.”
“Kau harus lebih banyak istirahat.”
Ia mengangkat mata menatapku sebentar. “Kau terdengar seperti ibuku.”
Aku tertawa kecil tanpa sadar. “Sarah memang mengatakan hal yang sama.”
Mason kembali menunduk menatap sarapannya. Namun aku melihat sudut bibirnya bergerak sangat tipis. Hampir seperti senyum kecil yang tidak benar-benar jadi muncul. Dan anehnya, hal sekecil itu saja sudah cukup membuat jantungku berdebar.
Beberapa menit kemudian seorang pelayan datang membawa map hitam dan menyerahkannya padaku. “Jadwal meeting Tuan Mason, Nyonya.”
Aku spontan menerimanya sebelum menoleh bingung pada Mason.
Ia minum kopinya dengan tenang. “Simpan saja.”
“Simpan?”
“Kau suka mencatat semua kegiatanku, bukan?”
Aku langsung membeku beberapa detik.
Mason tetap menatap cangkir kopinya seolah baru saja mengatakan sesuatu yang biasa. Namun aku bisa merasakan pipiku mulai memanas. “Itu bukan berarti kau harus memberiku jadwal kerjamu,” gumamku pelan.
“Kau tetap akan mencari tahu.”
Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi karena tidak bisa membantah. Dan untuk pertama kalinya sejak menikah dengannya, aku mendengar sesuatu yang nyaris terdengar seperti nada menggoda dari seorang Mason Roux.
Setelah selesai sarapan, Mason berdiri dan merapikan manset kemejanya. Aku ikut berdiri untuk mengantarnya seperti biasa. Namun sebelum ia benar-benar pergi, langkahnya tiba-tiba berhenti di dekatku.
“Hazel.”
Aku mengangkat kepala.
“Jangan terlalu memikirkan jadwalku.”
Aku mengerjap pelan. “Aku tidak terlalu memikirkannya.”
“Kau memikirkannya.”
Aku tersenyum kecil karena tidak bisa menyangkalnya lagi. “Baiklah. Sedikit.”
Tatapan Mason turun sebentar ke wajahku. Dan lagi-lagi ada jeda aneh yang selalu muncul akhir-akhir ini saat ia menatapku terlalu lama.
“Aku hanya tidak ingin kau menjadikan seluruh harimu berputar di sekelilingku,” katanya akhirnya.
Dadaku terasa hangat mendengar kalimat itu. Karena untuk pertama kalinya, ku merasa Mason mulai memperhatikanku juga. Meski dengan caranya sendiri.
“Aku punya hidupku sendiri,” jawabku pelan.
“Hm.”
“Tapi sekarang kau juga bagian dari hidupku.”
Kalimat itu membuatnya diam lagi. Lalu beberapa detik kemudian ia mengangguk kecil dan berjalan pergi meninggalkan mansion. Sementara aku tetap berdiri di depan pintu utama dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Karena mungkin perlahan-lahan, tembok besar itu mulai retak sedikit demi sedikit. Dan aku mulai bisa melihat sisi Mason yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat.