Elara Vane, putri seorang Baron yang jatuh miskin, dipaksa menikah dengan Duke Kaelen Draxos, pria yang dikenal sebagai "Iblis Utara" karena kekejamannya di medan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Menjelang tengah malam, demam Elara memuncak.
Elara mulai gelisah. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri di atas bantal. Napasnya memburu, pendek-pendek dan cepat.
"Jangan..." racau Elara. "Jangan pergi... Kaelen... sendirian..."
Kaelen tersentak. Namanya. Elara memanggil namanya dalam ketidaksadaran. Bukan memanggil ayahnya, bukan memanggil ibunya. Memanggil dia.
"Aku di sini," kata Kaelen, condong ke depan.
"Dingin..." bisik Elara, air mata menetes dari sudut matanya yang terpejam. "Jangan biarkan dia sendiri... di hutan..."
Kaelen tertegun. Elara tidak mengigau tentang rasa sakitnya sendiri. Dia mengigau tentang Kaelen. Dia mengkhawatirkan Kaelen yang sendirian di hutan. Bahkan dalam demamnya, wanita bodoh ini masih memikirkan keselamatan suaminya yang dingin ini.
Rasa bersalah menghantam dada Kaelen seperti palu godam.
"Kenapa kau datang?" tanya Kaelen pada sosok yang sedang tidur itu, suaranya pecah. "Kenapa kau mengejarku? Aku mencoba menyelamatkanmu dengan menjauh, tapi kau malah berlari menuju bahaya."
Elara tidak menjawab, hanya merintih pelan. Tangan kanannya bergerak-gerak di atas selimut, meraba-raba udara, mencari pegangan.
Tanpa berpikir, Kaelen mengulurkan tangannya.
Jari-jari Elara yang panas langsung mencengkeram tangan Kaelen yang besar dan kasar. Cengkeramannya lemah, tapi putus asa.
Kaelen membiarkannya. Ia tidak menarik diri. Ia membiarkan tangan kecil itu memegangnya sebagai jangkar. Ia merasakan denyut nadi Elara yang cepat di balik kulit pergelangan tangannya. Denyut kehidupan.
"Lyra..." Kaelen memulai, menyebut nama itu di ruangan sunyi. Tapi kemudian dia berhenti.
Dia melihat wajah Elara. Wajah yang berbeda. Wajah yang keras kepala, yang berani memeras pedagang, yang berani memperbaiki pipa kastil, yang berani menatap mata beruang demi membawakannya kopi panas.
Ini bukan Lyra.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Kaelen menyadari bahwa rasa sakit di dadanya saat melihat Elara terluka berbeda dengan rasa sakit saat mengingat Lyra. Rasa sakit karena Lyra adalah duka masa lalu yang statis. Rasa sakit karena Elara adalah ketakutan masa kini yang aktif.
"Kau menyusahkan," bisik Kaelen, mengangkat tangan Elara dan menempelkannya ke pipinya sendiri yang kasar oleh janggut yang mulai tumbuh. "Sangat menyusahkan."
Ia duduk di sana sepanjang malam. Ia mengganti kompres di dahi Elara setiap kali kainnya menjadi panas. Ia memberinya minum air sedikit demi sedikit melalui sendok setiap kali Elara batuk kering.
Sang Jenderal yang memimpin ribuan pasukan dengan tangan besi, kini menjadi perawat yang tak kenal lelah bagi satu wanita.
Menjelang fajar, demam Elara akhirnya pecah. Napasnya menjadi teratur dan dalam. Keringat dingin membasahi dahinya, tanda bahwa suhu tubuhnya mulai turun.
Kaelen menghela napas panjang, bahunya merosot karena kelelahan yang luar biasa. Adrenalin yang menopangnya sejak kemarin sore akhirnya habis. Matanya terasa berat.
Ia tidak kembali ke kamarnya. Ia melipat tangannya di tepi tempat tidur, meletakkan kepalanya di sana, di samping pinggang Elara, dan membiarkan dirinya terlelap dalam posisi duduk yang tidak nyaman itu. Tangannya masih menggenggam tangan Elara di bawah selimut.
Cahaya matahari pagi yang cerah—cahaya pasca-badai yang menyilaukan—membangunkan Elara.
Ia membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya terasa seperti habis dipukuli, tapi pikirannya jernih. Rasa panas yang membakar semalam telah hilang.
Ia mencoba bergerak, namun menyadari tangan kanannya terkunci.
Elara menoleh. Matanya melebar.
Di samping tempat tidurnya, tertidur dalam posisi duduk yang canggung, adalah Kaelen. Kepala pria itu bertumpu di lengan yang terlipat di kasur, wajahnya menghadap ke arah Elara.
Rambut hitamnya berantakan, jatuh menutupi sebagian matanya. Mulutnya sedikit terbuka, napasnya teratur dan tenang. Tidak ada kerutan di dahinya. Tidak ada mimpi buruk.
Dan tangannya... tangan besar prajurit itu menggenggam jari-jari Elara erat-erat, bahkan dalam tidurnya.
Elara menahan napas, takut gerakan sekecil apa pun akan menghancurkan momen rapuh ini.
Dia melihat wajah suaminya dari jarak yang begitu dekat. Dia melihat bekas luka kecil di dekat telinganya. Dia melihat bulu mata yang panjang dan hitam yang kontras dengan kulit pucatnya.
"Kau tidak pergi," bisik Elara tanpa suara, senyum tipis merekah di bibirnya yang kering.
Tiba-tiba, bulu mata Kaelen bergerak. Dia bangun.
Bukan bangun dengan perlahan seperti orang normal, tapi bangun dengan kewaspadaan instan seorang prajurit. Kepala Kaelen tersentak naik, matanya langsung terbuka lebar, mencari ancaman.
Matanya bertemu dengan mata Elara.
Selama satu detik, ada kerentanan total di sana. Kebingungan, kelegaan, dan kelembutan.
Lalu, memori kembali. Kaelen menyadari posisinya. Dia menyadari dia sedang memegang tangan Elara. Dia menyadari dia tidur di kamar istrinya seperti anjing penjaga yang setia.
Wajah Kaelen memerah padam. Dia menarik tangannya secepat kilat, berdiri dari kursi hingga kursi itu hampir terbalik.
"Kau sudah bangun," katanya kasar, suaranya serak khas bangun tidur. Dia berdeham keras, merapikan rambutnya dengan tangan yang gugup. Topeng Iblis Utaranya retak parah pagi ini.
"Selamat pagi, Kaelen," sapa Elara, suaranya lemah tapi matanya berbinar geli. "Tidurmu nyenyak?"
Kaelen tidak menjawab pertanyaan itu. Dia memunggungi Elara, berjalan menuju jendela, berpura-pura memeriksa cuaca.
"Demammu sudah turun," katanya kaku. "Bagus. Tabib Aris akan datang sebentar lagi untuk memeriksa bahumu."
"Terima kasih," kata Elara. "Untuk... merawatku. Aku ingat sedikit. Kau yang mengompresku."
Bahu Kaelen menegang. "Silas sedang sibuk. Martha tidur. Tidak ada orang lain."
Kebohongan yang buruk. Elara tahu ada puluhan pelayan di kastil ini.
"Kaelen," panggil Elara lembut.
Pria itu menoleh sedikit, profil wajahnya terkena sinar matahari pagi.
"Beruang itu..." Elara ragu sejenak, lalu melanjutkan, "...terima kasih sudah membunuhnya."
Kaelen berbalik sepenuhnya. Dia menatap Elara dengan tatapan yang serius, intensitasnya membuat udara di ruangan itu kembali padat.
"Mulai hari ini," kata Kaelen, suaranya rendah dan penuh otoritas, "kau dilarang keluar dari gerbang kastil tanpa pengawalan satu peleton penuh. Dan kau dilarang menunggang kuda sendirian. Jika aku melihatmu menyentuh tali kekang kuda tanpa izinku, aku akan membakar semua pelana di kandang."
Itu adalah ancaman yang konyol dan berlebihan. Tapi Elara mendengarnya sebagai: Aku tidak sanggup melihatmu terluka lagi. Tolong jangan buat aku takut seperti itu lagi.
"Baik, Suamiku," jawab Elara patuh, meski ada kilatan nakal di matanya. "Tapi jika kau pergi ke hutan lagi tanpa sarapan, aku mungkin akan melanggar aturan itu lagi."
Kaelen menatapnya tak percaya. Dia membuka mulutnya untuk memarahinya, tapi kemudian dia menutupnya lagi. Dia menggelengkan kepala, mendengus pelan—suara yang terdengar seperti tawa yang menyerah.
"Kau akan membuatku gila sebelum perang ini berakhir," gumam Kaelen.
Dia berjalan menuju pintu. Saat tangannya memegang gagang pintu, dia berhenti sejenak. Tanpa menoleh, dia berkata:
"Istirahatlah. Nanti malam... aku akan makan di sini lagi. Sup sayuranmu tidak terlalu buruk."
Lalu dia keluar, menutup pintu dengan bunyi klik yang lembut.
Elara menjatuhkan kepalanya kembali ke bantal, menatap langit-langit kamar dengan senyum lebar yang membuat pipinya sakit. Bahunya nyeri, tubuhnya lemah, tapi hatinya bernyanyi.
Beruang itu mati. Demam itu pergi. Dan Iblis Utara baru saja membuat janji untuk makan malam kedua.
Di bawah selimut yang hangat, Elara menyentuh tangannya sendiri—tangan yang digenggam Kaelen semalaman. Dia tahu pertempuran belum berakhir. Lyra masih ada di bayang-bayang. Tapi pagi ini, Elara memenangkan sesuatu yang lebih berharga dari sekadar nyawa: dia memenangkan tempat di samping tempat tidur Kaelen.